Bahasa | English


BUDAYA

Kepercayaan di Famadihana, Meyakini Sakralnya Ritual Menari Bersama Orang Mati

28 December 2019, 03:50 WIB

Menari, ya siapapun akan suka dengan menari. Entah mesti ia menari atau sebatas melihat orang lain menari.


Kepercayaan di Famadihana, Meyakini Sakralnya Ritual Menari Bersama Orang Mati Keramaian di Famadihana. Foto: Africanlens

Namun bagaimana kalau menari bersama orang mati? Ya, mungkin terdengar aneh. Tetapi, boleh percaya atau tidak, di Madagaskar, rupanya memang terjadi ritual menari bersama orang meninggal atau mati.

Memang, banyak ritual unik sekaligus menyeramkan dari berbagai negara.

Di antaranya adalah Famadihana, yang merupakan ritual menari bersama orang mati. Yang melakukannya adalah Suku Malagasi di Hauts Plateaux, Madagaskar.

Tentang ritual menari dengan orang mati, atau yang dikenal juga sebagai 'Memutar Tulang' ini  biasa dilakukan setiap 5 atau 7 tahun sekali.

Pada ritual ini memiliki tahapan yaitu saat mereka akan menggali kubur, mengeluarkan jasad leluhur dan membungkusnya kembali dengan kain kafan yang baru, hingga kemudian diikat dengan tali.

Nah, setelah semua siap, dengan disaksikan anggota keluarga, maka orang yang telah meninggal itu akan bersorak menyambut tulang belulang leluhurnya.

Kemudian mereka akan berpesta, menari-nari diiringi hentakan musik. Yang menarik saat melakukan atraksi tersebut  sesekali mereka melakukan atraksi  mengangkat jasad leluhur.

Bagi yang menghadiri ritual ini, diperuntukan siapa saja boleh hadir, tidak hanya sebatas keluarga.

Tetapi  nemang diperuntukan secara khusus untuk sanak saudara, biasanya mereka akan mendekati jasad, kemudian bernyanyi, tertawa-tawa sambil.dilanjutkan secara  dan perlahan membuka bungkusan.

Selanjutnya adalah, dengan tenang mereka menyiram anggur ke atas tumpukan tulang dan menutupnya kembali. Memastikan bungkusan tertutup, selanjutnya tulang belulang tersebut kembali dikuburkan ke dalam tanah. Di sinilah terjadi kembali diiringi tarian.

Bagi kepercayaan di Famadihana meyakini ritual ini memiliki makna tersendiri dan sangat sakral.

Terutama bagi, suku Malagasi mempercayai, kalau Famadihana adalah perwujudan rasa cinta terhadap keluarga yang telah meninggal.

Ketika berlangsungnya proses ritual unik ini, semua anggota keluarga tidak peduli dan memimirkan di mana mereka tinggal saat menghadiri prosesi ritual tersebut.

Seperti halnya acara adat yang lain, kehadiran semua anggota keluarga disertai dengan bawaan yang banyak  seperti daging, sup, permen, minuman dan sebagainya.

Dipastikan saat menghadiri ritual ini, hampir seluruh anggota keluarga bergembira, khususnya dengan pengangkatan tulang belulang.

Setelah jasad yang terurai, mereka juga menpercayai bahwa roh orang yang telah meninggal akhirnya akan bergabung bersama para leluhurnya. Dan tentu saja seremonial penyatuan ini yang tepatnya akan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Bagi para wisatawan yang pernah menyaksikan ritual menari bersama orang meninggal ini, tentu saja seilah mendapatkan pengalaman dibalut sukacita dan musik yang heboh.

Namun kalau boleh jujur, tetap saja menyaksikan prosesi sakral ini akan berasa seram karena menari bersama orang yang sudah meninggal, pasti akan membuat bulu roma orang hadir dan menyaksikan berdiri, seram merasakan ketakutan.

Untuk mendapatkan pengalaman langsung di Famadhana ini, bisa datang berkunjung pada sekitaran bulan Juli dan September. Di bilan tersebut biasanya akan berlangsung ritual menari bersama orang mati. (K-HP)

Budaya
Warisan Budaya
Ragam Terpopuler
Cartridge-nya Isi Ulang, Diagnosisnya Lima Menit
Dengan Abbott ID Now diagnosis Covid-19 dapat dilakukan dalam lima menit. Yang diidentifikasi DNA virusnya. Ratusan unit X-pert TM di Indonesia bisa dimodifikasi jadi piranti diagonis molekuler. Lebih...
Masker Kedap Air Tak Tembus oleh Virus
Sebanyak 30 perusahaan garmen bersiap memproduksi massal masker nonmedis dan masker medis. Bahannya tak tembus oleh virus. Impor bahan baku dibebaskan dari bea masuk. ...
Bisikan Eyang Sujiatmi di Hati Presiden Jokowi
Eyang Sujiatmi telah pergi. Kerja keras, kedisiplinan, dan kesederhanaannya akan selalu dikenang anak-anaknya. ...
Menikmati Surga Bahari di Atas Pinisi
Pesona tujuh layar kapal pinisi sulit diingkari. Sosoknya instagramable. Wisata berlayar dengan pinisi kini berkembang di Labuan Bajo, Raja Ampat, Bali, dan Pulau Seribu Jakarta. ...
Berubah Gara-gara Corona
Corona mengubah hampir segalanya, termasuk gaya orang berjabat tangan. Penelitian menyebutkan, tangan merupakan wadah bakteri paling banyak. ...
Melepas Penat di Gunung Gumitir
Namanya Gumitir. Kawasan yang ada di perbatasan Jember-Banyuwangi itu menawarkan banyak sajian. Dari kafe hingga wisata kebun kopi. ...
Sulianti Saroso, Dokter yang Tak Pernah Menyuntik Orang
Tugas dokter tak hanya mengobati pasien. Kesehatan masyarakat harus berbasis gerakan dan didukung  kebijakan serta program pemerintah. Kepakarannya diakui WHO. ...
Sampar Diadang di Pulau Galang
Pemerintah beradu cepat dengan virus penyebab Covid-19. Tak ingin korban kian berjatuhan, dalam sebulan rumah sakit khusus penyakit menular siap ...
Bermula dari Karantina di Serambi Batavia
Dengan kemampuan observasi biomolekulernya, RSPI Sulianti Saroso menjadi rumah sakit rujukan nasional untuk penyakit infeksi. Ada benang merahnya dengan Klinik Karantina Pulau Onrust. ...
Tak Hanya Komodo di Labuan Bajo
Labuan Bajo disiapkan pemerintah sebagai destinasi super prioritas Indonesia. ...