Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


WISATA BUDAYA

Di Balik Tradisi Pembuatan Tau-tau

Thursday, 2 May 2019

Ketinggian peletakan tau-tau rupanya menyiratkan tingkat sosial dari jenazah yang dimakamkan. Semakin tinggi letak jenazah dan tau-tau di tebing, maka derajat sosial jenazah tersebut makin tinggi.


Di Balik Tradisi Pembuatan Tau-tau Tau-tau di Londa. Sumber foto: K/Intan Deviana Safitri

Ditempuh selama kurang lebih delapan jam perjalanan menggunakan bus dari kota Makassar, Rantepao yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Toraja Utara, dikenal luas sebagai pusat budaya suku Toraja. Kecamatan berpenghuni kurang lebih 26.000 jiwa ini juga kerap dijadikan titik awal penjelajahan wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menilik keunikan wisata di wilayah Toraja.

Disebut unik, wisata di Toraja sukses tersohor hingga mancanegara bukan karena bentangan alamnya yang indah maupun sajian khas kulinernya, melainkan karena tradisi upacara kematian yang dikenal dengan nama Rambu Solo. Upacara penyempurnaan bagi masyarakat Toraja yang meninggal tersebut diadakan secara besar-besaran, bahkan konon bisa menghabiskan dana hingga ratusan juta rupiah.

Terselip di antara panjangnya rangkaian upacara Rambu Solo untuk mengantar jenazah ke alam yang disebut Poyo, salah satu prosesi yang tak boleh terlewatkan adalah proses pembuatan patung tau-tau. Tradisi ini menjadi salah satu penyebab puncak prosesi Rambu Solo bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan lamanya.

Menurut istilah dalam Bahasa Toraja, ‘tau’ memiliki arti orang. Sehingga bila didefinisikan, tau-tau bermakna orang-orangan atau sesuatu yang menyerupai manusia. Pembuatan tau-tau tentu bukan sekadar membuat patung pada umumnya. Menjadi bagian penting dalam prosesi Rambu Solo, tau-tau dibuat menyerupai wajah masyarakat Toraja yang sudah tutup usia.

Konon, budaya membuat tau-tau yang sudah ada sejak abad 19 ini berawal dari tidak adanya foto atau gambar jenazah semasa hidupnya. Sehingga, masyarakat Toraja sepakat untuk mengganti foto jenazah dengan patung tau-tau karena dibutuhkan replika wajah orang yang meninggal untuk melengkapi upacara Rambu Solo, sebagai penjaga makam dan pelindung keluarga yang masih hidup.

Tau-tau yang dipesan oleh pihak keluarga jenazah ini nantinya akan diletakkan di dekat makam jenazah yang terletak di tebing atau di dalam gua setalah upacara Rambu Solo rampung digelar. Namun jika pihak keluarga belum sanggup mengadakan upacara Rambu Solo, antara lain, karena masih terkendala biaya penyelenggaraan, tau-tau dapat disimpan lebih dulu di ruangan khusus demi keamanan patung.

Sebagai simbol roh almarhum yang tidak turut mati, tau-tau terlarang dipesan sebelum orang tersebut tutup usia. Pasalnya tindakan itu dianggap mendahului kematian.

Untuk melihat langsung patung tau-tau, dari agen bus Rantepao, wisatawan bisa menyewa motor atau mobil untuk tiba di wisata Gua Londa, sebuah gua alam yang difungsikan sebagai kuburan masyarakat suku Toraja. Berada sejauh 7 kilometer dari Rantepao, Londa menjadi salah satu lokasi terbaik untuk menilik tau-tau.

Dari pintu masuk wisata Londa yang berada di salah satu sisi bukit, wisatawan sudah bisa melihat deretan tau-tau di kejauhan yang diletakkan di atas Gua Londa. Dilihat sekilas, tampak tau-tau ini diletakkan secara berjejer dengan ketinggian yang berbeda. Ketinggian peletakan tau-tau rupanya menyiratkan tingkat sosial dari jenazah yang dimakamkan. Semakin tinggi letak jenazah dan tau-tau di tebing, maka derajat sosial jenazah tersebut makin tinggi.

Selain dilihat dari letak ketinggian makam dan tau-tau, derajat sosial jenazah juga bisa dilihat dari bahan pembuat tau-tau. Bagi masyarakat yang berasal dari kalangan bangsawan, tau-tau dibuat dari kayu pohon nangka yang konon memiliki kualitas kayu terbaik dan termahal harganya. Sedangkan tau-tau untuk kalangan menengah terbuat dari kayu pohon randu dan bambu untuk masyarakat kalangan bawah.

Pembuatan tau-tau dan peletakannya harus menaati aturan adat ini. Apabila dilanggar, roh almarhum dipercaya akan terdampar dan tersesat di antara alam manusia dan alam Poyo.

Dikatakan Natalis Noy, salah satu perajin tau-tau di kawasan Gua Londa, proses pembuatan tau-tau membutuhkan waktu pengerjaan hingga berbulan-bulan. Hal ini karena perajin perlu mempelajari foto jenazah terlebih dulu. Untuk menyelesaikan separuh pembuatan tau-tau saja, diakui Natalis, waktu yang digunakan bisa mencapai 3 bulan. Bagian tersulit untuk membuat tau-tau, menurutnya, adalah membentuk bagian raut wajah. Para perajin tau-tau seperti Natalis Noy, sesuai adat Toraja, akan dibayar menggunakan hewan kerbau.

Hingga kini, tradisi pembuatan tau-tau memang masih dipertahankan oleh masyarakat suku Toraja. Namun, akibat adanya modernisasi dan arus globalisasi, proses pembuatan tau-tau yang dulunya dilakukan dengan sangat sakral, turut bergeser mengikuti perkembangan zaman.

Jika dulu tau-tau dibuat dengan cara memahat kayu menggunakan tanduk kerbau, kini alat pahat yang digunakan para perajin tau-tau, termasuk Natalis Noy, hampir dipastikan semua menggunakan alat pahat dari besi.

Dengan proses memahat yang lebih mudah, hasil pahatan pada tau-tau pun lebih halus dan nyaris mendekati sempurna seperti wajah almarhum. Kondisi tersebut sangat berbeda ketika alat pahat membuat tau-tau masih menggunakan tanduk kerbau. Raut-raut wajah yang dihasilkan pada patung tau-tau belum tampak detail.

Jika dulu selalu diadakan ritual pemotongan satu ekor babi setiap selesai pembuatan anggota tubuh yang terpisah dari badan, seperti tangan, kaki, dan alat kelamin, maka kini ritual tersebut sudah hampir tak pernah lagi ditemukan. Termasuk, hilangnya ritual pemotongan satu ekor ayam jantan di bawah pohon nangka yang akan ditebang untuk diambil kayunya sebagai bahan pembuat tau-tau. Hal tersebut disebabkan pohon nangka sudah semakin jarang ditemukan di Toraja. Kayu pohon nangka yang digunakan untuk membuat tau-tau kini selalu didatangkan dari luar daerah.

Di wilayah Toraja yang mencakup Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Tana Toraja, selain wisata Gua Londa, masih ada beberapa obyek wisata lain yang bisa dikunjungi wisatawan untuk melihat tau-tau secara langsung. Lokasi tersebut mencakup Desa Adat Kete Kesu di Toraja Utara, serta Tampang Allo dan Lemo yang terletak di Tana Toraja.

Di Londa dan Kete Kesu, tau-tau yang bisa dijumpai merupakan tau-tau baru alias tau-tau yang bentuk wajahnya sudah lebih detail dan sangat mirip dengan wajah almarhum. Sedangkan jika ingin menyaksikan tau-tau versi lama, pengunjung dapat menjumpainya di Tampang Allo dan Lemo.

Dengan banyaknya obyek wisata pekuburan dan situs megalitik di Toraja, wisatawan bisa menjelajah beberapa destinasi pilihan menggunakan motor atau mobil yang telah disewa selama seharian penuh. Jangan melewatkan obyek wisata Londa, Kete Kesu, Tampang Allo, atau Lemo jika berencana untuk menyaksikan langsung patung tau-tau khas dari Toraja. Pastikan pula untuk menjaga tindak tanduk dan kesopanan selama berwisata ke area pekuburan karena area tersebut merupakan makam leluhur masyarakat Toraja yang wajib dihormati. (K-ID)

Budaya
Wisata
Ragam Terpopuler
Bekantan, Bertahan dari Kepunahan
Di lokasi bernama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang sejak tahun 2006 wilayahnya diperluas menjadi 22 hektar, jumlah populasi bekantan tak lebih dari 30 ekor. ...
Batang Hari Sembilan: Ibu Suku dan Marga
Budaya Palembang berkembang di sepanjang Musi dan anak-anak sungainya, wilayah budaya yang disebut Batang Hari Sembilan. Budaya sungai itu melahirkan banyak suku dan marga. ...
Budhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...