Bahasa | English


SITUS PURBAKALA

Manusia Jawa Purba dari Bumiayu

23 July 2019, 09:49 WIB

Berumur 1,8 juta tahun, Manusia Bumiayu tercatat yang tertua di Jawa. Ada kemungkinan itu merupakan nenek moyang Manusia Sangiran (Sragen) atau Manusia Wajak (Tulungagung).


Manusia Jawa Purba dari Bumiayu Penemuan fosil purba di Museum Mini Purbakala Bumiayu. Foto: Dok. Museum Mini Purbakala

Semuanya sudah mengeras membatu. Namun, mata paleontologis tetap saja bisa mengenalinya sebagai fosil dari spesimen hewan purba. Ada serpihan tulang mamalia bergading besar mirip gajah purba alias Sinomastodon, specimen kerbau, banteng, kuda air, badak, hingga kura-kura. Batuan fosil itu bertengger  di rak-rak bercat hijau di dalam ruangan 10 x 12 meter yang disebut Museum Mini Purbakala Bumiayu di Desa Kalierang, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah.

Namun, kini ada beberapa potong fosil yang menarik perhatian banyak kalangan, yakni fosil tulang paha, rahang,  serta akar gigi manusia purba (Homo erectus). Tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta yang terjun ke Bumiayu, dipimpin Profesor Harrry Widianto dari LIPI, menaksir fosil itu berumur 1,8 juta tahun, 300 ribu tahun lebih tua dibanding  Homo erectus dari Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Temuan ‘’Manusia Bumiayu” itu mulai ramai diperbincangkan sejak awal Juli lalu.

Penaksiran umur fosil Manusia Bumiayu ini berdasar analisis stratigrafi terhadap batuan tempat fosil berada, dibarengi identifikasi formasi batuannya yang termasuk ke Formasi Kali Glagah bagian tengah-bawah. Identifikasi batuan Kali Glagah ini pula yang mengantar pada pengungkapan lain bahwa pada 2,4 juta tahun silam Bumiayu adalah Pantai Timur Pulau Jawa, sebelum Pulau Jawa terbentuk dalam formasi yang sekarang.

Pulau Jawa bagian Tengah dan Timur tumbuh belakangan, dari hasil pengangkatan Lempeng Benua Asia yang diungkit oleh Lempeng Benua Australia dan dipercepat dengan adanya aktivitas vulkanik yang membentuk deretan gunung-gunung berapi. Sisi Timur Jawa itu bersambung dengan sisi Barat pada garis sepanjang pantai antara Tegal-Bumiayu.

Tentu, masih banyak hal lainnya yang bisa diungkapkan dari penemuan fosil di Bumiayu itu. Paling tidak, kawasan Bumiayu kembali menjadi situs purbakala yang penting setelah sekian lama luput dari perhatian para peneliti. Padahal, seabad silam, banyak sarjana Belanda melakukan penggalian di situ. Bumiayu kemudian seperti terlupakan, karena tidak banyak fosil lagi yang tergali.

Namun, inisiatif warga yang suka rela mengumpulkan batu-batu fosil dan mengoleksinya di Museum Mini, pada akhirnya bisa membawa ke penemuan penting. Homo erectus tertua di Indonesia bukan lagi tercatat atas nama “Manusia Sangiran”, melainkan “Manusia Bumiayu”. Bahkan, ProfesorHarry Widianto tak menutup kemungkinan manusia Sangiran iitu adalah hasil migrasi Manusia Bumiayu.

Dengan adanya bukti bahwa sudah ada manusia purba 1,8 juta tahun lalu di Bumiayu, dan pada 2,4 juta tahun lalu kawasan di situ masih berupa pantai, serta mengacu ke teori tentang migrasi manusia purba, Profesor Harry Widianto menduga bahwa tempat pendaratan Hominid (dari wilayah lain) adalah Pantai Bumiayu. Di situ pula lahir nenek moyang manusia purba versi Jawa semisal Homo wajakensis, yang hidup sampai 50.00 tahun lalu, dan memiliki ciri-ciri mendekati sosok Homo sappiens.

Karenanya, menurut Profesor Harry Widianto, penemuan fosil Manusia Bumiayu ini dapat menguatkan fondasi klaim atas teori Multi-Regional, yakni teori yang mengonstruksikan bahwa evolusi dari Homo erectus menjadi Homo sampiens (manusia modern) tidak hanya terjadi di Afrika Tengah. Teori Multi-Regional itu merupakan tandingan dari teori Out of Africa yang lebih diterima secara luas.

Teori Out of Africa menjelaskan, Homo sapiens lahir dari proses evolusi Homo erectus. Padang savana Afrika dianggap ikut mendukung proses evolusi makhluk bipedal (yang berdiri dengan dua kaki) menjadi lebih konvergen, ke arah Homo erectus yang lebih pandai menggunakan kaki untuk bergerak dan tangan untuk mencari makanan sekaligus membela diri. Proses selanjutnya, cara hidup di padang rumput itu juga mendorong berkembangnya tingkat kecerdasan hingga Homo erectus itu berkembang menjadi Homo sapiens.

Setelah tumbuh menjadi Homo sapiens, menurut teori Out ofica itu, makhluk-makhluk cerdas itu pun bermigrasi ke suluruh penjuru dunia dan menjadi leluhur manusia modern. Penemuan bahasa dan api adalah penemuan besar yang mempercepat perkembangan kecerdasan Homo sapiens. Penemuan api yang berlanjut dengan penemuan tekniik memasak makanan dengan pemanasan, membuat pola diet Homo sapiens generasi awal itu lebih efisien untuk mendapatkan asupan kalori dan makanan bergizi. Tingkat kecerdasan makin berkembang.

Namun, teori Out of Africa itu sejak lama menghadapi perlawanan dari teori Multi-Regional.  Adanya manusia purba Homo neanderthal dari Eropa, Manusia Dminasi (Georgia), Manusia Longgupo (China), Manusia Wajak (Tulungagung), yang juga diangggap sebagai nenek moyang penduduk asli setempat, tidak bisa diabaikan. Dalam versi teori Out of Africa, manusia purba Neanderthal, Manusia Dminasi, Longggupo, dan Manusia Wajak, punah dan digantikan Homo sapiens dari Afrika Tengah.

Sejauh mana Manusia Bumiayu ini bisa menggoyahkan Homo sapiens versi Out of Afrika, tentu akan ditentukan bukti-bukti selanjutnya. Peneliti dari Eropa mengklaim menemukan jejak DNA Neanderthal di Homo sapiens, hal yang bisa membuka kemungkinan bahwa Homo sapiens lokal telah bercampur dengan pendatang dari Afrika Tengah. Apakah anak cucu Manusia Bumiayu ini bercampur dengan manusia pendatang dari Afrika, atau punah di tengah perjalanan? Situs Bumiayu perlu digali lebih dalam untuk mencari jawaban. (P-1)

Sosial
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...
Kanjeng Ratu Kidul
Menurut kitab Wedhapradangga, pencipta Bedhaya Ketawang adalah Sultan Agung. Meskipun demikian kepercayaan tradisional meyakini, tarian ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kidul sendiri. Menariknya, Suna...
Jadi Pengikut atau Pelopor, Dilema Mobil Listrik Nasional
Para pemain lama sudah sangat gemuk dengan kompleksnya teknologi perakitan dan teknologi purnajual berbasis mesin bakar. Sedangkan bagi Cina yang sudah lebih lama mengembangkan teknologi penyimpanan l...