Bahasa | English


KULINER

Harum Manis Carica Gunung Dieng

16 September 2019, 10:26 WIB

Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah.


Harum Manis Carica Gunung Dieng Carica, pepaya asli dieng. Foto: Istimewa

Dataran Tinggi Dieng semakin moncer sebagai destinasi wisata. Lembah yang berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter dpl (dari permukaan laut) itu dikelilingi oleh puncak-puncak bukit. Di lembah sejuk itu terhampar panorama eksotik, candi-candi  Hindu dari abad ke-8 Masehi, danau, kawah mati, dan petak-petak ladang kentang dan sayuran, yang seperti tangga mendaki lereng perbukitan. Di sepanjang bulan Syuro (Muharam) ini, Dieng ramai dengan berbagai acara adat yang dihelat warga.

Wisatawan yang datang ke Dieng, menurut catatan Dinas Pariwisata Wonsobo, telah melampaui angka 500 ribu orang per tahun. Sebagian besar wisatawan domestik. Hari-hari besar dan masa libur sekolah adalah puncak keramaian di Kawasan Wisata Dieng, yang sisi Timur masuk ke Kabupaten Wonosobo dan sisi Baratnya termasuk Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Sebagian besar wisatawan masuk melalui Kota Wonobo, 28 km dari Dieng.

Di sepanjang itu para pelancong disuguhi panorama dataran tinggi dan jalan yang berkelak-kelok. Tidak terlalu beda dari dataran tinggi-basah yang lain di Jawa, kecuali pohon-pohon pepaya mini yang warga setempat menyebutnya carica. Pohon pepaya mini dengan tinggi dua-tiga meter itu mudah dijumpai di pekarangan rumah penduduk, di kebun, atau di ladang-ladang di lereng bukit. Sentra produksi carica di Kecamatan Kejajar, yang membawahi sebagian Dataran Tinggi Dieng. Sebagian orang menyebut carica itu sebagai pepaya dieng atau pepaya gunung.

Pohon ini berbuah sepanjang tahun, dan puncaknya pada Maret-April, ketika tanah masih cukup basah oleh hujan, tapi awan-awan tebal sudah mulai menepi. Pada saat itu, puluhan buah carica yang berukuran sekepalan tangan bergerombol berdesakan di batang pohon. Buah yang kuningnya rata siap disantap. Namun, yang lebih afdol adalah jus, selai, dan terutama manisannya.

Manisan carica pun menjadi maskotya oleh-oleh dari Kota Wonosobo. Wisatawan sepertinya belum sah mengunjungi Dieng kalau pulangnya tak membawa buah tangan manisan carica wonosobo. Tidak sulit mencarinya, hampir semua Kios Jajanan Wonosobo menjajakannya, dengan berbagai kemasan, ukuran dan merk. Harganya sangat terjangkau. Satu cup plastik ukuran 100 ml harganya Rp3.000 – Rp4.000 saja.  Produk khas itu kini juga dijual secara online.

Manisan carica wonosobo ini sangat khas. Tekstur irisan buah di dalam manisan begitu lembut. Rasa manisnya rata dari ujung ke ujung. Aromanya harum, rasanya segar dan nagih, olahannya pun higenis. Dalam kemasan plastik, manisan ini tahan enam bulan dan dalam kemasan kaleng bisa dua tahun. Ada berbagai merek. Semua hasil produksi rumahan, dan melibatkan tak kurang dari 30 unit UMKM (usaha menengah, kecil, dan mikro).

Proses produksi dan resep manisan carica ini relatif sama dari satu produsen ke tempat lainnya. Buah carica yang digunakan dipilih yang tingkat kematangannya 80 persen, yang dicirikan warna kuningnya sekitar 80 persen. Buah carica dikupas sampai kulitnya hilang sama sekali, dibelah, bijinya disisihkan, lalu dicuci bersih. Daging buah itu kemudian diiris dengan ukuran standar. Tebalnya sekitar 3 mm dan lebarnya 3 cm.

Setiap 2,5 kg carica perlu 1,5 kg gula dan setengah sendok teh. Bijinya tidak dibuang. Sebagian direbus dengan satu liter air. Setelah mendidih didinginkan. Bijinya disaring, air kembali dituangkan perlahan ke saringan sambil biji-biji pepaya itu diremas dengan tangan, mengenakan sarung tangan plastik. Dengan begitu, berbagai zat yang menempel di biji tidak hilang.

Air yang mengandung saripati biji itu porsinya 3 liter untuk setiap 2,5 gram carica. Setelah air bakal kuah manisan itu siap, masukkan ke panci dan direbus. Gula dan teh dimasukkan, dan setelah gula larut, irisan buah carica dimasukkan. Beberapa perajin memberi akses dengan essen sari buah sebagai penambah rasa dan aroma harum. Durasi perebusan tergantung selera masing-masing produsen. Setelah semuanya selesai, tinggal dikemas dengan mesin press manual.

Diperkirakan saat ini produksi buah carica itu mencapai 1.100 – 1.200 ton per tahun. Hampir semuanya terserap untuk manisan. Hanya sebagian kecil yang diolah menjadi selai. Industri kecil manisan carica itu hanya ada di sekitar Kota Wonosobo. Dengan begitu, tak berlebihan bisa manisan carica memang khas Wonosobo, kota dingin yang terletak 800-900 meter dari permukaan laut itu.

Pepaya dieng itu sendiri adalah tumbuhan endemik di Pegunungan Andes, yang membentang dari Chili hingga Panama di Daratan Amerika Selatan. Ia sepupu dekat jenis pepaya lainnya yang juga berasal dari Amerika Latin. Orang Spanyol pun memperkenalkanya ke berbagai penjuru dunia. Pemerintah Kolonial Belanda membawanya ke Indonesia menjelang akhir abad 19.

Namun, pepaya gunung itu baru dibawa masuk ke Indonesia pada 1930-an. Orang Belanda memilih Dieng untuk uji cobanya karena tumbuhan yang memiliki sederet nama botani, yakni Carica pubescens, Carica quercifolia, Carica goudotiana, dan Cariaca candamarcensis, itu hanya bisa beradaptasi di daerah bertinggian 1.500 – 3.000 meter. Bahkan, dari sejumlah pegunungan yang dicobapun, pepaya mini ini hanya beradaptasi dengan baik di Dataran Tinggi Dieng dan di Bedugul Bali. Di Bali pepaya gunung itu disebut gedang memedi. Tapi di Bali, dia kurang dibudidayakan.

Kemungkinan Orang Belanda ingin membudidayakannya sebagai bahan farmasi. Getah dan buahnya dipercaya mengandung bahan kimia yang berguna untuk obat dan kosmetik. Namun, sebelum proyek itu berjalan, tentara Jepang menyerbu, dan Belanda angkat kaki. Maka, pepaya gunung itu tumbuh di Dieng tanpa punya nilai ekonomi.

Bisnis manisan carica di Wonosobo baru tumbuh awal 1980-an. Secara perlahan, manisan itu diiterima oleh pasar lokal dan berkembang hingga sekarang. Saaat ini, tidak ada yang lebih khas dalam khazanah jajanan Wonosobo selain manisan carica gunung yang legit ini. Carica ini tak hanya manis, dia juga punya cerita sebagai buah eksklusif dari Dieng. (P-1)

Kuliner
Ragam Terpopuler
Gunongan, Peninggalan Arsitektur Pra-Islam di Banda Aceh
Catatan Joao De Barros (1552-1615) yang berumur sedikit lebih tua beberapa tahun sebelum Sultan Iskandar Muda naik tahta memberikan kepastian bahwa Gunongan tidak didirikan pada abad 17 M. ...
Taman Raja-Raja, Kitab Aceh Abad 17
Taman Raja-raja memang dia buat sebagai buku pegangan sejarah universal dan petunjuk kode etik bagi para penguasa. ...
Krisis dan Daya Tahan Demokrasi
Indonesia memberikan dukungan yang lebih tinggi terhadap keberlangsungan demokrasi. Tetapi dalam sisi lain secara kultural dan kesejarahan, publik Indonesia sebagian masih menyukai kepemimpinan yang k...
Gerakan Putra Putri Papua Inspiratif
Sekelompok putra putri Papua menggalang diri membuat organisasi Gerakan Papua Muda Inspiratif. Mereka berbagi cerita tentang angan mereka untuk membangun Tanah Papua yang lebih baik. ...
Ada Cinta dalam Kelezatan Pa’piong
Banyak orang tak mengenal masakan dari Indonesia timur. Sebaliknya, masakan dari Jawa dan Sumatera sangat mendominasi menu di resto dan hotel. Padahal Indonesia timur punya beragam kuliner dan kaya de...
Kue Lompong, Si Hitam Manis Asal Kutuarjo
Kenyal, harum, dan manis legit. Itulah rasa yang muncul dari kue lompong, penganan khas Kutoarjo, Jawa Tengah. ...
Kepulauan Maluku, Negeri Tanah Goyang dan Air Turun Naik
Catatan sejarah menyebutkan sejak 1600 sampai dengan 2015 mencatat lebih dari 85 kejadian tsunami terjadi di wilayah Maluku. ...
Cerita dari Kampung Kanibal Huta Siallagan: Jejak Kanibal Di Tanah Batak
Mengunjungi Danau Toba Sumatra Utara, jangan lupa menyempatkan waktu untuk menyeberang ke Pulau Samosir, mendatagi Huta Siallagan yang masih kental dengan budaya Batak. Di desa ini kita akan disambut ...
Wangsa Bonokeling, Kekayaan Kepercayaan Nusantara
Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang begitu melimpah. Dari Sabang hinga Merauke, dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote terdapat ciri yang beragam. Selain itu Indonesia yang berada di garis ...
Seni Cadas dan Jejak Budaya Maritim
Pengetahuan mengenai teknik mengemudikan perahu yang aneka, yang khazanahnya terdokumentasi pada lukisan motif-motif perahu di berbagai situs seni cadas, jelas memperlihatkan masyarakat Nusantara tela...