Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


FENOMENA KULTURAL

Keris, Simbolisasi Heroik Logo

Thursday, 6 December 2018

Ada kecenderungan umum melekatkan senjata tradisional sebagai unsur simbolik pembentuk logo resmi di banyak daerah di Indonesia. Fenomena ini dapat dibaca sebagai ekspresi bawah sadar tentang kuatnya naluri keperwiraan masyarakat Nusantara masa lalu.


Keris, Simbolisasi Heroik Logo Sumber foto: Wikipedia

Sejak dulu, fungsi keris agaknya lebih dari sekadar sebagai senjata tradisional. Dalam banyak kebudayaan keris ialah sumber inspirasi.

Terlebih semenjak memasuki sejarah perang kemerdekaan. Tak sedikit para pahlawan Indonesia selalu terlihat membawa keris. Bukan sebagai senjata taktis, melainkan lebih sebagai pengiring spiritual perjuangan mereka melawan kekuatan kolonialisme.

Sebutlah Tuanku Imam Bonjol dari Sumatra Barat di abad ke-19. Atau, masih di abad yang sama, Pangeran Diponegoro dari Jawa dan Sultan Hasanudin dari Sulawesi Selatan. Tak kecuali I Gusti Ketut Jelantik dari Bali, dan masih banyak lainnya.

Sementara, dari abad ke-20 yang paling tersohor ialah pemimpin legendaris, Jenderal Besar Soedirman. Bagi Bapak Tentara Indonesia yang berasal dari Banyumas ini tampak jelas keris bukanlah berfungsi sebagai senjata taktis, sekalipun sepanjang perang gerilya ia selalu nyengkelit keris di baju depannya.

Saking lekatnya Jenderal Besar Sudirman dengan keris, saat sebuah majalah mingguan bergengsi mengeluarkan edisi khusus berjudul “Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir” pada penghujung akhir 2012, kisah narasi keris pun jadi salah satu topik liputan.

Menariknya, tindakan heroik sepanjang perlawanan kemerdekaan telah menyebabkan keris menjadi simbol keberanian, kesatriaan, heroisme, dan patriotime. Adanya pengakuan itu setidaknya terlihat hampir semua simbol kabupaten di Jawa Tengah dan DIY bahkan secara resmi dibuat mengandung unsur keris pada logonya.

Ambil contoh, logo Kabupaten Pemalang, Tegal, Pekalongan, Batang, Banjarnegara, Magelang, Kudus, Pati, Sragen, Pati, dan Wonogiri. Tak kecuali juga logo Kota Madya Semarang dan Surakarta. Bicara logo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tak ditemui keris sebagai usur simbolik pembentuk logo. Tapi di tingkat kota madya di bekas daerah vorstenlenden ini, juga dua kabupaten-nya yaitu Kabupaten Gunung Kidul dan Bantul, ditemui.

Di Provinsi Jawa Timur, nisbi sama. Sebutlah seumpama logo Kabupaten Madiun, Magetan, Blitar, Malang, dan Pasuruan. Namun tidak demikian pada Provinsi Jawa Barat. Andaipun di sana juga ditemukan senjata tradisional sebagai ikon simbolik pembentuk logo, fenomena yang terjadi bukan mengambil bentuk keris melainkan jenis kujang.

Sementara untuk pulau-pulau luar Jawa, setidaknya keris tampak menjadi unsur simbolik pembentuk logo dari beberapa daerah. Seperti di Provinsi Bali, pada ibu kota provinsi itu yaitu Kota Madya Denpasar, juga di Kabupaten Klungkung dan Badung, pun ditemui ikon keris sebagai bagian logo.

Lainnya, yaitu Provinsi Jambi, termasuk di sini Kota Madya Jambi dan Kota Sungai Penuh, juga Kabupaten Kerinci, Sarolangun, dan Bungo. Ikon keris sebagai unsur pembentuk logo pun ditemui Provinsi Riau, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat.

Bagaimana lekatnya keris pada masyarakat Indonesia bahkan tecermin pada beberapa logo institusi pendidikan. Setidaknya di Universitas Diponegoro dan Politeknik Negeri di Semarang, juga di Universitas Jambi di Provinsi Jambi, keris muncul sebagai unsur simbolik pembentuk logo. Bahkan di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, keris bukan hanya menjadi logo tetapi juga sekaligus nama sebuah akademi keperawatan dan kebidanan: Keris Husada.

Pun jikalau bicara institusi militer di Indonesia, keris juga menjadi unsur simbolik pembentuk sebuah logo. Fenomena ini muncul bukan saja pada institusi militer secara hirarkis, yaitu dari tingkat Kodam (Komando Daerah Militer) hingga Koramil (Komando Rayon Militer), tetapi juga muncul pada logo korps pasukan.

Sebutlah misalnya Kodam Diponegoro di Jawa Tengah. Atau pada tingkat Korem (Komando Resort Militer), fenomena ini setidaknya ditemui di Korem 022/Pantai Timur yang merupakan satuan teritorial di bawah Kodam I Bukit Barisan, Korem 142 Taroada Tarogau di bawah Kodam XIV Hasanuddin, atau Korem 074 Warastratama di bawah Kodam IV, Diponegoro. Masih dari Kodam IV, di tingkat paling bawah setidaknya ditemui pada Koramil 01/Boyolali.

Sementara, pada Korps Marinir (Kormar) yang terkenal memiliki slogan ‘Jalesu Bhumyamca Jayamahe’ yang artinya ‘Di Laut dan Darat Kita Jaya’, juga terlihat melekatkan keris sebagai salah satu unsur simbolik pada logo institusionalnya.

Benar, bahwa senjata tradisional di Indonesia bukan hanya keris. Ada banyak ragam. Dan, seperti pada kasus di Provinsi Jawa Barat yang melekatkan ikon kujang, maka di daerah-daerah lain juga banyak ditemui senjata khas lokal setempat yang notabene ditempatkan menjadi unsur simbolik pembentuk logo mereka.

Apa yang penting dicatat di sini ialah adanya kecenderungan umum untuk melekatkan senjata tradisional sebagai unsur simbolik pembentuk logo di banyak daerah di Indonesia. Secara psiko-analisis, mungkin bisa dihipotesakan, fenomena ini dapat dibaca sebagai ekspresi bawah sadar perihal kuatnya naluri keperwiraan masyarakat Nusantara di masa lalu.

Naluri keperwiraan ini bukan tak mungkin mengemuka pada sifat berani, sikap kesatria, heroik, dan patriotisme sebagai karakteristik pembentuk masyarakat Indonesia modern kini. Hal yang setidaknya tercermin kuat pada elan perjuangan para pahlawan Indonesia ketika melawan dominasi kekuatan kolonialisme di masa lalu. (W-1)

Ragam Terpopuler
Membangun Bersama Masyarakat Adat
Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Papua Barat memberikan semangat serta optimisme bagi percepatan pembangunan di bumi Cenderawasih. Kabupaten Jayapura melaksanakannya dengan pelibatan masyarakat adat ...
Tren Positif Film Indonesia
Industri perfilman Indonesia semakin berkembang. Tren positip dan konsisten baik dari jumlah penonton maupun jumlah judul yang terdata sejak  tahun 2016-2018. ...
The Mandalika yang Mendunia
Bermaksud menggeber popularitas dan branding Mandalika sebagai destinasi tingkat dunia, Indonesia mengajukan diri sebagai fasilitator event MotoGP di 2021. Upaya mewujudkan langkah strategis itu digel...
Melihat Burung Cenderawasih dari Jarak Dekat
Di Bird Watching Isyo Hills ini, kita bisa melihat 8 jenis burung Cenderawasih dari 28 jenis Cenderawasih yang ada di Papua. Lokasinya pun tak jauh dari jalan utama Distrik Nimbokrang, Kabupaten ...
Kopi Wonogiri, Potensi Kopi Lokal Berkualitas
Yang mengejutkan, ditemukan ratusan pohon kopi jenis Liberica berusia tua yang berada di area hutan pinus Dusun Ngroto, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo pada pertengahan Februari 2019. ...
Cerita Di Balik Digitalisasi Naskah Keraton Yogyakarta
Kini projek digitalisasi naskah merupakan upaya pengembangan kekayaan naskah yang tidak ternilai harganya. Kemudahan akses teknologi digital pun membuat pengembangan lebih menjadi kian memungkinkan. ...
Makna Ritual Nyepi
“Melalui ritual catur bratha penyepian masyarakat Bali telah turut aktif dalam upaya mengurangi dampak global warming. Bagaimana tidak, sebuah kota internasional melakukan 24 jam tanpa listrik m...
Siwa-Budha, sebuah Praktik Filsafat Perenialisme
Bagaimanapun, keberhasilan strategi kebudayaan ala filsafat perenialisme yang terejawantahkan dalam mazhab Siwa-Budha, juga mengejawantah pada praktik kehidupan agama yang toleran, damai, dan harmoni ...
Keindahan Wisata Jayapura
Kabupaten Jayapura dianugerahi keindahan alam yang menakjubkan. Deretan perbukitan berpadu harmonis dengan keelokan Danau Sentani. Kicauan dan kepak burung Cenderawasih nan eksotik, dipadu kecant...
KEK Pariwisata Morotai dan Rempah-Rempah Maluku
Kebijakan menetapkan Pulau Morotai sebagai KEK Pariwisata diharapkan membuat kepulauan ini kembali masyhur, laiknya rempah-rempah, pala, dan cengkih yang telah membuat berbagai bangsa di dunia berdata...