Bahasa | English


SUKU BANGSA

Keragaman Tradisi Borneo yang Memikat

27 November 2018, 08:50 WIB

Perpaduan antara tradisi kekinian dan kekunoan suku Dayak menjadi magnet bagi warga dunia.


Keragaman Tradisi Borneo yang Memikat Masyarakat suku Dayak. Sumber foto: Antara Foto

Berdasarkan sensus BPS pada 2010, terdapat setidaknya 1.340 suku bangsa di Indonesia. Suku Dayak adalah salah satunya. Warga suku Dayak mendiami Pulau Kalimantan dengan populasi sebanyak 3.009.494 jiwa, di tahun itu.

Saat ini, suku Dayak terbagi ke dalam beberapa rumpun besar, yaitu Punan, Klemantan, Murut, Iban, Ot Danum-Ngaju, dan Apokayan. Rumpun paling tua yang mendiami Pulau Kalimantan adalah rumpun Dayak Punan.

Masyarakat suku Dayak terkenal dengan keramahannya. Itulah yang membuat banyak wisatawan lokal hingga mancanegara tertarik menjadikannya sebagai tujuan wisata. Selain, memang banyak keunikan yang ditemukan pada suku Dayak.

Sebut saja, tato khas suku Dayak yang membuat banyak wisatawan yang datang juga ingin memilikinya. Anthony Kiedis dari Red Hot Chilli Peppers bahkan pernah datang ke Borneo demi mendapatkan tato asli Dayak. Walau begitu, sebenarnya tidak semua orang bisa memiliki tato khas suku Dayak.

Masyarakat Dayak meyakini, tato merupakan sesuatu yang memiliki makna mendalam. Bukannya sekadar hiasan tubuh. Tato khas Dayak sendiri merupakan salah satu warisan tato tertua di dunia yang dilestarikan.

Suku Dayak juga memiliki senjata khas bernama Mandau. Mandau atau parang merupakan alat yang digunakan oleh para pria Dayak sebagai alat pembela diri saat menghadapi bahaya. Tata cara masyarakat Dayak mengatur, Mandau tidak boleh digunakan untuk mengancam orang lain ataupun dikeluarkan secara serampangan dari tempatnya.

Itu sejalan dengan cerita yang berkembang di masyarakat itu, yakni jika Mandau sudah keluar dari tempatnya, maka bakal ada darah yang tertumpah. Suku Dayak memang terkenal dengan dunia magisnya. Dahulu, rakyat Dayak menganut paham animisme. Mereka menyembah roh leluhur dan sering melakukan ritual pemujaan roh.

Senjata lain yang juga dimiliki oleh suku Dayak adalah Sumpit Beracun. Sumpit merupakan senjata yang digunakan dengan cara ditiup, untuk melesatkan anak sumpit di dalamnya ke arah sasaran. Senjata itu mematikan karena ada racun yang diterakan pada anak sumpit tersebut.

 

Hal yang juga menarik dari tradisi Dayak adalah kebiasaan memanjangkan cuping telinga. Pemanjangan cuping daun telinga itu biasanya dilakukan dengan meletakkan logam pemberat yang berbentuk lingkaran di cuping telinga. Dengan pemberat itu, lama-kelaman daun telinga akan memanjang beberapa sentimeter.

Tradisi memanjangkan cuping telinga itu tidak hanya berlaku bagi wanita, tapi juga untuk laki-laki. Biasanya, ada perbedaan makna dalam tradisi memanjangkan cuping telinga yang dilakukan anggota suku Dayak.

Bagi laki-laki dari suku Dayak Kayan, misalnya, aktivitas itu menunjukkan bahwa dia merupakan kalangan bangsawan. Sedangkan bagi perempuan, pemanjangan cuping telingga bisa menunjukkan kebangsawanan atau malah mereka adalah para budak yang kalah perang atau tidak mampu membayar utang. Cuping telinga panjang juga bisa menjadi identitas untuk menunjukkan umur seseorang.

Kekhasan suku Dayak juga tampak dari tipologi para gadisnya. Gadis Dayak dikenal memiliki kulitnya yang relatif putih dan bersih, menyerupai gadis-gadis Tionghoa. Gadis Dayak juga identik dengan tubuhnya yang mungil.

Dalam kehidupannya, gadis Dayak juga sangat akrab dengan kain tenun Ulap Doyo. Kegiatan menenun Ulap Doyo sudah dilakukan perempuan Dayak sejak dahulu. Kegiatan itu lazimnya dilakukan untuk mengisi waktu luang. Selain juga untuk menambah penghasilan.

Kain Ulap Duyo acap dipakai untuk menghadiri upacara adat. Warna dasar kain khas Dayak itu adalah hitam, merah, dan cokelat muda. Motif beragam dan biasanya perbedaan motif itu sekaligus menunjukkan status sosial pemakainya.

Sebut saja motif Ulap Doyo jaunt nguku. Motif itu biasanya hanya dipakai oleh para kalangan bangsawan. Sedangkan motif waniq ngelukng digunakan orang biasa. Jika terkait ihwal keelokan, maka simbolnya adalah naga bagi perempuan dan harimau bagi pria.

Dengan beragam tradisinya yang unik itulah, tak heran jika suku Dayak begitu memikat banyak pelancong. Hanya haruslah diingat, jika hendak bertandang ke bumi suku Dayak, pastikan Anda juga telah memahami aturan lokal yang dijunjung tinggi ketaatannya oleh masyarakat di sana. (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...
Kanjeng Ratu Kidul
Menurut kitab Wedhapradangga, pencipta Bedhaya Ketawang adalah Sultan Agung. Meskipun demikian kepercayaan tradisional meyakini, tarian ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kidul sendiri. Menariknya, Suna...
Jadi Pengikut atau Pelopor, Dilema Mobil Listrik Nasional
Para pemain lama sudah sangat gemuk dengan kompleksnya teknologi perakitan dan teknologi purnajual berbasis mesin bakar. Sedangkan bagi Cina yang sudah lebih lama mengembangkan teknologi penyimpanan l...
Mendorong Pengakuan Unesco terhadap Geopark Kaldera Toba
Apa pentingnya pengakuan Unesco? Dalam framework pengembangan destinasi itu selalu menggunakan konsep 3A yakni atraksi, akses, dan amenitas. Jika ingin menjadi global player, harus menggunaka global s...