Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


Antara Satelit Merah Putih dan Satelit Palapa

24 August 2018, 17:13 WIB

Satelit Merah-Putih resmi meluncur ke angkasa pada 7 Agustus 2018. Diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 buatan SpaceX di Cape Canaveral Air Force Station, Florida Amerika Serikat tepat pada pukul 01.18 waktu setempat atau pukul 12.18 WIB.  Roket peluncur yang memiliki berat 80 ton dan tinggi 70 meter ini akan membawa satelit Merah-Putih menempati orbitnya di posisi 108 derajat Bujur Timur (108 BT) atau tepat di atas Selat Karimata pada 18 Agustus.


Antara Satelit Merah Putih dan Satelit Palapa Satelit Merah-Putih. Sumber foto: Istimewa

Satelit ini dibangun oleh dua perusahaan asal Amerika, yaitu Space System Loral (SSL) sebagai perakit satelit dan SpaceX sebagai penyedia jasa roket peluncurnya. Pembuatan satelitnya sendiri menghabiskan waktu kurang lebih dua setengah tahun sejak dipesan di 2016. Mengandalkan platform SSL 1300, satelit ini didesain memiliki daya ketahanan (lifetime) hingga 16 tahun. Dengan satelit Merah-Putih ini diharapkan dapat jadi tonggak sejarah (mile stone) yang mengungkit industri telekomunikasi Telkom Indonesia masuk sebagai pemain papan atas di tingkat internasional.

Jika merujuk database dari Union of Concerned Scientists (UCS) per per 31 Agustus 2017, posisi terakhir Indonesia tercatat memiliki 8 satelit yang aktif beroperasi. Dengan diluncurkannya satelit Merah-Putih ini maka praktis Indonesia kini jadi memiliki 9 satelit.

USC sendiri mencatat lebih dari seribu satelit beroperasi mengorbit di atas bumi. Tepatnya tercatat sebanyak 1.738 satelit aktif. Amerika menduduki posisi pertama, yaitu memiliki 803 satelit. China di urutan kedua, 204 satelit. Rusia berada di posisi ketiga, 142 satelit. Sedang sejumlah 589 satelit lainnya dimiliki oleh banyak negara lainnya. Masih dari sumber USC, jika bicara jumlah satelit yang dimiliki oleh negara-negara anggota ASEAN maka posisi Indonesia dengan 9 satelit ini menempati urutan kedua setelah Singapura yang memiliki 10 satelit. Di bawah Indonesia di urutan ketiga ialah Thailand yang memiliki 5 satelit. Malaysia, 4 satelit. Vietnam, 3 satelit. Sedang Laos dan Filipina masing-masing memiliki 1 satelit.

Dari sembilan satelit yang dimiliki oleh Indonesia tersebut setidaknya 3 satelit berkategori mikro adalah sumbangsih anak bangsa sendiri. Sekalipun proses peluncuran ke angkasa dari ketiga satelit mikro itu, sementara ini masih diluncurkan dari Satish Dhawan Space Centre di India dan menggunakan roket buatan negara tersebut.

Satelit pertama buatan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) itu diberi nama Lapan A1-TUBSat. Satelit yang berfungsi sebagai instrumen penginderaan jauh seberat 57 kilogram itu dibuat oleh LAPAN dengan dibantu oleh tim ahli dari Universitas Teknologi Berlin ini diluncurkan pada 10 Januari 2007. Satelit ini berfungsi melakukan pemantauan langsung situasi bumi seperti kebakaran hutan, aktivitas gunung berapi, banjir, juga mampu menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.

Satelit mikro kedua ialah Lapan A2 atau sering juga disebut Lapan-Orari. Berbeda dari satelit sebelumnya yang pembuatannya masih dilakukan di Jerman, satelit ini sepenuhnya telah dirancang, diproduksi dan diuji oleh perekayasa Indonesia dan menggunakan fasilitas di Indonesia, sekalipun masih tetap menggunakan konsultan ahli dari Jerman sebagai tenaga pendamping. Tujuan utama satelit berbobot 74 kilogram ini ialah instrumen mitigasi bencana, pemantauan kapal dan AIS (Automatic Identification System), hingga pemantauan sumber daya alam dan lingkungan melalui mekanisme pemotretan (Digital Space Imaging).

Sedangkan satelit mikro ketiga ialah Lapan A3. Satelit ini adalah hasil kerjasama antara perekayasa LAPAN dan IPB (Institut Pertanian Bogor). Bobotnya lebih berat daripada kedua satelit sebelumnya yaitu 115 kilogram, Lapan A3 utamanya didesain untuk berfungsi memantau sektor pertanian. Tak hanya itu, satelit ini melalui teknologi pengambil citra dengan sensor spektroskopi multispektral dan kamera resolusi tinggi yang dimilikinya juga dapat melakukan klasifikasi lahan dan observasi lingkungan. Selain itu, jika fungsi Lapan A2 yang mengorbit bumi di sekitar garis khatulistiwa ialah sebatas memantau lalu lintas kapal di perairan sekitar itu, maka kapasitas Lapan A3 jauh lebih besar yaitu sanggup memantau dan memberikan informasi perihal lalu lintas kapal yang melintas di banyak samudera raya.

Sepanjang sejarah peluncuran satelit yang pertama hingga satelit Merah-Putih, setidaknya terdapat 30 satelit berasal dari Indonesia, baik yang telah diluncurkan, dipensiunkan dan atau juga yang masih tahap rencana untuk diluncurkan. Sedang bicara sejarah peluncuran satelit pertama di 1976,  yaitu “Satelit Palapa” demikian dinamai—atau Palapa A1—ialah buatan Hughes (sekarang Boeing Satellite Systems). Momen peluncuran itu mencatatkan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia, sesudah USA dan Kanada, dalam hal mengunakan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD). Indonesia adalah negara berkembang pertama yang mendahului negara-negara berkembang lainnya seperti India, Cina, Brazil, Meksiko, dan negara-negara Arab, yang mengembangkan sistem komunikasi basis kepemilikan satelit sendiri.

Sangat jelas, saat itu Presiden Soeharto terinsiparasi oleh momen ‘Sumpah Palapa’ dan mengambil istilah ‘Palapa’ dari momen bersejarah itu. Sebuah sumpah yang diucapkan oleh Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit di abad ke-14. Sumpah Palapa yang tercatat dalam naskah Pararaton itu berbunyi: “Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.” Konon, Gajah Mada telah bersumpah tidak akan makan ‘kelapa’ (rempah-rempah) sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Artinya, jika dulu Sumpah Palapa dimaksudkan sebagai ikhtiar Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara, sementara Satelit Palapa saat itu juga dimaksudkan untuk menyatukan Indonesia dengan cara modern melalui pembangunan sarana dan prasarana jaringan komunikasi secara nasional.

Kembali ke soal pemberian nama. Pemberian nama satelit ‘Merah Putih’ tentu membawa ingatan tersendiri pada romantisme Satelit Palapa dan Sumpah Palapa. Pasalnya sejalan dengan kebijakan UU No.3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi maka pengelolaan satelit dan jasa komunikasi sudah tidak menjadi monopoli perusahaan plat merah (BUMN), melainkan juga terbuka bagi kerjasama swasta nasional maupun internasional. Walhasil, sejak itu pula-lah trademark istilah ‘Palapa’ juga nisbi sudah tidak lagi menjadi arus utama pada branding dan pemberian nama pada satelit-satelit yang diluncurkan kemudian.

Oleh karena itu, kini penamaan satelit dengan branding nama ‘Merah-Putih’ mengisyaratkan secercah harapan baru. Seperti diketahui satelit Merah-Putih ini notebene membawa 60 transponder aktif. Terdiri dari 24 transponder C-Band dan 12 transponder Extended C-Band untuk jaringan komunikasi di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, serta 24 transponder C-Band yang memiliki kapasitas untuk menjangkau hingga kawasan Asia Selatan. Artinya, tentu tak berlebihan sekiranya hadirnya satelit Merah-Putih diharapkan bukan saja menjadi tonggak sejarah industri telekomunikasi nasional di mana akan menempatkan Telkom Indonesia sebagai salah satu pemain papan atas di tingkat regional dan global, melainkan lebih jauh juga diharapkan turut menyemai perbaikan iklim daya saing bangsa sehingga sanggup menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. (***)

Ekonomi
Investasi
Ragam Terpopuler
Poros Sriwijaya-Nalanda, Globalisasi Perdagangan Asia Tenggara
Di pelabuhan-pelabuhan persilangan penting seperti Aden, Oman,  Basrah, Siraf, Gujarat, Coromandel, Pegu, Ayyuthya, Campa, Pasai, Malaka, hingga Palembang sangat mudah dijumpai berbagai suku bang...
Komoditas Rempah Nusantara dan Kompetisi Perdagangan Global
Paruh kedua abad 17, kompetisi internasional untuk menguasai komoditas-komoditas berharga dari Asia Tenggara hanya tinggal menyisakan beberapa pemain saja. ...
Tajhin Ressem, Kerukunan dalam Keberagaman Ala Madura-Pontianak
Selain melestarikan tradisi selamatan, Tajhin Ressem dengan berbagai macam komposisi di dalamnya membawa pesan penting. Saat hasil darat berpadu dengan hasil laut. Semua melebur menjadi satu dalam bel...
Histori Rujak Simpang Jodoh
Bisnis rujak Simpang Jodoh merupakan usaha turun-temurun yang seluruhnya dilakoni oleh kaum perempuan. Dan saat ini, penjual rujak di sana kebanyakan sudah generasi kedua dan ketiga. ...
Pepaosan, Tradisi Membaca Naskah yang Hampir Punah
Masyarakat Sasak mempunyai tradisi membaca naskah pusaka yang dilakukan dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Pembacaan naskah itu dilakukan untuk memperingati atau menyambut peristiwa-peristiwa penti...
Sigale-gale Carnival Bukti Kekayaan Budaya Batak
Sigale-gale pun diamanahkan sebagai kado bagi perempuan yang meninggal tanpa mewariskan anak laki-laki. ...
Kepertapaan dan Jati Diri Bangsa Religius
Sikap religiusitas bukanlah suatu sikap statis dan menutup diri dalam kacamata dogmatisme, melainkan justru ditandai oleh unsur dinamisme dan keterbukaan. Mari kita ciptakan lagi perpaduan antara Faus...
Melestarikan Budaya Islam di Lombok melalui Festival Khazanah Ramadan
Masyarakat di Pulau Lombok, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman. Meskipun, Bumi Seribu Masjid ini sudah go internasional karena wisata ala...
Barisan Gunung yang Membentuk Empat Lembah
Keunikan empat lembah itu membentuk identitas sosio-kultural yang relatif berbeda-beda. Sejarah historis empat lembah inilah yang selalu dibayangkan sebagai satu kesatuan "ranah minang". ...
Arsik Ikan Mas, Kuliner Batak yang Melegenda
Arsik ikan mas, salah satu kuliner yang telah melegenda di tanah Batak. Tak hanya karena cita rasanya dan kaya gizi, arsik juga berkaitan erat dengan ritual adat kebatakan dan acara-acara keluarga. ...