Bahasa | English


KEBUDAYAAN

Sigale-gale Carnival Bukti Kekayaan Budaya Batak

14 June 2019, 00:00 WIB

Sigale-gale pun diamanahkan sebagai kado bagi perempuan yang meninggal tanpa mewariskan anak laki-laki.


Sigale-gale Carnival Bukti Kekayaan Budaya Batak Perhelatan budaya Sigale-gale Carnival di Tuktuk Siadong, Sabtu (8/6/2019). Foto: IndonesiaGOID/Dedy Hutajulu

Memanfaatkan momentum libur lebaran, Pemerintah Kabupaten Samosir menggelar perhelatan budaya akbar bernama Sigale-gale Carnival 2019. Event ini dilangsungkan di sepanjang Jalan Tuktuk Siadong, Pulau Samosir, Sabtu (8/6/2019) kemarin. Even besar ini mengangkat tajuk "The Beauty of Ulos".

Sesuai tema yang mengangkat keadiluhungan kain ulos, para pengunjung disuguhi beragam kegiatan budaya yang didominasi dengan ulos, seperti manortor (menari), fesyen show berbahan ulos, atraksi Sigale-gale, dan penampilan epos Nai Manggale, atraksi Marching Band Taganing, lomba menghias orang-orangan sawah, dan lomba becak hias wisata. Tak ayal, event ini merupakan fesyen Ulos terbesar dan pertama kalinya di Kawasan Danau Toba dan dimeriahkan oleh rancangan desainer-desainer terkenal dari Jember Fesyen Carnaval.

Perhelatan budaya serupa magnet yang mampu menarik perhatian banyak orang. Ribuan pengunjung memadati jalanan Tuktuk Siadong. Mereka tak lain para wisatawan baik lokal, nasional maupun mancanegara. Perhelatan budaya ini bahkan melibatkan ratusan anak muda untuk manortor dan memainkan atraksi Sigale-gale. Tabuhan Gondang Sabangunan, alat musik tradisional Batak beserta suara ratapan sarune (sejenis seruling) mengiringi adegan-demi adegan penampilan epos Nai Manggale maupun atraksi Sigale-gale manortor.

Kali ini, baik penampilan epos Nai Manggale maupun Sigale-gale, sama sekali tidak memakai unsur mistis. Sigale-gale digerakkan dengan tali yang diikat pada tiap simpul-simpul tubuh boneka kayu itu agar bisa bergerak. Akan tetapi, lewat atraksi tersebut, para pengunjung bisa menangkap seperti apa kisah dua legenda masyarakat Toba itu berawal.

Epos Nai Manggale

Ada beberapa versi yang berkembang soal Epos Nai Manggale. Namun satu versi menyebut epos ini berkisah soal peran tiga orang Batak yang berhasil menciptakan sosok Nai Manggale, seorang perempuan cantik dari batang kayu yang dipahat di tengah hutan. Datu (dukun) Panggana berperan mengukir patung perempuan dari kayu, Baoa Partiga-tiga (lelaki saudagar) kemudian mempercantik patung itu dengan sejumlah perhiasan, dan Datu Partoar (penawari) yang meniupkan roh kehidupan sehingga patung yang diberi nama Nai Manggale menjadi hidup.

Namun ketiga orang tersebut mengklaim paling berhak atas diri Nai Manggale, hingga kasus klaim ini dibawa ke sidang Raja. Raja memutuskan untuk menyelesaikan kasus ini atas bantuan penatua adat bernama si Aji Bahir-bahir. Oleh Aji Bahir-bahir diputuskanlah bahwa Datu Partoar dianggap sebagai Bapak, Baoa Partiga-tiga sebagai abang dan Datu Partoar sebagai Tulang. Sehingga ketiga orang dalam legenda tersebut punya hak atas diri Nai Manggale termasuk soal pembagian mahar kawin Nai Manggale.

Sayangnya Nai Manggale ternyata tidak bisa memberi keturunan (anak laki-laki) kepada suaminya, Datu Partiktik. Sebelum meninggal, Nai Manggale berpesan kepada suaminya agar dibuatkan satu patung laki-laki. Patung itu harus diukir oleh Datu Panggana. Ukurannya sebesar Nai Manggale. Dan patung itu harus dinamai Sigale-gale. Sigale-gale pun diamanahkan sebagai kado bagi perempuan yang meninggal tanpa mewariskan anak laki-laki.

Kekuatan Budaya

Bupati Samosir Rapidin Simbolon menyebut, Sigale-gale Carnival ini menonjolkan kekuatan budaya yang ada di Samosir. Atraksi budaya termasuk Ulos Batak serupa magnet yang mampu menarik wisatawan ke Pulau Samosir. "Atraksi budaya dan ulos ini akan menjadi cerita manis bagi wisatawan sekembalinya mereka ke negaranya masing-masing," katanya.

Tak hanya untuk menumbuhkan kenangan manis bagi wisatawan, Rapidin menandaskan, Sigale-gale Carnival juga disasar untuk menumbuhkan serta mengentalkan rasa cinta generasi milenial terhadap budayanya. Sigale-gale Carnival diyakini ampuh mengedukasi anak muda tentang budaya yang bersangkut paut dengan kehidupan mereka. Dan kebudayaan itu adalah warisan leluhur yang patut dijunjung karena pesan dan filosofinya relevan sepanjang zaman.

Atraksi budaya ini juga, kata Direktur Pemasaran Pariwisata, Badan Pelaksana Otorita Danau Toba Basar Simanjuntak, sekaligus momentum mempromosikan kekayaan kebudayaan Indonesia bagi kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. "Budaya Tanah Batak sangat kaya. Kekayaan alamnya juga sangat indah. Ini merupakan potensi pariwisata yang luar biasa dimiliki Danau Toba. Kabupaten Samosir sangat jeli mengolah potensi ini," pujinya. (K-DH)

Budaya
Wisata
Ragam Terpopuler
Islam, Sumbangsih Terbesar Etnis Tionghoa
Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam. Demikian ujar Presiden ke-3 BJ Habibie dalam sebuah orasi di Masjid Lautze pada Agustus 2013. ...
Ziarah Kubur, Ibadah Haji Orang Jawa di Masa Lalu
Bagi kaum abangan, ziarah kubur ke makam raja-raja di Imogiri bermakna sebagai pengganti ibadah haji. ...
Membaca Kembali Sriwijaya yang Jaya itu
Petunjuk lain yang menguatkan keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di Semenanjung Melayu, tepatnya di sebelah selatan teluk Bandon, saat ini Thailand bagian selatan. ...
Pacung dan Sambiran, Ternyata Dugaan Lombard Benar
Temuan-temuan ini menguatkan tesis bahwa pada abad ke-9 terjadi kontak yang sangat intensif antara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan India. ...
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Solidaritas Sosial dalam Sunat Poci dan Mantu Poci
Demikianlah potret lekatnya tradisi minum teh mengejawantah pada hajatan sunat poci dan mantu poci. Sayangnya, ritus sosial yang mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dan hubungan timbal balik antar...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...