Bahasa | English


CAGAR BUAH

Cagar Buah Condet, Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi

11 April 2019, 01:51 WIB

Disebut sebagai Cagar Buah Condet, area seluas 3,7 hektar ini merupakan sisa lahan perkebunan milik warga asli Condet yang akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk dijadikan kawasan pelestarian tanaman buah khas Betawi, yaitu salak condet dan duku condet.


Cagar Buah Condet, Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi Bibit pohon salak dan duku condet. Sumber foto: K/Intan Deviana Safitri

Bagi sebagian warga Jakarta, barangkali banyak yang belum mengetahui tentang keberadaan perkebunan buah yang terletak di kawasan Condet, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Lokasinya yang berada tepat di tengah-tengah pemukiman padat penduduk menjadikan kebun buah ini tertutup dan tak tampak dari ruas jalan raya. Disebut sebagai Cagar Buah Condet, area seluas 3,7 hektar ini merupakan sisa lahan perkebunan milik warga asli Condet yang akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk dijadikan kawasan pelestarian tanaman buah khas Betawi, yaitu salak condet dan duku condet.

Menurut Mpok Menah (85), salah satu warga asli Condet, kawasan yang mencakup Kelurahan Balekambang, Batu Ampar, dan Kampung Tengah ini dulunya merupakan area perkebunan buah salak, duku, dan beragam jenis tanaman lain yang sangat luas dan rindang milik puluhan penduduk asli Condet yang bersuku Betawi.

Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Antropologi Fakultas Sastra (sekarang bernama Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia tahun 1980, kawasan Condet merupakan daerah pemukiman masyarakat petani sawah dan petani buah jauh sebelum abad ke 17. Namun ketika kekuasaan Belanda mulai memasuki wilayah Condet pada abad 17, daerah tersebut berturut-turut mulai diakui sebagai tanah milik tuan tanah bangsa Belanda D.W. Freyer dan keturunan keluarga Ament. Selama dalam kekuasaan Belanda, mereka membuat kebijakan tentang penetapan pajak tak wajar kepada semua rakyat yang dibayarkan setiap minggu. Jika rakyat tidak membayar pajak, rakyat akan diganjar dengan hukuman kerja paksa dan harta benda mereka akan dirampas.

Pasca Indonesia telah merdeka, di tahun 1970-an, total area perkebunan di kawasan Condet masih berada di angka lebih dari 300 hektar. Mayoritas penduduknya masih menggantungkan hidup dengan berjualan hasil panen salak dan duku yang dijual langsung ke Pasar Minggu. Di kelurahan Balekambang sendiri pada tahun 1977, tercatat jumlah pohon salak mencapai angka 1.656.600 rumpun dan 2.383 pohon duku. Dari jumlah tersebut, hasil panen per tahun bisa mencapai angka 285,7 ton buah salak dan 44 ton buah duku.

Sayangnya, sejak dibukanya jalan raya Condet yang menjadi jalan utama beraspal, arus urbanisasi kian deras terjadi di wilayah Condet. Keadaan ini memicu aktivitas jual beli tanah perkebunan yang disebabkan oleh makin tingginya harga tanah pada saat itu. Warga asli Condet yang memiliki tanah mulai tergoda untuk menjual tanahnya pada orang luar demi memenuhi kebutuhan hidup, untuk ongkos naik haji, dan memilih untuk membeli tanah di luar Jakarta yang harganya lebih murah. Oleh pembeli lahan, tanah perkebunan tersebut dialihfungsikan menjadi bangunan rumah atau kontrakan permanen maupun semi permanen.

Pada tahun 1974, saat Ali Sadikin menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, sebetulnya kawasan Condet sempat ditetapkan sebagai cagar buah-buahan dan cagar budaya Betawi melalui SK Gubernur No D.IV-1V-115/e/3/1974. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama. Seiring pergantian gubernur dan perubahan-perubahan kebijakan, Condet kian terlupakan. Hingga akhirnya pada tahun 2004 terbit SK Gubernur yang memerintahkan agar cagar budaya Betawi dipindahkan ke Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Dengan maraknya penjualan tanah kebun milik warga dan pemindahan kawasan cagar budaya Betawi ke Setu Babakan, masyarakat Condet pun akhirnya menerima penawaran Pemprov DKI Jakarta untuk membeli sisa lahan perkebunan warga seharga nilai jual obyek pajak ketika itu. Hal tersebut dengan pertimbangan agar identitas asli suku Betawi yang semakin lama semakin berkurang dan terancam hilang di wilayah Condet, bisa tetap dipertahankan agar masih bisa dinikmati oleh generasi penerus di masa mendatang.

Tepat di tahun 2007, setelah pemerintah mengambil alih kepemilikan kebun, pembebasan lahan perkebunan pun dilakukan dan mulai dibangun pagar besi setinggi dua meter mengelilingi area kebun. Kebun buah inilah yang kini disebut sebagai Cagar Buah Condet, yang lokasinya berada di bantaran sungai Ciliwung, tepatnya di Jalan Kayu Manis RT 07 RW 05 Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Keberadaan kebun buah Condet yang kini tersisa hanya seluas 3,7 hektar dari luas awal mencapai lebih dari 300 hektar, menjadi sebuah harapan ibukota Jakarta yang telah penuh sesak dengan hutan beton dan tanah beraspal akan adanya kawasan hijau yang sesungguhnya.

Mulanya, Cagar Buah Condet sempat terbengkelai hampir 7 tahun lamanya meski sudah diambil alih oleh Pemprov DKI Jakarta. Tak adanya petugas resmi yang dikirimkan pemerintah untuk menjaga dan merawat lokasi cagar, mengetuk hati warga Condet untuk mengurusnya sendiri tanpa honorarium. Barulah pada tahun 2013, Pemprov DKI Jakarta melalui Suku Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Jakarta Timur menugaskan beberapa Pekerja Harian Lepas (PHL) untuk merawat Cagar Buah Condet bersama-sama dengan warga Condet. Kini, jumlah pekerja yang bertugas menjaga area cagar berjumlah 6 orang.

Setelah sebelumnya area kebun diberi pembatas pagar besi keliling, komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk melestarikan Cagar Buah Condet sebagai identitas suku Betawi kembali terlihat dengan dibangunnya berbagai sarana dan prasarana penunjang wilayah cagar. Di tahun 2016, Cagar Buah Condet telah memiliki fasilitas seperti rumah bibit, kantor pengelola, walking track, bangku-bangku untuk pengunjung, dan lampu penerang. Salah satu tujuan penyediaan fasilitas tersebut adalah sebagai daya tarik masyarakat, khususnya warga Jakarta, untuk mau berkunjung ke salah satu warisan budaya asli Betawi ini. Hal tersebut didukung dengan diterbitkannya SK Gubernur No.646 Tahun 2016 yang mengatur Percepatan Cagar Budaya dan Buah-Buahan Asli Condet.

Bicara tentang rumah bibit yang ada di Cagar Buah Condet, bibit-bibit tanaman seperti salak condet dan duku condet memang sengaja dibudidayakan untuk dijual kepada masyarakat. Harga bibitnya sendiri bervariasi, tergantung besar kecilnya bibit tanaman. Untuk harga bibit salak condet berada di kisaran Rp35.000 dan Rp60.000 untuk harga bibit duku condet. Pembelian bibit akan dilayani oleh PHL yang sedang bertugas. Sedangkan untuk pohon salak dan duku yang masih tumbuh subur di area kebun meski usia pohon sudah lebih dari 100 tahun, hingga sekarang masih produktif panen hampir setiap tahun. Hasil panennya sendiri memang tidak lagi dijual ke pasaran atau ke para tengkulak buah, namun diserahkan kepada Pemprov DKI Jakarta dan beberapa warga yang turut membantu mengelola kebun.

Sebagai salah satu maskot kota Jakarta, salak condet menjadi pohon buah yang paling mendominasi jenis tanaman yang ada di Cagar Buah Condet. Menurut Syahiq Harpi (30), salah satu pemuda asli Condet yang paham seluk beluk Cagar Buah Condet dan sering wara-wiri ke wilayah kebun, kini jumlah pohon salak di area cagar mencapai lebih dari 2.000 pohon atau sekitar 80 persen dari total varietas tanaman yang ada di wilayah cagar. Jumlah tersebut terdiri dari pohon salak yang sudah berusia ratusan tahun dan beberapa pohon salak hasil cangkokan. Soal cita rasa, salak condet memiliki beraneka macam jenis rasa, dari mulai sepat, asam, hingga manis. Ciri khas rasa inilah yang membedakannya dengan jenis salak lain seperti salak pondoh yang kini telah menang pamor di masyarakat.

Jenis tanaman buah kedua yang paling banyak tumbuh di area kebun Condet adalah pohon duku condet. Jumlahnya kurang lebih sebanyak 250 pohon atau sekitar 12 persen dari seluruh pohon duku yang tumbuh, baik pohon berukuran besar maupun yang masih berukutan kecil.

Sedangkan 8 persen sisanya merupakan beragam jenis tanaman buah lain yang turut hidup subur di kawasan Cagar Buah Condet, seperti pohon gandaria, kapuk, kopi, kokosan, buni, menteng, melinjo, lowa, aren, rambutan, cimpedak, nangka, mangga, belimbing, jambu, kelengkeng, durian, bacang, sawo, mahkota dewa, dan markisa. Tak hanya itu, puluhan jenis tanaman obat-obatan ikut pula melengkapi keanekaragam flora di area cagar, antara lain tanaman getah jarak, binahong, gondola, angsana, sirip tujuh, patikan kebo, ketepeng, sugi, jahe merah, miana, pacar merah, dan kelor. Banyaknya jenis tanaman yang ada di Cagar Buah Condet inilah yang membuat area perkebunan tersebut terasa sangat rindang dan sejuk meski di kala siang yang terik sekalipun.

Dalam kunjungannya ke Cagar Buah Condet pada 14 Maret 2019 lalu untuk ikut memanen duku, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan secara langsung menyampaikan keinginannya untuk membuat wilayah perkebunan Condet menjadi tujuan wisata yang lebih memadai sekaligus menjadi wahana edukasi masyarakat yang lebih layak. Sebab, menilik upaya Pemprov DKI Jakarta sendiri selama menyandang status pemilik lahan Cagar Buah Condet, usaha yang dilakukan dirasa belum maksimal. Penyediaan papan informasi tentang sejarah kebun buah Condet dan penamaan pada masing-masing jenis tanaman yang ada di Cagar Buah Condet, misalnya, perlu mulai digarap lebih serius agar pengunjung yang nanti datang ke area kebun bisa langsung mengetahui informasi terkait tanaman yang ada di sana. Pemberlakukan jam buka-tutup Cagar Buah Condet juga mesti dilakukan, seperti yang sudah diterapkan di kawasan Hutan Kota Cijantung, Jakarta Timur. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta perlu memikirkan pula perihal lahan parkir kendaraan pengunjung yang memadai, mengingat area pintu masuk ke kawasan kebun buah cukup sempit.

Menurut Wali Kota Jakarta Timur, M Anwar, yang turut mendampingi gubernur saat panen duku, menyatakan bahwa pembuatan SK Gubernur tentang kawasan Cagar Buah Condet perlu segera diterbitkan. Hal ini sebagai upaya konkret menyusun konsep yang disepakati antara pemerintah daerah dengan warga Condet. Anwar menambahkan bahwa rencana penerbitkan SK tersebut selambatnya dapat terealisasi pada panen buah tahun 2020.

Melalui kekayaan khas Betawi yang tersemat pada kawasan Cagar Buah Condet di wilayah Jakarta Timur itulah, Anies berharap masyarakat luas baik dari Jakarta maupun luar Jakarta dapat mengetahui sejarah panjang perkebunan buah Condet, sekaligus menilik pertumbuhan dan panen buah salak condet dan duku condet yang berstatus langka tersebut langsung dari pohonnya. Dari cita-cita itulah diharapkan Cagar Buah Condet bisa tetap lestari dan dijaga keberadaannya sebagai salah satu potret identitas asli masyarakat Betawi. (K-ID)

Komoditas
Perkebunan
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...