Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


KEKAYAAN FAUNA

Melihat Burung Cenderawasih dari Jarak Dekat

Thursday, 14 March 2019

Di Bird Watching Isyo Hills ini, kita bisa melihat 8 jenis burung Cenderawasih dari 28 jenis Cenderawasih yang ada di Papua. Lokasinya pun tak jauh dari jalan utama Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura.


Melihat Burung Cenderawasih dari Jarak Dekat Burung Cenderawasih. Sumber foto: IGID

Pada pagi 23 November tahun lalu, sekitar jam 4 subuh kami dibangunkan oleh Alex Wosimon (50). Alex adalah pemilik penginapan yang terdapat di lokasi  pengamatan burung (Bird Watching) Isyo Hills di Kampung Rephang-Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura

Kami hanya diberi waktu 20 menit untuk cuci muka dan minum kopi atau teh. Karena setelah itu kami harus jalan kaki memasuki Hutan “Isyo Hill”. “Harus pakai sepatu. Untuk melindungi kaki. Juga hewan di tanah,” saran Alex.

Pagi itu gerimis kecil, jarak pandang sedikit terbatas karena saputan kabut. Tapi kami tetap saja masuk hutan. “Jangan  berisik. Juga jangan membuang barang atau sampah selama dalam perjalanan,” imbaunya.

Tak lebih dari 1 kilometer, dengan jalan sedikit mengendap, kami ditemani Alex dan adiknya, Yeskiel Wosimon, sampai pada pos pengamatan II (karena pos pengamatan I masih dalam perbaikan). Kami diminta untuk naik ke gardu pandang  setinggi sekitar 20 meter.

Situasi waktu itu masih gelap. Kami diminta sabar dan tidak boleh menyalakan sinar apapun. Karena takut menakuti burung. Kami diarahkan untuk melihat satu batang pohon tanpa ranting yang jaraknya sekitar 30 meter dari tempat kami berdiri di gardu pandang.

Suara burung “Cenderawasih  12 Antena” atau bahasa setempat di sebut “Cenderawasih Mati Kawat” sudah mulai terdengar. Cenderawasih ini unik. Ekornya berupa bulu serupa kawat hitam. Jumlahnya 12 helai.  Warna hitam kebiruan dan dadanya berbulu kuning.

Benar saja, sekitar 5 menit kemudian burung itu datang dan bertengger di batang yang ditunjukkan Alex. Cuma sayangnya cuaca masih gerimis kecil dan sedikit berkabut. Seingga dengan kasat mata kami melihat burung itu seperti hitam saja. Kami bisa melihat  dengan cukup besar dengan menggunakan kamera 400 mm dan teropong.

Namun perlahan, dengan mulainya muncul sinar matahari, kamera mulai mampu menangkap detil burung Cenderawasih Mati Kawat tadi. Kami merekam pergerakan burung itu yang loncat-loncat kecil dan mengeringkan bulu-bulunya di pokok pohon tanpa ranting itu.

Beberapa menit kami asyik dengan perekaman, Alex sudah membisiki kami untuk segera pindah lokasi. Menuju Pos pengamatan III.  Di Pos ini kita akan bisa melihat burung “Cenderawasih Paruh Sabit”.

Kenapa dinamakan Cenderawasih Paruh Sabit, karena paruhnya mirip sekali sabit, melengkung. Namun pagi itu, kami gagal melihatnya. Karena burungnya terlambat datang dan bertengger di tempat yang sangat jauh.

Lagi-lagi kami harus turun dari gardu pengamatan. Kami menuju pos IV. Di pos IV tidak ada gardu pandang. Tapi kami berhenti di sebuah jalan setepak. Suara burung Cenderawasih sudah sangat dekat dan bersahut-sahutan. Kami diminta melihat 2 pohon di atas kami.

Dan benar saja, beberapa menit kemudian burung Cenderawasih Apoda (Ekor Emas), loncat-loncat di pohon di atas kami. Corak Cenderawasih Apoda ini biasa kita lihat karena bulunya dipakai sebagai hiasan kepala. Tinggi pohon sekitar 20 meter saja. Karena saat itu matahari sudah mulai bersinar, kami bisa melihat burung Cenderawasih dengan mata telanjang. Kalau untuk melihat dengan lebih besar, baru memakai  teropong.

Pagi itu saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa dalam hidup. Kalau sebelumnya saya  hanya bisa melihat  burung  Cenderawasih dari gambar atau foto atau video,  pagi itu melihat langsung dengan mata kepala sendiri.  Burung yang dominan dengan warna kuning dan coklat itu benar-benar saya lihat. Bahkan sempat turun ke ranting 7 meter dari kami.

Kalau cuaca memungkinkan sebenarnya semakin ke dalam hutan akan dapat menemukan lagi beberapa jenis Cenderawasih yang lain lagi. Tapi pagi itu kami hanya sampai di pos IV saja. 

Dan ternyata, burung-burung Cenderawasih punya siklus “jam main”. Di pos pos yang ditandai oleh Alex itu burung-burung hanya bermain tak lebih dari 30 menit. Setelah itu mereka berpindah tempat dan lokasi. Sorenya, mereka baru kembali ke lokasi-lokasi ini, sebelum akhirnya mereka istirahat.   

Bird Watching Isyo Hills

Bird Watching Rephang Muaif ini terletak di Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura. Untuk ke sana hanya butuh waktu sekitar 1 jam saja dari Bandara Sentani. 

Alex Waisimon mengelola hutan yang berada di antara Kampung Rephang dan Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, sejak 2015. Alex meninggalkan pekerjaannya di Bali untuk kembali ke kampung halamannya.

Di sini, Alex mempelajari kebiasaan mahluk hidup yang ada di hutan, terutama Cenderawasih. Alex lantas mengembangkan Ekowisata Bird Watching Isyo Hills.

Alex mendatangi habitat Cenderawasih yang berada di kawasan hutan seluas 100 hektare. Ia mengamati pola makan dan kebiasaan Cenderawasih dari pagi hingga sore. Menurut Alex terdapat sekitar 30 jenis Cenderawasih di Indonesia, 28 jenis di antaranya dapat ditemukan di Papua. Dan delapan macam spesies burung cenderawasih yang berhasil diidentifikasi di tempat ini, empat di antaranya bisa dilihat langsung.

Sebagai ganjaran atas keberhasilannya menjaga lingkungan hutan Rephang Muaif dan pelestarian burung Cenderawasih,  pada 2017 Alex mendapat piala Kalpataru. Dan pada 2018 dapat Juara Satu Anugerah Pesona Indonesia Kategori Ekowisata Terpopuler.

Untuk meningkatkan Ekowisata Bird Watching, Alex melengkapi berbagai fasilitas yang bisa dipakai oleh tamu yang datang dan ingin melihat burung Cenderawasih secara langsung.  Misalnya, dengan membangun tower pengamatan dan homestay. (E-2)

Perkebunan
Ragam Terpopuler
Bekantan, Bertahan dari Kepunahan
Di lokasi bernama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang sejak tahun 2006 wilayahnya diperluas menjadi 22 hektar, jumlah populasi bekantan tak lebih dari 30 ekor. ...
Batang Hari Sembilan, Ibu Suku dan Marga
Budaya Palembang berkembang di sepanjang Musi dan anak-anak sungainya, wilayah budaya yang disebut Batang Hari Sembilan. Budaya sungai itu melahirkan banyak suku dan marga. ...
Buddhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...