Bahasa | English


BUAH-BUAHAN

Ciplukan Buah Mahal yang Tumbuh Liar

27 August 2019, 04:00 WIB

Buah itu rasanya asam manis, berwarna hijau kekuningan, dan dibungkus dengan kulit tipis. Dulu terkenal dengan tanaman yang tumbuh dimana saja. Kini setelah tahu kaya manfaat, menjadi naik pangkat. Buah mahal yang tumbuh secara liar.


Ciplukan Buah Mahal yang Tumbuh Liar Buah Ciplukan. Foto: Pinterest

Bagi generasi milenial, mungkin asing dengan sebutan buah ciplukan. Buah ini bernama latin Pysalis Angulata yang tumbuh liar di area persawahan dan kebuh warga. Melihat  buah ciplukan tumbuh di sembarang lahan, sepintas terlihat tak ada harganya. Padahal selain kaya manfaat, kini harga Ciplukan meningkat.

Tumbuh ini bukan tanaman asli Indonesia. Sebaliknya, tanaman liar yang buahnya berbentuk seperti lampion ini dari negara tropis Amerika dan tersebar ke berbagai kawasan di Amerika, Pasifik, Australia, dan Asia. Ciplukan dapat tumbuh di daratan rendah atau di bawah pohon dan agak lembab.

Di lembah Amazon, ciplukan dipakai sebagai obat penenang, depuratif (pembersih darah), anti rematik, dan meredakan sakit telinga. Di Taiwan, digunakan sebagai obat tradisional, seperti diabetes, hepatitis, asma, dan malaria. Di Peru, daunnya digunakan untuk penyakit hati, malaria, dan hepatitis. Sementara di Afrika Barat, ciplukan dipercaya bisa menyebuhkan kanker.

Di Indonesia, rasa buah yang bentuknya seperti tomat kecil atau cherry yang berwarna kuning jingga ini adalah asam-asam manis tumbuh tak bertuan. Setiap daerah memiliki nama yang berbeda, di daerah Sunda misalnya, dikenal dengan nama cecenet. Di Madura dengan nama nyornyoran, Bali dikenal dengan keceplokan, dedes atau leletep jika berada di Sumatera, dan orang Minahasa menyebutnya dengan leletokan.

Meski tumbuh liar, buah yang berasal dari Amerika serikat ini memiliki khasiat yang luar biasa untuk berbegai penyakit, mulai dari penyakit jantung, asma, demam, tekanan darah tinggi, kanker payudara, menghilangkan kuning pada bayi yang baru lahir, kencing kotor, menyadarkan orang pingsan, stroke, kencing manis, sakit persendian, menurunkan kolesterol, tambah darah, penawar racun, diabetes, epilepsi, hingga penyakit kulit seperti kurap.

Mengapa begitu berkhasiat? karena dari satu buah ciplukan memiliki kandungan antioksidan yang tinggi. Inilah yang membuat ciplukan menjadi suplemen yang kaya nutrisi untuk berbagai penyakit. Antioksidan ini yang dapat menetralkan radikal bebas dan dapat melindungi tubuh dari berbagai penyakit.

Ciplukan juga mengandung Antiinflamasi yang dapat mengurangi rasa nyeri karena radang sendi, asam urat, nyeri otot, hingga wasir. Dalam sebuah penelitian menyebutkan buah ciplukan dapat mengatasi rasa nyeri akibat penyakit lupus yang diderita.

Tidak hanya untuk ragam penyakit, bagi yang bermasalah dengan berat badan, dengan bersantap buah yang terdapat dalam bungkus kelopak yang menggelembung berbentuk telur berujung meruncing berwarna hijau muda kekuningan ini secara rutin, berat badan bisa susut. Dengan bersantap buah yang rendah kalori, hanya 53 kaliro per 100 gram. Ciplukan penyumbang nutrisi yang besar tanpa khawatir lemak. Sangat bagus juga untuk keseimbangan kolesterol dan jantung sehat karena mengandung asal oleat dan linoleat.

Manfaat tumbuhan liar ini tidak hanya pada buahnya saja, melainkan pada akar untuk demam dan obat cacing. Daun untuk patah tulang, busung air, bisul, borok, dan lainnya.  Buah ini memang kaya manfaat, namun dimakan harus sesuai takarannya, karena jika memakan terlalu banyak, bisa menyebabkan orang yang bersangkutan mabuk. Bukan menyembuhkan penyakit, malah hadir penyakit baru.

Pada zaman Romawi, Ciplukan sudah dikenal manfaatnya. Ketika pertempuran Romawi dengan kerajaan Iran yang berlokasi di Iran Selatan, banyak prajurit yang terluka parah karena senjata tajam.  Untuk mengobati lukanya, prajurit memakan buahnya sementara untuk luka terkena benda tajam memakai daun ceplukan. Caranya, daun dihaluskan lalu ditempelkan pada luka prajurit. Luka pun sembuh. Begitu gembiranya, para prajurit pun menyebut sebagai tumbuhan physalis yang berarti penyelamat.

Tanaman Liar Harga Selangit

Tanaman liar ini merupakan salah satu tubuhan herbal yang hidup semusim dan memiliki tinggi hanya 0,1-1 meter. Batang pokok tanaman ini tidak jelas, percabangan menggarpu, berusuk, berongga, berusuk, bagian yang hijau terlihat gundul. Sementara daunnya tunggal, bertangkai, bagian bawah tersebar sementara di atas berpasangan. 

Buah khasnya tertutup yang terbagi lima dengan bersudut tiga dan meruncing.  Terdapat di ketiak daun dengan tangkai tegak berwarna keunguan dan ujung bunga yang tunduk. Mahkota bunga menyerupai lonceng, berlekuk lima berwarna kuning muda dengan noda kuning tua dan kecoklatan di leher bagian dalam, sementara benang sari berwarna kuning pucat dan kepala sari biru muda.

Dulu, buah yang dalam bahasa Inggris bernama Ground Cherrty ini terlihat tak da harganya. Namun kini, telah menjadi komoditi yang memiliki nilai jual yang terbilang tinggi. Di supermarket besar, bisa dijumpai buah ini di bandrol Rp200.000-Rp500.000 per kilo.

Buah ciplukan yang terbilang mahal sesungguhnya sebanding dengan  manfaatnya. Buah ini mengandung senyawa-senyawa aktif, antara lain saponim pada tunas, flavonoid pada daun dan tunas, polifenol dan fisalin pada buah, withangulation A pada buah, asam palmitat dan stearat pada biji, alkaloid pada akar, chlorogenik acid pada batang dan daun, tannin pada buah, kriptoxantin pada buah, dan vitamin C dan gula. Sayangnya, hingga saat ini masih tumbuh liar dan masih sedikit petani, bahkan bisa dibilang nyaris tidak ada yang membudidayakannya. (K-HP)

Komoditas
Ragam Terpopuler
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang "Agen" Amerika
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...