Bahasa | English


AKULTURASI BUDAYA

Kronik Sejarah Penginjil Jawa

18 December 2018, 22:18 WIB

Gerakan kristenisasi di masa kolonial Belanda tampak kurang bergairah. Ada kesan kuat, itu karena kekhawatiran bangsa Belanda akan munculnya rasa dan kedudukan yang sama antara penduduk lokal dan para pendatang dari Eropa.


Kronik Sejarah Penginjil Jawa Gereja peninggalan Kyai Sandrach. Sumber foto: Wikipedia

Albdulfatah Muhammad bin Abdulkarim Asy-Syahrastani (1077 – 1153) dalam Kitab Al-Milal wa Al-Nihal sejak awal telah menyadari bahwa semua pertikaian dan fitnah dalam bidang agama selalu dimulai dari bidang politik. Kitab tulisan Asy-Syahrastani yang disebut Karel Steenbrink sebagai ‘Bapak Ilmu Perbandingan Agama’ ini berkisar soal hubungan antaragama atau sekte-sekte di dunia. Pokok soal yang menjadi tulisan kitab ini ialah pertikaian di sekitar khilafah dalam Islam.

Bahwa, sejak Nabi Muhammad wafat hingga terbunuhnya Khalifah Usman dan Khalifah Ali, dan perdebatan sengit mengenai pergantian penguasa yang berakibat perpecahan Sunni dan Syiah, serta beberapa pertikaian lain di era selanjutnya selalu berpokok soal kuasa. Sejauh obeservasi sejarah yang dilakukan Asy-Syahrastani, disimpulkan bahwa perbedaan teologi atau akidah yang cenderung dibesar-besarkan itu seringkali hanya menjadi selimut yang menyembunyikan perbedaan dan pertentangan politis yang sesungguhnya.

Tentu saja kesimpulan Asy-Syahrastani dapat dielaborasi pada banyak kasus, dan rasa-rasanya adalah “benar” bahwa ketimbang berakar pada soal perbedaan teologis jelas persoalan dan pertikaian antaragama memang seringkali lebih merupakan problem politis.

Tak kecuali jika obeservasi ini diterapkan pada sejarah hubungan Islam dan Kristen, hasilnya pun tak jauh berbeda. Tapi, tulisan ini tidak bermaksud mendedah topik itu.

Tulisan ini hanya bermaksud mengulik sejarah masuknya Kristen di Indonesia khususnya di Pulau Jawa, yang prosesnya menjadi tidak mudah justru karena syiar keagamaan ini membonceng pada proyek kolonialisme Barat. Salah satu penghalang utama ialah adanya kebijakan politik kolonialisme Barat yang cenderung anti-Islam dalam bidang politik. Kebijakan ini jelas menciptakan hambatan psikologis dan penguatan prasangka stereotipe di antara kedua belah pihak.

Dari sisi eksternal, sadar atau tidak sadar, terjadi karena adanya rasa superioritas rasial dari para penginjil terhadap masyarakat pribumi. C Guillot dalam Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa mengakui, gerakan kristenisasi di masa kolonial Belanda tampak kurang bergairah. Menurut Guillot, ada kesan kuat bangsa Belanda khawatir akan muncul rasa dan kedudukan yang sama antara penduduk lokal dan para pendatang dari Eropa jika mereka menyebarkan agama Kristen.

Sementara itu dari sisi internal yaitu munculnya resistensi kuat masyarakat pribumi pada orang Barat yang ditempatkan sebagai representasi bangsa penjajah. Agama Kristen sering dicap sebagai ‘Agama Wong Landa’(agama orang Belanda). Walhasil, orang-orang Kristen Jawa pada awal mula sejarah kristenisasi Jawa sering dicemooh, antara lain, dengan ungkapan ‘londo wurung jowo tanggung’ (mereka bukan orang Belanda maupun orang Jawa).

Ya, sekalipun bangsa Barat, yaitu Portugis, sebenarnya telah berhasil membangun kuasanya sejak 1511 di Malaka dan Belanda melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) telah menginjakkan kakinya di Banten pada 1603, merujuk Karel Steenbrink barulah dua abad kemudian yaitu memasuki abad kesembilanbelaslah boleh dikata ‘abad misi’ mulai ditorehkan secara serius di Indonesia. Baik itu berupa agenda misionaris Prostestan maupun Katolik. Meskipun memasuki abad misi, almanak Pemerintah Hindia Belanda pada 1850 masih hanya mencatat 17 pendeta, 27 misionaris Protestan, dan hanya 9 pastor Katolik Roma bekerja di Indonesia.

Selain jumlahnya yang nisbi sedikit dan karena itu fokus kerja mereka masih sebatas melayani kebutuhan orang-orang Eropa di Hindia Belanda, sering disebutkan khususnya pada masyarakat Jawa kuatnya adat istiadat mereka menjadi suatu penghalang tersendiri. Ada anggapan dalam masyarakat Jawa, menjadi Kristen berarti mereka harus meninggalkan cara hidup Kejawen.

Pada titik inilah kemunculan para penginjil besar pribumi menjadi kata kunci penting bagi penyebaran agama Kristen di Jawa. Mereka justru sekadar belajar dari para pekabar Injil awam dan bukan belajar langsung dari tradisi klerikal kepastoran secara ketat. Demikianlah disebut sebagai produk dari ‘Gereja Rumah’, di antara para penginjil besar pribumi yang dilahirkan di abad ke-19 ialah Paulus Tosari, Kiai Tunggul Wulung, dan Kiai Sadrach.

Simak peran para tokoh penginjil Jawa di artikel berikut ini Kiprah Para Penginjil Jawa (W-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Kekayaan Laut Utara, Modal Kesejahteraan Warga Pesisir
Pendapatan bersih para 'juragan' di Tegal berkisar antara satu hingga tiga miliar per bulan. Itu sudah memperhitungkan musim banyak ikan dan masa sepi karena cuaca. ...
Sawahlunto, Buah Manis Perpaduan Teknologi Barat dan Timur
Serius membuka diri menjadi destinasi pariwisata sejarah dan budaya, sejak 2002 Sawahlunto berbenah diri. Berbagai proyek revitalisasi dan konservasipun dilakukan. Keseriusan itu akhirnya berbuah mani...
Bibit Pesepakbola Indonesia itu dari Lembah Cycloop
Kabupaten Jayapura boleh berbangga, dari lima pesepak bola mudanya yang masuk Timnas U-15 di Portugal. Dan salah satu dari lima pemain itu jadi top scorer dalam ajang bergengsi dunia,  IBER Cup 2...
Desa Adat Trunyan, antara Kubur Angin dan Kubur Tanah
Masyarakat Trunyan tak hanya mengenal satu upacara dan satu model penguburan. Selain kubur angin (exposure), mereka juga mengenal kubur tanah (inhumation). Bicara upacara kematian, selain Ngutang Mayi...
Kubur Batu Bagi Marapu
Tidak semua orang bisa menjadi Marapu setelah mati. Itu sangat bergantung pada apa yang telah dia lakukan selama hidupnya dan apa yang dilakukan oleh para keturunannya untuk membuatkan upacara pengubu...
Pluralitas Hindu di Bali
Ratu Sakti Pancering Jagat oleh masyarakat Trunyan ditempatkan pada posisi tertinggi sekaligus dianggap manifestasi Sang Hyang Widhi. Dalam konteks inilah, keberadaan dewa-dewa utama dari Hindu yaitu ...
Munggah Kaji, Perjalanan Mencapai Keutamaan
Mekah dalam imajinasi orang Jawa hanyalah salah satu kota yang berada di tempat yang sangat jauh. Kota para leluhur dalam sejarah manusia. ...
Lokalisasi Hindu-Bali menjadi Hindu-Trunyan
Di Trunyan terdapat sebuah patung batu raksasa, peninggalan zaman Megalitikum. Konon, patung ini bukanlah karya manusia, melainkan piturun, yang artinya diturunkan dari langit oleh Dewa. Dan menarikny...
Jalan Dagang Orang Bugis dan Terjadinya Singapura
Monopoli Belanda di Riau kepulauan adalah salah satu yang membuat Raffles memutuskan untuk membangun pangkalan di Tumasik. Raffles tentu tidak mau kehilangan perdagangan yang saling menguntungkan deng...
Teka-Teki Keraton Majapahit
Penjelasan Prapanca mulai dari halaman-halaman yang ada di dalam keraton, nama-nama tempat penting, jalan-jalan penghubung, makam-makam pembesar dan pemuka agama, barak dan alun-alun, hingga gerbang-g...