Bahasa | English


PASAR KULINER

Menikmati Kuliner di Pasar Ceplak Sambil Nyeplak

17 October 2019, 11:08 WIB

Berwisata ke Kota Garut, Jawa Barat, tidak lengkap jika belum berkunjung ke Pasar Ceplak. Terletak di tengah kota Garut, tepatnya di Jalan Siliwangi, Pasar Ceplak konon sudah ada sejak tahun 1970-an. Bagi warga kota Garut dan masyarakat seputarnya, Pasar Ceplak hingga sat ini populer sebagai lokasi tujuan utama wisata kuliner di malam hari.


Menikmati Kuliner di Pasar Ceplak Sambil Nyeplak Pasar Ceplak terletak di Jalan Siliwangi, Garut. Foto: Indonesia Karya

Di  balik popularitasnya, Pasar Ceplak ternyata memiliki cerita menarik dibalik namanya. Ceplak dalam bahasa Sunda berasal dari kata nyeplak. Artinya makan dengan mulut yang bersuara. Kisah nyeplak bermula saat Garut mengalami kemarau panjang tahun 1970-an. Ketika itu masyarakat sulit mendapatkan nasi, kalaupun ada harganya mahal. Masyarakat kemudian menyiasatinya dengan mengonsumsi oyek, nasi yang dicampur singkong.

Bagi warga Garut yang sedang dilanda musim kemarau panjang, oyek tergolong makanan pokok yang enak. Saking enaknya, saat masyarakat mengonsumsi oyek pun timbul suara ceplak (nyeplak) ketika mengunyahnya. Sejak saat itu kata ceplak menjadi populer untuk menyebut makanan yang enak. Kemudian, ketika kemudian warga dapat menikmati kembali makanan dan jajanan yang enak-enak di pusat kuliner malam di Garut, mereka pun menamakan tempat itu dengan Pasar Ceplak.

Sementara budayawan lokal  Garut , Franz Limiart mengatakan, awal mula keberadaan Pasar Ceplak, sejatinya sudah ada sejak pertengahan tahun 1940-an silam. Saat itu masyarakat sekitar mulai pukul 16.00 WIB, kerap menjajakan makanan khas tradisional di sekitar Babancong dan Pendopo hingga pukul 24.00 WIB tiba.

Awalnya, tutur Franz Limiart, banyak pedagang ngumul di Pasar Ceplak, lama kelamaan jadi ramai. Saat itu yang dijual ada gurandil, kelepon, papaisan (pepes) mulai ikan hingga ayam, jalabria (gemblong), cucur. Lama-kelamaan berburu jajanan sore itu menjadi kebiasaan masyarakat sekitar, hingga akhirnya kawasan sekitar pusat pemerintahan Garut tersebut dipenui pedagang dan pembeli ceplak.

Mempertahankan keunikannya, Pasar Ceplak hingga kini hanya buka pada malam hari, mulai pukul 16.00-22.00 WIB. Sedangkan pagi sampai siang hari, jalan ini merupakan jalan umum yang ramai lalu-lintas kendaraan. Mulai sore hari, pemandangan berubah, para penjual terlihat sibuk menyiapkan gerobak-gerobak atau warung tenda untuk mulai menjajakan makanan.

Memasuki Pasar Ceplak, di sepanjang Jalan Siliwangi kota Garut, dengan mudah kita bisa menemukan puluhan pedagang yang menjajakan berbagai jenis makanan khas Garut hingga makanan khas daerah lain. Berbagai makanan dan jajanan yang dapat dipilih sesuai selera seperti nasi liwet, ayam goreng, satai, gado-gado, martabak manis, kue tambang, hingga soto, semuanya berjejer menghiasi jalan sepanjang kurang lebih 300 meter ini.

Tidak itu saja, jajanan tradisional juga tak boleh dilewatkan. Ada kue basah mulai dari kue putu, onde-onde hingga kue khas Garut yakni kue awug. Kue awug terbuat dari tepung beras yang diolah sedemikian rupa kemudian diberi isian gula merah. Ada juga kue mayang dan gegetuk. Kedua panganan ini berbahan dasar singkong. Sebagai sajian tradisional, kue mayang dan gegetuk tidak dijual di banyak tempat, namun kita dapat menemukannya di Pasar Ceplak.

Soal harga, aneka makanan dan jajanan di Pasar Ceplak terbilang murah. Kita tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menikmati kuliner yang menggoda selera. Yang penting, jangan lupa saat mengunyahnya usahakan hingga menimbulkan suara nyeplak. (K-YN)

Kuliner
Ragam Terpopuler
Cartridge-nya Isi Ulang, Diagnosisnya Lima Menit
Dengan Abbott ID Now diagnosis Covid-19 dapat dilakukan dalam lima menit. Yang diidentifikasi DNA virusnya. Ratusan unit X-pert TM di Indonesia bisa dimodifikasi jadi piranti diagonis molekuler. Lebih...
Masker Kedap Air Tak Tembus oleh Virus
Sebanyak 30 perusahaan garmen bersiap memproduksi massal masker nonmedis dan masker medis. Bahannya tak tembus oleh virus. Impor bahan baku dibebaskan dari bea masuk. ...
Bisikan Eyang Sujiatmi di Hati Presiden Jokowi
Eyang Sujiatmi telah pergi. Kerja keras, kedisiplinan, dan kesederhanaannya akan selalu dikenang anak-anaknya. ...
Menikmati Surga Bahari di Atas Pinisi
Pesona tujuh layar kapal pinisi sulit diingkari. Sosoknya instagramable. Wisata berlayar dengan pinisi kini berkembang di Labuan Bajo, Raja Ampat, Bali, dan Pulau Seribu Jakarta. ...
Berubah Gara-gara Corona
Corona mengubah hampir segalanya, termasuk gaya orang berjabat tangan. Penelitian menyebutkan, tangan merupakan wadah bakteri paling banyak. ...
Melepas Penat di Gunung Gumitir
Namanya Gumitir. Kawasan yang ada di perbatasan Jember-Banyuwangi itu menawarkan banyak sajian. Dari kafe hingga wisata kebun kopi. ...
Sulianti Saroso, Dokter yang Tak Pernah Menyuntik Orang
Tugas dokter tak hanya mengobati pasien. Kesehatan masyarakat harus berbasis gerakan dan didukung  kebijakan serta program pemerintah. Kepakarannya diakui WHO. ...
Sampar Diadang di Pulau Galang
Pemerintah beradu cepat dengan virus penyebab Covid-19. Tak ingin korban kian berjatuhan, dalam sebulan rumah sakit khusus penyakit menular siap ...
Bermula dari Karantina di Serambi Batavia
Dengan kemampuan observasi biomolekulernya, RSPI Sulianti Saroso menjadi rumah sakit rujukan nasional untuk penyakit infeksi. Ada benang merahnya dengan Klinik Karantina Pulau Onrust. ...
Tak Hanya Komodo di Labuan Bajo
Labuan Bajo disiapkan pemerintah sebagai destinasi super prioritas Indonesia. ...