Bahasa | English


WARISAN BUDAYA

Menguak Misteri Penumuan Gong Si Bolong Asal Depok

31 October 2019, 10:10 WIB

Rentetan kisah mistis seputar penemuan Gong Si Bolong Depok yang diduga sudah berusia ratusan tahun, masih juga belum terpecahkan. Ihwal demikian, turut dirasakan oleh salah seorang penerus penjaga Gong Si Bolong, Buang Jayadi yang akrab disapa Engkong Buang atau Kong Buang.


Menguak Misteri Penumuan Gong Si Bolong Asal Depok Gong Si Bolong. Foto: Diskominfo

Ditemui di kediamnya dikawasan Jl Raya Tanah Baru, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat, Kong Buang menjelaskan kembali cerita penemuan Gong Si Bolong dengan penuh antusias. Sesekali ia tertawa kecil ketika mengimajinasikan keadaan tersebut.

Cerita bermula sekira tahun 1648 di Kampung Tanah Baru, Depok. Pada suatu malam di area persawahan yang dialiri air terjun di Sungai Krukut, Kampung Curug, Tanah Baru, seorang tokoh agama setempat, Jimin, dikejutkan bunyi suara gamelan. Setelah dilakukan penelusuran, Jimin mendapati seperangkat gamelan yang tertimbun di tanah dengan susunan rapi.

Karena merasa takjub dengan seperangkat alat musik tradisional itu, Ia membawa pulang ke rumahnya. Jimin berani membawa pulang gamelan yang terdiri atas gong dan gendang kemudian diberi nama Si Gledek dan Bende itu lantaran yakin tak ada pemiliknya. Setelah itu, Jimin terus merawat gong yang memiliki lubang (bolong) di tengahnya hingga tertarik untuk memainkannya.

Sepeninggal Jimin, alat musik itu berpindah tangan ke Anim, selaku generasi kedua yang kemudian menyebut alat musik tersebut dengan nama Gong Si Bolong. Begitulah silsilah keluarga ini menurunkan kreativitas dalam menjaga dan memainkan gong, gamelan, kendang, dan ketipung itu.

“Pertama-tama oleh Pak Jimin, setelah beliau meninggal perawatan dilanjutkan ke Pak Anim, diteruskan ke Pak Jerah, lalu pindah ke anaknya, Saning. Sepeninggal Saning perawatan beralih ke Nenek Asem, lalu pindah ke Pak Iyot, pindah ke Haji Bahruddin kemudian ke Pak Kamsa Atmaja. Setelah Pak Kamsa meninggal, saya diberi amanat pada tanggal 30 Januari 2007 lalu, untuk merawatnya,” cerita Kong Buang dengan bersemangat.

Didorong oleh tanggung jawab pribadi itulah Engkong Buang terdorong untuk menekuni alat musik khas Depok ini sejak tahun 1952 ketika masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar). Ia mengatakan kesenian Gong Si Bolong memerlukan setidaknya 13 orang setiap kali pentas. 

Biasanya, selain menampilkan tarian jaipong, kesenian Gong Si Bolong juga bisa dipadu dengan wayang kulit, wayang betawi, ataupun wayang golek. Hal itu dilakukan sesuai tema penampilan agar penonton tidak bosan.

Mendapat Penghargaan dari Wapres Boediono

Di sebuah kamar di lantai dua rumah Kong Buang, terdapat Gong Si Bolong yang asli dan beberapa jejeran alat kesenian gamelan yang tersusun rapih. Gong Si Bolong, diletakan di sebuah tempat tidur kayu dengan ditutupi baju terusan dan rok layaknya pakaian wanita.

“Yang asli ya disini, dipakek kalau ada acara-acara tertentu aja. Gamelan yang ada di ruangan bersama Gong Si Bolong, adalah pemberian Provinsi Jawa Barat,” ucap Kong Buang. Sambil bercerita, Kong Buang terlihat mengucapkan sebait doa dan menuangkan beberapa tetes minyak wewangian. Ia juga mengoleskan minyak ke sudut-sudut Gong Si Bolong tersebut.

Aroma dari minyak tersebut, menambah kesan mistis di tempat tersebut. Di rumah Kong Buang, ada satu kamar yang berfungsi untuk menyimpan gendang dan gong kecil yang merupakan teman dari Gong Si Bolong yang konon ditemukan di pinggir Kali Krukut ratusan tahun lalu. “Dulu Gong Si Bolong pernah jatuh saat dipakai pentas, ternyata itu pertanda bahwa gong itu sudah minta disimpan,” ucap Kong Buang.

Gong Si Bolong kini menjadi sebuah nama kesenian gamelan asal Kota Depok yang sudah melegenda. Segudang prestasi sudah diraih oleh sanggar Gong Si Bolong, diantaranya pernah mendapatkan penghargaan dari Wakil Presiden RI Boediono (zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) dan juga Menteri ESDM kabinet SBY, Jero Wacik.

“Ingat saya waktu Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna disunat, juga nanggap dan diiringi Gong Si Bolong,” ucap Kong Buang, seraya tertawa.(K-YN)

Budaya
Seni
Warisan Budaya
Ragam Terpopuler
Kominfo-Gojek Perluas Akses PeduliLindungi
Aplikasi Gojek menargetkan mampu menyumbang satu juta unduhan PeduliLindungi hingga enam bulan ke depan. ...
Aksesoris Tutul Menembus Pasar Dunia
Dinobatkan menjadi salah satu desa produktif di Indonesia, hasil karya tangan-tangan warga Desa Tutul Kabupaten Jember mampu hasilkan ratusan juta rupiah dalam sebulan. ...
Anak Pekerja Migran Berbagi Sayang di Tanah Lapang
Anak-anak buruh migran bisa berekspresi, orang tua juga bisa berkreasi. Tanoker menjadi wadah keceriaan dan kebahagiaan. ...
Perjuangan Gordon Ramsay Memasak Rendang
Juru masak kelas dunia, Gordon Ramsay sukses mengeksplorasi kekayaan kuliner, budaya, dan keindahan alam Minangkabau. Ia pun memasak rendang yang lamak bana. ...
BLC, Senjata Pemerintah Melawan Corona
Aplikasi BLC tak hanya berguna untuk pemerintah dan masyarakat, melainkan juga untuk petugas kesehatan. ...
Mengenali Likupang untuk Kemudian Jatuh Cinta
Destinasi wisata di Provinsi Sulawesi Utara tak hanya Bunaken. Sejumlah pantai berpasir putih dan berair jernih ada di kawasan Likupang. ...
Akasia Berduri, Dulu Didatangkan, Kini Jadi Ancaman
Akasia berduri bukanlah tanaman asli Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Ia didatangkan dari Kebun Raya Bogor untuk keperluan sekat bakar. Tapi sekarang, flora itu malah berk...
Ventilator Karya Anak Bangsa Siap Diproduksi Massal
Pandemi corona membuat otak-otak kreatif bekerja. Hanya dalam waktu tiga bulan, anak-anak bangsa bisa menghasilkan produk inovasi yang bermanfaat. ...
Kepak Sayap Garuda Menjaga Janji Damai di Negeri Bertikai
Peperangan bisa saja meletus dengan segera, bila saja para pria berseragam pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu tidak dengan gagah berani menghadang laju tank yang siap memuntahkan ...
Tenun Sesek, Syarat Menikah Perempuan Sasak
Di dalam adat masyarakat Sasak Provinsi Nusa Tenggara Barat, menenun kain Sesek hanya diajarkan kepada anak perempuan.  Bahkan di sana, seorang perempuan belum boleh menikah jika belum mampu memb...