Bahasa | English


JEJAK PERADABAN

Belanga Antarbangsa di Tanjungpura

29 June 2019, 13:07 WIB

Brunei, disebut juga Bruni atau Berunai dalam catatan Melayu, adalah salah satu kerajaan besar di pesisir utara Pulau Kalimantan. Dalam catatan Cina zaman Dinasti Song pada 977, disebutkan pulau besar itu bernama Bo-ni atau Pu-ni.


Belanga Antarbangsa di Tanjungpura Kesultanan Sambas dulunya bagian dari wilayah kekuasaan kesultanan Brunei. Foto: Dok. Sambas

Edisi terbaru majalah Archipel Nomor 97 Tahun 2019 memuat beberapa hal menarik tentang sejarah Borneo. Studi yang dilakukan Annabel Teh Gallop, kurator dan peneliti British Library, terhadap salinan manuskrip yang dia dapat dari koleksi Sir Hugh Low yang mengungkap beberapa temuan yang belum pernah dikemukakan sebelumnya.

Studi itu berjudul, “Silsilah Raja-raja Brunei; The Manuscript of Pengiran Kesuma Muhammad Hasyim". Sesuai dengan judulnya manuskrip itu adalah salinan manuskrip pusaka kerajaan Brunei yang diberikan kepada Sir Hugh Low. Dia adalah pejabat Sekretaris Negara Sarawak yang merupakan Koloni Kerajaan Inggris.

Salinan manuskrip itu dibuat pada paruh akhir abad 19. Low sendiri telah mempublikasikan manuskrip itu pada 1880. Manuskrip-manuskrip sebelumnya tentang subjek sama yang dipublikasikan Amin Sweeney pada 1968.

Brunei, disebut juga Bruni atau Berunai dalam catatan Melayu, adalah salah satu kerajaan besar di pesisir utara Pulau Kalimantan. Sebutan Kalimantan adalah nama modern pulau ini. Sebelum bangsa-bangsa Eropa sampai ke Asia Tenggara, Kerajaan Bruni wilayahnya lebih luas dari yang kemudian menjadi Negara Brunei Darussalam.

Catatan Cina zaman Dinasti Song pada 977 menyebut pulau besar itu dengan nama Bo-ni atau Pu-ni.

Di zaman kerajaan Sriwijaya yang kekuasaannya membentuk mandala dari Selat Malaka hingga Kepulauan Sulu, beberapa pemukiman yang ada di Teluk Brunei disebut juga sebagai Vijayanegara. Negarakretagama, yang ditulis di masa kerajaan Majapahit pada 1365 menyebutnya sebagai Buruneng. Sedangkan sebutan bagi pulau nomor tiga terbesar di dunia itu adalah Nusa Tanjungnagara. Kata ini pulalah yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Tanjungpura yang berkembang di bagian barat pulau.

Setelah Perang Saudara

Satu peristiwa penting yang didapat dari studi manuskrip di atas adalah terbaginya Kerajaan Brunei menjadi dua kalangan setelah perang saudara. Kematian Sultan Muhammad Ali di akhir abad 17, menandai perpecahan Brunei. Kalangan pertama disebut sebagai keturunan Raja Pulau, sedangkan kalangan kedua disebut sebagai keturunan Raja Brunei. Sir Hugh Low mencatat perpecahan ini masih terasa hingga dua ratus tahun kemudian.

Sir Hugh Low  (1824-1905) tinggal di Pulau Borneo selama lebih dari tiga puluh tahun. Dia pertama kali datang di Sarawak antara 1843 atau 1844. Dua tahun pertamanya dihabiskan untuk mengumpulkan spesimen-spesimen hewan dan tumbuhan. Low adalah pendukung James Brooke, yang menjadi Gubernur Koloni Inggris di Labuan. Pada 1848, Low menjabat sebagai sekretaris negara hingga 1877. Setelah itu dia pindah ke Semenanjung Melayu untuk menjadi Residen Inggris untuk Perak. Dia berada di sana hingga pensiun pada 1889. Low meninggal di Italy pada 1905.

Low adalah seorang naturalis dan penjelajah Borneo yang disegani. Namanya tercatat sebagai pendaki Gunung Kinabalu yang pertama pada 1851. Puncak tertinggi hingga lembah terdalam Kinabalu dicatat atas namanya. Low juga sangat tertarik dengan sejarah dan kebudayaan Melayu. Saat dia lama berada di Labuan, Low berhasil mengumpulkan salinan naskah-naskah kuno Kerajaan Brunei. Setelah dia pindah ke Perak pada 1880, naskah-naskah itu baru dia publikasikan.

Ada lima kumpulan naskah yang dipublikasikan oleh Low. Yang pertama adalah terjemahan Inggris atas Silsilah Raja-raja Brunei. Disusul yang kedua, Catatan atas Sejarah Sultan-sultan Brunei dan keturunannya dari Sultan Abdul Kahar hingga Sultan Abdul Jalil-ul-Jebar. Yang ketiga dan keempat adalah, Daftar Penguasa Islam (Mohamedan) Brunei beserta referensinya. Sedangkan yang kelima adalah Terjemahan dan Transkripsi Prasasti Sejarah.

Prasasti yang diterjemahkan Low adalah Batu Tarsilah yang berada di makam Sultan Jamalul Alam di Makam Damit atau makam kecil yang berada di Bukit Panggal. Karena sesuatu dan lain hal, Low tidak mengungkapkan siapa sumber utama naskah-naskah yang dia publikasikan. Walaupun demikian berdasarkan perbandingan catatan kaki dari berbagai referensi yang ada di dokumen itu muncul nama Pengiran Kasuma, yakni orang yang memberikan naskah "Silsilah" kepada Low.

Untuk waktu yang cukup lama, sumber utama berbahasa Melayu tentang Silsilah Raja-raja Brunei tidak dipublikasikan. Baru pada 1968, Amin Sweeney mempublkasikan dua manuskrip yang berada di London. Naskah  yang pertama berkode MS 25032 yang dimiliki oleh School of Oriental Studies (SOAS). Naskah kedua berkode MS 123 yang dimiliki oleh the Royal Asiatic Society (RAS).

Upeti Tuak Aren

Profesor Ooi Keat Gin, sejarawan dari University Science of Malaysia, menulis di bukunya Brunei, History, Islam, Society, and Contemporary Issues (2015) tentang dua naskah awal "Silsilah ..." . Salah satu hal yang menarik dari naskah kuno ini adalah penjelasan tentang leluhur kesultanan Brunei tanpa menyertakan hal-hal mitologis.

Sebagai contoh penjelasan tentang raja pertama Brunei yang bernama Awang Alak Betatar.  " ..... yang pertama menjadi raja Berunai adalah Awang Khalak Betatar. Gelarnya Sultan Muhammad. Dialah pembawa syariat Islam dari Nabi Muhammad SAW. Yang mulia mempunyai seorang anak dari permaisurinya. Permaisurinya adalah saudara perempuan Kaisar Cina yang berasal dari Kinabatangan. Saat pertama kali dia menjadi menjadi raja, dia belum bertuhan. Saat itu kerajaan adalah koloni dari Betara Majapahit dan Patih Gajah Mada. Setiap tahun kerajaan harus memberikan upeti berupa satu drum minuman yang dibuat dari pohon aren muda. Saat Majapahit runtuh, dia tidak lagi memberikan upeti, saat itulah kerajaan berdaulat dan dia menjadi penguasa."

Tidak adanya hal-hal mitologis dalam naskah-naskah silsilah kerajaan Brunei salah satunya adalah karena perkembangan Islam. Ooi Keat Gin mengaitkan konteks penulisan naskah silsilah sezaman dengan penulisan sejarah pada kurun yang sama  di Aceh. Saat itu ortodoksi Nurrudin ArRaniri menghasilkan naskah Bustanus Salatin.  Penulis naskah "Silsilah .." dicatat oleh Ooi Keat Gin sebagai Datuk Imam Yakub yang menulis pada 1148 H atau 1735 M. Naskah direvisi Khatib Abdul Latif pada 1221 H atau 1807 M. Naskah kemudian diteruskan Haji Abdul Ghafar bin Mu'min pada 1355 H atau 1936 M.

Ooi Kiat Gin, di buku Early Modern Southeast Asia (2015) memberikan petunjuk tentang perkawinan pendiri Kerajaan Brunei. Petunjuk itu adalah awal mula pendirian koloni orang Cina di sekitar muara sungai Kinabatangan pada tahun 1375 M. Daerah muara yang ada di ujung Timur Laut Pulau Kalimantan ini adalah pemukiman pedagang-pedagang Cina untuk mengatur disribusi komoditas berharga dari pedalaman. Salah satu yang paling berharga dari wilayah ini adalah getah kamper yang sama bernilainya dengan yang berasal dari Baros. (Y-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Islam, Sumbangsih Terbesar Etnis Tionghoa
Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam. Demikian ujar Presiden ke-3 BJ Habibie dalam sebuah orasi di Masjid Lautze pada Agustus 2013. ...
Ziarah Kubur, Ibadah Haji Orang Jawa di Masa Lalu
Bagi kaum abangan, ziarah kubur ke makam raja-raja di Imogiri bermakna sebagai pengganti ibadah haji. ...
Membaca Kembali Sriwijaya yang Jaya itu
Petunjuk lain yang menguatkan keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di Semenanjung Melayu, tepatnya di sebelah selatan teluk Bandon, saat ini Thailand bagian selatan. ...
Pacung dan Sambiran, Ternyata Dugaan Lombard Benar
Temuan-temuan ini menguatkan tesis bahwa pada abad ke-9 terjadi kontak yang sangat intensif antara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan India. ...
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Solidaritas Sosial dalam Sunat Poci dan Mantu Poci
Demikianlah potret lekatnya tradisi minum teh mengejawantah pada hajatan sunat poci dan mantu poci. Sayangnya, ritus sosial yang mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dan hubungan timbal balik antar...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...