Bahasa | English


WARISAN BUDAYA

Kejawen, Pedoman Berkehidupan bagi Masyarakat Jawa

15 December 2018, 15:38 WIB

Kejawen dipandang sebagai Ilmu yang mempunyai ajaran-ajaran yang utama, yaitu membangun tata krama atau aturan dalam berkehidupan yang baik.


Kejawen, Pedoman Berkehidupan bagi Masyarakat Jawa Sumber foto: Sketsa Gambar Wordpress

Kejawen merupakan kepercayaan dari sebuah etnis yang berada di Pulau Jawa. Filsafat Kejawen didasari pada ajaran agama yang dianut oleh filsuf dari Jawa. Walaupun Kejawen merupakan kepercayaan, sebenarnya Kejawen bukanlah sebuah agama.

Dari naskah-naskah kuno Kejawen, tampak betapa Kejawen lebih berupa seni, budaya, tradisi, sikap, ritual, dan filosofi orang-orang Jawa. Yang mana, itu tidak terlepas dari spiritualitas suku Jawa.

Budaya Kejawen muncul sebagai bentuk proses perpaduan dari beberapa paham atau aliran agama pendatang dan kepercayaan asli masyarakat Jawa. Sebelum Budha, Kristen, Hindu, dan Islam masuk ke Pulau Jawa, kepercayaan asli yang dianut masyarakat Jawa adalah animisme dan dinamisme, atau perdukunan.

Orang-orang Jawa yang percaya dengan Kejawen relatif taat dengan agamanya. Di mana, mereka tetap melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan dari agamanya. Caranya, dengan menjaga diri sebagai orang pribumi. Pada dasarnya, ajaran filsafat Kejawen memang mendorong manusia untuk tetap taat dengan Tuhannya.

Sejak dahulu kala, orang Jawa memang dikenal mengakui keesaan Tuhan. Itulah menjadi inti dari ajaran Kejawen sendiri, yakni yang dikenal dengan ‘Sangkan Paraning Dumadhi’,  atau memiliki arti ‘dari mana datang dan kembalinya hamba Tuhan’.

Aliran filsafat kejawen biasanya berkembang seiring dengan agama yang dianut pengikutnya. Sehingga kemudian dikenal terminologi Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Budha Kejawen, dan Kristen Kejawen. Di mana pengikut masing-masing aliran itu akan tetap melaksanakan adat dan budaya Kejawen yang  tidak bertentangan dengan agama yang dipeluknya.

Secara umum, Kejawen sendiri merupakan sebuah kebudayaan yang mempunyai ajaran utama yakni membangun tata krama atau aturan dalam berkehidupan yang baik. Kini Kejawen telah banyak ditinggalkan, dan untuk sebagian orang bahkan dianggap representasi dari kekunoan.

Tetapi kenyataannya, masih banyak juga masyarakat Jawa yang menjalankan tradisi-tradisi hingga saat ini. Sebut saja ritual nyadran, mitoni, tedhak siten, dan wetonan. Nyadran merupakan upacara yang dilakukan orang Jawa sebelum Puasa tiba. Wujudnya, melakukan berziarah ke makam-makam dan menabur bunga.

Kemudian mitoni. Tradisi ini diperuntukkan bagi wanita yang mengandung bayi untuk pertama kalinya. Tepatnya di usia kehamilan tujuh bulan, ritual berupa siraman itu digelar. Lalu ada tedhak siten, yakni ritual yang dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan seorang anak agar dapat menjalani kehidupan  yang benar dan sukses di masa depan.

Sedangkan tradisi lainnya adalah wetonan yang mirip dengan tradisi ulang tahun. Hanya saja, wetonan bisa dilaksanakan hingga 10 kali dalam setahun. Wetonan dilaksanakan sesuai dengan penunjukan waktu dalam penanggalan kalender Jawa.

Sekarang masih banyak tradisi Kejawen yang masih dilakukan oleh orang Jawa, selain tentunya dilestarikan secara turun-temurun. Namun terkadang mereka seperti kehilangan makna filosofis dari Kejawen itu sendiri. Sehingga mereka melakukan tradisi Kejawen tapi hanya menganggap tradisi-tradisi itu sebagai kebiasaan masyarakat Jawa. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus bangsa, sudah sepantasnya kita terus melestarikan dan bangga dengan adat istiadat khas Indonesia.

Kejawen memang amat lekat dengan adat istiadat orang Jawa. Itulah sebabnya, walau Kejawen telah banyak ditinggalkan, beberapa tradisi yang dalam Kejawen masih melekat di masyarakat hingga kini. (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Planet-2020, Pengolah Limbah Berbasis Biologi
Kelebihannya antara lain mampu mendegradasi polutan (zat pencemar) hingga 90-98 persen. Ini lebih tinggi dibanding Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berbasis kimia. ...
Beradaptasi di Bawah Bayang-Bayang Pandemi
Sejumlah negara membiarkan masyarakatnya beraktivitas walaupun  terbatas dan dengan ketentuan. Kehidupan akan berjalan, tapi berbeda dengan hidup normal sebelumnya ...
Kelahiran Fitri dan Covid, Buah Satwa Sejahtera
Seekor bayi orangutan lahir di masa pandemi Covid-19. Kelahiran bayi orangutan ini melengkapi kehadiran seekor anakan gajah sumatra pada 28 April 2020. ...
Biarkan Mereka Tetap Lestari
Masih ada warga yang memelihara satwa liar, langka, dan dilindungi. Selain berdampak kepada kelestarian hewan tersebut, juga berisiko terkena penyakit zoonosis. ...
Wira Sang Garuda Muda dari Gunung Salak
Dua anakan elang jawa lahir di utara Taman Nasional Gunung Salak Halimun dalam setahun terakhir. ...
Inovasi Kreatif Kala Kepepet
55 produk karya anak bangsa untuk percepatan penanganan Covid-19 diluncurkan. Sembilan di antaranya jadi unggulan. ...
Banyu Urip, Ketika Satu Kampung Hasilkan Lontong
Terkenal seantero Jawa Timur, kampung lontong ini pernah dikunjungi Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri. ...
Tiga Herbal yang Berpotensi Tangkal Corona
Tiga tanaman yang tumbuh di Indonesia ini dianggap punya potensi menjadi antivirus corona. Uji klinis masih diperlukan untuk mengetahui khasiatnya. ...
Bukan Ketupat Biasa
Ketupat Sungai Baru punya ciri khas dibanding ketupat lainnya. Ia sudah menjadi ikonis di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lebih besar dan awet. ...
Cara Baru Menikmati Wisata dari Rumah
Wisata virtual dapat menjadi peluang usaha baru bagi para operator pariwisata di Tanah Air di tengah pandemi virus corona. ...