Bahasa | English


MUSIM BUAH

Yang Kuning Atau Jingga Sama Manisnya

31 October 2019, 06:16 WIB

Musim mangga kembali tiba. Kemarau panjang memang membuat mangga lebih manis, namun volume pasokan ke pasar berkurang. Toh, segala jenis tersedia. Dalam jumlah terbatas, mangga impor pun masuk.


Yang Kuning Atau Jingga Sama Manisnya Pedagang buah mangga. Foto: InfoPublik

Musim mangga sudah datang. Tumpukan mangga ranum, biasanya disusun seperti piramid, dijajakan di mini market, kios buah, pasar tradisional, dan di pinggir-pinggir jalan, di berbagai Kota di Indonesia. Pohon mangga ada di mana-mana, berbuah serentak. Di musim petik, yang biasanya Oktober hingga Desember, buah mangga pun melimpah.

Pohon mangga ditanam dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Namun, sentra produksinya ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sumatra Utara. Dari daerah-daerah itulah beraneka macam buah mangga bergulir ke mana-mana, dalam kemasan kotak-kotak kayu.

Pohon mangga yang tersebar di Indonesia saat ini umumnya dari marga (genus) Mangifera, yang berasal dari kawasan perbatasan India-Myanmar. Marga ini telah ribuan tahun beradaptasi dengan lingkkungan tropis basah Nusantara. Pohon mangga umumnya serentak berbunga di awal kemarau. Bunganya yang berwarna kuning itu mekar, bertumpu di batang malai yang menjulur dari ujung ranting. Kelak, malai itu akan menjadi tangkai buahnya. Bunga mangga juga muncul bergelombang selama dua-tiga bulan.

Sebagaimana pohon lain, pohon mangga perlu air. Keterbatasan air akan membuat bunga rontok. Buah yang optimal biasanya akan mengiringi musim kemarau yang cukup basah. Pohon-pohon dewasa yang telah berumur dii atas 10 tahun lebih tahan terhadap musim karena perakarannya yang dalam dan bisa menjangkau air tanah yang lebih dalam.

Musim kemarau 2019 ini secara  umum terlalu panjang  dan kering. Tak heran bila buah mangga  yang turun ke pasar tidak sebanyak biasanya. Dalam kondisi iklim yang normal, biasanya  mangga berbunga mulai Mei sampai Juli dan buahnya tumbuh untuk bisa dipetik Oktober hingga Desember. Toh, ada pula berkah kemarau panjang ini. Kata para pedagang, kemarau membuat rasa mangganya lebih manis.

Indonesia termasuk negara penghasil mangga. Namun, tak mudah menjadikannya sebagai buah ekspor. Dengan adaptasinya yang tinggi terhadap variasi iklim dan tanah, suku  mangga ini punya sebaran yang sangat luas, Pohon mangga ada di mana-mana. Persaingan di pasar ekspor pun sangat ketat. India adalah negara penghasil mangga terbesar di dunia dengan produksi sekitar 14 juta ton per tahun.

Di bawahnya ialah Tiongkok (4 juta ton), lalu Meksiko (2 juta ton), Thailand (1,8 juta ton), Pakistan (1,7 juta ton), dan Indonesia (1,6 juta ton). Brazil dan Filipina juga termasuk negara produsen mangga. Tapi, belakangan Australia dan Spanyol mengembangkan kultivarnya sendiri, dan memasuki  pasar mangga global dengan kualitas super.

Secara umum, selain manis segar, buah mangga kaya akan nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh. Daging buahnya mengandung beragam senyawa penting yang memiliki khasiat bagi tubuh. Di situ ada vitamin A, B kompleks, C, D, E,  serta beta karoten.  Ada pula mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, selenium, zat besi, serat, dan masih banyak lagi lainnya.

Pohon mangga mudah dibudidayakan, dan umumnya ditanam dalam bentuk bibit cangkok atau okulasi. Jika yang ditanam bibit cangkok setinggi 70-80 cm, pada umur 3-4 tahun ia sudah berbuah. Tapi, untuk bibit okulasi perlu waktu lebih panjang, yakni enam tahun. Jika dirawat dengan baik, diberi pupuk dan air yang cukup, mangga akan lebih produktif. Pemakaian zat perangsang paklobutrazol  yang  dicampur air  dan disiram ke zona perakarannya, produktivitas mangga bisa dilipatduakan.

Dalam urusan mangga, pasar Indonesia sepi dari barang impor. Kalau pun ada, jumlahnya tak seberapa dibandingkan produk lokal. Bahkan, ketika produk lokal anjlok karena kemarau panjang seperti saat ini,  mangga lokal tetap saja dominan dan menyajikan keragaman yang selama ini memang ada di Indonesia. Seperti biasanya pula, mangga manalagi dan mangga arum-manis dominan dalam display di pasar sentra buah.  Secara umum pohon mangga yang tersebar di Indonesia ialah dari spesies Mangifera indica, dan jenis kultivarnya adalah :

1. Mangga manalagi

Pohon mangga manalagi ini cepat tumbuh. Percabangannya ekspansif dan daunnya lebat. Pada usia 10 tahun, batang utamanya bisa mencapai tinggi enam meter. Buah mangga telah lama menjadi komoditi unggulan pertanian Indonesia. Kulit buahnya hijau pekat berbintik-bintik dengan semburat warna putih. Bahkan, ketika matang pun, mangga manalagi ini tetap saja hijau. Hanya ada semburat kuning di sekitar tangkainya.

Kulit mangga manalagi ini relatif lebih tebal dibanding mangga lainnya. Kulit yang tebal itu melindungi buah selama pengangkutan. Ia lebih tahan lama disimpan. Daging buahnya berwarna kuning, berserat, dan rasa manisnya begitu kental, sehingga nuansa asamnya nyaris tak terasa.

Mangga manalagi  ini bisa ditanam di dataran tinggi hingga 1.500 meter di atas laut. Namun, ia lebih produktif di  dataran rendah. Daerah pantai utara (Pantura) Jawa Barat banyak menghasilkan mangga manalagi ini. Tak heran, bila di pasar-pasar Jabodetabek pedagang sering menawarkkannya sebagai mangga indramayu atau mangga cirebon.

2. Mangga Arum-Manis

Pohon mangga arum manis itu punya banyak cabang yang menyeruak ke semua arah sehingga membuat tajuknya seperti bulat teratur. Daunnya lebat, dan batang utamanya kekar kecoklatan. Ketika tinggi pohon 10 meter, diameter lingkar batangnya bisa mencapai 150-210 cm, potensi produksinya bisa mencapai 70 kg per tahun.

Bentuk dan ukuran buah mangga arum manis ini tidak berbeda jauh dari manalagi. Tapi, kulit buahnya lebih terang dari manalagi, dengan warna kuning jingga yang meluas di sekitar tangkainya. Saat sudah matang, aroma harum menyeruak dari buah ini. Kulitnya tipis, serat buahnya lebih halus dan manisnya bulat nyaris tanpa asam. Sentra produksi mangga arum-manis ini ada di Jawa Timur, seperti di Sidoarjo, Kediri, dan terutama daerah Tapalkuda Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo.

3. Mangga Golek

Nama golek diambil dari bahasa Jawa yang berarti mencari. Dengan pengertian, setelah dicicipi, orang akan mencarinya lagi dan lagi. Pohon mangga golek banyak  ditanam di daerah  Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo, Jawa timur. Bentuk buah memanjang, dengan bintik-bintik putih kehijauan di kulitnya yang berubah menjadi cokelat setelah buah tua. Tak jarang ditemui mangga golek yang beratnya 1,5 kg per butir, lima kali lipat dari mangga manalagi atau arum manis.

Saat matang sempurna daging buahnya tebal, lunak, dan berwarna cenderung oranye. Saat diiris, tidak mengeluarkan banyak air. Jika terlalu matang, kadar airnya bertambah dan rasanya hampir menyerupai buah pepaya.

4. Mangga Indramayu

Di tempat asalnya, Indramayu, mangga ini dikenal sebagai mangga cengkir (pelem cengkir). Berukuran besar, berdaging tebal, dengan serat buah yang besar. Aromanya khas. Rasanya manis dan teksturnya kering, tidak seperti mangga lain yang berair. Banyak yang menyukainya kala masih mengkal.

5. Mangga Harum Manis

Banyak didatangkan dari Probolinggo, Jawa Timur. Dinamakan harum dan manis sebab memang itulah ciri buahnya. Mangga yang sudah tua tetap berwarna hijau, walau lebih gelap. Kulitnya biasanya dilapisi dengan lilin alami, sehingga nampak berwarna kelabu. Cita rasanya percampuran manis dan asam. Mangga harum manis yang paling mahal adalah yang matang pohon, yaitu dipetik saat umurnya sudah cukup dan siap dikonsumsi. Mangga ini paling cocok digunakan untuk membuat jus dan campuran dalam dessert

6. Mangga Gedong Gincu

Paling ditanam di Majalengka dan Cirebon. Buahnya berukuran relatif kecil, bentuknya bulat, seukuran buah apel. Disebut mangga gedong karena konon pada zaman Kolonial Belanda, buah ini jadi  santapan para bangsawan yang tinggal di rumah gedong (bertembok beton).

Kulitnya berwarna-warni, ada hijau, kuning, dan merah-jingga. Warna kemerahan ini yang membuatnya juga disebut mangga gincu. Pilih mangga yang warna kulit pangkalnya merah, karena matangnya sudah penuh. Daging buahnya berwarna oranye, padat, dengan rasa manis dan aroma yang khas. Jika seluruh kulitnya sudah berwarna kuning merata, daging buahnya malah berserabut hingga sulit dipotong. Lebih mahal dibanding mangga jenis lain.

7.  Mangga Kuweni

Banyak  juga yang menyebutnya kuini. Banyak yang suka karena aroma harum yang menusuk dan  khas. Daging buahnya  terasa manis masam segar dan lembut. Biasa disajikan untuk campuran rujak serut dan sambal.

8. Mangga Impor

Meski dalam jumlah terbatas, belakangan sejumlah toko buah di kota besar telah menyediakan mangga impor. Salah satu yang ditawarkan adalah mangga Nam Dok Mai dari Thailand. Mangga ini punya daging buah yang tebal, berserat halus, berwarna kuning, dan lunak meski kadar airnya rendah.

Ada pula mangga malibu yang diimpor dari Australia. Rasanya seperti kelapa. Mangga malibu itu berasal daerah pertanian Berry Springs, selatan Darwin. Mangga ini dikenal sangat mudah ditanam, hasil kawin silang antara mangga irwin dan kensington pride. Kulit buahnya mencorong dengan warna merah-ungu. Daging buahnya merah, lembut, dan manis. (P-1)

Komoditas
Ragam Terpopuler
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...
Cakalang Fufu Rica Rica, Edodoe Pe Sedap Sekali
Aroma ikan ini memang khas dan tidak bisa dibandingkan dengan olahan ikan asap lainnya. Mungkin karena pengolahannya menggunakan kayu bakar pilihan. Namun yang membuat rasa ikan ini semakin menon...