Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


KULINER

Satai, Santapan Lezat yang Diakui Dunia

Friday, 23 November 2018

Kelezatan satai, atau yang lebih sering ditulis ‘sate’, rupanya telah diakui dunia. Satai berada di peringkat ke-14 dari 50 makanan terlezat di dunia versi CNN Go 2011.


Satai, Santapan Lezat yang Diakui Dunia Sate klatak, Sate tusuk besi. Sumber foto: Pesona Indonesia

Satai bukan hanya enak rasanya. Tapi aromanya saja telah mampu menggugah selera, sehingga banyak orang yang tidak bisa menolak saat ditawari untuk mencicip hidangan tersebut.

Terbuat dari daging ayam, sapi, atau kambing yang dipotong kecil-kecil, biasanya per 4--5 potong daging itu ditusukkan ke lidi atau kayu. Kemudian, tusukan daging tersebut dibakar atau dipanggang menggunakan arang kayu.

Satai dapat disajikan dengan berbagai macam bumbu. Tergantung selera penikmatnya. Tapi yang paling terkenal adalah bumbu kacang. Bumbu serupa itu, biasa dapat ditemukan pada Satai Madura.

Di Indonesia, jenis satai memang cukup beragam. Bahkan hampir di setiap daerah, memiliki kekhasan tersendiri pada hidangan yang bernama satai. Misalnya di Jawa Tengah, tepatnya di Kebumen, dikenal satai berbahan dasar daging ayam kampung. Nama satai jenis itu adalah Sate Ambal, yang disajikan dengan bumbu berbahan tempe yang ditumbuk dan dicampur cabai.

Masih di Jawa Tengah, dikenal pula Satai Buntel dari Surakarta dan Satai Tegal di Tegal, Jawa Tengah. Walau namanya berbeda, kedua jenis masakan itu sama-sama berbahan daging kambing muda cincang, yang dibungkus dengan lemak kambing. Kemudian saat dihidangkan, dilengkapi dengan kecap dan cabai iris.

Satai dengan cita rasa yang berbeda juga didapati di Probolinggo atau Ponorogo. Di sana, satai dihidangkan dengan ditambahkan bumbu kemiri panggang pada saus kacangnya. Bukan hanya itu, ukuran potongan dagingnya pun terlihat berbeda.

Sementara itu di Pemalang, Jawa Tengah, dikenal Satai Loso yang berbahan dasar daging kambing atau kerbau yang direbus dengan bumbu rempah sebelum dibakar, lalu disajikan dengan saus kacang dan cabai tanpa kecap.

Masih ada lagi satai yang disantap dengan campuran tempe gembus yang dicampur dengan jeroan dan dimasak dengan rempah-rempah. Namanya Satai Kere. Makanan ini terkenal di Kota Solo, Jawa Tengah.

Ada juga Satai Kalong yang umumnya disajikan pada malam hari di sekitar kawasan Cirebon, di pantai utara (Pantura) Jawa. Bila bergeser ke arah barat, menuju wilayah Purwakarta, kita akan menemukan Satai Maranggi.

Satai Marangi memiliki ciri khas dimasak dengan bumbu ketumbar, jahe, serai, bawang merah, bawang putih, dan cabai yang dicampur kecap, air jeruk nipis, dan gula aren. Satai Maranggi yang bila dicecap terasa manis itu biasanya dihidangkan lengkap dengan sambal oncom.

Bergeser ke timur, di Sidoarjo, Jawa Timur, juga ada makanan khas bernama Satai Kerang. Satai itu disajikan bersama lontong dan sambal kecap.

Di Bali, juga ada satai khas yang cukup terkenal. Yakni, Satai Lilit. Satai jenis itu terbuat dari beragam jenis makanan laut yang cincang dan dipadukan dengan bumbu penuh dengan rempah-rempah dan kelapa parut. Berbeda dengan satai pada umumnya, Satai Lilit disajikan tanpa saus.

Bergeser sedikit ke pulau wisata Lombok, dikenal ada satai khas yang dinamai Satai Pusut. Kendati memiliki nama sendiri, secara sekilas cita rasa dan tampilannya cenderung menyerupai Sate Lilit asal Bali.

Nun jauh dari Pulau Jawa, yakni di ujung Sulawesi, yakni Manado, ada juga satai khas, yakni Satai Babi. Satai itu lazim disajikan sambal rica-rica pedas. Dari Sumatra Barat, sangat terkenal sate khas yang namanya Sate Padang.

Satai ini dibuat dari bahan dasar organ dalam sapi atau kambing, ang  direbus dengan bumbu, lalu dipanggang. Ciri khas satai ini, disajikan dengan menggunakan saus kuah kuning yang terbuat dari tepung beras dicampur kaldu daging dan bumbu kari. Satai Padang sendiri terbagi dua, yaitu Padang Pariaman, dan Padang Panjang.

Boleh jadi, satai tidak hanya memiliki kekhasan berdasarkan geografis. Pasalnya kini, ada jenis satai yang cukup terkenal dan digandrungi para generasi milenial. Yaitu, Satai Taichan. Satai ini cenderung menjadi tren di kota-kota besar, termasuk Jakarta dan sekitarnya. Pada 2016, Satai Taichan meraih popularitas yang tinggi.

Satai Taichan sendiri dibuat dari potongan ayam dengan garam. Dihidangkan dengan jeruk nipis, sambal pedas, dan tambahan bumbu asin khas.

Ada kisah unik yang mengawali munculnya Satai Taichan. Konon, satai itu bermula dari ketidaksengahaan pengunjung salah satu tempat penjual satai, yang membumbui satainya dengan campuran saus yang diraciknya sendiri. Ketika ditanya nama dari racikan itu, si pengunjung yang berasal dari Jepang itu hanya menyebut kata ‘taichan’. Alhasil, satai jenis baru itu kemudian dikenal sebagai Satai Taichan.

Sejak Abad ke-19

Berdasarkan referensi yang ada, masakan jenis satai sesungguhnya sudah mulai dikenal sejak kedatangan pedagang dari India, Cina, dan Arab ke Pulau Jawa. Yakni sekitar abad ke-19.

Satai sendiri, terbuka kemungkinan, bukanlah merupakan makanan khas Indonesia. Pasalnya, masakan sejenis satai juga ditemukan di sejumlah negara lain di Asia Tenggara. Seperti, di Filipina, Singapura, Thailand, dan Malaysia. Satai bahkan populer di Belanda, walau ada kemungkinan, dipengaruhi oleh masakan Indonesia.

Walau begitu, satai telah menjadi salah satu kuliner Nusantara yang disukai banyak orang. Satai bukan hanya dijajakan di tempat makan kaki lima, tapi juga di restoran bintang lima. Itulah sebabnya, silakan segera berburu dan menikmati kekayaan kuliner Nusantara.

Budaya
Ragam Terpopuler
Pulau Lombok dan Islam Wetu Telu
Sekalipun keislaman Islam Wetu Telu mengklaim ajarannya bersumber pada tiga otoritas, yaitu Al Quran, Hadis dan Ijma, bicara doktrin Rukun Islam justru terlihat perbedaan implementasi antara Islam Wet...
Gabus Pucung, Si Hitam dari Betawi
Gabus pucung  adalah masakan khas Betawi yang sudah terkenal sejak dahulu kala.  Nama gabus pucung adalah gabungan dari nama ikan gabus dan pucung atau kluwek sebagai bumbunya. ...
Wisata Indonesia di Mata Dunia
Pemerintah Jokowi mendorong Kebijakan Bebas Visa Kunjungan Singkat bagi 169 negara. Menurut UNWTO, kebijakan itu menjadikan Indonesia negara ketujuh di dunia; sekaligus negara keempat di Asia-Pasifik;...
Membangun Bersama Masyarakat Adat
Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Papua Barat memberikan semangat serta optimisme bagi percepatan pembangunan di bumi Cenderawasih. Kabupaten Jayapura melaksanakannya dengan pelibatan masyarakat adat ...
Tren Positif Film Indonesia
Industri perfilman Indonesia semakin berkembang. Tren positip dan konsisten baik dari jumlah penonton maupun jumlah judul yang terdata sejak  tahun 2016-2018. ...
The Mandalika yang Mendunia
Bermaksud menggeber popularitas dan branding Mandalika sebagai destinasi tingkat dunia, Indonesia mengajukan diri sebagai fasilitator event MotoGP di 2021. Upaya mewujudkan langkah strategis itu digel...
Melihat Burung Cenderawasih dari Jarak Dekat
Di Bird Watching Isyo Hills ini, kita bisa melihat 8 jenis burung Cenderawasih dari 28 jenis Cenderawasih yang ada di Papua. Lokasinya pun tak jauh dari jalan utama Distrik Nimbokrang, Kabupaten ...
Kopi Wonogiri, Potensi Kopi Lokal Berkualitas
Yang mengejutkan, ditemukan ratusan pohon kopi jenis Liberica berusia tua yang berada di area hutan pinus Dusun Ngroto, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo pada pertengahan Februari 2019. ...
Cerita Di Balik Digitalisasi Naskah Keraton Yogyakarta
Kini projek digitalisasi naskah merupakan upaya pengembangan kekayaan naskah yang tidak ternilai harganya. Kemudahan akses teknologi digital pun membuat pengembangan lebih menjadi kian memungkinkan. ...
Makna Ritual Nyepi
“Melalui ritual catur bratha penyepian masyarakat Bali telah turut aktif dalam upaya mengurangi dampak global warming. Bagaimana tidak, sebuah kota internasional melakukan 24 jam tanpa listrik m...