Bahasa | English


WARISAN BUDAYA

Desa Budaya Pampang

15 May 2019, 00:00 WIB

Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit.


Desa Budaya Pampang Desa Budaya Pampang. Sumber foto: Istimewa

Kita mengenal Suku Batak, Minang, Papua, Sasak, Jawa dan beragam suku lainnya. Di Pulau Kalimantan kita tentunya sudah tidak asing lagi dengan Suku Dayak yang memiliki baju adat yang unik, tradisi yang khas hingga tari-tarian yang indah.

Dari setiap suku yang ada di Indonesia, sudah pasti memiliki rumah adat atau kampung adat. Rumah Batak, Rumah Minang, Rumah Toraja sudah pasti akrab dengan kita. Rumah-rumah ini biasanya berada di satu kampung atau pedesaan.

Nah, untuk Suku Dayak yang berada di Pulau Kalimatan, mereka memiliki satu Kampung Budaya yang diberi nama Desa Budaya Pampang.

Secara sejarah, sekira  1960-an, Suku Dayak Apokayan dan Kenyah yang saat itu berdomisili di wilayah Kutai Barat dan Malinau, hijrah lantaran tak mau bergabung atau tak ingin ikut ke wilayah Malaysia. Rasa nasionalisme mereka yang mendorong mereka memilih tetap bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selama bertahun-tahun, mereka menempuh perjalanan dan hidup berpindah-pindah  Untuk menyambung hidup, mereka singgah di tempat-tempat yang dilaluinya dan berladang.  Sehingga akhirnya mereka sampai di kawasan Pampang.

Di Desa Pampang ini, Suku Dayak Apokayan, memilih menetap dan mulai melakukan berbagai kegiatan masyarakat, seperti bergotong-royong, merayakan hari raya keagamaan, dan panen raya.

Kurang lebih 30 tahun berselang, pada tahun 1991, Desa Pampang yang berada di Samarinda, Kalimantan Timur ini oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan TImur dijadikan  Desa Budaya

Pemerintah melihat bahwa desa budaya ini memiliki kegiatan positif yang bisa menjadi aset wisata unggulan baik di tingkat lokal bahkan hingga mancanegara.

Setiap tahunnya, digelar acara memperingati ulang tahun Desa Pampang, yang disebut dengan nama Pelas Tahun.

Apa saja atraksi yang bisa dilihat di desa ini?

Untuk berkunjung ke desa budaya ini, kita hanya  membayar Rp15.000 kita. Dengan membayar Rp 15.000, kita  sudah bisa menikmati tarian tradisional khas Suku Dayak di rumah adat Suku Dayak, Lamin Adat Pamung Tawai.

Di desa Budaya Pampang ini, ada rumah adat ini terbuat dari kayu Ulin dengan hiasan dan ukiran hampir di semua dindingnya. Ukiran ini dibentuk sesuai dengan ciri khas Dayak, paduan warna hitam, putih, dan kuning yang dominan. Begitu juga dengan tiang penyangga rumah yang berdiameter dua meter dihiasi ukiran indah. Bagian atap terbuat dari kayu Sirap, dengan ukiran kokoh di tengah atap dan sudut-sudutnya.

Kalau kita ingin menyaksikan tari-tarian, biasanya di  akhir pekan masyarakat Desa Pampang mengggelar pertunjukan tarian adat Suku Dayak. Ada beberapa jenis tarian yang dapat kita nikmati, yaitu tari Bangen Tawai, Hudoq, Kanjet Anyam Tali, Ajay Pilling, Kancet Lasan, Nyalama Sakai, hinggga Kancet Punan Lettu.

Semua tarian ini tentu memiliki makna tersendiri, termasuk dari gerakan-gerakannya. Sehingga biasanya sebelum salah satu tarian dimulai, akan ada penjelasan mengenai makna dari tarian yang akan digelar. Uniknya, semua tarian yang digelar di Desa Pampang melibatkan seluruh masyarakat tua maupun muda.

Kita tidak hanya bisa menyaksikan pertunjukan khas Suku Dayak, kita juga bisa berfoto menggunakan pakaian adat khas Suku Dayak. Untuk menyewa pakaian tersebut kita dikenakan biaya sekitar Rp20.000-Rp25.000 saja. Cukup murah bukan.

Bagi yang tidak  ingin menyewa pakaian, kita bisa berfoto denganSuku Dayak dengan cara berfoto bersama penduduk asli setempat yang bertelinga panjang. Namun untuk berfoto bersama penduduk asli bertelinga panjang dikenakan biaya tersendiri.

Melalui desa ini, pemerintah berharap desa ini bisa terus memelihara dan melestarikan adat istiadat dan budaya masyarakat Dayak. Desa Budaya Pampang, kini kerapkali dikunjungi oleh tamu-tamu VIP yang datang di Kaltim dan para turis lokal dan mancanegara.

Turis dan para pengunjung merasa penasaran ingin melihat langsung eksotisme budaya, adat istiadat dan sosok masyarakat Dayak, yang memang sudah dikenal dunia.

Selain itu, pemerintah mendukung agar warga Dayak yang menghuni Desa Pampang untuk bisa mengembangkan potensi lain, misalnya saja membuat cindera mata seperti manik-manik dan sejenisnya.

Kalau sedang berwisata ke Samarinda, tak ada salahnya mampir ke Desa Budaya Pampang ini. (K-TB)

Budaya
Ragam Terpopuler
Islam, Sumbangsih Terbesar Etnis Tionghoa
Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam. Demikian ujar Presiden ke-3 BJ Habibie dalam sebuah orasi di Masjid Lautze pada Agustus 2013. ...
Ziarah Kubur, Ibadah Haji Orang Jawa di Masa Lalu
Bagi kaum abangan, ziarah kubur ke makam raja-raja di Imogiri bermakna sebagai pengganti ibadah haji. ...
Membaca Kembali Sriwijaya yang Jaya itu
Petunjuk lain yang menguatkan keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di Semenanjung Melayu, tepatnya di sebelah selatan teluk Bandon, saat ini Thailand bagian selatan. ...
Pacung dan Sambiran, Ternyata Dugaan Lombard Benar
Temuan-temuan ini menguatkan tesis bahwa pada abad ke-9 terjadi kontak yang sangat intensif antara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan India. ...
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Solidaritas Sosial dalam Sunat Poci dan Mantu Poci
Demikianlah potret lekatnya tradisi minum teh mengejawantah pada hajatan sunat poci dan mantu poci. Sayangnya, ritus sosial yang mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dan hubungan timbal balik antar...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...