Bahasa | English


SEJARAH

Gondangdia, Kota Tua Penuh Pesona

16 May 2019, 00:00 WIB

Gondangdia adalah kota tua sarat jejak peninggalan Kolonial.


Gondangdia, Kota Tua Penuh Pesona Bangunan Bersejarah di Gondangdia. Foto: IndonesiaGOID/Rina Garmina

Belanda datang ke Indonesia beberapa ratus tahun lalu. Jejaknya dapat dilihat di semua kota di Indonesia, tidak terkecuali Jakarta. Di Jakarta, salah satu kawasan yang sarat dengan bangunan peninggalan Belanda adalah Kota Tua Gondangdia, Jakarta Pusat.

Asal usul nama Gondangdia ada beberapa versi. Gondangdia berasal dari nama pohon Gondang yang tumbuh pada tanah basah. Versi lain menyebut Gondangdia adalah nama binatang air sejenis keong berukuran besar.

Apabila menyusuri Jalan Cut Meutia, bangunan di sisi kiri dan kanan kebanyakan masih berarsitektur Belanda. Sebut saja Masjid Cut Meutia. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels, masjid ini adalah kantor pengembang perumahan De Boewploeg. Di tangan pengembang asal Belanda itulah Gondangdia menjadi perumahan elit yang kini bangunan-bangunannya telah banyak berubah fungsi.

Tidak jauh dari Masjid Cut Meutia terdapat Rumah Menteng 37. Rumah itu dahulu milik CF Starkey, direktur NV Java Neon Company. Sebelum berubah fungsi menjadi kantor seperti sekarang, Rumah Menteng 37 pernah diubah menjadi tempat penampungan perempuan dengan keterbatasan ekonomi yang dimotori Christian Women Union.

Bangunan peninggalan Kolonial lainnya adalah Gedung Joang 45. Gedung yang sekarang menjadi museum, awalnya hotel. Dibangun oleh Schomper, hotel tersebut diberi nama yang sesuai dengan nama pendirinya.

Kala itu, Schomper mendiirikan hotel sebagai tempat singgah pejabat Belanda dan pribumi serta pengusaha asing yang berkunjung ke Batavia. Schomper dan keluarganya juga tinggal di sana. Akan tetapi, mereka tersingkir sejak Jepang berkuasa di Indonesia.

Tentara Jepang menyita aset Schomper dan mengubah hotel menjadi asrama dan tempat pendidikan bagi pemuda Indonesia. Tujuannya untuk menciptakan pemuda-pemuda Indonesia yang mendukung aksi Jepang di Tanah Air.

Akan tetapi, para pemuda justru menjadikan asrama tersebut sebagai tempat pendidikan nasionalisme. Ada peran Sukarno, Mohammad Hatta, Adam Malik,  Chaerul Saleh, dan tokoh pemuda pejuang kemerdekaan lain dalam menanamkan nasionalisme di asrama.

Nama Schomper juga sempat diubah menjadi Gedung Menteng 31. Mengusung nama baru, Gedung Menteng 31 sempat beberapa kali mengalami perubahan fungsi menjadi kantor Kementerian Pengerah Tenaga Rakyat dan Kantor Dewan Harian Angkatan 45.

Memiliki peran besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, Gedung Menteng 31 pun diubah menjadi museum sejak 1974.

Bangunan bersejarah lain di kawasan Gondangdia adalah Tugu Kunstkring Palaes dan Pasar Gondangdia. Dibuka pada 17 April 1914, Kunstkring menjadi pusat eksibisi seni dan restoran mewah. Lukisan karya pelukis ternama Pablo Picasso dan Vincent van Gogh pernah dipamerkan di gedung tersebut.

Sementara Pasar Gondangdia merupakan tempat jual beli. Pasar tradisional Gondangdia menjadi cikal bakal lahirnya gado-gado Boplo yang terkenal hingga saat ini. Nama Boplo diambil dari kata De Boewploeg.

Gondangdia saat ini adalah kawasan elit yang tertata rapi. Kehadiran Stasiun Gondangdia memudahkan warga Jakarta, Depok, Bogor dan Tangerang mendatangi kawasan tersebut untuk bekerja, pelesir atau sekadar transit. (K-RG)

Budaya
Wisata
Ragam Terpopuler
Bibit Pesepakbola Indonesia itu dari Lembah Cycloop
Kabupaten Jayapura boleh berbangga, dari lima pesepak bola mudanya yang masuk Timnas U-15 di Portugal. Dan salah satu dari lima pemain itu jadi top scorer dalam ajang bergengsi dunia,  IBER Cup 2...
Desa Adat Trunyan, antara Kubur Angin dan Kubur Tanah
Masyarakat Trunyan tak hanya mengenal satu upacara dan satu model penguburan. Selain kubur angin (exposure), mereka juga mengenal kubur tanah (inhumation). Bicara upacara kematian, selain Ngutang Mayi...
Kubur Batu Bagi Marapu
Tidak semua orang bisa menjadi Marapu setelah mati. Itu sangat bergantung pada apa yang telah dia lakukan selama hidupnya dan apa yang dilakukan oleh para keturunannya untuk membuatkan upacara pengubu...
Pluralitas Hindu di Bali
Ratu Sakti Pancering Jagat oleh masyarakat Trunyan ditempatkan pada posisi tertinggi sekaligus dianggap manifestasi Sang Hyang Widhi. Dalam konteks inilah, keberadaan dewa-dewa utama dari Hindu yaitu ...
Munggah Kaji, Perjalanan Mencapai Keutamaan
Mekah dalam imajinasi orang Jawa hanyalah salah satu kota yang berada di tempat yang sangat jauh. Kota para leluhur dalam sejarah manusia. ...
Lokalisasi Hindu-Bali menjadi Hindu-Trunyan
Di Trunyan terdapat sebuah patung batu raksasa, peninggalan zaman Megalitikum. Konon, patung ini bukanlah karya manusia, melainkan piturun, yang artinya diturunkan dari langit oleh Dewa. Dan menarikny...
Jalan Dagang Orang Bugis dan Terjadinya Singapura
Monopoli Belanda di Riau kepulauan adalah salah satu yang membuat Raffles memutuskan untuk membangun pangkalan di Tumasik. Raffles tentu tidak mau kehilangan perdagangan yang saling menguntungkan deng...
Teka-Teki Keraton Majapahit
Penjelasan Prapanca mulai dari halaman-halaman yang ada di dalam keraton, nama-nama tempat penting, jalan-jalan penghubung, makam-makam pembesar dan pemuka agama, barak dan alun-alun, hingga gerbang-g...
Sopi, Sake ala Indonesia dan Masa Depan Tuak
Sopi sebagai minuman khas Nusa Tenggara Timur, kini resmi dilegalkan. Pelegalan ini disambut baik oleh sebagian besar masyarakat NTT. Salah satu alasannya, karena minuman keras ini bersangkut paut den...
Bisbul, Buah Lemak Berbulu yang Penuh Manfaat
Buah beludru atau yang lebih sering dikenal dengan buah bisbul (Diospyros discolor) merupakan salah satu buah khas yang identik dengan Kota Bogor, Indonesia. ...