Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


KAPAL PINISI

Wujud Kekuatan Spiritualisme (Bagian 1)

Monday, 22 October 2018

7 Desember 2017, Pinisi ditetapkan oleh UNESCO sebagai Representative List of the Intangible Curlutral Heritage of Humanity.


Wujud Kekuatan Spiritualisme (Bagian 1) Sumber foto: Pesona Indonesia

Penetapan Pinisi sebagai Art of boatbuilding in South Sulawesi adalah bentuk pengakuan internasional terhadap arti penting pengetahuan lokal dan perkapalan tradisional yang dimiliki nenek moyang Indonesia dan terwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Pengetahuan lokal dan teknologi pembuatan kapal seperti model Pinisi ini diperkirakan telah dikenal sejak 1500 tahun lalu. Pola ini didasarkan pada teknologi kuno yang lebih sederhana dan telah berkembang 3.000 tahun silam. Bermula dari teknologi sederhana seperti lesung kayu untuk menumbuk padi, 'perahu lesung', hingga berkembang menjadi kapal cadik dan bertiang layar.

Sejarah bangsa Austronesia sebagai moyang bangsa Asia juga termasuk Indonesia, konon ialah bangsa bahari yang telah berhasil mengembangkan teknologi pelayaran dan navigasi sejak ribuan tahun lalu. Adanya pengakuan UNESCO itu maknanya kini bagi masyarakat Indonesia juga dunia adalah Pinisi menjadi lambang perihal kapal layar asli Nusantara.

Pinisi adalah kapal tradisional Indonesia khas etnis Bugis dan Makasar. Pinisi berasal dari kata 'panisi' yang dalam Bahasa Bugis yaitu mpnisi (mappanisi), yang berarti menyisip. Maknanya adalah menyumbat semua persambungan papan, dinding, dan lantai perahu dengan bahan tertentu agar tidak kemasukan air. Lopi dipnisi (lopi dipanisi) artinya perahu yang disisip. Dari kata panisi inilah mengalami proses fenomik menjadi pinisi.

Sentra pembuatan kapal berpusat di Tana Beru, Bira dan Batu Licin di Kabupaten Bulukumba. Sekitar tujuhpuluh persen masyarakat setempat mencari nafkah melalui pekerjaan yang berhubungan dengan pembuatan kapal dan navigasi. Wajar, masyarakat Bugis sendiri sebenarnya mengenal beberapa tipe kapal, antara lain, Pinisi, Lambo’ Palari, Lambo’ Calabai, dan Jarangka’ Soppe’ Pajala’. Namun sejauh ini yang terkenal ialah tipe Pinisi.

Menarik dicatat di sini. Pembuatan kapal dan seni pelayaran tak hanya menjadi andalan ekonomi masyarakat, melainkan juga fokus utama kehidupan sehari-hari dan bahkan jadi identitas budaya setempat.

Pinisi bagi masyarakat bukanlah semata-mata karya peradaban manusia dalam arti profan, itu juga karya manusia dalam arti sebagai perwujudan kekuatan spiritulisme alam yang sakral. Alamlah yang mengajar kepada masyarakat tentang bagaimana membuat Pinisi.

Dalam kosmologi masyarakat pesisir, laut dimaknai sebagai bagian dari unsur alam yang terpisah dari unsur daratan. Laut dan darat ialah entitas tersendiri dan terpisah satu dengan lainnya. Sehingga saat kedua unsur itu hendak disatukan maka harus melalui upacara ritual tertentu supaya unsur laut dan darat itu menyatu dan saling mendukung satu dengan lainnya.

Demikianlah kira-kira makna dan tujuan dari ritual appassili, yaitu upacara peluncuran kapal. Dilakukan pada malam hari, ritual ini bersifat wajib supaya kapal tidak tertimpa musibah saat melaut. Besar atau kecilnya ritual tergantung pada kemampuan pemilik kapal itu.

Pada ritual appassili disediakan kue-kue tradisional gogoso, kolapisi (kue lapis), onde-onde, kaddo massingkulu (kue dari  beras yang dibungkus daun bambu), sogkolo (nasi ketan), dan unti labbu. Menariknya, bahkan sebelum sebuah kayu itu nantinya dibuat jadi kapal, masyarakat mengenal upacara annakbang kalibeseang. Sebuah ritual yang bertujuan meminta persetujuan pada pohon yang akan ditebang dan diambil kayunya sebagai bahan pembuatan kapal.

Sebelum diadakan appassili, lazimnya juga dilakukan upacara songkabala. Yaitu, ritual penyembelihan binatang korban di depan kapal, entah itu sapi, kerbau, atau kambing.

Darah binatang itu lantas dibasuhkan di beberapa bagian kapal. Seperti haluan, mesin, dan daun kemudi kapal. Tujuannya, secara magis dan simbolik diharapkan kapal ini selalu terhindar dari peristiwa buruk saat melaut. Daging hewan dimasak dan disajikan pada saat ritual appassili. Ritual ini diisi doa, makan bersama, dan dilanjutkan menarik kapal hingga bergeser sedikit sebagai tanda, bahwa kapal siap turun ke laut.

Budaya
Ragam Terpopuler
Ada Lopes dan Kopi Khas Situbondo di Pasar Panji
Kalau kita sedang melintas dengan jalur darat dari Surabaya ke Bali, kita akan melewati Situbondo ini. Dan tak ada salahnya mampir ke pasar panji. Ada Lopes dan Kopi Khas.  ...
Ke Banyuwangi, Bisa Cicipi Super Ayam Pedas Hingga Nasi Bungkus Khas Banyuwangi
Siapa bilang Banyuwangi tidak punya kuliner Khas? Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini ternyata menyimpan makanan khas dan ada yang hanya tersedia di Banyuwangi ini saja. ...
Lorjuk, “Seafood” yang Hanya ada di Madura dan Surabaya
Jawa Timur menyimpan banyak makanan khas, bukan hanya Rawon, Soto ataupun Rujak Cingur. Di Madura dan Surabaya, ada Makanan Khas dari Kerang yaitu Lorjuk. ...
Bandung Spirit sebagai Memory of the World
Oleh eksponen intelektual kiri, Samir Amin, misalnya, Bandung Spirit dianggap telah melahirkan babak sejarah dunia tersendiri. Sering disebut “The Era of Bandung” yaitu periode 1955--1975....
Ziarah Lintas Samudera
Jika pada milenium pertama, pemuka-pemuka Siwa-Buddha dari India dan Cina berziarah ke wilayah timur. Pertengahan mienium kedua, para peziarah dari Nusantara harus menuju ke barat. ...
Cagar Buah Condet, Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi
Disebut sebagai Cagar Buah Condet, area seluas 3,7 hektar ini merupakan sisa lahan perkebunan milik warga asli Condet yang akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk di...
Memahami Antonio Blanco dari Model Lukisannya
Model lukisan Antonio Blanco, Ketut Rani Astuti, menggambarkan Antonio Blanco sebagai pelukis nyentrik. ...
Jimpitan, Tradisi Pendukung Ekonomi Rakyat
Jimpitan tetap eksis di zaman modern. Tradisi ini menjadi solusi pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat yang enggan bersentuhan dengan jasa perbankan. ...
“Trance” ala Sintren
Sarat unsur magis, awalnya Sintren hanya dipentaskan saat bulan purnama. Sekarang, tarian ini telah menjadi sarana hiburan. ...
Di Balik Kesegaran Badak
Lahir di kala persaingan minuman soda Tanah Air belum ketat. Mencapai puncak kejayaan pada era 1970 hingga 1980-an, Badak kini sepi peminat. ...