Bahasa | English


KERAGAMAN PAPUA

Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global

10 September 2019, 10:37 WIB

Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai sesuatu yang sangat laku di pasaran.


Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global Penulis Will Millard mengunjungi suku Korowai yang tinggal di rumah pohon Korowai Papua. Foto: BBC

Portal berita Inggris, BBC, pada April 2018 membuat pernyataan kepada publik bahwa salah satu liputan mereka sebagai tayangan yang tidak akurat. Tayangan itu adalah seri Human Planet tentang Papua yang tayang pada 2011. Film itu menceritakan suku Korowai sebagai orang-orang yang masih bertempat tinggal di rumah pohon yang terletak 10 hingga 12 meter dari atas tanah.

Persoalan menjadi pelik ketika kru film lain datang ke wilayah tersebut. Saat itu keadaan sudah berbeda. Rumah yang ingin diliput ternyata sudah tidak berbentuk seperti keadaan sebelumnya. Rumah itu sudah tinggal sisa-sisanya, kayu-kayu penyusunnya sebagian sudah runtuh ditiup angin dan tidak ada orang yang tinggal di sana. Sampai akhirnya orang-orang Korowai mengatakan bahwa rumah pohon itu memang sengaja dibuat untuk kepentingan tayangan televisi saja.

BBC segera mengeluarkan klarifikasi. Mereka mengatakan bahwa praktik jurnalisme itu telah 'melanggar standar redaksional' mereka. Mereka pun mengakui bahwa mereka sudah memperbaiki arahan redaksionalnya.

Rumah Pohon yang Membuka Mata

Tayangan BBC yang memberitakan kejanggalan itu adalah tayangan berjudul My Year with The Tribe. Dalam proses produksi tayangan itu seorang anggota suku mengatakan pada pembawa acara, Will Millard, bahwa rumah pohon itu semata-mata dibuat untuk keperluan membuat film.

Hal itu yang memaksa Millard menuturkan kepada penonton televisi dalam tayangan berikutnya bahwa rumah pohon yang telah tayang sebelumnya adalah sepenuhnya buatan. Rumah pohon itu bukanlah tempat tinggal mereka saat ini. Rumah itu dibuat semata karena kepentingan turis dan televisi.

Rupert Stasch, antropolog dari Cambridge, dalam sebuah artikel yang dimuat dalam jurnal Antropologi Cambridge tahun 2011, mencatat bahwa berita rumah pohon Korowai telah menjadi sangat populer di pertengahan 90-an. Tahun 1994, film produksi Arts & Entertainment Channel  tayang di Amerika Serikat dengan judul Treehouse People: Cannibal Justice. Kemudian tahun 1996, National Geographic mempublikasikan serial foto berjudul "irian Jaya's People of Trees".

Sejak itulah, rumah pohon Korowai dan Kombai menjadi sangat terkenal dan dimuat belasan majalah dan koran. Ada sekitar dua puluh stasiun televisi memberitakannya.  Mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Austria, Swedia, Finlandia, Japan, Australia, Swiss, Italia, Kroasia, Slovakia, Republik Ceko, Vietnam, bahkan televisi dari Papua sendiri (TVRI).

Rumah Korowai yang Sebenarnya

Gambaran tentang rumah pohon yang sangat tinggi dan eksotik, dalam kacamata Rupert Stasch yang ditulis dalam artikel berjudul Treehouses in Global Visual Culture sebenarnya hanyalah efek dari pemberitaan bergambar global saat ini. Budaya pemberitaan bergambar itu telah memantik gagasan pembacanya tentang rumah pohon dari masa lalu yang masih ada dan hidup hingga saat ini. Padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah pemberitaan yang berlebihan atau "overrepresentation" dari rumah panggung biasa yang umumnya dibuat lebih tinggi beberapa meter dari atas tanah.

Rumah utama orang Korowai adalah rumah yang diberi nama xaim. Rumah ini adalah rumah yang biasa dibuat di atas tonggak-tonggak dari pohon-pohon ukuran kecil yang menjadi pancang. Umumnya xaim ini tingginya antara 10 hingga 30 kaki dari permukaan tanah. Sekitar 3 hingga 9 meter dari permukaan tanah. Rata-rata rumah jenis ini pun hanya sekitar 15 kaki atau 4,5 meter.

Orang Korowai juga punya rumah yang dibangun hanya satu meter di atas tanah atau bahkan tidak berpanggung sama sekali. Rumah ini disebut sebagai xau. Foto-foto tentang rumah ini sangat jarang dipublikasikan.

Gambaran rumah yang sangat menarik perhatian dunia global adalah rumah jenis ketiga yang disebut sebagai lu-op, artinya rumah yang harus dipanjat. Orang Korowai sangat jarang membuat rumah jenis ini. Rumah "panjat" ini umumnya berada di ketinggian 15 hingga 35 meter di atas pohon besar yang hidup. Salah satu rumah jenis ini adalah rumah yang diubah untuk keperluan pembuatan film dari Swiss pada 2007.

Foto rumah "panjat" yang sangat terkenal adalah foto yang diambil oleh George Steinmetz pada 1995. Foto itu yang kemudian dipublikasikan di National Geographic pada 1996. Beberapa bulan kemudian foto ini dipublikasikan kembali di Reader's Digest, dan sejak saat itu menjadi foto yang paling banyak direproduksi untuk berbagai keperluan.

Imajinasi orang luar tentang rumah orang Korowai dalam pandangan Rupert Stasch sudah "out of proportion". Ketika dia berada di Korowai mereka bercerita bahwa rumah mereka yang paling banyak adalah jenis xaim.  Tujuh dari sepuluh rumah adalah rumah jenis ini. Sedangkan tiga dari sepuluh rumah adalah model xau. Hanya satu dari lima puluh rumah baru ada rumah jenis lu-op  atau rumah panjat.

Dalam sejarah Korowai rumah panjat adalah rumah yang dibangun oleh pemuda-pemuda Korowai untuk menikmati pemandangan yang luar biasa. Tempat untuk menyerukan pekikan atau suara-suara dari ketinggian. Rumah panjat ini adalah bentuk pamer yang tidak terlalu penting kepada kelompok lain untuk memperlihatkan kekuatan atau kebesaran. Tetapi rumah ini tidak pernah digunakan untuk hunian.

Nasib Rumah Buatan

Rumah yang khusus dibuat untuk program National Geographic, dalam catatan Rupert langsung ditinggalkan setelah pemotretan dilakukan. Atap dan kayu-kayu yang digunakan untuk membuatnya sudah lama runtuh ditiup angin. Bagi masyarakat Korowai, rumah panjat adalah rumah yang tidak perlu-perlu amat. Rumah jenis lain dari kebutuhan mereka.

Untuk membuat rumah panjat ini memerlukan kerja yang ekstra. Lebih-lebih untuk ditinggali. Hampir tak ada gunanya. Saat ini orang Korowai biasanya membuat rumah jenis ini karena ada permintaan dari kru film dan turis. Ongkos untuk membuatnya sekitar 300 hingga 1.000 dolar. Sebagai contoh pada Maret 2010, dua rumah yang dibangun di atas pohon tertinggi telah dibuat untuk dua pemesan. Yang pertama untuk rombongan turis Jerman dan yang kedua dibangun untuk rombongan kru film Jepang yang akan membuat film dokumenter untuk Fuji TV yang mereka beri judul Unbelievable!

Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai sesuatu yang sangat laku di pasaran. Hal ini diperkuat oleh tumbuhnya pasar TV kabel yang meluaskan pemutaran berbagai tayangan yang lebih estetik dan seringkali eksotik bagi penontonnya. Bumbu sains populer dengan tambahan petualangan dan penjelajahan terhadap realitas yang "asing" adalah rumus bagi bertambahnya penonton yang berarti bertambahnya pendapatan. (Y-1)

Budaya
Suku Korowai Papua
Ragam Terpopuler
Jolenan Sebuah Pesta Kecil untuk Rakyat Kecil
Setiap dua tahun sekali di bulan Sapar kalender Jawa, Jolenan digelar di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Sebuah pesta sebagai pesan kerukunan dan kebersamaan menikmati berka...
Ketika Orang Jepang Suka Ngemil Edamame
Masyarakat Jepang gemar minum sake di sela-sela rutinitasnya. Otsumami (cemilan) yang cocok sebagai teman sake adalah si polong besar yaitu edamame. Salah satu favorit mereka adalah edamame dari ...
Di NTT, Lontar Disebut Sebagai Pohon al-Hayat
Masyarakat Indonesia mungkin sudah melupakan pohon lontar, atau malah tak tahu bagaimana bentuk pohon jenis palem ini. Tapi di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya Pulau Sabu dan Rote, lont...
Barus, antara Bandar Tua dan Minuman Surga
Bisa ditebak, dulu air kafur merupakan minuman yang sangat eksklusif di Arab. Wajar saja air kafur jadi simbolisasi tentang balasan kenikmatan Tuhan bagi para ahli surga di akhirat nanti. ...
Menikmati Kuliner di Pasar Ceplak Sambil Nyeplak
Berwisata ke Kota Garut, Jawa Barat, tidak lengkap jika belum berkunjung ke Pasar Ceplak. Terletak di tengah kota Garut, tepatnya di Jalan Siliwangi, Pasar Ceplak konon sudah ada sejak tahun 1970...
Ke Sambas Berburu Bubbor Paddas
Berkunjung ke Sambas Kalimantan Barat, pastikan Anda tidak melewatkan mencicipi kuliner khas kota yang pernah menjadi Kota kesultanan ini yaitu bubur pedas. Makanan khas suku Melayu Sambas ini bi...
Jejak Ketauladanan Panglima Besar Soedirman
Apresiasi terhadap nilai-nilai kejuangan dan sejarah perjuangan Soedirman bahkan juga diakui oleh Jepang, selaku mantan negara penjajah. ...
Rampak Bedug, Musik dan Tari Religi dari Banten
Kesenian yang satu ini merupakan kreasi seni permainan alat musik bedug yang khas berasal dari daerah Banten, Jawa Barat. Namanya rampak bedug. Bedug atau beduk merupakan gendang besar yang asal ...
Gunongan, Peninggalan Arsitektur Pra-Islam di Banda Aceh
Catatan Joao De Barros (1552-1615) yang berumur sedikit lebih tua beberapa tahun sebelum Sultan Iskandar Muda naik tahta memberikan kepastian bahwa Gunongan tidak didirikan pada abad 17 M. ...
Silase, Cadangan Pakan Ternak Saat Kemarau
Rumput hijau hasil fermentasi atau yang lebih dikenal dengan nama silase, kini menjadi alternatif pakan ternak untuk sapi, kerbau, dan kambing di saat musim kemarau. Silase dibutuhkan, utamanya b...