Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


KEKAYAAN FLORA

Kecombrang, si Wangi Penuh Manfaat

Monday, 18 Febuary 2019

Kecombrang merupakan tumbuhan rempah berbentuk terna. Wanginya yang begitu khas membuatnya kerap dijadikan bahan makanan. Ternyata, kecombrang memiliki berjuta khasiat yang bermanfaat bagi tubuh.


Kecombrang, si Wangi Penuh Manfaat Bunga Kecombrang. Sumber foto: Shutterstock

Bunga umumnya digunakan sebagai penghias dan penyegar mata karena begitu indah dipandang. Jenis bunga tertentu sengaja dipetik dan diletakkan di sebuah ruangan karena aromanya yang dinilai harum dan membuat rileks. Namun ternyata, banyak pula jenis bunga yang dapat dikonsumsi atau termasuk dalam edible flower, salah satunya yaitu bunga Kecombrang.

Kecombrang (Etlingera elatior) disebut juga dengan honje atau kantan. Selain tumbuhan rempah, kecombrang juga merupakan tumbuhan semak dengan tinggi 1-3 meter, berbatang semu, tegak, berpelepah, dan membentuk rimpang. Rupa kecombrang seperti tanaman hias pisang-pisangan, dengan daun tunggal yang memiliki panjang 20-30 sentimeter, sedangkan lebarnya 5-15 sentimeter, di bagian ujung dan pangkalnya runcing namun rata.

Honje hutan (E. hemisphaerica (Bl.) RM Smith), merupakan tanaman serupa yang memilki rasa dan kegunaan yang mirip dengan tanaman kecombrang. Bedanya, jenis tanaman tersebut tampak lebih kasar dan dapat tumbuh hingga 7 meter, dengan butir-butir buah yang lebih besar dari buah atau bunga kecombrang.

Bunga kecombrang adalah bunga majemuk yang berbentuk bonggol dengan panjang tangkai 40-80 sentimeter. Sedangkan panjang benang sari kurang lebih 7,5 sentimeter, putiknya kecil dan putih. Mahkota bunganya bertaju, berbulu jarang, dan warnanya kemerahan. Bentuk biji kecombrang kotak atau bulat dengan warna putih atau merah jambu.

Beda daerah, beda pula penyebutannya untuk bunga yang satu ini. Orang Medan menyebutnya dengan nama Kincung, orang Minangkabau menyebutnya Sambuang, orang Bali menyebutnya Kecicang, orang Malaysia menyebutnya Bunga Kantan, sedangkan orang Thailand menyebutnya Daalaa.

Wangi, asam, segar, itulah sensasi ketika memakan bunga kecombrang. Untuk yang pertama kali mencobanya mungkin akan merasa aneh dengan cita rasa yang dikeluarkan bunga ini. Tapi, banyak pula yang malah ketagihan setelah mencobanya lagi dan lagi.

Kecombrang kerap dijadikan sebagai bahan campuran dan penyedap masakan Nusantara. Di Sumatra, bunga kecombrang dijadikan sambal atau sebagai bumbu gulai khas Sumatra. Di Jawa Barat bunga ini dijadikan lalap yang dihidangkan bersama sambal. Di Banyumas, bunga kecombrang dikukus lalu dijadikan pecel. Orang Medan menjadikannya sebagai bahan dasar sayur asam karo yang lezat. Lalu, di Sulawesi Selatan, kecombrang dijadikan sebagai bumbu masakan untuk ikan kuah kuning. Sedangkan di negara tetangga, Malaysia dan Singapura menjadikan kecombrang sebagai salah satu unsur penting dalam membuat laksa.

Manfaat Bunga Kecombrang

Bunga kecombrang memiliki berjuta manfaat yang berkhasiat bagi tubuh manusia. Bunga kecombrang mengandung senyawa flavonoid, yang merupakan senyawa antioksidan yang membantu mengurangi kerusakan sel dalam tubuh. Sebuah riset yang dilakukan pada 2011 membuktikan, bunga ini memiliki efek antioksidan yang sangat kuat. Bunga, batang, rimpang, dan daunnya bahkan juga sangat tinggi antioksidan. Bahkan, karena kandungan antioksidannya yang begitu tinggi membuatnya terkenal sebagai tanaman antikanker. bmcresnotes.biomedcentral.com

Tak hanya itu, kecombrang juga memiliki sifat antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan berbagai bakteri Bacillus cereius, Euscheria coli, Listeria monocytogenes, dan Staphylococcus aureus. Sifat antibakterinya tersebut karena kandungan minyak atsiri, asam lemak, dan alkaloid yang ada dalam bunga kecombrang. Sifat antibakterinya ini juga membuat kecombrang dapat dijadikan sebagai pengawet makanan alami. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, ekstrak dari bunga kecombrang dapat dijadikan sebagai pengawet makanan, seperti bakso, tahu, mie basah, siomay, dan makanan lainnya.

Aromanya yang begitu khas dan kuat membuat kecombrang kerap dijadikan sebagai bahan untuk mengurangi aroma anyir pada makanan laut, seperti ikan dan sebagainya. Selain itu, kecombrang juga rendah kalori. Bunga kecombrang juga mengandung berbagai mineral penting, seperti magnesium, zat fosfor, kalsium, zat besi, potassium, dan zinc. Bunga ini juga mengandung berbagai nutrisi gizi dan nongizi, seperti protein, lemak, karbohidrat, energi, dan serat.

Meskipun terkenal sebagai rempah-rempah atau campuran bahan makanan, banyak pula kegunaan lain yang dapat dimanfaatkan dari tanaman kecombrang. Kecombrang dapat dijadikan sebagai sabun alami, dengan cara menggosokkan langsung batang semu yang dimiliki kecombrang ke tubuh dan wajah. Dapat juga menggunakan pelepahnya dengan cara menggosokkannya hingga keluar busa yang harum. Menggosokkan kecombrang ke tubuh juga dapat sebagai obat untuk penyakit yang berhubungan dengan kulit, seperti penyakit campak. Selain itu, kecombrang dapat melancarkan ASI, dan juga dapat membersihkan darah di dalam tubuh.

Di daerah Rejang Lebong, Bengkulu, bunga kecombrang dijadikan obat hingga penyubur rambut. Masyarakat setempat memanfaatkan kecombrang sebagai obat pereda batuk, demam tinggi, obat luka, dan penambah nafsu makan. Berbagai manfaat bunga kecombrang yang dijadikan obat tradisional oleh warga Rejang Lebong tersebut ternyata telah dilakukan sejak dahulu, secara turun-temurun, dan masih digunakan hingga saat ini. (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Bekantan, Bertahan dari Kepunahan
Di lokasi bernama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang sejak tahun 2006 wilayahnya diperluas menjadi 22 hektar, jumlah populasi bekantan tak lebih dari 30 ekor. ...
Batang Hari Sembilan: Ibu Suku dan Marga
Budaya Palembang berkembang di sepanjang Musi dan anak-anak sungainya, wilayah budaya yang disebut Batang Hari Sembilan. Budaya sungai itu melahirkan banyak suku dan marga. ...
Budhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...