Bahasa | English


SEJARAH TEKSTIL

Pedagang Kain Belacu di Tanah Jambi Abad 17

11 June 2019, 00:00 WIB

Pedagang-pedagang Nusantara lebih tertarik pada kain blacu (calico). Fakta itu membuat Inggris segera membuat pabrik-pabrik tekstil kelas rendah di beberapa tempat di India.


Pedagang Kain Belacu di Tanah Jambi Abad 17 Aktivitas Pelabuhan di Tepian Sungai Batanghari. Foto: Kemdikbud

Tujuan utama kedatangan pelaut-pedagang Inggris di Hindia Timur (Nusantara) pada awal abad 17 adalah berdagang rempah-rempah yang sangat tinggi nilainya. Tetapi begitu sampai di Sumatra, di sekitar muara Sungai Batanghari, mereka menyadari bahwa barang-barang dagangan mereka sepi peminat. Berbagai macam kain berbahan wol, yang menjadi andalan mereka tidak diminati oleh pedagang-pedagang lokal.

Pedagang-pedagang Nusantara yang punya banyak stok rempah-rempah lebih tertarik pada produk-produk  yang dibawa dari Gujarat seperti kain blacu (calico)  dan garam cina (kalium nitrat). Harga jualnya sangat menguntungkan.

Fakta inilah yang membuat Inggris melalui  kantor dagangnya, EIC, segera membuat pabrik-pabrik tekstil kelas rendah di beberapa tempat di India. Mereka kemudian membuat kantor dagang di Surat dan Pantai Coromandel untuk memudahkan barter produk kegemaran orang Nusantara dengan rempah-rempah yang mereka butuhkan.

Kendala Yang Dihadapi

Fiona Kerlogue adalah antropolog dari Hull University yang mengambil objek penelitian di sekitar kain tradisional Nusantara. Hasil penelitiannya meliputi batik, tenun, ikat, hingga songket.  Kajiannya tentang kompleksitas permasalahan yang terjadi di awal zaman kolonialisme sedikit banyak ikut menjelaskan banyak hal tentang perkembangan manusia-manusia dan masyarakat penghuni kepulauan Nusantara.

Riwayat Inggris untuk meningkatkan kapasitas produk dagangannya di awal abad 17 ditulis Fione Kerlogue dalam Jurnal Textile History, nomor 28 tahun 1997. East India Company, perusahaan dagang Inggris di Asia Tenggara pada awal-awal berdirinya banyak menghadapi berbagai kendala. Yang paling utama adalah kurang modal.

Kendala berikutnya adalah situasi perdagangan yang mengalami depresi setelah merebaknya wabah sampar beberapa waktu sebelumnya. Sama seperti VOC, perusahaan dagang Inggris juga mengalami problem korupsi yang akut. Banyak pedagang dan awak kapal Inggris yang hanya mementingkan kekayaan diri sendiri tidak mementingkan perusahaan.

Lebih pusing lagi adalah peran-peran raja-raja lokal. Bagi Inggris, penguasa-penguasa lokal di Nusantara sangat lihai berdagang. Gabungan antara kemampuan bajak laut dan jaringan kekuasaan yang sangat luas, mereka bisa mengeksploitasi pasar, yang saat itu masih lemah.

Problem lebih parah lagi adalah peroslan kualitas kain yang mereka bawa. Karena produksi di India didasarkan pada standar industri rumahan, kain-kain blacu andalan mereka kualitasnya tidak merata. Seringkali besar dan ukurannya tidak sama. Warna berbeda kualitasnya satu sama lain. Kehalusan kain yang mereka buat juga sering tidak sesuai standar pasar yang berlaku.

Jarak, pengangkutan, waktu tempuh, hinggga gudang, adalah persoalan berikutnya yang sangat klasik di wilayah luas seperti nusantara. Iklim tropis yang rentan serangga, rayap, cacing, dan jamur juga mempercepat kerapuhan produk.

Tak Kuasa Menagih

Bulan September 1615, kapal bernama the Attendant mendarat di sekitar Jambi di wilayah timur Pantai Sumatra. Kapal ini datang untuk mencari sumber lada dan emas. Kapal ini juga membawa banyak stok tekstil buatan India yang memang banyak permintaannya.

Enam puluh tujuh tahun kemudian, pada 1682, Inggris terpaksa angkat kaki dari sana. Pabrik milik mereka dibakar habis. Modal mereka habis diutangkan pada raja setempat. Untuk menagih, mereka tak kuasa. Utang itupun tak pernah dibayar.

Kota Jambi pada zaman itu adalah Pelabuhan Sungai Batanghari. Posisinya sangat strategi karena menjadi perantara antara India dan Cina. Menurut catatan dinasti Tang, sekitar abad ke-7 dan abad 9 utusan-utusan dari Jambi sudah berkunjung ke sana. Catatan itu merekam Jambi sebagai ibu kota Kerajaan Melayu. Catatan berikutnya pada abad ke-11, menurut beberapa versi, pelabuhan itu tercatat sebagai Ibu Kota Sriwijaya.

Catatan Chau Ju-Kua, petugas pelabuhan Cina, menyebutkan bahwa pada abad ke-13 Jambi sangat aktif sebagai pelabuhan ekspor tekstil. Yang dibarter dengan kain impor adalah berbagai macam getah pohon yang bisa dipakai untuk banyak hal. Selain itu, tercatat komoditi seperti cengkeh, kulit kura-kura, hingga kapulaga. Saudagar Arab biasa membawa serat katun dan pedang. Sementara itu saudagar Cina membawa kain sutera dan serat emas yang biasa ditenun menjadi songket.

Songket Jambi sudah sedari dulu dikenal dunia. Tetapi warna kosmopolitan perdagangan internasional adalah warna kultural yang paling menonjol. Kebutuhan akan kain impor sangat tinggi. Kain-kain berhias asal Gujarat, kemudian ikat tenun sutera, dan kain katun batik cap Coromandel adalah bagian dari seragam pejabat-pejabat kerajaan.

Kebanyakan produk-produk yang diimpor diolah kerajaan menjadi barang-barang yang dibutuhkan rakyat. Adat Melayunya adalah “Serah Turun Jajah Naik”. Kerajaan memberikan rakyat peralatan kerja dan bertani, seperti parang, pisau, pacul, celurit, arang kayu, katun bakalan, kain biru (pada masa itu sangat berharga),  dan garam. Sebagai balasannya rakyat menyerahkan beras, berbagai getah pohon, emas, gading, tanduk badak, jerenang (buah rotan), dan rotan.

Catatan sejarah menunjukkan, Jambi sudah berdagang dengan India sejak abad ke-7, bahkan sebelumnya. Tetapi kedatangan agama Islam adalah penggerak kebutuhan tekstil yang luar biasa.

Pedagang Gujarat adalah pedagang perantara yang menyambungkan Pantai Timur Afrika, Yaman, hingga Mesir. Kain Ikat “Patola” adalah jejak mereka. Di banyak budaya Nusantara diyakini ikat ini memiliki tuah yang sakti. Beberapa kain penting lain adalah palampores atau seprei tempat tidur. Di Karo, kain seprei ini dijadikan hiasan dinding untuk upacara adat.

Tetapi jejak Islam di Jambi yang paling populer tercatat sejak abad 15. Legenda setempat menceritakan seorang pangeran dari Turki yang terdampar di Pantai Jambi dan menikahi ratu setempat. Putra mereka berjuluk Orang Kayo Hitam, dia terkenal sebagai pangeran yang mengusir penyerangan orang Jawa.

Komoditas paling penting Jambi adalah lada. Tetapi lada bukanlah tanaman asli Sumatra. Pelancong dari India, di masa-masa perguruan Nalandalah yang diperkirakan yang membawanya. Sedangkan yang piawai membudidayakan lada adalah petani-petani dari Cina dan anak turunan mereka yang melegenda.

Ditukar Lada

Catatan berbahasa Inggris yang pertama kali diketahui bertahun antara 1610-1611. Dokumen perjalanan itu merupakan terjemahan dari bahasa Belanda. Dokumen tersebut menjelaskan tempat-tempat yang dikunjungi dari Amboina, Banda, kemudian Jambi dan Pantai Barat Coromandel. Disebutkan, Sumatra adalah tempatnya lada.

Jambi adalah sumber utama lada. Didatangkan dari dataran tinggi di barat (Minangkabau), dibawa menyusuri perahu lewat Sungai Batanghari untuk dibarter dengan Inggris dan Belanda. Catatan Thomas Elkington, pada 1615, menyebutkan bahwa kapal asisten berlayar untuk mencari sisi timur Sumatra, Jambi. Tempat di mana banyak tersedia lada dan kemungkinan emas. John Jourdain, awak kapal, menulis bahwa yang dipertukarkan adalah kain-kain dari Gujarat.

Walaupun ketinggalan dari Belanda tetapi Inggris berhasil mendirikan pabrik tempat mereka bisa menyimpan kain-kain yang berharga dan mengolah hasil bumi lada. Persaingan antara Belanda dan Inggris memang terjadi. Demi,  memperebutkan dominasi komoditas lada. Tetapi dalam perjalanannya, dua kolonialis ini lebih banyak bersekutu dibandingkan berseteru. (Y-1)

Ekonomi
Perairan
Sosial
Ragam Terpopuler
Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah
Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terja...
Bungo Lado, Sebuah Perayaan Maulid Nabi di Pariaman
Bicara tradisi bungo lado sebagai bagian dari ritus Maulid Nabi, sayangnya hingga kini belum diketahui sejak kapan momen historis ini secara persis dimulai. ...
KH Masjkur dan Gelar Waliyy al-Amr al-Daruri bi al-Syaukah
Tahukah Anda, konsep Waliyy al-Amr al-Daruri bi al-Syaukah? Selain merupakan buah refleksi NU terkait yurisprudensi (fiqih) Islam perihal posisi dan fungsi pemimpin negara, juga sudah tentu tak terlep...
Dari New York ke Batavia, Catatan Seorang Agen Amerika
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Perempuan Indonesia Bergerak
Ia mengikuti jejak langkah Tirto Adhi Soerya. Sejak terbitnya Poetri Hindia sebagai surat kabar perempuan pertama di Batavia pada 1908, empat tahun kemudian di Minangkabau juga terbit surat kabar pere...
Hidup adalah Jalan Pengabdian
Menyimak hidup Sardjito, tampak jelas keyakinan filosofisnya bahwa “Dengan memberi maka seorang justru semakin kaya,” jelas bukan hanya gincu pemanis bibir. ltu bukan hanya soal keyakinan,...
Tradisi Gredoan, Ajang Mencari Jodoh Suku Osing
Kabupaten di ujung paling timur Pulau Jawa ini tidak hanya terkenal dengan destinasi wisata yang memukau mata. Lebih dari itu kabupaten ini juga dikenal kaya dengan kesenian dan kebudayaan unik. ...
Timlo, Paduan Cita Rasa Soto dan Bakso Khas Solo
Saat menyeruput kuah hidangan ini di lidah terasa sekali cita rasa kaldu ayam dan yang mengingatkan memori kita rasa kuah bakso atau soto. Orang biasanya menyebutnya timlo. ...
Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte
Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, ya...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...