Bahasa | English


KEKAYAAN TRADISI

Tradisi Gredoan, Ajang Mencari Jodoh Suku Osing

18 November 2019, 10:14 WIB

Kabupaten di ujung paling timur Pulau Jawa ini tidak hanya terkenal dengan destinasi wisata yang memukau mata. Lebih dari itu kabupaten ini juga dikenal kaya dengan kesenian dan kebudayaan unik. Itulah Kabupaten Banyuwangi.


Tradisi Gredoan, Ajang Mencari Jodoh Suku Osing Tradisi Gredoan. Foto: ANTARA FOTO

Di Banyuwangi terdapat tujuh etnis besar yang hidup rukun saling berdampingan. Ketujuh suku tersebut yakni; suku Using (Osing), Jawa Mataraman, Madura,  Bali , Mandar, Tionghoa, dan Arab, yang akhirnya melahirkan berbagai upacara adat serta aneka tradisi yang berbasis pada agama. Salah satu tradisi dan ritual yang terkenal adalah tradisi gredoan dari suku Osing.

Menurut Budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimayan, tradisi gredoan merupakan tradisi masyarakat Osing untuk mencari jodoh. Tradisi ini utamanya sangat kental dilaksanakan masyarakat di Dusun Banyuputih, Desa Macanputih, Kabupaten Banyuwangi. 

Gredo artinya menggoda. Ini berlaku buat mereka yang gadis, perjaka, duda atau janda. Diadakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Biasanya diadakan pada malam hari,” terang Hasnan.

Dalam tradisi gredoan, orang-orang yang sudah cukup umur untuk menikah akan mencari calonnya sendiri. Para pria biasanya akan memasukkan lidi dari janur kelapa ke lubang anyaman bambu atau biasa dikenal dengan gedheg milik gadis yang menjadi pilihannya.

Nah, jika sang gadis setuju maka ia akan mematahkan lidi tersebut dan sang pria mulai berbicara dilengkapi dengan rayuan. Dari rayuan itulah tradisi mencari jodoh ini dinamakan gredoan karena berasal dari kata gridu yang berarti menggoda. Biasanya juga dengan berbalas pantun.

Dalam proses berkenalan dan merayu mereka belum bertemu dengan tatap muka langsung tapi dibatasi dengan dinding bambu. Sang gadis berada di dalam rumah dan sang pria di luar. Setelah berhasil menaklukkan hati sang gadis dengan rayuan mereka maka sang pria akan segera melamar.

Beda Gredoan Dulu dan Sekarang

Gredoan selalu dilaksanakan tepat saat Maulid Nabi. Warga akan menemui dan berkumpul dengan warga lainnya. Selain untuk mendapat jodoh dan menjadi puncak memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW.

“Terlepas dari itu, tradisi tersebut juga dapat mempererat tali persaudaraan dengan acara kumpul-kumpul. Selain itu acara ini juga dapat menjadi hiburan karena banyaknya pertunjukkan yang disajikan,” jelas Hasnan.

Setelah tradisi gredoan usai, acara dilanjutkan pada malam harinya dengan para pria mulai menyalakan obor dan pertunjukan akan segera dimulai. Pertunjukan yang disajikan adalah pertarungan para pria dengan obor mereka. Selain itu juga ada pertunjukan atraksi tarian tongkat api, musik daerah hingga karnaval boneka yang dibuat warga.

Kini perbedaan yang paling mencolok antara gredoan zaman dulu dan gredoan zaman sekarang, terletak pada alat dan tempat pelaksanaan nggridu (lelaki merayu si gadis). Dulu alat yang digunakan adalah sodho (lidi), sedangkan sekarang menggunakan ponsel. Dulu tempat yang digunakan adalah gedheg (rumah berdinding bambu), sekarang berganti menjadi bangunan batu.

“Penggunaan ponsel menjadi aspek yang tidak bisa dihindari. Namun mau modern atau klasik, gredoan telah banyak membantu masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya dalam menggapai pernikahan,” ujar Hasnan Singodimayan. (K-YN)

Budaya
Kekayaan Tradisi
Warisan Budaya
Ragam Terpopuler
Martabat Tujuh dan Konstitusi Kasultanan Buton
Seturut konstitusi Martabat Tujuh, bicara penegakan hukum (law enforcement) saat itu bisa dikatakan tidaklah tebang pilih. Siapapun yang terbukti bersalah bakalan diganjar sesuai dengan aturan hukum y...
Ratu Kalinyamat, Membangkitkan Kembali Politik Maritim Nusantara
Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sanga...
Restorasi yang Urung di Situs Kawitan
Dulu pernah ada keinginan warga sekitar untuk “merestorasi” situs Kawitan yang ditemukan pada kurun 1965-1967. Namun hal itu tidak terealisasi karena jiwa yang malinggih di situs tersebut ...
Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan
Di atas tanah seluas 25 ribu hektar, berdiri miniatur hutan Indonesia. Beraneka ragam tanaman hutan bisa ditemui di sana. ...
Menikmati Sensasi The Little Africa of Java
Dulu, mungkin tak pernah terpikirkan untuk merancang liburan di Banyuwangi. Sebuah kota kecil di ujung Pulau Jawa. Tapi kini, magnet wisata di Banyuwangi cukup kuat dan beragam jenisnya. ...
Wisata Heritage Berbasis Masyarakat ala Surabaya
Surabaya memiliki destinasi wisata heritage kedua, Peneleh City Tour, Lawang Seketeng, di kawasan Peneleh. Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengelola wisata haritage pertama...
Kampung Batik Laweyan, Saksi Bisu Industri Batik Zaman ke Zaman
Berkunjung ke kota Solo kurang lengkap bila tak mendatangi Kampung Batik Laweyan (KBL). Sebuah sentra industri batik legendaris yang telah berdiri sejak 500 tahun lalu. Batik sudah menyatu dengan...
Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu
Banyak pesona pada rumah adat Baileo, milik suku Huaulu penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Baileo memiliki arti penting dalam eksistensi suku Huaulu. Hal itu bukan saja karena Baileo berfungsi seb...
Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam
Ritual memohon kesembuhan kepada Dewata, banyak kita jumpai di berbagai etnis di Nusantara. Sebut saja upacara Badawe yang dilaksanakan Suku Dayak kemudian ada rutal Balia yang dipraktikkan oleh ...
Dunia Butuh Lada Jambi Sebagai Bumbu Masak
Jambi sudah lama dikenal sebagai sentra terpenting daerah penghasil lada Nusantara. Banyak negara Eropa bersaing keras k menguasai perdagangan rempah-rempah Indonesia. Negara-negara tersebut adal...