Bahasa | English


WISATA BUDAYA

Goa Londa Toraja Menyimpan Banyak Cerita

29 November 2019, 05:54 WIB

Toraja, memiliki alam yang indah. Udaranya sejuk dan segar, anginnya bertiup semilir. Sebagai destinasi wisata, Toraja menawarkan sensasi. Ada Goa Londa dimana wisatawan dapat merasakan pemandangan unik dengan peti-peti mayat yang tersimpan di goa-goa pada tebing batu berbukit terjal. Takut? Tak perlu! Karena, makam Gua Londa tidak seperti makam pada umumnya.


Goa Londa Toraja Menyimpan Banyak Cerita Goa Londa Toraja. Foto: Pesona Indonesia

Terletak 7 KM Selatan Rantepao, tepatnya di Desa Sandan Uai, Kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, itulah letak Goa Londa. Transportasi yang tak sulit untuk menuju kesana membuat banyak turis lokal dan mancanegara menikmati kemudahan wisata ke Goa Londa.

Ada layanan jasa ojek, becak motor, mobil sewaan atau kendaraan pribadi dari Pusat Kota Rantepao yang bisa mengantarkan kita ke lokasi. Untuk perjalanan melalui Makassar menuju Rantepao memakan waktu sekitar 8-9 jam menggunakan bus angkutan umum. Londa sendiri merupakan objek wisata makam goa yang berada di sebuah bukit, di dalamnya berisi peti mati, tulang, dan tengkorak jenazah yang sudah berumur ratusan tahun.

Londa adalah goa yang terbentuk oleh alam, diperuntukkan untuk penyimpanan jenazah khusus bagi para leluhur Toraja dan keturunannya. Goa ini berada di sisi bukit batu terjal yang ketinggiannya di atas bukit. Dahulu, sebelum masuknya agama Islam dan Kristen di Tana Toraja, penduduk setempat sudah menganut kepercayaan warisan nenek moyang yang disebut Aluk Todolo atau Alukta. Kepercayaan Alukta inilah yang melandasi ritual adat dan tradisi masyarakat Toraja.

Di Goa Londa, peti jenazah yang ada tidak dikuburkan tapi hanya diletakkan begitu saja. Tidak tampak aura horor dan tidak berbau mayat, meski banyak tengkorak yang berserakan dan peti mati yang berumur ratusan tahun. Kondisi dalam goa juga tidak panas sama sekali, justru berhawa sejuk dan sepoi-sepoi. Setiba di objek wisata Goa Londa, pengunjung disambut beberapa orang  pemandu wisata (tourist guide). Mereka membawa lampu petromaks yang dapat dipilih oleh pengunjung.

Menyewa petromaks bersama pemandu wisatanya dikenai biaya kurang lebih Rp 25.000 per orang. Para pemandu wisata di sana rata-rata masih memiliki hubungan keluarga terhadap jazad orang-orang yang dimakamkan di dalam gua.

Di depan area Goa Londa terdapat banyak sekali tau-tau (patung, dalam bahasa Toraja) yang menyerupai wajah asli orang yang meninggal. Secara tradisi Toraja, sebelum jenazah dibuat patung, keluarga yang berduka harus melakukan ritual pemotongan kerbau sebanyak 24 ekor.

Tidak hanya tau-tau saja yang berada di dalam goa, pemandangan peti-peti jenazah atau ‘erong’ di dinding bukit pun mempesona. Peti tersebut disokong dengan kayu khusus agar tidak jatuh. Erong merupakan peti mati dari para bangsawan. Semakin tinggi letak petinya di dalam goa, maka semakin tinggi pula derajatnya.

Pengunjung juga dapat menikmati pemandangan lain begitu keluar dalam Gua Londa, ada jalan setapak dengan beberapa anak tangga sampai di sebuah puri yang berada di tengah bukit. Dari atas puri kita dapat melihat pemandangan kubur batu di atas bukit terdapat rongga tempat dimana jenazah disimpan. Penyimpanan di bukit tersebut dilakukan karena kondisi gua sudah penuh dengan peti jenazah.

Selain itu, pengunjung juga bisa ke situs kubur batu lain yang diberi nama lemo. Saat masuk kawasan situs kubur batu tersebut, pengunjung juga dikenakan biaya tiket masuk sama dengan besarnya tiket ketika kita masuk ke dalam Goa Londa. Perbedaannya di Lemo, pengunjung yang masuk goa disambut dengan pedagang yang menjual pernak-pernik khas Toraja.

Bila masuk goa lebih ke dalam barulah kita akan menyaksikan tebing karts yang berongga-rongga. Rongga-rongga tersebut berisi peti jenazah. Di sekitarnya terdapat patung-patung manusia yang dibuat sebagai simbol orang yang jenazahnya disemayamkan di tebing tersebut.

Penyimpanan Jenazah Paling Lama 36 Malam

Kebiasaan masyarakat Tana Toraja yang menyimpan jenazah bukan karena kepercayaan Alukta yang mereka anut. Tapi lebih pada kewajiban melaksanakan upacara pemakaman sebagai pelaksanaan aluk to mate (memperlakukan orang yang telah mati secara terhormat). Karena semakin cepat jenazah dimakamkan, akan semakin banyak kesempatan untuk melaksanakan upacara pemberkatan lainnya.

Alasan lain yang melatarbelakangi penyimpanan jenazah di dalam goa atau liang-liang bukit adalah menunggu kedatangan kerabat sang jenazah yang pergi jauh karena sedang merantau. Selain itu juga untuk memberi kesempatan terakhir bagi keluarganya memberikan kasih sayang pada jenazah.

Tradisi aluk to mate juga dilakukan untuk menungggu terkumpulnya biaya upacara. Pelaksanaan aluk to mate memang membutuhkan dana besar. Maka, ritual penyimpanan jenazah di liang-liang bukit dimaknai sebagai adat Toraja untuk memberi kesempatan keluarga yang berduka mengumpulkan dana membeli hewan korban yang jumlahnya banyak, terlebih agar bisa melaksanakan rambu solok (mengantarkan jenazah ke alam yang disebut puya).

Dahulu, sebelum di disimpan di dalam Goa Londa masyarakat adat Toraja biasanya menyimpan jenazah di Rumah Tongkonan. Penyimpanan jenazah paling lama 36 malam untuk keluarga bangsawan Toraja. Di luar golongan bangsawan, bisa kurang dari itu atau tidak disimpan sama sekali karena upacaranya terlalu singkat.

Ada sebutan yang disematkan untuk jenazah yang disimpan yaitu to makula dan to mate. To makula adalah jenazah yang disimpan dianggap hanya sebagai orang yang sakit. Sedangkan to mate, jenazah sedang dalam rangkaian upacara atau aluk to mate. Di sekitar peti-peti jenazah yang bertumpuk itu sering kita temukan minuman, rokok, sirih atau pakaian. Ini adalah simbol bahwa jenazah yang disimpan sebagai to makula.

Ada cerita misteri yang disampaikan pemandu wisata tentang dua goa yang ada disana. Goa Londa dan Goa Lemo, kedua gua ini seperti sepasang kekasih yang bunuh diri karena jalinan cinta mereka kandas tak direstui kedua orang. Sepasang kekasih tersebut masih memiliki hubungan saudara. Ini bisa dilihat dari kedua tulang-belulang mereka yang ditaruh saling berdekatan satu sama lain. (K-GR)

Warisan Budaya
Wisata
Ragam Terpopuler
Kota Bunga Tomohon dan Serba Tujuhnya
Banyak orang sepakat bahwa Tomohon adalah salah satu destinasi wisata yang memikat. Wisatawan datang ke sana tidak hanya karena indahnya bunga dan alamnya, tapi juga keragaman budaya dan tolerans...
Martabat Tujuh dan Konstitusi Kasultanan Buton
Seturut konstitusi Martabat Tujuh, bicara penegakan hukum (law enforcement) saat itu bisa dikatakan tidaklah tebang pilih. Siapapun yang terbukti bersalah bakalan diganjar sesuai dengan aturan hukum y...
Ratu Kalinyamat, Membangkitkan Kembali Politik Maritim Nusantara
Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sanga...
Restorasi yang Urung di Situs Kawitan
Dulu pernah ada keinginan warga sekitar untuk “merestorasi” situs Kawitan yang ditemukan pada kurun 1965-1967. Namun hal itu tidak terealisasi karena jiwa yang malinggih di situs tersebut ...
Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan
Di atas tanah seluas 25 ribu hektar, berdiri miniatur hutan Indonesia. Beraneka ragam tanaman hutan bisa ditemui di sana. ...
Menikmati Sensasi The Little Africa of Java
Dulu, mungkin tak pernah terpikirkan untuk merancang liburan di Banyuwangi. Sebuah kota kecil di ujung Pulau Jawa. Tapi kini, magnet wisata di Banyuwangi cukup kuat dan beragam jenisnya. ...
Wisata Heritage Berbasis Masyarakat ala Surabaya
Surabaya memiliki destinasi wisata heritage kedua, Peneleh City Tour, Lawang Seketeng, di kawasan Peneleh. Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengelola wisata haritage pertama...
Kampung Batik Laweyan, Saksi Bisu Industri Batik Zaman ke Zaman
Berkunjung ke kota Solo kurang lengkap bila tak mendatangi Kampung Batik Laweyan (KBL). Sebuah sentra industri batik legendaris yang telah berdiri sejak 500 tahun lalu. Batik sudah menyatu dengan...
Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu
Banyak pesona pada rumah adat Baileo, milik suku Huaulu penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Baileo memiliki arti penting dalam eksistensi suku Huaulu. Hal itu bukan saja karena Baileo berfungsi seb...
Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam
Ritual memohon kesembuhan kepada Dewata, banyak kita jumpai di berbagai etnis di Nusantara. Sebut saja upacara Badawe yang dilaksanakan Suku Dayak kemudian ada rutal Balia yang dipraktikkan oleh ...