Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


Kado Dirgahayu 73 Tahun Indonesia

Monday, 6 August 2018

Swadharma Ning Pertiwi. Adalah sebuah tajuk dari pergelaran seni di Bali pada 5 Agustus 2018. Digelar sebagai perayaan sekaligus ungkapan syukur atas rampungnya pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana. Bermakna persembahan dharma kepada Ibu Pertiwi.


Kado Dirgahayu 73 Tahun Indonesia Sumber foto: Antara Foto

Pergelaran berdurasi kurang-lebih 70-an menit ini melibatkan banyak seniman. Antara lain, penyanyi seperti Dira Sugandi dan Ayu Laksmi, penari I Ketut Rina dan Keni K Soeriaatmadja, dan koroegrafer Eko Supriyanto serta seorang aktor teater Wawan Sofwan. Seratus penari dilibatkan dalam pertunjukan seni kolosal yang menceritakan kisah pertemuan antara Dewa Wisnu dan burung mistis Garuda.

Demikianlah 28 tahun masa penantian itu telah berakhir. Setelah tersendat-sendat proses penggarapannya karya monumental yang didesain menjadi patung tertinggi di dunia ini—memiliki lebar mencapai 64 meter dan tinggi mencapai 125 meter—akhirnya berhasil dirampungkan. Posisi patung berada 146 meter di atas permukaan tanah atau 263 meter di permukaan air laut ini berlokasi di Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Berjarak tempuh 10 – 15 menit dari bandara internasional Ngurah Rai atau hanya berjarak 6 kilometer. Atau jika dari Kota Denpasar ke arah selatan jaraknya sejauh kira-kira 40-an kilometer. Mulai dibangun sejak di era Presiden Soeharto dengan peletakan batu pertama pada 8 Juni 1997, karya maestro Nyoman Nuarta ini baru sepenuhnya selesai di era Presiden Jokowi pada Agustus 2018.

Sejak awal ide pembangunan Garuda Wisnu sebagai landmark di Taman Budaya Garuda Kencana memang diniatkan oleh Nyoman Nuarta sebagai upaya mewujudkan kawasan itu sebagai destinasi baru di Pulau Bali. Harus diakui, selama ini keberhasilan Indonesia membangun sektor pariwisata di dunia internasional sejatinya tidak bisa dilepaskan dari faktor keberuntungan.

Selain ditakdirkan kaya panorama alam maupun keragaman isi hayatinya, bangsa ini sebenarnya sangat beruntung telah mewarisi banyak situs, seni, dan produk budaya lainnya sebagai buah karya nenek moyang dengan derajat capaian estetika adiluhung. Kini adalah saatnya membuktikan kepada mata dunia. Indonesia bukan hanya ahli waris dari khasanah masa lalu, tetapi juga creator besar yang sanggup menorehkan karya monumental yang tak kalah hebatnya dari capaian para leluhurnya. Demikianlah kira-kira suasana kebatinan Nyoman Nuarta saat merenungi pematik gagasannya di tahun 1980-an.

Ide besar ini tentu tidak begitu saja mudah diterima oleh masyarakat. Nyoman Nuarta butuh delapan tahun untuk memperkenalkan ide ini. Lahir dan dibesarkan dalam alam pedesaan, kesan cinta kepada Sang Pencipta dan alam tentu terasa mengalir kuat dalam karyanya ini. Menurut Nyoman Nuarta, patung Garuda Wisnu Kencana ini sengaja dibuat sebagai simbol penting yang mengekspresikan sikap hormat manusia kepada Sang Pencipta, sekaligus juga sebagai manifestasi rasa cinta manusia kepada alam dengan bekerja memperindah dunia.

Karya adiluhung itu menurutnya bukan saja harus merepresentasikan karakteristik nilai-nilai budaya bangsa, lebih dari itu obsesinya ialah sekaligus mewujudkan lokasi itu sebagai wahana mementaskan aneka rupa karya seni dan budaya dari seluruh penjuru Indonesia dan bahkan dari ujung terjauh dunia. Ya, sejak awal, ide di benak seniman ini ialah, pembangunan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana itu didedikasikan sebagai tempat bertemunya semua warna-warni budaya masyarakat dunia.

Bermula dari sebuah bukit kapur yang telah rusak dan ditinggalkan oleh para penambang, tempat itu kemudian ditata sedemikian rupa oleh Nyoman Nuarta. Bukit itu dipotong-potong menjadi bentuk balok sehingga menciptakan saujana alam nan asri. Patung itu sendiri dikerjakannya di workshop NuArt di Bandung Jawa Barat. Barulah setelah selesai patung itu diangkut ke Pulau Dewata.

Untuk memudahkan proses pengangkutan, patung raksasa itu pun dipotong-potong menjadi sejumlah lempengan. Lempengan-lempengan ini disebut dengan istilah modul, tercatat ada 754 modul. Kemudian lempeng-lempeng patung ini dirakit kembali dengan las sekaligus disempurnakan di sana-sini setibanya di lokasi. Mengingat sebagian besar patung dibuat dari bahan tembaga dan kuningan, beratnya pun diprediksi mencapai 3.000 ton.

Pilihan Nyoman Nuarta menempatkan ide Garuda Wisnu Kencana sebagai ikon Bali tentu menarik disimak. Selain karena latarbelakang keagamaannya yaitu Hindu, mudah diduga pilihan ikon ini tentu juga terkait upaya pemuliaan Nyoman Nuarta pada sosok Airlangga.

Raja pendiri Kerajaan Kediri berdarah Jawa – Bali, dikenal atas keberhasilannya membangun toleransi antar agama, yaitu menjadi pelindung bagi semua agama yang dianut oleh masyarakat saat itu secara adil (baca: Hindu Syiwa dan Buddha), Raja Airlangga juga dikenal berhasil mensejahterakan kehidupan ekonomi rakyatnya. Pada masa Kerajaan Kediri pula-lah sastra Jawa Kuno baik kakawin maupun kidung nantinya tercatat menapaki puncak keemasan susastra.

Tak berlebihan saat mangkat, Airlangga sebagai raja pembaharu ini dianggap sebagai manifestasi titisan Dewa Wisnu. Airlangga pun diabadikan sebagai arca Dewa Wisnu mengendarai Garuda. Arca ini ditemukan di Candi Belahan dan kini disimpan di Museum Trowulan di Mojokerta. Tentu saja banyak ditemui kemiripan tipe antara arca Garuda Wisnu dari abad ke-11 dan patung Garuda Wisnu Kencana abad ke-21.

Alkisah, Garuda sebagai burung mitos yang jadi kendaraan Dewa Wisnu itu secara folklore dikisahkan memiliki kegigihan saat harus memperjuangkan pembebasan Ibunya, sekalipun sejak masih berupa telur ia sebenarnya telah ditinggal pergi orang tuanya sehingga praktis tak pernah mengenalnya. Kisah heroik inilah, konon, telah mengilhami para founding parents saat memilih burung Garuda sebagai simbol negara. Kisah mitologis burung Garuda sengaja diadopsi sebagai simbol perjuangan bangsa yang saat itu tengah berjuang keras membebaskan Ibu Pertiwi dari sejuta duka deraan penjajahan dan penindasan kolonialisme.

Pada 17 Agustus 2018 Indonesia memasuki usia 73 Tahun Kemerdekaan. Patung Garuda Wisnu Kencana diniatkan hendak dipersembahkan sebagai kado ulang tahun untuk Indonesia.

Swadharma Ning Pertiwi. Ya, mari kita persembahkan dharma terbaik bagi Ibu Pertiwi, mencontoh kegilaan Nyoman Nuarta yang telah menorehkan capaian estetis yang monumental ini untuk dipersembahkan kepada seluruh bangsa Indonesia, juga bagi dunia. Semoga saja rampungnya pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana bukan saja jadi sebuah simbol, penanda waktu, dan sejarah, melainkan lebih jauh juga merupakan manifestasi spirit zaman tentang derap Indonesia. Bahwa kini dan ke depan multikulturalisme Indonesia akan selalu bergerak bersama-sama mewujudkan semesta Indonesia Raya yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Selamat Berdirgahayu Republik Indonesia ke-73 (WGS).

Budaya
Ragam Terpopuler
Pulau Lombok dan Islam Wetu Telu
Sekalipun keislaman Islam Wetu Telu mengklaim ajarannya bersumber pada tiga otoritas, yaitu Al Quran, Hadis dan Ijma, bicara doktrin Rukun Islam justru terlihat perbedaan implementasi antara Islam Wet...
Gabus Pucung, Si Hitam dari Betawi
Gabus pucung  adalah masakan khas Betawi yang sudah terkenal sejak dahulu kala.  Nama gabus pucung adalah gabungan dari nama ikan gabus dan pucung atau kluwek sebagai bumbunya. ...
Wisata Indonesia di Mata Dunia
Pemerintah Jokowi mendorong Kebijakan Bebas Visa Kunjungan Singkat bagi 169 negara. Menurut UNWTO, kebijakan itu menjadikan Indonesia negara ketujuh di dunia; sekaligus negara keempat di Asia-Pasifik;...
Membangun Bersama Masyarakat Adat
Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Papua Barat memberikan semangat serta optimisme bagi percepatan pembangunan di bumi Cenderawasih. Kabupaten Jayapura melaksanakannya dengan pelibatan masyarakat adat ...
Tren Positif Film Indonesia
Industri perfilman Indonesia semakin berkembang. Tren positip dan konsisten baik dari jumlah penonton maupun jumlah judul yang terdata sejak  tahun 2016-2018. ...
The Mandalika yang Mendunia
Bermaksud menggeber popularitas dan branding Mandalika sebagai destinasi tingkat dunia, Indonesia mengajukan diri sebagai fasilitator event MotoGP di 2021. Upaya mewujudkan langkah strategis itu digel...
Melihat Burung Cenderawasih dari Jarak Dekat
Di Bird Watching Isyo Hills ini, kita bisa melihat 8 jenis burung Cenderawasih dari 28 jenis Cenderawasih yang ada di Papua. Lokasinya pun tak jauh dari jalan utama Distrik Nimbokrang, Kabupaten ...
Kopi Wonogiri, Potensi Kopi Lokal Berkualitas
Yang mengejutkan, ditemukan ratusan pohon kopi jenis Liberica berusia tua yang berada di area hutan pinus Dusun Ngroto, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo pada pertengahan Februari 2019. ...
Cerita Di Balik Digitalisasi Naskah Keraton Yogyakarta
Kini projek digitalisasi naskah merupakan upaya pengembangan kekayaan naskah yang tidak ternilai harganya. Kemudahan akses teknologi digital pun membuat pengembangan lebih menjadi kian memungkinkan. ...
Makna Ritual Nyepi
“Melalui ritual catur bratha penyepian masyarakat Bali telah turut aktif dalam upaya mengurangi dampak global warming. Bagaimana tidak, sebuah kota internasional melakukan 24 jam tanpa listrik m...