Bahasa | English


PROFIL

Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia

21 August 2019, 07:13 WIB

Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal.


Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia Maqbaroh Al Ma'la Mekkah sebelum rata dengan tanah. Foto: Arsip Nasional Qatar

Tuan Hamzah dari Pancur, yang dikuburkan di tanah para bangsawan, tentu bukan orang sembarangan. Itulah yang dibaca oleh Claude Guillot, peneliti epigrafi dari Prancis pada 1999, setelah membaca tulisan yang ada di nisan yang disalin oleh El-Hawary dari Museum Kairo.

Nisan yang diteliti adalah nisan berukuran 24 x 36 cm, yang menandai seseorang bernama Syaikh Hamzah bin Abdullah al Fansuri. Nisan itu adalah salah satu nisan yang pernah didirikan di Pekuburan Ma'lah, Mekah. Seperti telah banyak diketahui sejak pertengahan 60-an pekuburan Ma'lah telah diratakan dengan tanah. Satu tragedi yang menyesakkan bagi dunia sebenarnya. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, dengan dalih menjaga tanah suci dari praktek syirik, telah menghapuskan ribuan warisan sejarah tak ternilai harganya yang berada di sekitar dua tanah suci.

Berdasarkan dokumen-dokumen yang terselamatkan dalam koleksi Thesaurus d'Epigrafie Islamique, ada sepuluh baris bernomor yang dipahat di nisan yang terbuat dari batu basalt itu. Catatan itu ditulis dalam bentuk huruf Naskhi. Bunyinya jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut:

  1. Dengan nama Tuhan yang Pemurah lagi Penyayang, dia adalah yang Maha Hidup.
  2. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali itu tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, (Al-Qur'an 10:62).
  3. Ini kubur orang yang selalu memikirkan Allah yang Maha Tinggi, Sayyidina (Orang Mulia)
  4. Syaikhusaleh abdi Allah, orang zahid, syaikh yang berjuang di garis depan (dengan Allah)
  5. Hakikat Baja (Allah) Syaikh Hamzah bin Abdullah Al Fanshuri
  6. Semoga Allah menganugerahi kash sayang dan menerima dalam sorganya amin, dia dipulangkan
  7. Oleh kesetiaan kepada rahmat Allah ta'ala pada fajari hari suci Kamis tanggal 9 bulan Rajab yang suci pada tahun 933 hijrah Nabi kepada sahabatnya berkah yang terbaik dan selamat yang terluhur semoga hadir.

Kedudukan Tinggi

Claude Guillot menilai catatan tentang Tuan Hamzah dari Pancur ini menunjukkan seorang yang punya kedudukan tinggi. Pengandaiannya adalah, dia adalah orang luar Mekah, sangat dihormati, diakui keutamaannya, dan lebih penting lagi adalah orang yang mulia dalam arti cukup berada. Mampu membiayai pembuatan nisan dengan catatan dalam pahatan khusus yang tentu sangat mahal harganya.

Berdasarkan, studi tentang keberadaan orang-orang dalam berbagai tariqah sufi, sebutan Syaikhussaleh dan zahid adalah sifat-sifat khas seorang sufi. Di ayat kedua juga disebutkan dengan jelas kalau dia adalah salah seorang yang termasuk di dalam golongan Aulia atau Wali.

Pada ayat kelima, Claude Guillot menerjemahkan sebagai "tambang hakekat Ilahi", sementara penulis menilai terjemahan yang lebih cocok adalah Metal Truth atau keyakinan membaja pada Allah.

Guillot mencatat nama ayah Hamzah yakni Abdullah sebagai salah satu petunjuk penting. Nama ini adalah nama yang pada konteks zaman itu umumnya ditujukan pada orang yang baru memeluk agama Islam. Biasanya yang mempunyai nama ini ayahnya bukan pemeluk Islam.

Ayat Al-Qur'an yang ditulis dalam baris kedua ternyata sangat langka padanannya dalam keseluruhan koleksi basis data epigrafi yang adai di Paris. Dari sekitar 18.000 inskripsi yang berhasil direkam hanya terdapat 20 inskripsi yang memuat ayat itu. Hampir semuanya berujud epitaf atau nisan kubur. Hanya satu yang bukan nisan tetapi masih menunjukkan tentang keberadaan seorang sufi. Semua petunjuk menunjukkan pada keberadaan tokoh sufi yang dikuburkan di dalam satu tempat bersama kerabat sufi lainnya. 

Pentingnya Nisan Hamzah bagi Sejarah

Jika nisan Hamzah Al Fansuri di Ma'lah bisa lebih dikuatkan kembali data-data pendukung kesejarahannya maka salinan nisan ini akan membawa berbagai perubahan penting dalam sejarah. Lebih khusus lagi penting untuk membaca sejarah tentang Kota Barus dan sejarah Nusantara di masa pramodern.

Sebenarnya tidak cukup penting untuk memastikan siapa sebenarnya yang dikuburkan di Ma'lah. Kesimpulan yang lebih penting adalah pada awal abad 16, ada seorang yang berasal dari Pancur pernah bermukim di Kota Mekah dalam waktu lama dan dimakamkan di tempat kehormatan.

Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa hubungan dagang yang terjalin sekurang-kurangnya sejak abad ke 9 Masehi ternyata masih sangat kuat di awal abad 16. Seorang Syaikh yang berasal dari daerah terjauh ternyata telah menjadi bagian komunitas keagamaan sufistik yang berkembang pada masa itu di dua tanah suci. Memang pertanyaan apakah Hamzah dari Pancur ini sama dengan yang penyair itu belum bisa dipastikan jawabannya hingga saat ini karena petunjuk sejarah yang lain berasal dari interpretasi terhadap karya sang penyair.

Ada satu hal yang membingungkan para peneliti sejarah perihal tidak tercatatnya nama Hamzah Fansuri dalam khazanah sastra yang berasal dari zaman kerajaan Aceh Darussalam. Penemuan tanggal meninggal Tuan Hamzah dari Pancur yang berada di Mekah sepertinya bisa menjadi penerang tentang hal itu.

Jika Hamzah tidak tercatat dalam khazanah Kerajaan Aceh tentu saja sangat mudah dimengerti karena semasa dia hidup Aceh belum berdiri. Yang ada dalam karya-karya Hamzah adalah sebutan tentang daerah Pasai yang pada waktu itu merupakan daerah yang terpenting. Kekuasaan Pasai bahkan meluas sampai ke Barus. Satu data yang mendukung adalah tentang muasal Syamsuddin As Sumatra-i yang ternyata juga berasal dari Pasai.

Kronologi sejarah ujung Sumatra jika berpatokan dari temuan makam Tuan Pancur di Mekah akan menjelaskan keberadaan polemik Syamsuddin dan Nuruddin Arraniri sebagai kejadian yang terjadi pada kurun yang berbeda dan berada pada konteks kekuasaan dan zaman kerajaan yang berbeda.

Sumatra, Bandar Kosmopolitan Lama

Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. Pertama, hubungan Sumatra dengan semenanjung Arabia ternyata sudah lama sudah terjalin. Hubungan itu sangat erat karena melibatkan jejaring alim ulama atau kaum terpelajar yang tukar-menukar khazanah melewati samudera. Keberadaan Kerajaan Pasai pada pertengahan abad 14 dalam catatan ibnu Battutah telah memperlihatkan bentuk masyarakat yang sangat maju. Soal-soal fikih yang diajukan oleh raja Pasai kepada Ibnu Battutah memperlihatkan kebutuhan masyarakat yang sudah sangat berkembang.

Ibnu Battutah juga menyaksikan bahwa Bandar Pasai adalah tempat persinggahan tokoh-tokoh terpelajar dari berbagai belahan dunia. Dia bertemu orang-orang yang berasal dari Tus, di sekitar Khurasan, Asia Tengah. Dia juga bertemu dengan orang dari Shiraz dan dari Isfahan yang merupakan ahli fikih yang berada di sana. (Y-1)

Sejarah
Sosial
Ragam Terpopuler
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang "Agen" Amerika
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...