Bahasa | English


SEJARAH

Para Pionir Fotografi di Tanah Suci

8 August 2019, 03:32 WIB

Jangan bayangkan membawa kamera pada masa itu cukup dengan satu atau dua kopor besar. Membawa kamera pada saat itu ibarat membawa satu set laboratorium.


Para Pionir Fotografi di Tanah Suci Mecca's First Photographers 1880-1890 (2013). Foto: History

Akhir abad 19, adalah zaman terbukanya mata dunia tentang jaringan intelektual antarbangsa yang berporos pada sebuah kiblat keagamaan. JIka kata "mecca" pada abad 20 sering digunakan sebagai analogi tentang kebesaran dari suatu kota atau pusat peradaban, maka ungkapan itu sebenarnya tidak berlebihan. Mekah pada abad 18 dan 19 adalah sebuah tempat berkumpulnya para peziarah, pelancong, penghayat agama, pengusaha, pejuang, dan pemikir pada sebuah titik pertemuan. Daya tarik kota tua ini sangat kuat, walaupun kondisi alamnya seringkali tidak ramah bagi pendatang.

Seorang kawan yang pernah tinggal di Amerika Serikat pernah bercerita tentang daya tarik Mekah. Dia adalah seorang insinyur teknik elektro. Sekitar tahun 2000-an dia pernah bekerja di negeri Paman Sam. Saat itu yang menjadi atasan dia adalah seorang yang berlatar etnis Yahudi. Seorang Yahudi yang taat tetapi berwawasan modern. Dia sering sekali bertukar pikiran dengan kawan dari Indonesia tentang ajaran agama.

Suatu ketika dia memperlihatkan foto yang paling dia sukai dan ditaruh spesial di ruang kerjanya. Foto itu adalah foto seseorang dengan berpakaian Rabi sedang berdoa di depan Kabah. Sebuah foto hitam putih yang diperkirakan diambil di akhir abad 19 atau awal abad 20.

Setelah memperlihatkan foto itu dia berkata kepada kawan,"Jika orang Islam saat ini bisa bebas berkunjung ke Yerusalem, maka bolehlah kami juga mengharap agar kami bisa berkunjung ke rumah suci yang dibangun Ibrahim?"

Fotografer Pertama

Siapa yang pertama kali merekam Mekah dalam bentuk fotografi? Jawabannya tentu sulit sekali. Jan Just Witkam, peneliti dari Leiden pernah membuat satu pemaparan khusus tentang hal ini. Materi pemaparannya dia beri judul Mecca's First Photographers 1880-1890 (2013).

Dunia mengenal Snouck Hurgronje, orientalis besar Belanda, sebagai salah seorang yang pertama kali membawa peralatan fotografi ke Mekah. Faktanya, saat dia membawa peralatan ke sana pada 1885 ternyata sudah ada sebuah studio fotografi yang siap untuk digunakan. Studio itu milik seorang tukang gigi dan ahli pengobatan dari Baghdad, yang entah kebetulan atau tidak namanya sama dengan nama Snouck ketika dia konversi ke Islam. Namanya Abdul Ghaffar, lengkapnya Sayid Abdul Ghaffar bin Abdurrahman Al Baghdadi.

Ternyata sebelum kedua Abdul Ghaffar itu, ada seseorang yang tercatat lebih dahulu merekam Mekah dan Madinah dalam format fotografi. Sebuah iklan pameran foto dengan catatan tahun 1881 mencatat penjualan 12 (dua belas) foto yang dibuat oleh Muhammad Sadiq Bey alias Mohammad Sadig Pasha. Dia adalah petugas kesultanan Usmani yang berasal dari Mesir. Dia juga adalah seorang insinyur.

Mohammad Sadig mempunyai latar belakang pendidikan politeknik di Prancis. Menurut perkiraan dia belajar fotografi di sana pada kisaran 1840-an. Catatan pameran foto itu memperlihatkan kalau dia adalah pemenang penghargaan Medali Emas dari The Third International Geographical Congress and Exhibition yang digelar di Venesia di tahun 1881. Salah satu foto lanskap Mekah yang memperlihatkan keramaian jemaah haji di sekitar mimbar Kabah tercatat dia buat pada tahun 1880.

Keistimewaan Seorang Pasha

Pada masa kebesaran Turki Usmani seseorang yang menggunakan nama Pasha di belakang namanya bisa dipastikan dia seorang elite dengan kepangkatan yang tinggi. Muhammad Sadig Pasha adalah salah seorang petugas tinggi Usmani yang bertugas mengantar Mahmal (tenda pusaka) dari Kairo ke Mekah pada tiap tahun haji. Prosesi mengantar Mahmal dalam iring-iringan panjang yang sudah menjadi tradisi ratusan tahun sebelumnya memberikan keistimewaan khusus baginya saat membuat karya fotografi. Kebebasan yang dia punya untuk mengambil sudut penangkapan gambar dari titik-titik yang sulit memperlihatkan dukungan personal, baik militer maupun pekerja teknis.

Jika pada saat itu banyak fatwa ulama di Mekah yang melarang pengambilan gambar tempat suci, larangan itu sepertinya tidak berlaku bagi seorang Pasha. Muhammad Sadig Pasha adalah seorang yang sangat memahami teknik fotografi yang masih baru itu. Pengalamannya di Prancis dan Mesir dalam teknik ini memberikan keyakinan padanya bahwa dokumentasi foto tinggal persoalan waktu. Dalam banyak hal dia sangat sadar bahwa dia adalah orang yang pertama yang membuat dokementasi fotografi di dua kota suci.

Peralatan fotografi yang digunakan surveyor Usmani ini adalah sebuah Kamera Collodion dengan plat kaca. Teknik fotografi ini ditemukan pada kisaran tahun 1850-an yang menggunakan plat kaca sebagai penampang film negatif. Hasil dari teknik ini merekam gambar dalam ketajaman yang lebih tinggi dibandingkan teknik sebelumnya yang menggunakan kertas sebagai medium negatifnya. Teknik ini juga memungkinkan reproduksi foto dalam jumlah yang banyak.

Dihibahkan Paksa

Snouck Hurgronje pertama kali datang ke Jedah pada 1884. Bersamaan dengan itu dia membawa berbagai peralatan dengan teknologi paling mutakhir zaman itu. Salah satunya adalah Kamera Collodion dengan plat kaca seperti kepunyaan Sadig Pasha. Selain itu dia juga membawa Colofon buatan Edison untuk merekam suara.

Jangan dibayangkan membawa kamera pada masa itu cukup dengan satu atau dua kopor besar. Membawa kamera pada saat itu ibarat membawa satu set laboratorium. Satu kamera kollodion paling kecil bisa berukuran satu kali setengah meter. Satu kotak berisi plat kaca yang masing-masing berukuran 24 x 20 cm x 10 bisa lebih besar dari kardus minuman kemasan. Diperkirakan untuk keperluan foto survei standar, minimal dia harus membawa dua kotak. 

Belum ditambah beberapa kain pembungkus kedap cahaya, payung, dan bermacam reflektor. Masih lebih repot lagi karena Snouck harus mampu mengafdruk di tempat. Satu set meja afdruk lengkap dengan seperangkat bahan-bahan kimia yang diperlukan harus siap sedia. Pendek kata, satu isi perlengkapan laboratorium fotografi harus dia bawa. Tak heran berdasarkan catatan Ziauddin Sardar minimal Snouck harus mengerahkan seekor keledai angkut dan beberapa kuli untuk membawa perlengkapannya.

Konsultat Belanda di Jedah adalah persinggahan pertama Snouck. Di sana dia melakukan aklimatisasi selama satu tahun. Selama itu Snock memulai prosesinya untuk menjadi muslim. Mulai dari melakukan khitan, bergabung dengan tarekat, belajar mazhab syafii, sampai menikahi seorang budak perempuan asal Ethiopia. Di tempat itulah dia berganti nama menjadi Abdul Ghaffar di bawah lingkungan penampungan jemaah haji asal Hindia Belanda. Di tempat itu juga dia bertemu dengan seorang priyayi rendahan dari Banten yang kelak akan menjadi tulang punggung penelitiannya. Di tempat itu pula dia bertemu dengan Sayid Abdul Ghaffar yang biasa dia sebut sebagai "Sang Dokter". Dialah yang nantinya akan menjadi pengambil gambar fotografi paling banyak dalam misi Snouck.

Sebagai seorang Doktor muda spesialis Timur Tengah yang berambisi menjadi penasihat utama Hindia Belanda, Snouck memulai penelitiannya dengan mendokumentasikan jemaah haji asal Hindia Belanda yang bisa dia ajak untuk berfoto. Sebagian besar dokumentasi jamaah haji asal Hindia Belanda dia dapatkan pada satu tahun pertama dia di Jedah. Sayangnya begitu tiba kesempatan dia untuk pergi ke Mekah dia hanya bisa berada di sana kurang dari enam bulan. Satu plot intelijen dari Prancis telah membuka identitas dia sebagai penyusup. Terpaksa dia menghibahkan peralatannya pada Sang Dokter dan melanjutkan penelitiannya dengan bantuan seorang priyayi rendahan dari Banten yang tidak kenal lelah melakukan penelitian dan korespondensi dengan Snouck sejak 1885 hingga 1912. (Y-1)

Sosial
Ragam Terpopuler
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang "Agen" Amerika
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...