Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota

WARISAN BUDAYA

Kejawen, Pedoman Berkehidupan bagi Masyarakat Jawa

Saturday, 15 December 2018

Kejawen dipandang sebagai Ilmu yang mempunyai ajaran-ajaran yang utama, yaitu membangun tata krama atau aturan dalam berkehidupan yang baik.


Kejawen, Pedoman Berkehidupan bagi Masyarakat Jawa Sumber foto: Sketsa Gambar Wordpress

Kejawen merupakan kepercayaan dari sebuah etnis yang berada di Pulau Jawa. Filsafat Kejawen didasari pada ajaran agama yang dianut oleh filsuf dari Jawa. Walaupun Kejawen merupakan kepercayaan, sebenarnya Kejawen bukanlah sebuah agama.

Dari naskah-naskah kuno Kejawen, tampak betapa Kejawen lebih berupa seni, budaya, tradisi, sikap, ritual, dan filosofi orang-orang Jawa. Yang mana, itu tidak terlepas dari spiritualitas suku Jawa.

Budaya Kejawen muncul sebagai bentuk proses perpaduan dari beberapa paham atau aliran agama pendatang dan kepercayaan asli masyarakat Jawa. Sebelum Budha, Kristen, Hindu, dan Islam masuk ke Pulau Jawa, kepercayaan asli yang dianut masyarakat Jawa adalah animisme dan dinamisme, atau perdukunan.

Orang-orang Jawa yang percaya dengan Kejawen relatif taat dengan agamanya. Di mana, mereka tetap melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan dari agamanya. Caranya, dengan menjaga diri sebagai orang pribumi. Pada dasarnya, ajaran filsafat Kejawen memang mendorong manusia untuk tetap taat dengan Tuhannya.

Sejak dahulu kala, orang Jawa memang dikenal mengakui keesaan Tuhan. Itulah menjadi inti dari ajaran Kejawen sendiri, yakni yang dikenal dengan ‘Sangkan Paraning Dumadhi’,  atau memiliki arti ‘dari mana datang dan kembalinya hamba Tuhan’.

Aliran filsafat kejawen biasanya berkembang seiring dengan agama yang dianut pengikutnya. Sehingga kemudian dikenal terminologi Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Budha Kejawen, dan Kristen Kejawen. Di mana pengikut masing-masing aliran itu akan tetap melaksanakan adat dan budaya Kejawen yang  tidak bertentangan dengan agama yang dipeluknya.

Secara umum, Kejawen sendiri merupakan sebuah kebudayaan yang mempunyai ajaran utama yakni membangun tata krama atau aturan dalam berkehidupan yang baik. Kini Kejawen telah banyak ditinggalkan, dan untuk sebagian orang bahkan dianggap representasi dari kekunoan.

Tetapi kenyataannya, masih banyak juga masyarakat Jawa yang menjalankan tradisi-tradisi hingga saat ini. Sebut saja ritual nyadran, mitoni, tedhak siten, dan wetonan. Nyadran merupakan upacara yang dilakukan orang Jawa sebelum Puasa tiba. Wujudnya, melakukan berziarah ke makam-makam dan menabur bunga.

Kemudian mitoni. Tradisi ini diperuntukkan bagi wanita yang mengandung bayi untuk pertama kalinya. Tepatnya di usia kehamilan tujuh bulan, ritual berupa siraman itu digelar. Lalu ada tedhak siten, yakni ritual yang dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan seorang anak agar dapat menjalani kehidupan  yang benar dan sukses di masa depan.

Sedangkan tradisi lainnya adalah wetonan yang mirip dengan tradisi ulang tahun. Hanya saja, wetonan bisa dilaksanakan hingga 10 kali dalam setahun. Wetonan dilaksanakan sesuai dengan penunjukan waktu dalam penanggalan kalender Jawa.

Sekarang masih banyak tradisi Kejawen yang masih dilakukan oleh orang Jawa, selain tentunya dilestarikan secara turun-temurun. Namun terkadang mereka seperti kehilangan makna filosofis dari Kejawen itu sendiri. Sehingga mereka melakukan tradisi Kejawen tapi hanya menganggap tradisi-tradisi itu sebagai kebiasaan masyarakat Jawa. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus bangsa, sudah sepantasnya kita terus melestarikan dan bangga dengan adat istiadat khas Indonesia.

Kejawen memang amat lekat dengan adat istiadat orang Jawa. Itulah sebabnya, walau Kejawen telah banyak ditinggalkan, beberapa tradisi yang dalam Kejawen masih melekat di masyarakat hingga kini. (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Gotong Royong, Antara Sukarno, Suharto, dan Dangdut Koplo (1)
Jika Sukarno mengatakan bahwa gotong royong adalah filosofi Indonesia, tentu Sukarno sedang ingin membangun imajinasi kebesaran bangsanya, yang saat itu masih belum wujud seperti sekarang. ...
Gotong Royong, Antara Sukarno, Suharto, dan Dangdut Koplo (2)
Ditingkahi dengan kebutuhan manusia yang ingin selalu tersambung satu sama lain, piranti genggam berkembang menjadi faktor pengubah peradaban manusia pada saat ini. ...
Gotong Royong, Antara Sukarno, Suharto, dan Dangdut Koplo (3)
Boleh diperkirakan hiburan Dangdut Koplo yang media promosi dan pemasarannya mengandalkan Youtube sebagai etalase, mampu menghidupi jutaan mulut. ...
Rumah Pohon Tertinggi Milik Suku Korowai Papua
Hampir tak terjamah, Suku Korowai merupakan salah satu suku yang ada di pedalaman Papua. Mereka hidup di atas rumah pohon dengan ketinggian mencapai 50 meter dari permukaan tanah. ...
Potret Pembangunan Manusia
Keyakinan Presiden Joko Widodo pada konsepsi voluntarisme, yang tercermin dalam tagline ‘Kerja, Kerja, dan Kerja’, jelas sekaligus mengisyaratkan keyakinannya pada konsepsi ‘homo fab...
Panggih dalam Pernikahan Adat Jawa
Menikah dengan adat merupakan kebanggaan tersendiri bagi manusia, termasuk yang berasal dari Suku Jawa. Di antara prosesi adat yang panjang, salah satunya upacara Panggih yang sarat akan makna. ...
Cerita Panji Sebagai Wujud Diplomasi Budaya
Cerita Panji masuk daftar Memory of the World UNESCO. Dalam deskripsinya, UNESCO menetapkan asal-usul genre sastra ini dari Indonesia. Menariknya, UNESCO bahkan menempatkan hipotesa Andrian Vickers se...
Gamelan dari Le Kampong Javanais
Jika seseorang mendengarkan gamelan tanpa prasangka, orang akan mampu menangkap sihir-sihir nada-nada perkusi yang mau tidak mau memaksa kita untuk mengakui bahwa selama ini musik yang kita punya (bar...
Resep Menjadi Dalang Kondang
Menjadi dalang adalah profesi yang menuntut kemampuan dan kemauan belajar seumur hidup. ...
Tambora Menggelapkan Dunia
Di dunia empat musim, sama sekali tidak terjadi musim panas di sepanjang 1816. Akibatnya, negeri-negeri itu bukan saja terjadi gagal panen, kelaparan dan penyakit tifus pun mendera. Dari India, muncul...