Bahasa | English


VARIETAS KOPI

Kopi dan Pesan Perdamaian Maluku

6 April 2019, 00:00 WIB

Maluku. Satu kata untuk Provinsi tertua di Indonesia ini adalah Perdamaian.


Kopi dan Pesan Perdamaian Maluku Kopi Sibu Sibu. Sumber foto: Pesona Indonesia

Maluku boleh dikenal sebagai salah satu daerah konflik di Indonesia, tapi dunia mengenalnya sebagai pulau kecil yang hidup penuh dengan nilai sejarah perdamaian, bahkan jauh sebelum masuknya penjajahan di Nusantara. Nilai sejarah itu termaktub dalam falsafah orang Maluku yaitu, Pela dan Gandong. Pela adalah ikatan persatuan. Gandong artinya saudara.

Tapi tulisan ini tidak sedang mengangkat sejarah konflik Maluku, melainkan secangkir gelas kopi yang menceritakan pesan perdamaian dari Negeri Para Raja-Raja ini. Menikmati kopi memang tepat ditemani kawan diskusi. Apalagi, kawan yang membawa pesan perdamaian dari ruang-ruang dialektika seperti warung kopi.

Kafe atau warung kopi adalah fenomena yang sudah menjamur di kota-kota hampir seluruh Indonesia. Setiap kali bertandang ke suatu daerah, para pelancong terutama anak muda lebih memilih kafe sebagai salah satu tempat untuk menikmati kopi khas daerah yang dikunjunginya. Selain mendapati kopi khas daerah tersebut, kafe dianggap menjadi sebuah refleksi dari budaya dan identitas orang-orang sekitar pada umumnya.

Adalah Ambon, Ibu Kota Provinsi Maluku. Juga tidak lepas dari fenomena kafe serupa. Salah satu kafe terkenal di Ambon adalah Rumah Kopi Sibu-Sibu. Kafe ini terletak tidak jauh dari pusat kota, tepatnya berada di Jalan Said Perintah dekat Tugu Trikora. Kafe seluas 5x7 meter ini memiliki interior khas Ambon Manise. Berhiaskan poster-poster pahlawan. Bahkan, para bintang atau artis terkenal dari Maluku seperti Glenn Fredly, Melly Goeslaw, Daniel Sahuleka dan Harvey Malaiholo. Tak lupa juga pahlawan nasional asal Maluku yakni, Pahlawan Pattimura dan Christina Marta Tiahahu.

Representasi Kedamaian

June Munuhutu dan almarhum suaminya, Viktor Manuhutu mendirikan kafe ini pertengahan 2006. Mereka mengingat akan konflik agama yang terjadi di kotanya pada tahun 1999. Konflik itu merusak banyak hal di Maluku. Sampai pada tahun 2002, warga Maluku yang terlibat konflik menandatangani Piagam Malino sebagai salah satu bentuk perdamaian. Ketegangan antar agama baru mereda pada akhir tahun 2005.

Menurut June, yang datang ke Rumah Kopi Sibu-Sibu dari berbagai kelompok yang beragam. Baik dari agama Islam atau Kristen. Awalnya, para penikmat kopi ini hanya datang dalam sekelompok untuk sekedar minum kopi. Tidak lama, mereka akan berbaur dengan kelompok lain untuk bercengkrama.

June mengatakan bahwa almarhum suaminya, sangat senang melihat orang-orang Maluku dengan berbagai latar belakang. Bisa tertawa dan sedih bersama di kedai kopinya. Sehingga lewat Rumah Kopi Sibu-Sibu ini, ia juga memperkenalkan budaya Maluku yang sangat damai. Walau berbeda golongan bisa duduk bersama menikmati kopi.

Kopi dan Budaya Khas Maluku

Sibu-Sibu dalam Bahasa Maluku berarti “sepoi-sepoi”. Tagline yang diambil oleh kafe ini adalah “Hail Buang Lansyik Sibu-Sibu”, yang berarti tempat melepaskan penat dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Seperti namanya, kafe ini tempat yang tepat untuk berteduh di tengah teriknya kota. Ditambah musik khas Maluku yang diputar di kafe ini. Hal itu karena pemilik kafe ini pernah tergabung vokal grup ketika berkuliah di Universitas Pattimura.

Menu yang disajikan Rumah Kopi Sibu-Sibu ini sangat beragam. Diantaranya adalah kopi Rarobang, kopi Areng, Kopi Gingseng dan beragam menu rempah-rempah lainnya. Maluku. Memang terkenal dengan kekayaan rempah-rempahnya. Sehingga, June ingin memanfaatkan rempah dari Maluku untuk dijadikan minuman. Salah satunya yang menjadi ciri khas dari kafe ini adalah kopi Rarobang, yang mana dicampur dengan jahe dan kenari. Menu makanannya juga tidak lepas dari budaya Maluku seperti sukun goreng, kue sagu kenari dan pisang goreng.

Daerah-daerah kepulauan di Maluku memang bukan penghasil kopi layaknya daerah lain di Indonesia. Namun, Indonesia yang merupakan negara penghasil kopi ke-4 di dunia juga menitipkan aroma kopi yang khas di Ambon. Salah satu kopi yang dikenal ciri khasnya adalah kopi Rarobang.

Menikmati kopi dengan cara yang berbeda mungkin Ambon solusinya. Bagaimana tidak, secara letak geografis, Ambon merupakan daerah teluk sehingga juga dikenal dengan sebutan teluk Ambon. Nah, jika anda pecinta senja atau ingin menikmati kopi di tengah pantai, mengkin beberapa cafe di Ambon juga menjadi rekomendasi bagi anda jika berkunjung ke daerah tersebut. (K-IK)

Komoditas
Ragam Terpopuler
Timlo, Paduan Cita Rasa Soto dan Bakso Khas Solo
Saat menyeruput kuah hidangan ini di lidah terasa sekali cita rasa kaldu ayam dan yang mengingatkan memori kita rasa kuah bakso atau soto. Orang biasanya menyebutnya timlo. ...
Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah
Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terja...
Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte
Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, ya...
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...