Bahasa | English


KAPAL PINISI

Cermin Bangsa Penjelajah Samudra (Bagian 2)

22 October 2018, 18:23 WIB

Perjalanan Pinisi masuk Representative List of the Intangible Curlutral Heritage of Humanity bukanlah perjuangan singkat.


Cermin Bangsa Penjelajah Samudra (Bagian 2) Sumber foto: Istimewa

Pada 9 Juni 1986, sebuah kapal bertitel Phinisi Nusantara sengaja diluncurkan dari Pelabuhan Muara Baru di Jakarta dengan tujuan Vancouver (Kanada), melalui Honolulu (Hawaii). Menempuh total jarak sekitar 11.000 mil.

Pelayaran panjang ini merupakan pelayaran heroik. 69 hari menempuh ganasnya gelombang samudra raya. Tujuan ekspedisi ini ialah menghadiri Vancouver Expo 86 di Kanada. Bermaksud membuktikan bahwa kapal layar tradsional Nusantara mampu berlayar menerjang gelombang lautan luas dan menyeberangi Samudra Pasifik sampai ke Benua Amerika.

Sehingga tak berlebihan catatan Robert Dick-Read (2005) dalam ‘The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian settlement in Africa in ancient times’. Dia memaparkan, sesungguhnya ditemukan banyak bukti sejarah yang menunjukkan adanya jejak-jejak pengelana (phantom voyagers) dari Indonesia telah menginjakkan kakinya di tanah Afrika di masa lampau. Afrikanis dari London University ini menyoroti peran pelaut-pelaut  tradisional dari wilayah berbahasa Austronesia yang kini bernama Indonesia, meninggalkan jejak peradaban yang cukup signifikan di sejumlah tempat di benua Afrika.

Singkat kata, penelitian ini juga mengungkap bukti-bukti adekuat bahwa masyarakat Nusantara sebagai bangsa bahari sebenarnya telah melakukan penjelajahan samudra jauh sebelum bangsa Eropa, Arab, dan Cina mulai. Salah satu hipotesa menarik yang dikemukakan Dick-Read adalah antara abad ke-5--7 kapal-kapal Nusantara mendominasi pelayaran dagang di benua Asia.

Sementara itu, bicara bukti arkeologis, Candi Borobudur setidaknya memberikan sedikit dokumentasi. Candi yang dibangun di abad ke-8 ini memiliki lima relief bergambar perahu layar. Relief ini menunjukkan, pada zaman itu telah dikenal perahu dengan layar ganda dan mempunyai cadik (out rigger) untuk menjaga kesetimbangan.

Adalah Philip Beale, pria kelahiran Salisbury, Inggris, mantan anggota Angkatan Laut Kerajaan, yang sangat terpukau pada relief perahu yang terukir pada dinding Candi Borobudur saat berkunjung, pada 1982. Sembari matanya nanar menatap relief, pikirannya menerawang jauh ke masa lalu. Di benaknya muncul pertanyaan, “Barangkali, inilah jenis kapal yang dulu pernah menjadi penghubung antara Indonesia dan Afrika itu?”

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pada September 2002 bertemulah Philip Beale dengan Nick Burningham di Italia. Burningham adalah seorang pembuat replika perahu terkenal yang pernah membuat replika kapal Duyfken dalam skala ukuran yang sebenarnya. Kapal Duyfken ialah kapal yang tercatat sebagai kapal Eropa pertama dan mendarat di Benua Australia pada 1606. Kapal replika Duyfken buatan Burningham sengaja dibuat dengan tujuan napak tilas pelayaran Duyfken di awal abad ke-17 saat kapal itu mengarungi perairan Maluku sampai ke Australia.

Ya, duapuluh tahun sejak Beale termangu menatap dinding relief itu, berikut ditemani oleh Burningham, dia akhirnya mewujudkan mimpinya membuat perahu replika sesuai petunjuk relief di Candi Borobudur. Perahu yang diberi nama ‘Samudra Raksa’ oleh Presiden Megawati Soekarnoputri itu dibuat berukuran sekitar 19 meter dan lebar 4,25 meter dengan teknologi dua layar tanjak dan bercadik ganda.

Pada 15 Agustus 2003 dimulailah “Ekspedisi Perahu Borobudur” (Borobudur Ship Expedition). Dukungan sponsorpun berdatangan, antara lain, dari British Council dan UNESCO. Ekspedisi ini juga mendapat pengakuan dari The Royal Geographical Society.

Berangkat dari Pelabuhan Marina, Ancol, Jakarta, ekspedisi ini dilepas resmi oleh Presiden Megawati, perahu yang dinakodai oleh Kapten I Gusti Putu Ngurah Sedana dari TNI-Angkatan Laut, didampingi Philip Beale ini, tercatat menempuh empat ruas pelayaran (leg). Antara lain, pelayaran ruas ke-1, menempuh jarak dari Jakarta ke Seychelles dengan lama waktu 15 Agustus--12 September 2003. Pelayaran ruas ke-2, dari Seychelles ke Madagaskar, 29 September--14 Oktober 2003; pelayaran ruas ke-3 dari Madagaskar ke Capetown, 26 Oktober--5 Januari 2004; dan terakhir pelayaran ruas ke-4, dari Capetown ke Accra, 17 Januari--23 Februari 2004.

Secara keseluruhan pelayaran Ekspedisi Perahu Borobudur memakan waktu enam bulan. Berlayar menempuh total jarak sejauh 27.000 kilometer. Ekspedisi Samudra Raksa ini jadi bukti bahwa perahu nenek moyang bangsa Indonesia memungkinkan untuk pelayaran jarak jauh. Dari Nusantara di benua Asia menjelajah hingga ke benua Afrika.

Kembali pada Pinisi. Desain model kapal ini adalah produk perkembangan lebih lanjut dari model Perahu Borobudur. Pasalnya, pada Pinisi sudah terlihat tidak memakai teknologi cadik yang dipasang di sisi kiri dan sisi kanan kapal. Sekalipun demikian, apa yang patut dicatat sebagai kata akhir adalah bahwa Kapal Pinisi dan Perahu Borobudur merupakan bukti bangsa Indonesia sejak dahulu kala ialah bangsa bahari. Bukti, bahwa: “Nenek Moyangku, Orang Pelaut!”

Budaya
Ragam Terpopuler
Martabat Tujuh dan Konstitusi Kasultanan Buton
Seturut konstitusi Martabat Tujuh, bicara penegakan hukum (law enforcement) saat itu bisa dikatakan tidaklah tebang pilih. Siapapun yang terbukti bersalah bakalan diganjar sesuai dengan aturan hukum y...
Ratu Kalinyamat, Membangkitkan Kembali Politik Maritim Nusantara
Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sanga...
Restorasi yang Urung di Situs Kawitan
Dulu pernah ada keinginan warga sekitar untuk “merestorasi” situs Kawitan yang ditemukan pada kurun 1965-1967. Namun hal itu tidak terealisasi karena jiwa yang malinggih di situs tersebut ...
Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan
Di atas tanah seluas 25 ribu hektar, berdiri miniatur hutan Indonesia. Beraneka ragam tanaman hutan bisa ditemui di sana. ...
Menikmati Sensasi The Little Africa of Java
Dulu, mungkin tak pernah terpikirkan untuk merancang liburan di Banyuwangi. Sebuah kota kecil di ujung Pulau Jawa. Tapi kini, magnet wisata di Banyuwangi cukup kuat dan beragam jenisnya. ...
Wisata Heritage Berbasis Masyarakat ala Surabaya
Surabaya memiliki destinasi wisata heritage kedua, Peneleh City Tour, Lawang Seketeng, di kawasan Peneleh. Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengelola wisata haritage pertama...
Kampung Batik Laweyan, Saksi Bisu Industri Batik Zaman ke Zaman
Berkunjung ke kota Solo kurang lengkap bila tak mendatangi Kampung Batik Laweyan (KBL). Sebuah sentra industri batik legendaris yang telah berdiri sejak 500 tahun lalu. Batik sudah menyatu dengan...
Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu
Banyak pesona pada rumah adat Baileo, milik suku Huaulu penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Baileo memiliki arti penting dalam eksistensi suku Huaulu. Hal itu bukan saja karena Baileo berfungsi seb...
Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam
Ritual memohon kesembuhan kepada Dewata, banyak kita jumpai di berbagai etnis di Nusantara. Sebut saja upacara Badawe yang dilaksanakan Suku Dayak kemudian ada rutal Balia yang dipraktikkan oleh ...
Dunia Butuh Lada Jambi Sebagai Bumbu Masak
Jambi sudah lama dikenal sebagai sentra terpenting daerah penghasil lada Nusantara. Banyak negara Eropa bersaing keras k menguasai perdagangan rempah-rempah Indonesia. Negara-negara tersebut adal...