Bahasa | English


SEJARAH

Cut Meutia, Kolaborasi Arsitektur Belanda dengan Seni Kaligrafi Islam

24 May 2019, 00:00 WIB

Bangunan kokoh peninggalan Belanda itu telah berpuluh tahun beralih fungsi menjadi tempat ibadah umat Muslim.


Cut Meutia, Kolaborasi Arsitektur Belanda dengan Seni Kaligrafi Islam Masjid Cut Meutia. Foto: Istimewa

Babngunan berarsitektur khas Belanda itu masih berdiri tegap di Jalan Cut Meutia, Jakarta Pusat. Kaligrafi Arab menghiasi dindingnya. Sudah berpuluh tahun lamanya, bangunan itu menjadi tempat ibadah umat Muslim.

Masjid Cut Meutia tidak serta-merta menjadi tempat ibadah. Gedung peninggalan Kolonial Belanda itu dahulu adalah kantor pengembang milik Belanda. Pengembang inilah yang membangun kawasan Gondangdia

Sebelum beralih fungsi menjadi masjid, Cut Meutia juga pernah digunakan sebagai kantor pos milik Belanda, Kantor Jawatan Kereta Api Belanda, dan Kantor Angkatan Laut Jepang.  Pascakemerdekaan Indonesia, bangunan juga berkali-kali berubah fungsi menjadi kantor urusan perumahan, kantor urusan agama hingga Sekretariat Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Setelah berkali-kali berubah fungsi, sempat ada wacana untuk merobohkannya. Namun batal lantaran Jenderal AH Nasution mengusulkan untuk mengubah fungsi gedung menjadi tempat ibadah.

Ketika Ali Sadikin menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, gedung tersebut dihibahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ketika diubah menjadi masjid, bangunan ala Kolonial tetap dipertahankan. Bahkan justru menjadi keunikan Masjid Cut Meutia. Sejak 1987, gedung seluas 5.000 meter persegi  yang mulai beralih fungsi menjadi masjid itu juga dijadikan cagar budaya.

Ada dua gerbang masuk masjid yang posisinya bertolak  belakang sehingga memudahkan pengunjung dalam memilih rute menuju masjid. Pengunjung Masjid Cut Meutia sungguh beragam. Mulai dari umat muslim hingga nonmuslim yang tertarik dengan sejarah dan ingin melihat keunikan bangunan masjid.

Umat muslim biasanya berkunjung ke sana untuk menjalankan ibadah salat. Di bulan Ramadan, Masjid Cut Meutia menjadi tempat berburu takjil serta salat taraweh. Saat Lebaran tiba, masjid juga ramai dikunjungi umat muslim yang akan salat Idulfitri.

Selain itu, masjid juga rutin menggelar kajian. Sesekali, ada pula pengunjung yang datang untuk mengucapkan kalimat syahadat sebagai penanda ia telah sah berganti kepercayaan menjadi seorang muslim.

Masjid Cut Meutia nyaris tidak pernah sepi. Suasana di sana juga sungguh hidup. Pesantren kilat dan bazaar merupakan beberapa contoh aktivitas yang menjadikan suasana masjid lebih hidup. Posisinya juga amat strategis, dekat perkantoran, perumahan elit dan Stasiun Gondangdia.

Dengan posisinya yang strategis, tidak mengherankan kalau Masjid Cut Meutia menjadi destinasi pilihan untuk beribadah. (K-RG)

Budaya
Sosial
Ragam Terpopuler
Cartridge-nya Isi Ulang, Diagnosisnya Lima Menit
Dengan Abbott ID Now diagnosis Covid-19 dapat dilakukan dalam lima menit. Yang diidentifikasi DNA virusnya. Ratusan unit X-pert TM di Indonesia bisa dimodifikasi jadi piranti diagonis molekuler. Lebih...
Masker Kedap Air Tak Tembus oleh Virus
Sebanyak 30 perusahaan garmen bersiap memproduksi massal masker nonmedis dan masker medis. Bahannya tak tembus oleh virus. Impor bahan baku dibebaskan dari bea masuk. ...
Bisikan Eyang Sujiatmi di Hati Presiden Jokowi
Eyang Sujiatmi telah pergi. Kerja keras, kedisiplinan, dan kesederhanaannya akan selalu dikenang anak-anaknya. ...
Menikmati Surga Bahari di Atas Pinisi
Pesona tujuh layar kapal pinisi sulit diingkari. Sosoknya instagramable. Wisata berlayar dengan pinisi kini berkembang di Labuan Bajo, Raja Ampat, Bali, dan Pulau Seribu Jakarta. ...
Berubah Gara-gara Corona
Corona mengubah hampir segalanya, termasuk gaya orang berjabat tangan. Penelitian menyebutkan, tangan merupakan wadah bakteri paling banyak. ...
Melepas Penat di Gunung Gumitir
Namanya Gumitir. Kawasan yang ada di perbatasan Jember-Banyuwangi itu menawarkan banyak sajian. Dari kafe hingga wisata kebun kopi. ...
Sulianti Saroso, Dokter yang Tak Pernah Menyuntik Orang
Tugas dokter tak hanya mengobati pasien. Kesehatan masyarakat harus berbasis gerakan dan didukung  kebijakan serta program pemerintah. Kepakarannya diakui WHO. ...
Sampar Diadang di Pulau Galang
Pemerintah beradu cepat dengan virus penyebab Covid-19. Tak ingin korban kian berjatuhan, dalam sebulan rumah sakit khusus penyakit menular siap ...
Bermula dari Karantina di Serambi Batavia
Dengan kemampuan observasi biomolekulernya, RSPI Sulianti Saroso menjadi rumah sakit rujukan nasional untuk penyakit infeksi. Ada benang merahnya dengan Klinik Karantina Pulau Onrust. ...
Tak Hanya Komodo di Labuan Bajo
Labuan Bajo disiapkan pemerintah sebagai destinasi super prioritas Indonesia. ...