Bahasa | English


TRADISI

Balada Karlak, Riwayat Pengutil Ikan Pantura

26 July 2019, 03:02 WIB

Kamus Bahasa Belanda mengenal kecoa dengan nama "kakkerlak". Dari sinilah segalanya menjadi jelas.


Balada Karlak, Riwayat Pengutil Ikan Pantura Aktifitas bongkar muat ikan di Pelabuhan Jongor, Tegal, Jawa Tengah. Foto: ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Ini kisah tentang orang-orang yang mencari rejeki dengan mengutil ikan tangkapan di pelabuhan. Mereka biasa disebut dengan istilah "karlak". Kamus bahasa Tegal, edisi blogspot mengartikannya sebagai pengutil ikan di pelabuhan.

Koran daerah Tegal para Februari lalu pernah menulis keberadaan "karlak" yang sudah sangat mengganggu. Jumlahnya bisa mencapai 50 hingga 100 orang tiap kali ada bongkaran. Cara kerja mereka biasanya mengerubuti keranjang-keranjang ikan yang sedang diturunkan para kuli.

Dengan sedikit siasat mereka bisa lebih dari sekadar memunguti ikan jatuh. Bantuan rekanan terselubung yang biasa membawa becak pengangkut bisa menciptakan situasi kerumunan yang berujung senggolan "terencana" terhadap keranjang ikan. Saat ikan-ikan jatuh, tangan-tangan "karlak" yang kebanyakan emak-emak langsung memindahkannya ke ember-ember plastik yang dihargai antara Rp5.000 hingga 15.000 per satuannya.

Riswanto, Ketua DPC HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) Tegal, mengatakan kepada wartawan kalau keberadaan para pengutil itu sudah sangat mengganggu. Mereka tidak hanya memungut yang jatuh. Kalau ada kesempatan mereka akan mengambil dari keranjang yang sudah siap dijual.

Sejak Zaman Belanda

Kata "karlak" bagi orang Tegal zaman sekarang barangkali sudah jarang terdengar. Hanya orang-orang "miyang"-lah yang tahu sebutan itu. Nelayan-nelayan di sepanjang pantura dari pesisir Karawang, Subang, Indramayu, Brebes, hingga Tegal sudah lama tahu istilah itu. Jika di Tegal istilah ini merujuk pada para pengutil ikan, di Subang, istilah "karlak" adalah sebutan bagi kuli bongkar ikan.

Eko Fidiyanto, seorang penulis cerita pendek di media berbagi Kompasiana, pernah menulis tentang anak-anak "karlak" yang berkeliaran di pelabuhan alam Desa Kluwut, Brebes. Keberadaan anak-anak "karlak" yang berkeliaran dengan emak-emaknya biasanya menandai musim berlimpah ikan.

Usut punya usut, kata "karlak" ternyata punya sejarah panjang. Sofia Nin, penulis muda dari Singapura, pernah menulis tentang neneknya yang masih menggunakan istilah "karlak" untuk hewan pengganggu yang gemar mengutil sisa makanan. Orang Indonesia sekarang menyebutnya sebagai kecoa.

Kamus Bahasa Belanda mengenal kecoa dengan nama "kakkerlak". Dari sinilah segalanya menjadi jelas. Orang-orang Belanda yang punya sejarah panjang di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, meninggalkan kosakata "karlak" atau coro sebagai mahluk pengganggu. Sangat mungkin istilah "bandit kelas coro" berasal dari serapan bahasa Belanda ini.

Umrah Hasil Mengutil

Budaya mengutil ikan di pelabuhan pantai utara Jawa mungkin sudah setua kemajuan perikanan tangkap yang berkembang pesat pascaperang dunia kedua. Teknologi jaring berukuran raksasa dengan pemberat timah dan pelampung yang membentang hingga ribuan meter menghasilkan ikan-ikan tangkapan yang nilainya tidak selalu menguntungkan. Pelabuhan-pelabuhan pantai utara Jawa adalah habitat paling cocok bagi kelompok pengutil yang seringkali hanya bermodal tebal muka.

Murni (50), pedagang ikan sisa bongkaran di Pelabuhan Jongor, Tegal, bercerita bahwa dari hasil "ngutil" ikan itu ada yang bisa berangkat umrah. Dalam logat bahasa Tegal yang kental dia bercerita," Kaya kuwe be wis bisa mangkat umroh". (begitu saja bisa berangkat umrah). "Modal rai gedek," (hanya bermodal "muka tembok"). Para pengutil ikan itu tidak malu kalau diperingatkan oleh anak buah kapal yang melihat dengan jelas tindakan para pengutil itu.

Para pengutil itu terang-terangan dalam melakukan praktiknya. Ketidakdisiplinan petugas pelabuhan perikanan untuk mengawasi orang-orang yang keluar masuk pelabuhan yang sangat sibuk di kala musim berlimpah ikan membuat para pengutil bisa memperoleh hasil yang cukup besar dari hasil jarahan. Beberapa waktu yang lalu aparat pemerintah memang pernah melakukan operasi penertiban. Tetapi efektivitas penertiban itu tidak pernah bertahan lebih dari satu bulan. Terbukanya akses ke pelabuhan perikanan yang rata-rata saat ini bisa membongkar lebih dari 1.500 kapal dalam satu tahun membuat para pengutil ikan bahkan bisa berangkat umrah. (Y-1)

Nelayan
Perairan
Ragam Terpopuler
Ratu Kalinyamat, Membangkitkan Kembali Politik Maritim Nusantara
Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sanga...
Restorasi yang Urung di Situs Kawitan
Dulu pernah ada keinginan warga sekitar untuk “merestorasi” situs Kawitan yang ditemukan pada kurun 1965-1967. Namun hal itu tidak terealisasi karena jiwa yang malinggih di situs tersebut ...
Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan
Di atas tanah seluas 25 ribu hektar, berdiri miniatur hutan Indonesia. Beraneka ragam tanaman hutan bisa ditemui di sana. ...
Menikmati Sensasi The Little Africa of Java
Dulu, mungkin tak pernah terpikirkan untuk merancang liburan di Banyuwangi. Sebuah kota kecil di ujung Pulau Jawa. Tapi kini, magnet wisata di Banyuwangi cukup kuat dan beragam jenisnya. ...
Wisata Heritage Berbasis Masyarakat ala Surabaya
Surabaya memiliki destinasi wisata heritage kedua, Peneleh City Tour, Lawang Seketeng, di kawasan Peneleh. Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengelola wisata haritage pertama...
Kampung Batik Laweyan, Saksi Bisu Industri Batik Zaman ke Zaman
Berkunjung ke kota Solo kurang lengkap bila tak mendatangi Kampung Batik Laweyan (KBL). Sebuah sentra industri batik legendaris yang telah berdiri sejak 500 tahun lalu. Batik sudah menyatu dengan...
Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu
Banyak pesona pada rumah adat Baileo, milik suku Huaulu penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Baileo memiliki arti penting dalam eksistensi suku Huaulu. Hal itu bukan saja karena Baileo berfungsi seb...
Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam
Ritual memohon kesembuhan kepada Dewata, banyak kita jumpai di berbagai etnis di Nusantara. Sebut saja upacara Badawe yang dilaksanakan Suku Dayak kemudian ada rutal Balia yang dipraktikkan oleh ...
Dunia Butuh Lada Jambi Sebagai Bumbu Masak
Jambi sudah lama dikenal sebagai sentra terpenting daerah penghasil lada Nusantara. Banyak negara Eropa bersaing keras k menguasai perdagangan rempah-rempah Indonesia. Negara-negara tersebut adal...
Rahasia Nenek Moyang Batak pada Pustaha Laklak
Etnis Batak merupakan salah satu suku bangsa di Nusantara yang kaya akan budaya, salah satunya adalah budaya karya tulis. Budaya tradisi tulis menulis yang diwariskan oleh nenek moyang mereka kes...