Bahasa | English


FLORA

Youtan Poluo Bunga dari Surga

29 November 2019, 05:20 WIB

Bunga anggrek hitam, tulip, bahkan edelweis sudah sering kita dengar. Bagaimana dengan bunga youtan poluo? Bunga ini masih terdengar sangat asing di telinga kita, dan tidak terbayang bagaimana bentuk dan aromanya.


Youtan Poluo Bunga dari Surga Bunga Youtan Poluo. Foto: Flora Indonesia

Bunga youtan poluo terbilang sangat langka dan mungkin hampir punah. Meski dapat tumbuh di sembarang tempat, namun sangat sulit ditemukan. Bunga ini memiliki banyak nama, di beberapa negara Asia disebut udonge. Banyak penduduk bumi mengenalnya dengan bunga youtan poluo, sementara di Indonesia disebut bunga udumbara.

Bunga ini dikatakan tanaman dari surga karena konon, bunga ini jarang bisa tumbuh di bumi, butuh 3.000 tahun untuk tumbuh. Bunga kecil nan indah dengan warna putih ini hanya bisa dideteksi dengan lensa pembesar. Berbeda dengan bunga lainnya yang bisa diklaim sebagai ciri khas suatu negara, bunga youtan poluo tersebar di seluruh dunia. Belum ada negara yang mengklaim menjadi pemiliknya.

Bunga udumbara atau youtan poluo yang harumnya bisa menyebar dan memenuhi area yang luas ini dapat hidup di mana saja, tidak hanya di tanah, kayu, kaca, bahkan di logam sekali pun tetap bisa bertahan, ia tumbuh menempel seperti parasit. Tak pula harus memiliki suhu panas, lembab, atau dingin, bunga yang tangguh ini hadir di semua cuaca dan semua tempat. Tak salah jika bunga ini di sebut sebagai bunga dari surga.

Harum bunga ini bisa melebihi harum dari parfum. Bila ditaruh dalam ruangan, aromanya menyebar hingga waktu yang lama. Tak seperti penampilannya yang sangat unik, bunga youtan poluo terlihat kurang menarik. Tapi ketika mencium aroma yang memikat, penampilan bunga pun menambah keunikan tersendiri. Apalagi konon bunga ini sering dihubungkan dengan mitos membawa keberuntungan.

Youtan poluo atau bunga udumbara ini pertama kali ditemukan oleh Ding, petani dari Provinsi Liaoning timur laut China pada tahun 2007. Ketika itu, dia mendapatkan sekitar 38 bunga udumbara di beberapa pipa logam di kebunnya.

Selain China, bunga youtan poluo juga ditemukan di Teipei Chen Guodong yang tumbuh mekar di halaman rumah seorang warga. Masyarakat pun antusias melihat bunga langka tersebut. Dengan batang yang sangat minimalis dan bentuk bunga yang sangat kecil, bunga youtan poluo terlihat seperti rapuh. Namun, bunga tersebut memiliki karakter yang kuat.

Penemuan lain terjadi pada tahun 2010. Seorang biarawati China, Miao Wei, yang tinggal di Gunung Lushan, menemukan bunga yang beraroma harum ini di bawah mesin cucinya. Awalnya dia berpikir itu hanyalah serangga. Tapi, keesokan harinya “serangga” tersebut ternyata tumbuh mekar dengan aroma yang memenuhi ruangan.

Fenomena bunga udumbara yang paling terkenal terjadi pada 1997 di Chonggye-sa Temple di Seoul, Korea Selatan. Bunga surga ini tumbuh dan berkembang di dahi patung Budha. Terlihat Indah tumbuh di wajah patung suci tersebut dan membuat bunga ini pun terlihat sangat istimewa.  

Peristiwa ini menjadi viral di seluruh dunia, karena pada 1997 itu merupakan 3.024 tahun sejak Budhisme muncul pertama kali. Menurut kitab-kitab kuno, terakhir kali bunga youtan poluo tercatat mekar sebelum kelahiran Budha Gautama.

Dalam mitologi Budha, bunga udumbara adalah bunga pembawa keberkahan yang jika ditemukan akan membawa keberuntungan bagi sang penemu. Dalam legenda Budha kehadiran bunga udumbara dikaitkan dengan akan datangnya Raja Suci Pemutar Roda sang Pelurus Dharma (hukum moral) di dunia. Dalam tulisan suci Budhiisme juga disebutkan bahwa raja tersebut akan menerima siapa pun dari setiap afiliasi agama dan menawarkan keselamatan bagi semua orang melalui belas kasih.

Membuat Heboh di Jimbaran Bali

Tidak hanya di luar negeri, bunga keberuntungan ini juga pernah membuat heboh di Jimbaran, Bali pada 2016 lalu. Kadek Suardana menemukannya di gagang pintu dan ranting pohon jeruk miliknya. Percaya akan keberuntungan, pria ini pun menyimpan bunga tersebut selama bertahun-tahun. Karena keyakinannya, maka keberuntungan tersebut pun terwujud.

Menurut Suardana, semenjak menyimpan bunga dari surga ini, ekonomi keluarganya mengalami peningkatan. Sayangnya, bunga ini tak bisa dikembangbiakan, karena belum ada penelitian yang dapat mengembangkan bunga langka yang hampir punah tersebut. Selama ini, mereka yang menemukan bunga udumbara dianggap telah menemukan keberuntungan.

Bunga dengan ukuran satu sampai dua milimeter ini tak mudah terlihat dengan mata normal. Kecuali melihatnya dengan mendekatkan mata kita. Secara kasat mata, tumbuhan ini nampak seperti telur cacing. Setelah dilihat dengan lensa kamera atau mikroskop, tumbuhan unik ini memiliki tampilan yang menyerupai jamur.

Ini pun yang terjadi pada Rizki Amelia yang takjub melihat dinding dalam pintu berbahan baja ruang kerja di percetakan miliknya di daerah Kelurahan Guntung Manggis, Kabupaten Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Jika memang benar kehadiran bunga ini akan membawa keberuntungan, mungkin akan berpindahnya ibu kota ke Kalimantan Selatan ini bisa menjadi kenyataan. Kota Kalimantan pun akan menjadi kota subur dan berkembang dengan pesat.

Bunga udumbara berbentuk subur dan mirip seperti jamur, mengeluarkan cahaya putih dan beraroma harum. Jika sudah mekar, bunga ini dapat bertahan lama, hingga sampai satu tahun. Tak ada penelitian bahwa setelah bunga ini mati, maka akan tumbuh ribuan tahun kemudian di tempat yang sama.

Sayangnya, meski sudah banyak orang yang menemukan bunga yang konon hanya disebutkan dalam beberapa kitab suci kuno, namun berdasarkan laporan para peneliti mereka menyebutkan bahwa bunga surga pembawa keberuntungan tersebut sejatinya adalah telur hewan Green Lacewings.

Telur hewan ini memang unik. Bentuknya yang serupa dengan bunga udumbara ini pun menempel pada ranting dan dedaunan. Meski terlihat mirip, belum ada ilmuan yang berhasil memecahkan dan memastikan apakah udumbara dalam mitos ini adalah telur hewan.

Jika melihat bagaimana bentuk telur ini di laman Google, memang sekilas telur hewan ini mirip bahkan terlihat sama dengan bunga udumbara. Padahal induknya memang sengaja menggantungkan telurnya dengan seutas sutera, untuk melindungi sesama saudara kandungan larva.

Indung telur ini menaruh telurnya dekat dengan sumber makanan, bertujuan jika larva menetas akan mempermudah menyantap makanan. Larva sayap jala hijau ini atau Green Lacewings, terbilang ganas, karena menyerang apapun yang hidup. Mereka dapat memuncratkan cairan pencernaan dan mencairkan kutu hanya dalam hitungan waktu tidak lebih dari dua menit. Bagi kita manusia, tidak perlu khawatir, karena meski telur ini terbilang ganas tapi tidak membahayakan manusia. (K-HP)

Komoditas
Ragam Terpopuler
Kota Bunga Tomohon dan Serba Tujuhnya
Banyak orang sepakat bahwa Tomohon adalah salah satu destinasi wisata yang memikat. Wisatawan datang ke sana tidak hanya karena indahnya bunga dan alamnya, tapi juga keragaman budaya dan tolerans...
Martabat Tujuh dan Konstitusi Kasultanan Buton
Seturut konstitusi Martabat Tujuh, bicara penegakan hukum (law enforcement) saat itu bisa dikatakan tidaklah tebang pilih. Siapapun yang terbukti bersalah bakalan diganjar sesuai dengan aturan hukum y...
Ratu Kalinyamat, Membangkitkan Kembali Politik Maritim Nusantara
Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sanga...
Restorasi yang Urung di Situs Kawitan
Dulu pernah ada keinginan warga sekitar untuk “merestorasi” situs Kawitan yang ditemukan pada kurun 1965-1967. Namun hal itu tidak terealisasi karena jiwa yang malinggih di situs tersebut ...
Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan
Di atas tanah seluas 25 ribu hektar, berdiri miniatur hutan Indonesia. Beraneka ragam tanaman hutan bisa ditemui di sana. ...
Menikmati Sensasi The Little Africa of Java
Dulu, mungkin tak pernah terpikirkan untuk merancang liburan di Banyuwangi. Sebuah kota kecil di ujung Pulau Jawa. Tapi kini, magnet wisata di Banyuwangi cukup kuat dan beragam jenisnya. ...
Wisata Heritage Berbasis Masyarakat ala Surabaya
Surabaya memiliki destinasi wisata heritage kedua, Peneleh City Tour, Lawang Seketeng, di kawasan Peneleh. Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengelola wisata haritage pertama...
Kampung Batik Laweyan, Saksi Bisu Industri Batik Zaman ke Zaman
Berkunjung ke kota Solo kurang lengkap bila tak mendatangi Kampung Batik Laweyan (KBL). Sebuah sentra industri batik legendaris yang telah berdiri sejak 500 tahun lalu. Batik sudah menyatu dengan...
Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu
Banyak pesona pada rumah adat Baileo, milik suku Huaulu penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Baileo memiliki arti penting dalam eksistensi suku Huaulu. Hal itu bukan saja karena Baileo berfungsi seb...
Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam
Ritual memohon kesembuhan kepada Dewata, banyak kita jumpai di berbagai etnis di Nusantara. Sebut saja upacara Badawe yang dilaksanakan Suku Dayak kemudian ada rutal Balia yang dipraktikkan oleh ...