Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


VARIETAS PADI

Galur Baru Bercita Rasa Lama

Friday, 26 October 2018

Lebih dari 80% sawah Indonesia kini ditanami varietas baru yang lebih produktif dan tahan penyakit. Potensi genetik varietas lama disimpan dalam lemari berpendingin.


Galur Baru Bercita Rasa Lama Sumber foto: Antara Foto

Pandanwangi dan Ramos adalah brand yang kini merajai rak-rak beras minimarket dan toko  sembako. Di belakangnya ada satu brand lain, Rojolele. Ketiganya beras premium yang wangi, pulen, dan harganya sekitar lima rupiah lebih mahal dari beras medium tidak bermerek. Apa pun, ketiganya mewakili padi lokal khas Indonesia yang bisa bertahan dari gerusan arus revolusi hijau.

Beras Pandanwangi populer karena aroma pandannya yang menyeruak selepas nasi ditanak. Ramos, dan Rojolele pun harum. Namun, kemana beras Sipangkul  dan Siangkut yang dulu kondang di Kisaran Sumut? Kemana pula si Cantik Manih dan si Payuang dari Pariaman Sumbar, pun Kamandi dan Buri-Buri dari Bulukamba Sulsel atau si Mentik dan Kidangsari dari Banyumas?

Bila disebut satu per satu, niscaya ada ratusan varietas lokal yang pernah hadir di Indonesia. Hampir semua daerah lumbung padi dulu memiliki galur padi masing-masing. Namun, revolusi hijau di  Indonesia yang dimulai awal 1960-an memang membuat bermacam galur (varietas)  lokal tersisih, karena lebih rentan terhadap hama-penyakit, produktivitasnya rendah dan masa tanamnya panjang. Padi lokal itu perlu 150-165 hari untuk dipanen, bandingkan dengan varietas  baru yang hanya perlu 100-110 hari, dengan produktivitas tinggi karena responsif terhadap pemupukan.

Perakitan galur baru, yakni rekayasa untuk membuat varietas unggul, sudah dimulai sejak awal 1900 setelah  pemerintah Hindia Belanda membangun Pusat Penelitian Padi di Bogor. Di situ berbagai varietas padi lokal dikumpulkan, diteliti, dan didokumentasikan segala potensinya. Mulai dari panjang malai, jumlah bulir per malai, bentuk bulir, ketegaran batang, rasa, aroma, hingga ketahanan padi-padi endemik itu terhadap hama penyakit,  serta kemampuan adaptasi mereka di berbagai kondisi lingkungan, dicatat dan dipelajari potensi genetiknya.

Perakitan Varietas Baru

Dari Badan Penelitian Pertanian Algemeen Proefstation voor den Landbouw di Bogor itulah upaya perakitan benih padi unggul dimulai. Modalnya adalah stok benih lokal yang sudah dipelajari sifat genetik yang ditunjukkan lewat ciri khasnya, semisal cita rasa, aroma, ukuran  daun, kekuatan batang, panjang malai dan jumlah bulirnya, jumlah anakan dan unsur agronomis lainnya.

Ditambah lagi, adanya stok varietas introduksi dari luar negeri, semisal dari India, Tiongkok, dan Jepang, yang telah didiskripsikan potensi genetiknya. Para ahli tinggal meramu mana yang harus dikombinasikan untuk memperoleh varietas yang lebih baik, dengan produksi lebih tinggi.

Proses perakitan dimulai 1920-an, dengan persilangan manual. Galur lokal dikombinasikan dengan galur asing yang memiliki potensi genetik unggul. Dilakukan persilangan secara berjenjang, lantas benih hasil silangan itu ditanam. Tahap berikutnya, individu hasil persilangan tahap pertama diseleksi berdasarkan sifat yang dikehendaki –  semisal jumlah anakan lebih banyak dan bulir lebih panjang. Benih dari individu yang terpilih ditanam lagi dan diseleksi lagi.

Begitu seterusnya hingga bisa sepuluh generasi atau lebih,  sampai ditemukan benih-benih  yang berciri seragam. Bila ditanam lagi hasilnya akan seperti induknya dan itu menunjukkan bahwa persilangan telah menghasilan bibit dengan komposisi genetik yang telah stabil.

Namun, sebelum benih perdana itu dilepas, Pemerintahan Hindia Belanda  hengkang dari Indonesia karena serbuan tantara Jepang. Maka, Pemerintah Pendudukan Jepanglah yang justeru melepas varietas perdana itu ke petani agar ditanam dan hasilnya sebagian untuk logistik perang. Namanya Bengawan. Varietas ini tak sepenuhnya dirakit dari stok genetik lokal. Tetua Bengawan berasal dari tiga sumber, dari Tiongkok, India dan Padi Benong dari Jawa Barat.

Varietas Bengawan itu produksinya bisa 3,5 hingga 4 ton per ha, cukup tinggi untuk ukuran zamannya. Umurnya juga lebih pendek, anakannya banyak, berasnya pulen dan harum. Tak heran bila popularitas Bengawan ini bertahan hingga pertengahan 1970-an.

Memasuki era kemerdekaan, Balai Penelitian Pertanian Bogor itu semakin produktif. Lahir varietas Jelita (1955), Dara (1960), Sinta (1963), dan Batara (1965). Melalui kerja sama dengan IRRI (Internasional Rice Research InstituteI), lembaga riset yang berpusat di Manila, pemerintah merilis dua galur unggul PB-8 (1967) dan PB-5 (1968). Keduanya varietas introduksi (hasil rakitan IRRI).

Di awal 1970-an, perakitan benih padi itu semakin digencarkan. Persilangan antara PB-5 dan Sinta menghasilkan Pelita I-1 dan Pelita I-2. Pada era tersebut PB-5, PB-8, Pelita I-1 dan Pelita I-2 pun merajai areal persawahan. Produktivitasnya relatif tinggi dan berumur lebih pendek (genjah). Benih unggul ini menjadi bagian penting  dalam gerakan revolusi hijau di Indonesia, yang mengintensifkan budidaya padi dengan pupuk kimia, pestisida/insektisida, dan irigasi yang lebih terkelola.

Namun, revolusi hijau ini memantik ledakan hama wereng tahun 1977. Petani babak belur, Para peneliti sigap menjawab dengan meluncurkan sederet padi  tahan wereng,  baik biotipe 1,  2 dan 3. Muncul varietas IR-26, IR-28, IR-29, IR-34, IR-36 dan IR-42. Yang paling top adalah IR-36 dan IR-42. Produktivitasnya tinggi, tahan wereng dan cita rasa berasnya cukup enak.

Tak lama muncul lagi serial varietas baru yang dilabeli identitas dengan nama-nama sungai. Varietas Cisadane muncul 1980 dan kemudian cukup legendaris. Disusul  kemudian dengan Krueng Aceh, Cimandiri, Serayu, Progo, Cisanggarung, Ciliwung, Cipunegara, hingga yang  generasi 2000-an seperti Cikapundung dan Ciherang (2001).

Pada era 2000-an, padi hibrida mulai diintrodusir. Namun, hingga kini penyebarannya masih terbatas. Varietas-varietas padi unggul itu yang menguasai lebih dari 80% lahan petani. Galur yang paling disukai adalah IR-64 keluaran 1986. Menyusul di belakangnya adalah padi Memberamo, Way Apo, IR-66, Cisadane, Ciherang, Cimandiri dan seterusnya.

Selain punya sifat unggul lebih tahan hama-penyakit, produksi tinggi, beras-beras tersebut juga  wangi dan pulen. Sebagian dari galur  ini telah teruji bisa beradaptasi dengan lingkungan khas, seperti tanah masam atau kadar garam tinggi.

Varietas lokal lama seperti Pandanwangi, Ramos, Rojolele dan sejumlah varietas tua lainnya  masih ditanam meski pada areal yang terbatas. Namun, petani umumnya memilih padi unggul yang genjah karena bisa panen dua kali setahun. Lagi pula, dengan masa tanam yang lebih singkat petani menghadapi resiko lebih rendah terhadap ancaman serangan hama-penyakit atau kekeringan.

Konservasi Padi Lama

Dari ratusan varietas padi lama khas Indonesia tinggal  segelintir yang masih dibudidayakan, seperti Pandangwangi di Cianjur, Rojolele di Klaten-Boyolali dan Ramos di Sumut. Harganya bisa dua kali lipat. Sebagian pedagang biasa mengoplosnya dengan beras varietas baru, dijual sebagai beras premium, dan menggunakan brand Pandanwangi, Rojolele, Ramos, atau yang lain.

Toh, tidak  berarti stok genetik padi-padi lama itu telah dibiarkan punah. Varietas lama itu dikonservasi dalam bentuk gabah kering yang disimpan dalam lemari-lemari berpendingin di Balai-Balai Penelitian Tanaman Pangan di bawah Kementerian Pertanian.

Saat ini, tak kurang dari 2.797 plasma nutfah padi telah dikoleksi oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Bogor. Plasma nutfah itu  terdiri 1.635 varietas lokal, 978 varietas introduksi dari luar negeri, dan 184 varietas unggul baru. Selain itu, Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetika Bogor juga memiliki 4.203 aksesi plasma nutfah padi yang terdiri atas 94 aksesi padi Selain itu dan 4.109 padi budi daya

Untuk penyimpanan jangka pendek spesimen disimpan dalam lemari bersuhu 10-15 derajat Celsius.  Untuk jangka menengah benih ditempatkan dalam chiller (-5 hingga 0 derajat Celsius) atau freezer yang temperaturnya – 20 derajat Celsius untuk jangka panjang. Sebagian besar mereka telah terdokumentasi potensi genetiknya. Bila diperlukan tingal comot saja.

Budaya
Ragam Terpopuler
Ada Lopes dan Kopi Khas Situbondo di Pasar Panji
Kalau kita sedang melintas dengan jalur darat dari Surabaya ke Bali, kita akan melewati Situbondo ini. Dan tak ada salahnya mampir ke pasar panji. Ada Lopes dan Kopi Khas.  ...
Ke Banyuwangi, Bisa Cicipi Super Ayam Pedas Hingga Nasi Bungkus Khas Banyuwangi
Siapa bilang Banyuwangi tidak punya kuliner Khas? Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini ternyata menyimpan makanan khas dan ada yang hanya tersedia di Banyuwangi ini saja. ...
Lorjuk, “Seafood” yang Hanya ada di Madura dan Surabaya
Jawa Timur menyimpan banyak makanan khas, bukan hanya Rawon, Soto ataupun Rujak Cingur. Di Madura dan Surabaya, ada Makanan Khas dari Kerang yaitu Lorjuk. ...
Bandung Spirit sebagai Memory of the World
Oleh eksponen intelektual kiri, Samir Amin, misalnya, Bandung Spirit dianggap telah melahirkan babak sejarah dunia tersendiri. Sering disebut “The Era of Bandung” yaitu periode 1955--1975....
Ziarah Lintas Samudera
Jika pada milenium pertama, pemuka-pemuka Siwa-Buddha dari India dan Cina berziarah ke wilayah timur. Pertengahan mienium kedua, para peziarah dari Nusantara harus menuju ke barat. ...
Cagar Buah Condet, Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi
Disebut sebagai Cagar Buah Condet, area seluas 3,7 hektar ini merupakan sisa lahan perkebunan milik warga asli Condet yang akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk di...
Memahami Antonio Blanco dari Model Lukisannya
Model lukisan Antonio Blanco, Ketut Rani Astuti, menggambarkan Antonio Blanco sebagai pelukis nyentrik. ...
Jimpitan, Tradisi Pendukung Ekonomi Rakyat
Jimpitan tetap eksis di zaman modern. Tradisi ini menjadi solusi pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat yang enggan bersentuhan dengan jasa perbankan. ...
“Trance” ala Sintren
Sarat unsur magis, awalnya Sintren hanya dipentaskan saat bulan purnama. Sekarang, tarian ini telah menjadi sarana hiburan. ...
Di Balik Kesegaran Badak
Lahir di kala persaingan minuman soda Tanah Air belum ketat. Mencapai puncak kejayaan pada era 1970 hingga 1980-an, Badak kini sepi peminat. ...