Bahasa | English


PROFIL

Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa

17 January 2020, 10:26 WIB

Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau lebur menjadi satu,” ujar Lombard dalam Prakata bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya.


Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa Sumber Foto : Wikipedia.org

Le Carrefour Javanais, Essai d’histoire globale, bisa dikata adalah “karya agung” Denys Lombard. Demikianlah, A Teeuw dalam Jawa Sebagai Tempat Persilangan Peradaban bicara tentang kualitas tulisan sejarawan Prancis ini. Dalam pengantar edisi terjemahan Indonesia, Nusa Jawa: Silang Budaya, Kajian Sejarah Terpadu, Teeuw menyejajarkan posisi Lombard dengan Thomas S Raffles, PJ Veth, NJ Krom, Pigeaud, Clifford Geertz, ataupun Koentjaraningrat, sebagai peneliti yang telah memberikan studi mendasar mengenai sejarah kehidupan masyarakat di Pulau Jawa.

Teeuw mencatat tebal buku ini lebih dari 1.000 halaman dan memiliki 2.500 catatan kaki. Halaman daftar pustakanya pun mencapai hingga 60 halaman, plus 45 halaman daftar kata. Keseriusan studi historiografi ini membuat karya Lombard ini, menurut Teeuw, merupakan karya raksasa yang bersifat ensiklopedis tentang sejarah sosiokultural Jawa dalam konteks Asia dan dunia.

Tak jauh beda ialah pendapat Henri Chambert-Loir. Dalam Pengabdian Seumur Hidup: Denys Lombard (1938-1998), ia juga menyebut karya Denys Lombard sebagai mahakarya (chef d’oeuvre). Lebih detail daripada A Teeuw, Chambert-Loir mencatat karya ini setebal 1.027 halaman padat. Bibliografi atau daftar pustaka buku ini sebanyak 2.000 judul, indeks sebanyak 630 entri, leksikon sebanyak 1.750 kata, plus 2.500 catatan, 88 gambar, dan 50 peta serta denah.

Kesimpulannya tak jauh beda dengan Teeuw. Menurut Chambert-Loir, buku itu bisa dipergunakan sebagai sejenis ensiklopedi tentang sejarah dan kebudayaan Jawa.

Bahkan menurut Chambert-Loir, sekiranya kita memerlukan satu referensi kepustakaan atau keterangan tentang satu peristiwa terkait topik studi sosiobudaya Jawa, lihat sajalah dalam Nusa Jawa: Silang Budaya dahulu! Di sana pasti tersedia sumber-sumber rujukan penting tentang khazanah Jawa yang kita butuhkan.

Cover Buku Nusa Jawa: Silang Budaya I - Batas-Batas Pembaratan karya Denys Lombard. Sumber foto : goodreads.com

 

Nusa Jawa: Silang Budaya

Bagi para peninjau dan peneliti budaya Jawa sudah tentu karya Denys Lombard ini tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Sekalipun edisi Prancis nisbi baru diterbitkan pada 1989, dan tujuh tahun sejak naskah aslinya ditulis diterjemahkan dalam edisi Indonesia, karya agung Denys Lombard ini segera saja menjadi salah satu karya klasik di antara pelbagai studi historiografi dan sosiobudaya Jawa selama ini.

Ya, bagaimanapun karya historiografi yang bersifat ensiklopedis ini memang menarik disimak. Denys Lombard adalah pengajar sejarah Asia Tenggara di Paris. Tiga puluh tahun ia meneliti sejarah kebudayaan Indonesia. Penelitiannya meliputi sejumlah bidang, antara lain, sejarah Aceh dan Jawa, masyarakat Tionghoa peranakan, serta perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.

Merujuk Sartono Kartodirjo (1996) dalam buku edisi bahasa Indonesia, selain termasuk kategori studi sejarah kritis, karya Lombard ini merupakan bentuk lawan dari sejarah kolonial. Masih seturut Kartodirjo, pendekatan rekontruksi sejarah karya Lombard ini berangkat dari tradisi Braudelian dan Mazhab Annales.

Seperti diketahui, Mazhab Annales lahir dari ketidakpuasan akan sejarah “tradisional” atau “konvensional”, yang oleh publik akademis Prancis sering disebut “ecole methodique.” Dalam kerangka ini, sejarah konvensional cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal besar dan penting, yang oleh sejarawan dianggap menentukan perjalanan sejarah secara keseluruhan. Karena itulah sejarah tipe ini cenderung sangat “elitis’, dan semata fokus memberikan narasi-narasi tentang raja atau elite penguasa pada umumnya. Walhasil, sejarah dalam arti konvensional mempunyai kecenderungan kuat menjadi sejarah politik belaka.

Sebagai antitesis kecenderungan itu, Mazhab Annales mengambil perspektif sebaliknya. Fokus penulisan sejarah mazhab ini ialah, merekontruksi sejarah sosial sebuah masyarakat, yang mengacu pada sejumlah aktivitas manusia yang sangat luas meliputi seperti kebiasaan (manner), adat-istiadat (customs), dan kehidupan sehari-hari (everyday life).

Ciri lainnya ini ialah sifat inter atau multi disipliner dalam metodologi penelitian mereka. Ya, historiografi Mazhab Annales menjadikan seluruh aktivitas manusia sebagai sejarah. Dalam proses kerja metodologisnya, kelompok Annales sangat menekankan pada kerjasama dengan ilmu-ilmu yang lain. Mazhab Annales menekankan pada keberagaman disiplin ilmu dan menjadikan jurnal mereka sebagai forum untuk keberagam arah dan pendekatan baru dalam penulisan sejarah.

Ya, pada 1929 di Strasbourg, atas inisiatif dua sejarawan Prancis, Lucien Febvre dan Marc Bloch, lahirlah sebuah jurnal sejarah, Les Annales d’histoire ecenomique etsociale. Dari sanalah hingga kini, para sejarawan yang bekerja mengikuti fokus pendekatan multi atau interdisipliner ini popular disebut Mazhab Annales.

Berada dalam tradisi Mazhab Annales inilah, rekontruksi Lombard terhadap sejarah sosiobudaya Jawa tidak hanya mencakup dimensi sinkronis, tetapi juga mengungkapkan dimensi diakronis. Dalam rekontruksi sejarah sosiokultural masyarakat Jawa karya Lombard ini terdapat campuran antara aspek ‘struktural’ dan ‘proses’nya dalam pembacaan sejarah.

Lombard mempergunakan materi hasil penelitian para ahli di beberapa bidang yang lazim dianggap sebagai ilmu bantu sejarah, seperti arkeologi dan epigrafi. Tapi, tak hanya itu. Dia juga menggunakan disiplin ilmu yang selama ini sering dipandang tidak berkorelasi langsung dengan ilmu sejarah, seperti sastra, arsitektur, etnologi, geografi, ekonomi, teknik, dan lain-lain, dalam upayanya merekontruksi sejarah yang mencakup semua aspek kehidupan sosial.

Kembali pada topik utama studi Lombard. Sebagaimana dia ungkapkan dalam Prakata bukunya itu, Lombard ingin menuliskan “sejarah mentalitas” Jawa. Dalam kerangka inilah pengaruh Braudelian atau Fernand Braudel sangat terlihat mewarnainya. Bagi penganut Braudelian, yang terpenting bukanlah tentang periodesasi, melainkan menemukan adanya kontinuitas perihal mentalitas yang mendasari dan membentuk struktur-struktur yang konstan dalam waktu yang sangat lama (longue duree).

Maka penulisan sejarah Jawa dalam tiga jilid buku Nusa Jawa: Silang Budaya, oleh Lombard dibagi menjadi tiga strata menurut “urutan geologis”, dan sebagai mana pengikut Braudelian, tulisan sejarahnya tidak dipaparkan secara kronologis atau bersifat “non-kronologis”.

Dalam penyingkapan geologis, lapisan paling atas sudah tentu adalah yang paling baru. Karena itulah buku jilid I berisi paparan perkembangan Pulau Jawa yang terbaru, yaitu pada masa berlangsungnya pengaruh Barat atau Pembaratan. Sedangkan jilid II menyoroti masuk dan berkembangnya peradaban Islam serta China di pelabuhan-pelabuhan niaga sejak abad ke-15. Dan terakhir jilid III mengupas masa berlangsungnya pengaruh budaya India atau Indianisasi.

Benar, bahwa dalam urutan geologis itu menunjukkan pengaruh Eropa, misalnya, memang terjadi belakangan setelah pengaruh peradaban Islam, China, dan India. Meskipun peradaban yang datang paling akhir ini yaitu Barat, dan seringkali oleh kebanyakan sejarawan dianggap sebagai yang terpenting, namun ternyata tidaklah serta-merta meniadakan dampak pengaruh peradaban-peradaban yang datang lebih dulu. Semua pengaruh peradaban dari Islam, China, dan India, masih muncul di permukaan dan ikut mewarnai sikap mental serta kebudayaan Jawa hingga kini.

“Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau lebur menjadi satu,” ujar Lombard dalam prakata bukunya itu.

Menarik dicatat di sini. Sub judul asli karya Lombard ialah Essai d’histoire globale. Sayangnya, menurut Azyumardi Azra (1999) dalam Historiografi Kontemporer Indonesia, sub judul yang sangat penting itu tidak disertakan pada sampul edisi Indonesia dan diterjemahkan secara kurang tepat pada halaman-halaman pertama bagian dalam sebagai “Kajian Sejarah Terpadu.”

Azra lantas mengkritisi, sub judul itu seharusnya secara harfiah diterjemahkan sebagai “Esai Sejarah Total”, sehingga dapat secara implisit menjelaskan corak penulisan sejarah yang dianut Lombard. Lebih jauh menurut Azra, sub judul dalam bahasa Prancis ini mengisyaratkan bahwa Lombard ingin menulis sejarah Jawa secara global, atau tepatnya, secara total.

Sejarah global atau sejarah total (total history) atau juga sering disebut “new history”, masih merujuk Azra merupakan suatu corak yang lebih baru dalam historiografi di Indonesia. Sejarah total ialah sejarah tentang seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Lombard dalam karyanya Nusa Jawa: Silang Budaya ini membahas pelbagai aspek kehidupan masyarakat dalam perkembangan historisnya. Hampir semua aspek kehidupan dibicarakan, sejak dari geografi, pelapisan sosial demografi, keyakinan masyarakat, estetika, ekonomi dan perdagangan, birokrasi, peranan perempuan, seni lukis hingga gaya berpakaian, dan lain sebagainya.

Tak salah buku Nusa Jawa: Silang Budaya sepenuhnya mewujudkan tendensi sejarah global atau sejarah total tersebut. Sifat menyeluruh dari upaya rekontruksi sejarah inilah, membuat karya sejarahnya menjadi lain daripada karya lainnya. Tak salah juga jika sejarawan Taufik Abdullah (1999) dalam Lombard, Mazhab Annales, dan Sejarah Mentalitas Nusa Jawa, mengatakan karya Lombard ini adalah studi sejarah yang paling ambisius yang dihasilkan oleh seorang ilmuwan tentang Pulau Jawa.

Mudah diduga, karya Lombard ini bukan hanya semata-mata menjadi pustaka klasik, melainkan lebih jauh juga bakalan jadi rujukan penting dan sekaligus sumber inspirasi bagi para peneliti generasi mendatang. (W-1)

Ragam Terpopuler
Cap Go Meh Cita Rasa Nusantara
Perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor berlangsung meriah. Nuansa Cap Go Meh tak melulu pentas atraksi etnis Tionghoa, tapi sudah berbaur dengan atraksi kesenian nusantara. ...
100 Calendar of Events 2020
Ada ribuan acara budaya dan wisata yang akan terjadi di Indonesia. Namun pemerintah hanya menetapkan 100 acara sebagai acara nasional. ...
Mengejar Wisatawan Premium di 2020
Pemerintah tak lagi mengejar volume jumlah wisatawan. Tapi kini menitikberatkan pada kualitas wisatawan yang berkunjung. Sehingga, jumlah devisa diharapkan mampu melampaui pendapatan tahun-tahun sebel...
Teka-teki Tagaril
Di tengah teka-teki tentang nama tokoh sejarah yang banyak disepakati sebagai pencanang Bandar Sunda Kelapa, ada satu petunjuk menarik tentang riwayat kelahirannya. ...
Sebuah Filsafat Perenialisme Tertua
Mpu Tantular sangat jauh melampaui zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa membangun Masyarakat Teosofi di akhir abad ke-19 dan merumuskan Filsafat Perenial bagi publik Eropa di abad ke-20, Mpu Tantu...
Bangunan Bersejarah di Kompleks Kedutaan Besar Amerika
Sebuah bangunan tua tetap kokoh berdiri di kompleks kedutaan Amerika di Jakarta. Gedung ini dipugar oleh Kedubes AS dan dijadikan museum peninggalan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebuah destinasi bar...
Labuan Bajo, Go International
Labuan Bajo memiliki seluruh potensi kekayaan ekowisata. Tidak salah sekiranya kota pelabuhan ini ke depan diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata premium berskala internasional. ...
Bunga Teratai Raksasa di Tengah Danau
Bangunan raksasa itu jelas sengaja didirikan untuk melukiskan bunga teratai sebagai penghormatan terhadap Budha Maitreya. Borobudur ialah bangunan bunga teratai raksasa dari jutaan kubik batu and...
Kratom, Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...