Bahasa | English


ORGANISASI MASYARAKAT

Gerakan Putra Putri Papua Inspiratif

6 October 2019, 11:27 WIB

Sekelompok putra putri Papua menggalang diri membuat organisasi Gerakan Papua Muda Inspiratif. Mereka berbagi cerita tentang angan mereka untuk membangun Tanah Papua yang lebih baik.


Gerakan Putra Putri Papua Inspiratif Papua muda inspiratif. Foto: Dok. PMI

Minggu ketiga September 2019, lebih dari 200 pemuda asli Papua, terutama dari Kampung-kampung di sekitar Seget, Klamono, dan Salawati, Sorong, Papua Barat, menghadiri pelatihan kepemimpinan dan kepercayaan diri. Acara yang digelar di House of Aquarius, Sorong, Papua Barat.

Peserta yang hadir berusia antara 18-35 tahun itu bersemangat mengikuti semua topik pelatihan. Topik soal kepemimpinan, komunikasi, inovasi, dan kreativitas membuat inisiatif-inisiatif yang membangun di masyarakat. Para pembicaranya kalangan profesional  bisnis dan industri di Indonesia.

Acara ini diinisiasi oleh Kitong Bisa, sebuah organisasi kemanusiaan yang berfokus kepada pendidikan dan pelatihan anak-anak asli Papua. Alan Ambrauw, Project Officer Kitong Bisa, tujuan utama pelatihan memang ingin meningkatkan keahlian dan keterampilan anak-anak asli Papua agar dapat lebih kreatif dan kompetitif.

Kitong Bisa adalah sebuah lembaga pendidikan nirlaba yang terdiri dari 9 cabang pusat belajar di Papua dan Papua Barat. Organisasi itu dikelola oleh 158 relawan yang sebagian besar adalah anak asli Papua. Mereka memberikan pendidikan kepada 1.100 peserta didik secara informal.

Pendiri Kitong Bisa adalah Isaskar Mambrasar, seorang yang telah lebih dari 30 tahun mengabdikan dirinya untuk mengajar dan mendidik anak-anak asli Papua di Pulau Yapen, Papua. Saat ini Kitong Bisa merupakan bagian dari Gerakan Papua Muda Inspiratif, yang diinisiasi oleh 23 pemuda dan pemudi Papua berprestasi, salah satunya adalah Billy Mambrasar, CEO dari Kitong Bisa, anak dari Isaskar Mambrasar.

Sementara itu, anggota-anggota Papua Muda Inspiratif tersebar di berbagai negara di dunia, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. Sebagian besar dari mereka juga saat ini sedang berada dan berkarya di Papua dan Papua Barat.

Gerakan Papua Muda Inspiratif ini baru saja diinisiasi pada awal September 2019. Mereka akan ikut  konferensi Internasional Pendidikan Papua di Los Angeles, AS, akhir tahun ini. Presiden Joko Widodo menyatakan dukungannya terhadap gerakan ini. Presiden juga mendukung dibentuknya banyak start up dan "Silicon Valley" di Indonesia timur, yang akan digerakkan oleh pemuda-pemudi asli Papua yang inspiratif.

2 Oktober lalu, tokoh  Papua Muda Inspiratif bertemu dengan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di ruang kerjanya. Kepada Moeldoko, mereka menyampaikan sejumlah program dan harapannya untuk membangun Papua. Mereka yang hadir di pertemuan itu adalah   Billy Mambrasar (31), Martha Itaar  (22), Steve Mara (25), dan Edward Kabes (34).

Billy adalah alumni ITB yang menyelesaikan masternya di Australian National University (ANU). Sementara itu, Marta adalah calon pilot perempuan yang saat ini diterima di maskapai Citilink. Ia pernah mengenyam pendidikan di Nelson Aviation College, Selandia Baru. Sedangkan Edward merupakan pengusaha migas yang sudah melakukan ekspor ke Cina dan Rusia. Serta Steve adalah mahasiswa asal Papua yang saat ini sedang menyelesaikan masternya di Universitas Pertahanan Jakarta.

Empat anak muda ini adalah representasi dari ratusan anak muda Papua dan mewakili rekan-rekannya, membagikan cerita tentang angan anak muda ini untuk membangun tanah Papua yang lebih baik.

Menurut Billy, pembentukan wadah itu untuk menampung anak-anak muda Papua yang punya karya. Nantinya, mereka yang tergabung dalam wadah itu akan bergerak untuk memotivasi anak muda Papua lainnya mau maju. Melalui wadah ini mereka ingin menunjukkan bahwa di Papua ada harapan.

Billy berharap wadah ini dapat bersinergi dengan pemerintah pusat dalam memajukan Papua. Membangun Papua, kata dia, harus dilakukan melalui pendekataan kebersamaan. Lanjut Billy, pemerintah harus mendengar apa yang dibutuhkan warga Papua. Setelah itu, masyarakat Papua jangan hanya jadi penonton. Mereka juga tetap harus dilibatkan.

Sedangkan Martha berharap pemerintah mendukung dan bersinergi dengan program anak-anak muda yang tergabung dalam wadah ini. Martha menceritakan kisahnya, setelah lulus pendidikan pilot, ia berencana mengenalkan seputar dunia penerbangan kepada anak-anak Papua.

Papua Muda Inspiratif adalah sebuah gerakan kolaborasi dari anak-anak Muda Prestatif Papua dan Papua Barat, untuk menginspirasi, dan mendorong percepatan pembangunan kesejahteraan di Papua yang berfokus kepada manusia, dan digerakkan oleh manusia.

Papua Muda Inspiratif didirikan oleh 23 Anak Muda Berbakat dari 7 wilayah adat di Tanah Papua. Anak-anak tersebut telah memiliki prestasi dan pencapaian di berbagai bidang, mulai dari teknologi, science, ilmu pengetahuan, seni dan hiburan, bahasa dan budaya, pendidikan, kesehatan, dan berbagai bidang lain.

Papua Muda Inspiratif juga beranggotakan anak-anak Muda Asli Papua Diaspora yang ada di seluruh negara, di lima benua di dunia. Dalam website www.papuamudainspiratif.org terdapat sejumlah tokoh muda yang bergabung dalam Papua Muda Inspiratif, yaitu:

Billy Mambrasar, Pendiri Yayasan KITONG BISA, Duta Muda SDG Indonesia Timur, MyWorld Asia Pacific 2030. Lulusan S1 Institut Teknologi Bandung, S2 Oxford University & Australian National University, S3 Harvard University.

George Saa, Penerima Penghargaan International First Step to Nobel Prize in Physics, sarjana  dari Florida institute of Technology dan S2 di Birmingham University.Korinus Woimba, Ahli Renewable Energy. S1 Pelita Harapan, S2 The University Of Glamorgan, S3 Essex University .

Neas Wanimbo, pendiri perpustakaan Hano Wene di Wamena. S1 Universitas Tanri Abeng, beasiswa di Arizona University. Simon Tabuni, peneliti Bahasa-bahasa di Papua. S1 Universitas Papua, dan S2 Soas University of London. Yane Ansanai, Dokter Fisikja Perempuan Papua, dosen Uncen. S1 Pelita Harapan University. S2 dan S3 University of Florida.

Steve Mara, pegiat Komunikasi dan Diplomasi. Delegasi AYIMUN 2019 di Malaysia. S1 Uncen dan S2 Unhan. Carlos Paisei, pegiat industri kreatif, youtuber Papua. S1 universitas Sains dan Teknologi Jayapura. Yoshua Gombo, asisten professor dan ahli Robotika. S1 Oregon Technoligy, S2 Cornell University dan S3 Washington University.

Richard Mahuze, peneliti dan startup bidang energi listrik  terbarukan. S1 Oregon Technology, S2 Cornell University. Amos Warisio, penggerak kesehatan reproduksi dan aktivis genre Papua. Mey Osok, pendiri perpustakaan dan pusat Belajar Kek Tsinagi. Vanda Astri Korisano, pilot wanita dari Papua di Garuda Indonesia.

Martha Itaar, Pilot Wanita dari Papua, bekerja di Citylink. Nani Uswanas, pengusaha Fakfak Coffee Shop, aktifis perempuan muslim Papua. Neil Aiwoy, ahli hukum PLN Papua-Papua Barat, pendiri gerakan social Raja Ampat. Rini Modouw, ketua konferensi internasional Ilmuwan Muda Papua. S2 UI, S3 California University.

Anies Lamere, Ketua Ikatan Mahasiswa Papua di Amerika. Paskalis Pigai, pengusaha multimedia di Manokwari. Edward Kabesh,  pengusaha dan Dan Direktur PT Papua Energi Utama. Misye Sada, Pramugari Pertama Garuda dari Papua. Putri Nere, jurnalis, Miss Indonesia 2014. Charles Toto, chef nasional dan internasional. (E-2)

Sosial
Ragam Terpopuler
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang "Agen" Amerika
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...