Bahasa | English


REMPAH-REMPAH

Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia

31 October 2019, 10:28 WIB

Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana.


Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia Cabai Jawa. Foto: Shutterstock

Perempuan berhijab yang sering mengenakan kaos panjang yang dipadu celana berbahan itu, dengan sepedanya saban sore berkeliling kampung berdagang jamu  buatannya sendiri yang bermanfaat bagi kesehatan. Salah satu bahan jamu yang digunakan Yuk Tarni adalah cabai Jawa.

Menurut perempuan asal  kota Solo, Jawa Tengah ini cabai Jawa menjadi salah satu bahan yang digunakan untuk pembuatan jamunya, Yuk Tarni menuturkan dari penjelasan ibunya yang juga berprofesi sebagai tukang jamu sejak tahun 80-an mempercayai Cabai Jawa bermanfaat sebagai obat untuk mengobati flu, demam, dan masuk angin.

Dan melalui penjelasan orang tuanya juga dari pengetahuan yang diperoleh Yuk Tarni tentang informasi secara detail dan rinci tentang cabai Jawa. “Cabai Jawa, salah satu tanaman obat terpenting di Indonesia sebagai tanaman herbal, obat dan jamu,” ujar dia.

Yuk Tarni menerangkan berdasarkan pengalaman Ibunya yang juga  sudah menggunakan cabai Jawa ke dalam ramuan jamunya lantaran memiliki manfaat untuk kesehatan. “Karena itulah, demi menekuni warisan orang tua dalam usaha ini sayapun menggunakan cabai Jawa, sebagai salah satu komposisi atau bahan pembuatan jamu,” jelasnya.

Sebagai tumbuhan asli Indonesia, cabai Jawa merupakan sejenis rempah yang masih berkerabat dekat dengan tanaman lada dan kemukus. Cabai Jawa tercatat dalam keluarga Piperaceae atau sirih-sirihan.

Tanaman cabai Jawa memiliki berbagai sebutan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Java long pepper. Di Indonesia juga ada beberapa sebutan seperti lada Jawa, cabai jamu, cabai puyeng, lada panjang. Orang Sumatera menyebutnya dengan cabai panjang. Masyarakat Sunda menyebutnya cabai Jawa. Masyarakat Jawa sendiri memberi nama cabean, cabe alas hingga cabe Jamu. Orang Madura menyebutnya dengan sebutan cabe jharno, cabe ongghu dan cabe solah. Sementara masyarakat Sulawesi menamakannya dengan cabia dan cabian.

Dalam penjelasan ilmiah secara morfologi cabai Jawa merupakan tanaman terna atau (tumbuhan dengan batang lunak tidak berkayu). Dengan kekhasan yang  memanjat dan memiliki panjang batang  sekitar 5 hingga 15 meter. Memiliki buah dengan ujung bebas membulat, bentuknya memanjang dengan warna hijau menunjukan buah ini masih muda, lalu pada buah yang masak atau matang bewarna merah hingga hitam dengan susunan buah beruntai.

Pada tumbuhan atau tanaman cabai Jawa ini memiliki ciri berbatang warna hijau  menjalar dengan daun berbentuk seperti daun sirih hanya saja daun cabai Jawa lebih lebar. Cabai Jawa memiliki  daun tunggal dengan duduk daunnya berseling. Helaian daun memanjang, dengan panjang daun 3 hingga 10 sentimeter, adapun lebar daunnya 2,5 hingga 4,5 sentimeter.

Masyarakat mengenal tanaman ini sejak lama dan turun temurun karena dipercaya memiliki berbagai manfaat. Pada buahnya bernanfata digunakan sebagai campuran ramuan jamu. Ada juga yang menggunakan buah cabai Jawa ini dipakai sebagai bahan pengobatan unuk berbagai penyakit seperti flu, demam, dan masuk angin. Di daerah Madura, cabai Jawa digunakan sebagai ramuan penghangat badan yang dapat dicampur dengan kopi, teh, dan susu.

Bahkan beberapa daerah lain di Indonesia juga menggunakan sebagi obat luar diantaranya untuk pengobatan penyakit beri-beri dan reumatik. Ada juga yang mempercayai khasiat cabai Jawa untuk mengobati tekanan darah rendah, influenza, sesak nafas, sakit kepala, kolera, bronhitis menahun hingga lemah sahwat.

Manfaat lain, banyak orang percaya cabai Jawa untuk pengobatan dan penyembuhan penderita kencing manis. Caranya, petik buah yang masih muda secukupnya dicuci bersih lalu dikunyah secara perlahan-lahan sampai benar-benar lumat dan ditelan bersama ampasnya.

Nah, dengan segudang khasiat atau manfaatnya, cabai Jawa sering dijuluki sebagai harta karun tanaman obat Indonesia. Di industri jamu, tanaman ini diolah menjadi bahan campuran ramuan jamu. Berdasarkan catatan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, pemakaian cabai Jawa bisa dengan mengkonsumsi buahnya secara langsung. Namun, bisa juga digunakan melalui proses pengeringan hingga bisa juga berbentuk seduhan.

Cabai Jawa juga dinyatakan sebagai simplisia yang cukup aman dan tidak berbahaya.  Departemen Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan cabai Jawa bisa dipakai sebagai simplisia atau bahan alami yang digunakan untuk obat yang belum mengalami perubahan proses apa pun.

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun. Selain itu, cabai Jawa juga digunakan sebagai bahan yang telah dikeringkan. (K-HP)

Ketahanan Pangan
Komoditas
Ragam Terpopuler
PKN 2020, Perhelatan Budaya Terbesar di Dunia di Masa Pandemi
Pekan Kebudayaan Nasional 2020 adalah sebuah perhelatan kebudayaan secara daring terbesar di dunia. Sebanyak 4.791 seniman dan pekerja seni akan terlibat, menghadirkan 27 tema konferensi, 93 pergelara...
Benteng Terluas Sejagat Ada di Buton
Benteng Keraton Buton berada di atas Bukit Wolio setinggi 100 meter dari permukaan laut dan menjadi lokasi strategis untuk memantau situasi Kota Baubau dan Selat Buton. ...
Menikmati Lagi Agrowisata Sibolangit
Menggandeng sejumlah elemen masyarakat, pemerintah setempat berupaya menarik kembali minat masyarakat untuk menyambangi Sibolangit. ...
Kado Manis Abu Dhabi bagi RI
Sejak 2013, Pemerintah Abu Dhabi melakukan perubahan nama sejumlah jalan utama di Abu Dhabi dengan nama-nama pemimpin besarnya. ...
Menjaga Harmonisasi Bambu Warisan Leluhur
Penerapan konsep pelestarian lingkungan melalui kearifan lokal masyarakat di Desa Adat Penglipuran mampu melindungi ekosistem hutan bambu yang telah ada sejak ratusan tahun silam. ...
Si Upik Membantu Menyemai Awan
Fenomena La Nina akan mencapai level moderat pada Desember. Bersama angin monsun, La Nina berpotensi mendatangkan hujan badai. Bencana hidrometeorologi mengancam. ...
Sroto Sokaraja, Soto Gurih dari Bumi Ngapak
Bukan saja menjadi kuliner andalan warga Banyumas dan sekitarnya, Sroto Sokaraja bahkan kondang di antero negeri. ...
Menguji Nyali di Jeram Citarik
Mulainya musim penghujan menjadi waktu paling tepat bertualang di derasnya Citarik. Arus deras sungai ini telah diakui dunia dan mendapatkan sertifikasi dari Federasi Arung Jeram Internasional (IRF). ...
Kuau Raja, Pemilik Seratus Mata
Kuau raja jantan sempat diabadikan dalam perangko seri "Burung Indonesia: Pusaka Hutan Sumatra" pada 2009 dan menjadi maskot Hari Pers Nasional 2018. ...
Menjajal Jembatan Gantung Terpanjang di Asia Tenggara
Sensasi guncangan saat berada di tengah jembatan gantung Situ Gunung membuat pengunjung perlu dibekali sabuk pengaman. ...