Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


KULINER NUSANTARA

Brekecek Pathak Jahan, Sajian Khas dari Cilacap

Thursday, 25 April 2019

Sensasi menyedot dan menyeruput bagian pathak ikan jahan itulah yang menjadi seni menyantap kuliner brekecek pathak jahan ini.


Brekecek Pathak Jahan, Sajian Khas dari Cilacap Brekecek Pathak Jahan. Sumber foto: K/Intan Deviana Safitri

Sekilas, makanan tradisional yang menjadi kekayaan kuliner sebuah kabupaten di pesisir Pulau Jawa ini tampak seperti rica-rica karena mengandung kuah kental berwarna kuning kemerahan. Padahal bila ditelisik lebih lanjut, sajian khas nusantara asli dari Cilacap itu memiliki cita rasa dan keunikan tersendiri yang sama sekali berbeda dengan resep rica-rica pada umumnya.

Berbahan dasar ikan laut yang menjadi salah satu komoditas utama Cilacap, masyarakat setempat sepakat menyebut kuliner kebanggaan daerahnya tersebut dengan nama brekecek pathak jahan. Merunut penuturan penduduk asli Cilacap, munculnya istilah brekecek berawal dari proses pembuatan masakan itu sendiri.

Kata brek yang berarti ‘dijatuhkan” dan kecek yang mempunyai arti ‘dicampur’, merupakan perpaduan kata yang mengacu pada teknik menceburkan/menjatuhkan ikan ke dalam olahan bumbu dapur yang telah dicampur dengan air. Sedangkan istilah pathak yang dalam Bahasa Jawa berarti ‘kepala’, menunjuk pada kepala ikan laut jenis ikan jahan yang menjadi bahan utama masakan ini.

Ikan jahan dipilih menjadi bahan utama yang paling sering digunakan dalam olahan brekecek karena kekhasan rasa yang dipunyainya. Bagian ikan yang digunakan pun bukan badan ikan, melainkan hanya bagian pathak atau kepala ikannya. Sensasi menyedot dan menyeruput bagian pathak ikan jahan itulah yang menjadi seni menyantap kuliner brekecek pathak jahan ini.

Meski brekecek khas Cilacap identik dengan ikan jahan, bukan berarti ikan laut jenis lain tak bisa diolah menjadi sajian brekecek. Menurut informasi yang didapat dari Ana Septiana, 54, salah seorang warga asli Cilacap, ikan laut seperti ikan lumadang dan ikan abangan juga lezat bila dimasak menjadi olahan brekecek.

Karena hanya bagian kepala ikan jahan yang digunakan untuk diolah menjadi sajian brekecek, bagian badan ikan jahan selanjutnya dimanfaatkan masyarakat Cilacap sebagai bahan utama pembuatan ikan asin jambal roti. Ikan asin tersebut hingga kini masih menjadi oleh-oleh andalan khas Cilacap yang telah tersohor hingga mancanegara.

Mengintip proses pembuatan brekecek pathak jahan sebetulnya terbilang mudah. Bahan dasar pathak jahan haruslah ikan segar supaya kuah kaldu yang diperoleh terasa lebih gurih. Sedangkan bumbu halus yang digunakan terdiri dari bumbu dapur pada umumnya, yaitu bawang merah, bawang putih, ketumbar, merica, kemiri, kunyit, jahe, cabai merah keriting, dan cabai rawit.

Agar kuah brekecek yang dihasilkan tidak tercium langu, bumbu halus perlu di-gongso (ditumis dengan minyak secukupnya) terlebih dulu sampai terlihat matang dan beraroma harum, namun jangan sampai gosong. Setelah tampak matang dan wangi bumbu sudah tercium, masukkan air secukupnya ke dalam tumisan bumbu halus tadi, lalu aduk perlahan.

Beberapa menit kemudian, ketika air bercampur bumbu sudah mendidih, segera ceburkan pathak jahan segar yang telah dicuci bersih tanpa perlu digoreng ke dalam kuah bumbu. Aduk rata hingga kaldu ikan keluar dan bercampur dengan kuah. Selanjutnya, bumbu pelengkap seperti daun salam, lengkuas, serai, daun jeruk, daun kemangi, irisan tomat muda, dan asam jawa atau bisa menggunakan belimbing wuluh, dapat segera dicampurkan ke dalam olahan masakan.

Terakhir, masukkan gula dan garam, lalu koreksi rasa. Brekecek pathak jahan dengan cita rasa pedas, gurih, dan berkuah segar pun siap dihidangkan panas-panas dengan nasi putih hangat. Dijamin, keringat akan mengucur deras saat menyantap kelezatan masakan ini.

Meski sajian brekecek pathak jahan sudah sejak lama eksis menjadi kuliner khas Cilacap, rupanya sajian tersebut justru baru diresmikan oleh Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji pada 2014. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Cilacap Nomor 556/501/18/Tahun 2014 tanggal 6 Nopember 2014, brekecek akhirnya secara resmi ditetapkan sebagai makanan khas Cilacap.

Selanjutnya, demi memperkenalkan ikon pariwisata kuliner Cilacap kepada wisatawan dan berbagai pihak yang singgah ke kota berjulukan Cilacap Bercahaya ini, Tatto Suwarto meresmikan pula sebuah rumah makan dengan menu utama brekecek pathak jahan yang berlokasi di Jl Slamet nomor 5 Cilacap, pada 10 Februari 2015.

Keberadaan rumah makan brekecek pathak jahan milik Ibu Widi ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat asli Cilacap, wisatawan, pejabat negara, dan semua kalangan yang sedang mencari dan ingin menjajal sedapnya kuliner brekecek tersebut. Rumah makan brekecek Ibu Widi ini melayani pelanggan setiap hari mulai pukul 10.00 WIB sampai 19.00 WIB. Harga satu paket menu brekecek pathak jahan lengkap dengan nasi putih, iwak jahan, dan cah toge hanya sebesar Rp22.000 saja.

Sejalan dengan misi Tatto Suwarto, Hotel Dafam Cilacap, salah satu hotel bintang tiga di kota Cilacap, turut melestarikan kuliner khas brekecek dengan menjadikannya menu andalan Rafless Resto. Menyelenggarakan acara bernama Festival Brekecek pada Oktober hingga Desember 2014 lalu, Hotel Dafam Cilacap mencoba memperkenalkan masakan tradisional tersebut lewat sebuah promo spesial. Harapan manajemen hotel tentu saja untuk menarik minat dan keingintahuan tamu hotel dan pengunjung akan sajian brekecek sehingga tertarik untuk mencicipinya.

Kini, setelah hampir lima tahun sejak peresmian rumah makan brekecek Ibu Widi dan promo kuliner brekecek di Hotel Dafam Cilacap, sajian khas nusantara dari Cilacap tersebut makin gemilang di kalangan pecinta kuliner. Rumah makan dengan menu utama serupa pun makin banyak ditemukan, seperti RM Brekecek Pathak Jahan di Jl Teri nomor 1 Cilacap dan di Jl Menteri Supeno nomor 23 Sokaraja, Banyumas.

Tidak hanya terpatok pada ikan jahan dan beberapa jenis ikan laut saja. Hasil laut lainnya seperti udang dan cumi, serta daging ayam atau basur/enthok dapat pula dimasak dengan olahan brekecek. Apapun jenis hasil laut atau daging yang dipakai, mudah-mudahan cita rasa brekecek mampu menjadi tujuan jelajah kuliner favorit khas Cilacap dan bisa menyamai sajian khas nusantara lain yang telah lebih dulu mendunia. (K-ID)

Kuliner
Ragam Terpopuler
Bekantan, Bertahan dari Kepunahan
Di lokasi bernama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang sejak tahun 2006 wilayahnya diperluas menjadi 22 hektar, jumlah populasi bekantan tak lebih dari 30 ekor. ...
Batang Hari Sembilan: Ibu Suku dan Marga
Budaya Palembang berkembang di sepanjang Musi dan anak-anak sungainya, wilayah budaya yang disebut Batang Hari Sembilan. Budaya sungai itu melahirkan banyak suku dan marga. ...
Budhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...