Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


EDELWEISS JAWA

Merekah di Ketinggian Nusantara

Wednesday, 24 October 2018

Dinamai bunga Senduro oleh warga lokal, Edelweiss Jawa bisa tumbuh setinggi 8 meter, dengan batang sebesar kaki manusia.


Merekah di Ketinggian Nusantara Sumber foto: Pesona Indonesia

Edelweiss Jawa (Javanese Edelweiss) atau yang memiliki nama ilmiah Anaphalis Javanica biasanya tumbuh tidak lebih dari 1 meter. Tapi dalam kondisi tertentu, tumbuhan itu juga bisa mencapai ketinggian tumbuh hingga 8 meter, dengan batang sebesar kaki manusia.

Tumbuhan yang sering disebut sebagai bunga abadi ini mampu hidup di atas tanah yang tandus dan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di pegunungan. Bunga-bunga edelweiss tumbuh saat musim hujan berakhir saat sinar matahari sedang insentif, di antara April hingga September.

Jika sudah mekar biasanya bunga ini banyak didatangi oleh sekitar 300-an lebih jenis serangga, yaitu kupu-kupu, lalat, kutu, lebah, tabuhan, dan lain-lain. Bunga Edelweiss Jawa biasanya tumbuh di tempat dengan ketinggian kira-kira 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) ke atas, tergantung suhu udara dan kelembapan.

Bunga Edelweiss terbilang langka, karena jarang ditemukan ada bunga yang dapat tumbuh di daerah pegunungan. Di Indonesia, khususnya di pegunungannya, juga temukan Edelweiss jenis lain, yakni Anaphalis Javanica, yaitu jenis Leontopodium Alpinum yang hanya bisa ditemukan di sepanjang pegunungan Alpen di Eropa dan Gunung Semeru Indonesia.

Bunga Edelweiss Jawa pertama kali ditemukan di lereng Gunung Gede, Jawa Barat, Indonesia, oleh ilmuwan asal Jerman bernama Caspar Georg Carl Reinwardt, dan diteliti lebih lanjut oleh Carl Heinrich Schultz pada 1819. Nama Edelweiss berasa dari bahasa Jerman, ‘edel’ yang artinya mulia dan ‘weiss’ artinya putih.

Indonesia memiliki sejumlah pegunungan dengan padang hamparan Edelweiss yang luas. Yaitu, di Gunung Lawu, Gunung Semeru, Gunung Rinjani, Gunung Pangrango, Gunung Gede, dan Gunung Papandayan.

Sering dijuluki sebagai bunga abadi, ternyata bunga ini mengandung hormon etilen yang dapat mencegah kerontokan kelopak bunga. Dengan hormon itu, Edelweiss dapat mekar dan bertahan hingga 10 tahun lamanya, bahkan lebih.

Karena disebut sebagai bunga abadi, Edelweiss sering dipetik sebagai kenang-kenangan dan dibawa turun oleh para pendaki. Namun jika dipetik dalam jumlah yang banyak dikhawatirkan dapat mengancam populasi bunga Edelweiss Jawa yang dilindungi oleh UU 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati Ekosistem, Pasal 33 ayat 1. Jadi jelas kita tidak boleh mencabut bunga ini tanpa izin.

Saat ini Edelweiss terancam punah di Indonesia karena tangan-tangan nakal yang tidak bertanggung jawab memetik sembarangan. Sehingga sejumlah pengelola Taman Nasional pegunungan yang ada di Indonesia, dan juga masyarakat sekitar melakukan budidaya demi melestarikan Edelweiss.

Tidak jarang hasil dari budidaya ini juga diperjualbelikan oleh masyarakat setempat, hal ini juga sebagai upaya agar para pendaki gunung tidak memetik sembarangan di atas gunung.

Di Tengger, bunga Edelweiss juga sering dijadikan media bagi masyarakat untuk melakukan ritual-ritual adat khas Tengger. Maka dari itu kesadaran untuk melestarikan Edelweiss mulai tumbuh dan berkembang pada masyarakat Tengger di Gunung Bromo. Mereka bersama-sama melakukan pembibitan dan penanaman bunga Edelweiss di rumahnya masing-masing dengan modal dana swadaya.

Tidak hanya terkenal dengan keindahan dan keabadiannya, ternyata Edelweiss Jawa juga memiliki berbagai khasiat untuk dijadikan obat karena kandungan antioksidannya tinggi. Ekstrak bunga Edelweiss dapat sebagai penyembuh berbagai penyakit, seperti difteri, TBC, batuk, bahkan kanker payudara. Antimikroba di dalamnya juga berfungsi sebagai pembasmi bakteri, serta jamur, dan juga memiliki anti radang atau antiinflamasi.

Sebelum semakin langka, ada baiknya kita menjaga Edelweiss dan tumbuhan spesial lainnya. Jangan sampai tumbuhan yang dibilang langka ini malah benar-benar punah di Indonesia. Biarkan bunga Edelweiss tumbuh menghampar luas dan tertiup angin, beri kesempatan orang lain untuk menikmati keindahan dan kecantikan abadinya.

Budaya
Wisata
Ragam Terpopuler
Nagari Pariangan, Keindahan yang Mengagumkan
Terletak di Sumatra Barat, Nagari Pariangan berhasil membuat dunia berdecak kagum. Karena keindahannya, Nagari Pariangan menjadi salah satu desa terindah di dunia yang disejajarkan dengan desa Niagara...
Kecombrang, si Wangi Penuh Manfaat
Kecombrang merupakan tumbuhan rempah berbentuk terna. Wanginya yang begitu khas membuatnya kerap dijadikan bahan makanan. Ternyata, kecombrang memiliki berjuta khasiat yang bermanfaat bagi tubuh. ...
Sejarah Penting Paus Fransiskus Setelah Delapan Ratus Tahun
Penandatanganan Deklarasi Abu Dhabi adalah peristiwa resmi yang menyatakan pendapat para pemimpin agama di dunia untuk menghentikan penggunaan agama bagi ujaran kebencian, kekerasan, fanatisme, dan ek...
La Galigo, sebuah Kitab Suci Asli Bugis
La Galigo ialah sebagai karya sastra terpanjang di dunia. Lebih panjang daripada epik India, Mahabarata, dan Ramayana. Juga nisbi lebih panjang daripada epik Yunani, Homerus. Sayangnya popularitas La ...
Indonesia Serpihan Surga
Bumi Pertiwi berdiri dengan pesonanya yang menawan, dengan seribu kekayaan alam yang melimpah. Tak heran jika Indonesia menjadi salah satu dari sekian negara yang paling cantik di dunia. ...
Bermain Rangku Alu Melatih Konsentrasi
Nusa Tenggara Timur memiliki permainan tradisional bernama Rangku Alu yang biasa dilakukan saat musim panen. Bermain Rangku Alu dinilai dapat melatih konsentrasi dan ketangkasan. Tak hanya dimainkan a...
Cerita Cinta Nusantara
Di masa Sultan Agung berkuasa, lahirlah kisah romantika Jawa dari rahim sejarah. Bukan saja tercatat sohor, kisah itu juga melegenda hingga kini. ‘Rara Mendut-Pranacitra’ demikianlah diken...
Islam “Sarungan” Nusantara
Simaklah kembali karya klasik Clifford Geertz, The Religion of Java, menurut Marshall GS Hodgson, itu justru menunjukkan kekeliruan yang tanpa disadari oleh Geertz ketika merumuskan definisi Islam. Ba...
Kembalinya Islam Moderat
Presiden Joko Widodo berharap, Universitas Islam Internasional Indonesia dapat menjadi pusat kajian, penelitian, dan implementasi wacana peradaban Islam moderat--atau dalam bahasa Arab ‘Islam Wa...
Ratu Shima hingga Presiden Megawati
Naiknya seorang presiden perempuan yang pertama ini, Megawati Soekarnoputri, bagaimanapun merupakan sebuah lompatan eksponensial secara kebudayaan. Bagaimana tidak, Amerika yang konon merupakan negeri...