Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


BAHASA DAERAH

Horas, Bukan Hanya Milik Orang Batak

Monday, 29 April 2019

Sapaan Horas sudah tidak hanya menjadi entitas suku Batak saja, kata ini sudah dikenal sebagai ungkapan keakraban bagi masyarakat Indonesia.


Horas, Bukan Hanya Milik Orang Batak Suku Batak. Sumber foto: Jennyfaraway

Ungkapan yang sebetulnya sudah tidak asing lagi terdengar bagi telinga kita masyarakat Indonesia, apapun suku dan darimana berasal. Horas, sudah menjadi semacam ucapan salam yang membawa makna kehangatan dan keakraban bagi mereka yang saling bertemu.

Biasanya, ketika seseorang yang bertemu dengan kawannya yang berasal dari Medan, Sumatera Utara terutama orang Batak, secara spontanitas ungkapan Horas menjadi pembuka keakraban mereka. Padahal, mungkin saja sebelumnya tidak pernah bertemu.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, ungkapan Horas memang dimaknai dan diidentikkan dengan identitas budaya orang Batak. Maknanya bisa bermacam-macam, namun yang awam ketahui ungkapan ini sama artinya dengan ungkapan keakraban yang lain misalnya “selamat pagi”, atau dalam bahasa Jawa “sugeng enjang”, dan sebagainya.

Bermakna Homograf

Bagi orang Batak sendiri, kata Horas sudah memiliki banyak makna dan tidak terlepas dari kondisi seperti apa yang dihadapi pada saat ungkapan tersebut diucapkan. Horas bisa diartikan sebagai sebuah harapan, Horas juga bisa diartikan sebagai ucapan pada suatu momen perpisahan dan Horas juga bisa dimaknai ungkapan kebahagiaan.

Dengan masing-masing makna tersebut memiliki pelafalan yang berbeda, misalnya Horas yang berarti ucapan seperti “salam”, “selamat pagi”, penekanan dalam penyebutannya terletak pada huruf “o”. Bunyi vokal huruf “o” ini harus diucapkan lebih tinggi dibandingkan huruf vokal lainnya yakni “a”. Jika, penekanan dalam penyebutannya pada huruf vokal “a”, maka maknanya akan berbeda lagi yakni Horas mengartikan sebagai sebuah harapan atau permohonan.

Horas Bagi Orang Toba

Istilah Batak Toba muncul karena kebanyakan populasi suku ini mendiami sekitar Danau Toba; juga disebut halak Samosir atau orang Samosir karena leluhur mereka berasal dari pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba. Zaman kolonial Belanda, suku Toba sering disebut dengan Batak Barat untuk menegaskan keberadaan mereka di sebelah Barat Danau Toba, yang dilawankan dengan masyarakat Simalungun yang mendiami wilayah Timur Danau Toba (Antono & Purnomo, 2003). Suku Batak Toba, sekarang merupakan populasi terbanyak dari suku-suku Batak yang lain (Yakobus Ndona, 2018).

Orang Batak Toba memaknai pencapaian hidup bermuara pada tiga nilai yakni hamoraon, hagabeon dan hasangapon. Hasangapon berarti kemuliaan, kewibawaan dan kehormatan. Nilai pertama ini menjadi dorongan bagi orang Batak untuk gigih memperjuangkan dan meraih kedudukan sosial di masyarakat. Nilai kedua, Hamoraon diterjemahkan yang berarti memiliki kekayaan atau memiliki banyak harta. Dan nilai yang ketiga, Hagabeon merupakan nilai tertinggi. Orang Toba melihat, kehadiran anak, terutama anak laki-laki melebihi segala nilai lain. Kehadiran anak menjamin kelanjutan generasi dan perolehen hak-hak dalam adat. Kehadiran anak memberi kehormatan dan gelar baru kepada orang tua. Mereka memperoleh gelar baru sebagai amang dan inang, ayah dan ibu dari si anak. Hal yang sama terjadi dengan pahopu atau cucu, sang opung (kakek dan nenek) memperoleh gelar baru sebagai opung doli dan opung boru (Yakobus Ndona, 2018).

Tiga nilai besar itulah yang dimaknai Orang Batak Toba dalam kata Horas. Horas berarti pemenuhan ketiga nilai dasar itu, meskipun pencapaian horas membutuhkan nilainilai pendukung seperti nilai–nilai sosial, religius dan sebagainya.

Sementara ditinjau dari terminologi falsafahnya, Horas memiliki makna yang erat kaitannya dengan motto hidup orang Batak yang senantiasa menjadi pedoman hidupnya.

Makna yang pertama yakni Holong masihaholongan yang berarti kasih mengasihi. Makna kedua yakni, On do sada dalan nadumenggan yang memiliki arti inilah jalan yang terbaik. Selain itu, nilai lainnya adalah Rap tu dolok rap tu toruan yang memiliki arti terdekat sebagai seia sekata, Asa taruli pasu-pasu atau supaya kita diberkati, kemudian terminologi yang terakhir yakni Saleleng di hangoluan yang artinya selama kita hidup.

Empat terminologi itu menjadi satu kesatuan yang mengandung pesan supaya orang Batak selama hidupnya saling mengasihi, saling menolong dan saling membantu, karena hal tersebut merupakan jalan terbaik. Maka, tidak heran ada pelabelan tidak tertulis bahwa orang Batak umumnya memiliki watak menolong dan kekeluargaan yang tinggi. (K-ES)

Budaya
Lingkungan Hidup
Sosial
Ragam Terpopuler
Bekantan, Bertahan dari Kepunahan
Di lokasi bernama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang sejak tahun 2006 wilayahnya diperluas menjadi 22 hektar, jumlah populasi bekantan tak lebih dari 30 ekor. ...
Batang Hari Sembilan: Ibu Suku dan Marga
Budaya Palembang berkembang di sepanjang Musi dan anak-anak sungainya, wilayah budaya yang disebut Batang Hari Sembilan. Budaya sungai itu melahirkan banyak suku dan marga. ...
Budhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...