Bahasa | English


KEKAYAAN FLORA

Bunga Bangsa yang Berkarakter itu Bernama Melati

5 April 2019, 00:00 WIB

Kekayaan alam Indonesia tidak hanya terpotret karena memiliki paronama wisata alam yang indah. Dari ribuan pulau yang membentangi samudera, Indonesia memang layak menempatkan posisi sebagai salah satu negara pariwisata di Asia Tenggara.


Bunga Bangsa yang Berkarakter itu Bernama Melati Bunga Melati Putih. Sumber foto: Pixabay

Dari berbagai sumber menyebutkan, Indonesia dijuluki sebagai mega biodiversity, karena sekitar 2 juta spesies bunga yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Berkat adanya kekayaan alam itu, pemerintah Indonesia menobatkan 3 bunga sebagai bunga nasional pada Keputusan Presiden Nomor 4/1993.

Bunga-bunga itu dianggap mewakili karakter bangsa dan negara Indonesia. Adapun 3 bunga yang dimaksud antara lain, Puspa Bangsa (Bunga Melati Putih), Puspa Pesona (Bunga Anggrek Bulan) dan Puspa Langka (Bunga Padma Raksasa).

Bunga Melati Putih sebagai Puspa Bangsa lebih mudah dijumpai di hampir seluruh penjuru Tanah Air. Bunga ini memiliki nama latin Jasminum Sambac. Sebagai salah satu tanaman yang terkelompok dalam perdu, Melati mempunyai tinggi sekitar 0,3-3 meter. Batangnya bulat dan berkayu. Sedangkan, jenis daun bunga ini berjenis tunggal dengan tangkai daun yang pendek. Tumbuh dengan cara merambat dan sedikit “berantakan” dan “longgar”. Bunga ini banyak ditemukan di wilayah beriklim tropis dan hangat karena tanaman bunga Melati sangat menyukai cahaya matahari.

Di Indonesia sendiri, Bunga Melati memiliki berbagai sebutan yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Orang Aceh menyebutnya Meulu atau Riwat. Di Bali menyebut bunga ini Menuh. Sedangkan di Bima dan Sumbawa menyebutnya Mundu. Berbeda lagi dengan orang Gayo dan Batak menyebutnya Melur. Dan masih banyak sebutan lain untuk bunga Melati dari berbagai daerah di Nusantara.

Secara filosofis, bunga Melati Putih yang berbau harum itu menjadi lambang kesucian dan kemurnian. Sebagaimana negara kita tercinta, dikenal dunia sebagai negara pluralis, merangkul semua perbedaan, menghormati keberagaman dan menyatu dalam persaudaraan yang begitu kuat. Dari makna filosofi ini, kita dapat tarik benang merahnya bahwa, simbol kesucian yang identik dengan warna putih adalah keyakinan dari semua golongan.

Melati dalam Berbagai Manfaat

Bunga Melati tidak hanya sebagai tanaman hias, tapi ternyata bunga yang memiliki wangi khas ini juga mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan dan kecantikan. Hal tersebut dikarenakan Melati memiliki berbagai kandungan zat bermanfaat di dalamnya seperti indole, linalcohol, asetat benzylic, alcohol benzylic dan jasmon.

Rasa bunga Melati memang sedikit pahit, tapi banyak manfaatnya untuk kesehatan. Bunga Melati dipercaya dapat menurunkan berat badan. Kandungan antisidan dan Epigallocethin Gallate dianggap bisa membakar lemak. Selain itu, bunga melati juga bisa meminimalisir racun-racun dalam tubuh dan menyeimbangkan gula darah.

Selain bermanfaat untuk kesehatan, Bunga Melati juga memiliki manfaat untuk kecantikan. Mencampurkan bunga melati dalam teh dan meminumnya rutin setiap hari dapat mencegah penuaan dini. Bukan hanya itu, campuran the bunga Melati juga dapat menghilangkan bau badan.

Simbolik Melati Pada Tradisi Indonesia

Sudah sejak lama Bunga Melati punya makna penting pada tradisi Indonesia. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, melati melambangkan kesucian, keanggunan dalam kesederhanaan dan ketulusan. Selain itu bunga ini melambangkan keindahan dan kerendahan hati, karena meskipun tumbuh di semak-semak, Bunga Melati memiliki wangi yang semerbak. Dalam upacara pernikahan pada beberapa adat di Indonesia, Melati menjadi salah satu elemen penting yang juga memiliki makna dalam upacara pernikahan.

Seperti upacara pernikahan adat Jawa, melati adalah salah satu dari tiga bunga sritaman. Bunga ini ditaburkan di atas air perwitosari. Melati berarti rasa melad saka jero ati, yang berarti dalam berucap dan berbicara harusnya kita selalu mengandung ketulusan dan kejernihan hati nurani yang paling dalam. Apa yang nampak secara lahir adalah apa yang ada dalam batin. Sehingga keduanya menjadi seimbang dan kompak. Melati atau mlathi mempunyai makna filosofis bahwa setiap orang dalam bertindak kebaikan haruslah berasal dari hati, tidak hanya dilakukan secara ragawi saja.

Melati tidak hanya sebagai salah satu bunga sritaman, tapi juga seringkali dironce kuncupnya, dibentuk seperti jaring. Jaring dari roncean melati tersebut digunakan sebagai pembungkus konde dan digantung di kepala wanita. Selain itu, pada adat lain seperti Bugis dan Makassar juga menghiasi rambut pengantin. Kuncup Melati disematkan di rambut menyerupai mutiara. Selain pada adat pernikahan, Umat Hindu Bali menggunakan melati sebagai sesajen untuk Hyang, arwah dan dewa-dewa. Bunga melati juga digunakan pada upacara pemakaman atau ziarah makam.

Potret wajah Indonesia yang begitu luas ini, tentu saja menjadi kebanggan kita semua sebagai warga negara. Bunga Melati salah satunya, karakter dan kesuciannya yang dinobatkan sebagai Bunga Bangsa, patut kita jaga dan rawat. Bukan hanya untuk melindunginya agar tidak punah, tetapi lebih dari itu adalah karakter negara kita sebagai negara besar dengan segala keindahan yang diberikan Tuhan. (K-IK)

Komoditas
Perkebunan
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...