Bahasa | English


KEKAYAAN FLORA

Kecombrang, si Wangi Penuh Manfaat

18 Febuary 2019, 19:25 WIB

Kecombrang merupakan tumbuhan rempah berbentuk terna. Wanginya yang begitu khas membuatnya kerap dijadikan bahan makanan. Ternyata, kecombrang memiliki berjuta khasiat yang bermanfaat bagi tubuh.


Kecombrang, si Wangi Penuh Manfaat Bunga Kecombrang. Sumber foto: Shutterstock

Bunga umumnya digunakan sebagai penghias dan penyegar mata karena begitu indah dipandang. Jenis bunga tertentu sengaja dipetik dan diletakkan di sebuah ruangan karena aromanya yang dinilai harum dan membuat rileks. Namun ternyata, banyak pula jenis bunga yang dapat dikonsumsi atau termasuk dalam edible flower, salah satunya yaitu bunga Kecombrang.

Kecombrang (Etlingera elatior) disebut juga dengan honje atau kantan. Selain tumbuhan rempah, kecombrang juga merupakan tumbuhan semak dengan tinggi 1-3 meter, berbatang semu, tegak, berpelepah, dan membentuk rimpang. Rupa kecombrang seperti tanaman hias pisang-pisangan, dengan daun tunggal yang memiliki panjang 20-30 sentimeter, sedangkan lebarnya 5-15 sentimeter, di bagian ujung dan pangkalnya runcing namun rata.

Honje hutan (E. hemisphaerica (Bl.) RM Smith), merupakan tanaman serupa yang memilki rasa dan kegunaan yang mirip dengan tanaman kecombrang. Bedanya, jenis tanaman tersebut tampak lebih kasar dan dapat tumbuh hingga 7 meter, dengan butir-butir buah yang lebih besar dari buah atau bunga kecombrang.

Bunga kecombrang adalah bunga majemuk yang berbentuk bonggol dengan panjang tangkai 40-80 sentimeter. Sedangkan panjang benang sari kurang lebih 7,5 sentimeter, putiknya kecil dan putih. Mahkota bunganya bertaju, berbulu jarang, dan warnanya kemerahan. Bentuk biji kecombrang kotak atau bulat dengan warna putih atau merah jambu.

Beda daerah, beda pula penyebutannya untuk bunga yang satu ini. Orang Medan menyebutnya dengan nama Kincung, orang Minangkabau menyebutnya Sambuang, orang Bali menyebutnya Kecicang, orang Malaysia menyebutnya Bunga Kantan, sedangkan orang Thailand menyebutnya Daalaa.

Wangi, asam, segar, itulah sensasi ketika memakan bunga kecombrang. Untuk yang pertama kali mencobanya mungkin akan merasa aneh dengan cita rasa yang dikeluarkan bunga ini. Tapi, banyak pula yang malah ketagihan setelah mencobanya lagi dan lagi.

Kecombrang kerap dijadikan sebagai bahan campuran dan penyedap masakan Nusantara. Di Sumatra, bunga kecombrang dijadikan sambal atau sebagai bumbu gulai khas Sumatra. Di Jawa Barat bunga ini dijadikan lalap yang dihidangkan bersama sambal. Di Banyumas, bunga kecombrang dikukus lalu dijadikan pecel. Orang Medan menjadikannya sebagai bahan dasar sayur asam karo yang lezat. Lalu, di Sulawesi Selatan, kecombrang dijadikan sebagai bumbu masakan untuk ikan kuah kuning. Sedangkan di negara tetangga, Malaysia dan Singapura menjadikan kecombrang sebagai salah satu unsur penting dalam membuat laksa.

Manfaat Bunga Kecombrang

Bunga kecombrang memiliki berjuta manfaat yang berkhasiat bagi tubuh manusia. Bunga kecombrang mengandung senyawa flavonoid, yang merupakan senyawa antioksidan yang membantu mengurangi kerusakan sel dalam tubuh. Sebuah riset yang dilakukan pada 2011 membuktikan, bunga ini memiliki efek antioksidan yang sangat kuat. Bunga, batang, rimpang, dan daunnya bahkan juga sangat tinggi antioksidan. Bahkan, karena kandungan antioksidannya yang begitu tinggi membuatnya terkenal sebagai tanaman antikanker. bmcresnotes.biomedcentral.com

Tak hanya itu, kecombrang juga memiliki sifat antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan berbagai bakteri Bacillus cereius, Euscheria coli, Listeria monocytogenes, dan Staphylococcus aureus. Sifat antibakterinya tersebut karena kandungan minyak atsiri, asam lemak, dan alkaloid yang ada dalam bunga kecombrang. Sifat antibakterinya ini juga membuat kecombrang dapat dijadikan sebagai pengawet makanan alami. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, ekstrak dari bunga kecombrang dapat dijadikan sebagai pengawet makanan, seperti bakso, tahu, mie basah, siomay, dan makanan lainnya.

Aromanya yang begitu khas dan kuat membuat kecombrang kerap dijadikan sebagai bahan untuk mengurangi aroma anyir pada makanan laut, seperti ikan dan sebagainya. Selain itu, kecombrang juga rendah kalori. Bunga kecombrang juga mengandung berbagai mineral penting, seperti magnesium, zat fosfor, kalsium, zat besi, potassium, dan zinc. Bunga ini juga mengandung berbagai nutrisi gizi dan nongizi, seperti protein, lemak, karbohidrat, energi, dan serat.

Meskipun terkenal sebagai rempah-rempah atau campuran bahan makanan, banyak pula kegunaan lain yang dapat dimanfaatkan dari tanaman kecombrang. Kecombrang dapat dijadikan sebagai sabun alami, dengan cara menggosokkan langsung batang semu yang dimiliki kecombrang ke tubuh dan wajah. Dapat juga menggunakan pelepahnya dengan cara menggosokkannya hingga keluar busa yang harum. Menggosokkan kecombrang ke tubuh juga dapat sebagai obat untuk penyakit yang berhubungan dengan kulit, seperti penyakit campak. Selain itu, kecombrang dapat melancarkan ASI, dan juga dapat membersihkan darah di dalam tubuh.

Di daerah Rejang Lebong, Bengkulu, bunga kecombrang dijadikan obat hingga penyubur rambut. Masyarakat setempat memanfaatkan kecombrang sebagai obat pereda batuk, demam tinggi, obat luka, dan penambah nafsu makan. Berbagai manfaat bunga kecombrang yang dijadikan obat tradisional oleh warga Rejang Lebong tersebut ternyata telah dilakukan sejak dahulu, secara turun-temurun, dan masih digunakan hingga saat ini. (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Jejak Ketauladanan Panglima Besar Soedirman
Apresiasi terhadap nilai-nilai kejuangan dan sejarah perjuangan Soedirman bahkan juga diakui oleh Jepang, selaku mantan negara penjajah. ...
Rampak Bedug, Musik dan Tari Religi dari Banten
Kesenian yang satu ini merupakan kreasi seni permainan alat musik bedug yang khas berasal dari daerah Banten, Jawa Barat. Namanya rampak bedug. Bedug atau beduk merupakan gendang besar yang asal ...
Gunongan, Peninggalan Arsitektur Pra-Islam di Banda Aceh
Catatan Joao De Barros (1552-1615) yang berumur sedikit lebih tua beberapa tahun sebelum Sultan Iskandar Muda naik tahta memberikan kepastian bahwa Gunongan tidak didirikan pada abad 17 M. ...
Taman Raja-Raja, Kitab Aceh Abad 17
Taman Raja-raja memang dia buat sebagai buku pegangan sejarah universal dan petunjuk kode etik bagi para penguasa. ...
Silase, Cadangan Pakan Ternak Saat Kemarau
Rumput hijau hasil fermentasi atau yang lebih dikenal dengan nama silase, kini menjadi alternatif pakan ternak untuk sapi, kerbau, dan kambing di saat musim kemarau. Silase dibutuhkan, utamanya b...
Krisis dan Daya Tahan Demokrasi
Indonesia memberikan dukungan yang lebih tinggi terhadap keberlangsungan demokrasi. Tetapi dalam sisi lain secara kultural dan kesejarahan, publik Indonesia sebagian masih menyukai kepemimpinan yang k...
Loro Blonyo, Simbol Kemakmuran dan Keturunan
Sepasang pengantin yang sedang duduk bersila banyak kita jumpai di tempat-tempat pesta pernikahan dalam bentuk patung.  Patung tersebut bernama Loro Blonyo. Sejarah mencatat, patung Loro Blo...
Menyambangi Menara Syahbandar di Titik 0 Km Jakarta
Jakarta tempo dulu memang tidak terpisahkan dengan kisah bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Hingga kini beberapa bangunan tersebut ada yang masih bertengger kokoh, namun banyak pula  yan...
Negeri Senja bernama Malalayang
Sastrawan Seno Gumira Adjidarma (SDA) dalam buku romannya mengisahkan seorang pengembara yang singgah di sebuah negeri yang tidak pernah mengalami pagi, atau siang, atau malam. Seluruh hari yang dia l...
Gerakan Putra Putri Papua Inspiratif
Sekelompok putra putri Papua menggalang diri membuat organisasi Gerakan Papua Muda Inspiratif. Mereka berbagi cerita tentang angan mereka untuk membangun Tanah Papua yang lebih baik. ...