Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


RUMAH ADAT

Rumah Pohon Tertinggi Milik Suku Korowai Papua

Tuesday, 22 January 2019

Hampir tak terjamah, Suku Korowai merupakan salah satu suku yang ada di pedalaman Papua. Mereka hidup di atas rumah pohon dengan ketinggian mencapai 50 meter dari permukaan tanah.


Rumah Pohon Tertinggi Milik Suku Korowai Papua Rumah Pohon Suku Korowai di Papua. Sumber foto: George Steinmetz

Korowai, nama suku yang berada di pedalaman Papua Barat, dekat dengan perbatasan Papua Nugini, tepatnya di Kabupaten Mappi. Hingga 1970-an mereka sama sekali tidak mengetahui keberadaan manusia selain dari kelompok mereka sendiri. Hingga 1974 akhirnya mereka ditemukan oleh sekelompok ilmuwan yang tidak sengaja memasuki area suku tersebut. Suku Korowai memiliki jumlah populasi kurang lebih 3.000 orang. Uniknya, suku ini merupakan salah satu kelompok di daratan Papua yang tidak menggunakan koteka.

Suku Korowai hidup dalam kondisi terisolasi dari dunia luar. Mereka membangun rumah pohon yang dinamai Rumah Tinggi. Rumah mereka memang begitu tinggi, saking tingginya bisa mencapai 35-50 meter di atas permukaan tanah. Bukan tanpa alasan mereka membangun rumah yang begitu tinggi. Karena mereka hidup di dalam hutan tropis, mereka percaya bahwa semakin tinggi mereka membangun rumah, maka mereka akan terhindar dari gigitan nyamuk. Rumah tersebut juga menghindari mereka dari ancaman binatang buas lainnya.

Beredar mitos bahwa alasan utama Suku Korowai membangun rumah setinggi itu sebenarnya adalah mereka ingin menghindari roh-roh jahat. Mereka takut terhadap serangan ‘laleo’ atau iblis yang kejam. Laleo adalah makhluk yang berjalan seperti mayat hidup dan berkeliaran pada malam hari. Sebutan iblis atau laleo tersebut ditujukan kepada semua orang asing selain penduduk mereka, bahkan termasuk orang-orang Papua lainnya.

Terlepas dari segala alasan tersebut, suku Korowai begitu menghargai nenek moyangnya. Oleh karena itu, mereka juga menganggap bahwa rumah tinggi merupakan warisan leluhur, sehingga mereka merasa nyaman tinggal di sana, meski harus bersusah payah memanjat pohon yang begitu tinggi.

Rumah pohon yang begitu tinggi secara logika tentu tidak normal. Suatu saat angin bisa saja berhembus kencang dan dengan cepat dapat menghancurkan rumah tersebut. Karenanya, Suku Korowai tidak sembarangan dalam memilih pohon. Mereka memilih pohon-pohon yang besar nan kokoh sebagai pondasi rumahnya. Pucuk pohon tersebut digunduli untuk kemudian dibangunlah rumah mereka.

Semua bahan dibuat menggunakan bahan dari alam dan proses pembuatan rumah pohon menggunakan tangan, tanpa bantuan alat modern apapun. Kerangka rumah pohon terbuat dari batang-batang kayu kecil, sedangkan lantainya menggunakan cabang pohon. Sedangkan untuk dinding dan atap rumah, mereka menggunakan kulit pohon sagu dan daun hutan. Setelah itu semua bahan tersebut diikat menggunakan tali.

Rata-rata rumah pohon Suku Korawai memiliki ukuran sekitar tujuh kali sepuluh meter. Rumah pohon dengan ukuran lebih besar memiliki penyekat ruang dan pintu berbentuk runcing dimasing-masing ujung. Ada satu pintu untuk penghuni pria, dan pintu lainnya untuk wanita. Di rumah pohon Suku Korawai juga terdapat sebuah perapian yang terbuat dari tanah liat yang digantungkan di atas ruang terbuka, sehingga perapian tersebut mudah dipotong dan dibuang jika bara api tidak terkendali. Hal tersebut menghindari kerusakan rumah mereka.

Biasanya, sebuah rumah pohon dapat memakan waktu hingga tujuh hari. Suku Korawai masih memegang teguh adat istiadat leluhurnya. Sehingga, sebelum mereka mendirikan sebuah rumah, mereka akan melakukan ritual malam terlebih dahulu untuk mengusir roh jahat. Karena hanya menggunakan bahan alami, konstruksi rumah pohon Suku Korawai hanya bertahan hingga tiga tahun lamanya.

Setiap bidang tanah yang telah bersih terdapat dua hingga tiga rumah pohon. Tak hanya hidup bersama dalam satu keluarga, satu rumah pohon juga kerap diisi hewan peliharaan mereka seperti babi dan anjing hutan. Menurut mereka, babi memiliki nilai sosial, babi hanya dibunuh saat ada ritual dan acara khusus saja, sedangkan anjing digunakan untuk berburu. Satu rumah pohon besar dihuni hingga sepuluh orang atau lebih. Untuk naik ke rumah pohon, Suku Korowai harus menaiki tangga yang terbuat dari ranting dan tali.

Kehidupan yang Seimbang

Suku Korowai memiliki kehidupan yang begitu seimbang. Mereka begitu menjaga hubungannya dengan sesama manusia dan alam. Selain itu, mereka juga menjaga baik hubungannya dengan dunia roh, karena mereka percaya bahwa semesta ini dipenuhi dengan makhluk spiritual yang berbahaya bagi kelangsungan hidup mereka.

Seorang akademisi dari Kampus Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua, Rhidian Yasminta, melakukan riset tentang Suku Korowai sejak 2016. Menurutnya, Suku Korowai begitu menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan dalam sebuah hubungan sesama manusia. Begitu setaranya, menjadikan mereka hidup tanpa ada strata sosial seperti kepala suku atau panglima perang.

Dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan seorang laki-laki dan perempuan sama saja. Misalnya di sebuah rumah tangga, mereka hampir tidak membagi pekerjaan berdasarkan gender. Jadi, semua kegiatan mereka lakukan secara bersama-sama. Namun, dalam kebudayaan mereka hanya pada hal yang sangat prinsip dan tidak bisa diubah-ubah dan harus dilakukan sesuai gender, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui yang hanya bisa dilakukan perempuan.

Selain itu, suku Korowai melihat dari bagaimana posisi seorang wanita, terutama jika ibu mertua dari garis perempuan yang sangat dihormati. Sehingga, seorang anak menantu laki-laki harus menjaga tata karma, yaitu tidak boleh menatap wajah mertua perempuannya secara langsung.

Walaupun Suku Korowai berada di pedalaman dan terasing, rumah pohon yang mereka bangun menjadi bukti kecerdasan mereka. Suku Korowai juga memiliki kebudayaan yang begitu murni, sehingga dapat diteladani tentang hubungan mereka sesama manusia, maupun dengan alam, yang begitu seimbang. (T-1)

 

Budaya
Ragam Terpopuler
La Galigo, sebuah Kitab Suci Asli Bugis
La Galigo ialah sebagai karya sastra terpanjang di dunia. Lebih panjang daripada epik India, Mahabarata, dan Ramayana. Juga nisbi lebih panjang daripada epik Yunani, Homerus. Sayangnya popularitas La ...
Indonesia Serpihan Surga
Bumi Pertiwi berdiri dengan pesonanya yang menawan, dengan seribu kekayaan alam yang melimpah. Tak heran jika Indonesia menjadi salah satu dari sekian negara yang paling cantik di dunia. ...
Bermain Rangku Alu Melatih Konsentrasi
Nusa Tenggara Timur memiliki permainan tradisional bernama Rangku Alu yang biasa dilakukan saat musim panen. Bermain Rangku Alu dinilai dapat melatih konsentrasi dan ketangkasan. Tak hanya dimainkan a...
Cerita Cinta Nusantara
Di masa Sultan Agung berkuasa, lahirlah kisah romantika Jawa dari rahim sejarah. Bukan saja tercatat sohor, kisah itu juga melegenda hingga kini. ‘Rara Mendut-Pranacitra’ demikianlah diken...
Islam “Sarungan” Nusantara
Simaklah kembali karya klasik Clifford Geertz, The Religion of Java, menurut Marshall GS Hodgson, itu justru menunjukkan kekeliruan yang tanpa disadari oleh Geertz ketika merumuskan definisi Islam. Ba...
Kembalinya Islam Moderat
Presiden Joko Widodo berharap, Universitas Islam Internasional Indonesia dapat menjadi pusat kajian, penelitian, dan implementasi wacana peradaban Islam moderat--atau dalam bahasa Arab ‘Islam Wa...
Ratu Shima hingga Presiden Megawati
Naiknya seorang presiden perempuan yang pertama ini, Megawati Soekarnoputri, bagaimanapun merupakan sebuah lompatan eksponensial secara kebudayaan. Bagaimana tidak, Amerika yang konon merupakan negeri...
Tenun NTT, Harta Keluarga yang Bernilai Tinggi
Pengerjaan tenun NTT memiliki tingkat kesulitan yang relatif tinggi. Itulah sebabnya kerajinan tradisional itu kerap dipandang sebagai harta keluarga yang tinggi nilainya. ...
Komedi Stamboel, Juragan Tionghoa, dan Budaya Pertunjukan
Kendati bukan khas Indonsia, seni pertunjukan keliling yang memiliki unsur keragaman budaya mulai dari bahasa, musik pengiring, cara bertutur, seni gerak dan olah tubuh sampai dengan model dramaturgi ...
Lasem sebagai Model Alkulturasi
“Pasca-Orde Baru, bicara wacana relasi antaretnis, secara paradigmatik sering dihadapkan pada pilihan antara model ‘asimilasi’ di satu sisi atau ‘integrasi’ di sisi lain....