Bahasa | English


KULINER

Sop Konro Kuliner Legendaris Makassar

31 October 2019, 09:50 WIB

Jika berkunjung ke suatu daerah, tak afdol jika tidak menyicipi menu khas daerah tersebut. Setiap daerah memiliki citarasa yang berbeda, karena bumbu yang digunakan pastinya berbeda. Atau bisa jadi bahan dan rasa hampir sama, tapi nama berbeda.


Sop Konro Kuliner Legendaris Makassar Sop Konro khas Makassar. Foto: Istimewa

Misalkan antara rawon dari Surabaya dan sop konro dari Makassar, nama dan rasa berbeda, namun penampilan kuah  hampir mirip. Meski sama-sama memakai kluwak sebagai salah satu bumbu, namun kuah sop konro berwarna coklat kehitaman.

Bedanya adalah, hidangan kuah rawon yang hitam legam, bisa disebut black soup ini tidak ada tulang iga, hanya campuran daging yang sudah berwarna hitam karena ikut dimasak bersama kuahnya. Bumbu lain yang menjadikan rasa kuah konro sangat tajam adalah campuran rempah-rempah lebih banyak daripada rawon.

Kota Makassar, memang memiliki sederet makanan khas yang bisa dicicipi. Tidak hanya sop konro, tapi ada juga coto Makassar, barangko, pisang epe, es palu butung, pallubasa, mie titi, ikan bakar bandeng, jalangkote,  kue dange, dan masih banyak varian makanan yang bisa menjadi pilihan untuk memanjakan lidah. Ada sop, ada pula coto.

Sama-sama hidangan istimewa. Apa perbedaannya? Coto Makassar adalah masakan berkuah dengan varian irisan daging dan jeroan sapi yang direbus cukup lama dengan bumbu racikan khusus. Disajikan dalam mangkuk besar bersama burasa, lontong, atau ketupat.  Hapir mirip dengan pallubasa yang ditambah dengan gore kaluku atau kelapa goreng dan kuning telur ayam kampung.

Sementara sop konro adalah masakan berkuah dengan bahan dasar tulang iga berbalut daging dan berbumbu rempah-rempah. Biasanya disajikan dengan nasi putih. Warna kuah hitam kecoklatan dari buah kluwek yang berwarna hitam dan beraroma khas. Pilihan lain adalah sop saudara, juga masakan berkuah dengan bahan dasar daging ditambah pelengkap bihun, perkedel, dan jeroan. Umumnya disantap dengan nasi putih dan ikan bolu.

Diantara sederet masakan di Kota Angin Mamiri ini, terbilang lebih sering dicari turis domestik dan mancanegara adalah sop konro.  Tak heran, karena rasa dari kuah sop ini berasal dari bumbu yang dibuat dari campuran rempah-rempah, seperti ketumbar, kluwek, sedikit pala, kunyit, kencur, kayu manis, asam, daun lemon, cengkih, dan daun salambagi, membuat rasa sup semakin tajam.

Tidak hanya para pedagang, penduduk asli Makssar pun sering membuat sop ini. Masakan ini juga disajikan untuk acara besar seperti pernikahan, Hari Raya Idul Fitri, atau Hari Raya Idul Adha, mereka menyantap bersama keluarga.

Memasak sop konro terbilang praktis dan mudah. Bumbu yang digunakan pun tak sulit didapat. Bahannya hanya tulang iga berbalutkan daging yang empuk, Sop Konro ini menantang untuk disantap. Sop konro sejatinya disantap dengan sepiring nasi, tapi banyak pula pemburu kuliner memilih untuk menyantapnya dengan potongan ketupat. Belakangan, sop konro ini bervarian menjadi konro bakar. Tetap berkuah tapi iga sapi berbalut daging ini dibakar dan disajikan terpisah.

Sop Konro Antara Iga Sapi dan Kerbau

Arti dari konro sendiri adalah sapi, namun isi sop tersebut bukan hanya daging sapi melainkan tulang iga yang berbalut daging. Baik bakar atau rebus, sop ini tetap enak disantap. Hanya berbeda cara penyajiannya saja. Tergantung selera dari para penikmat kuliner.

Dengan berbahan dasar iga sapi atau daging sapi, dan berbumbu kayu manis, air asam jawa, dan rempah-rempah sop ini begitu sangat menggoda jika dihidangkan dalam sebuah mangkuk di atas meja. Rasa dan aromanya begitu kuat dan memiliki citarasa tersendiri.

Sop konro adalah hidangan wajib bagi masyarakat di Kota Makassar. Konon, sop kondro berawal dari daging kerbau, dimana saat ritual masyarakat akan memotong kerbau kemudian bagian tulang dimasak dengan bumbu sederhana.  Awal tahun 90-an, masyarakat Makassar baru mempopulerkannya dengan daging sapi. Sebelumnya masyarakat lebih mengenal daging kerbau untuk diolah dalam berntuk makanan berkuah.

Proses memasak sop ini sangat detail. Karena jika memasak tulang iga tidak pas, maka dagingnya terasa keras. Cara memasaknya, pertama, didihkan air, lalu masukkan tulang kondro, masak setengah empuk. Lalu buang airnya. Ini dilakukan agar kotoran atau lemak keluar dan terbuang dan menghilangkan bau amis.

Kemudian rebus air baru, masukkan bumbu bersama rebusan tulang hingga empuk. Bumbu yang digunakan terdiri dari kayu manis, kapulaga, bawang merah, cengkeh, daun salam, lengkuas, kluwek, bawang putih, jahe, batang serai, jinten, kunyit, kemiri, biji pala, merica, dan ketumbar. Beberapa bahan tersebut diuleg hingga halus. Jika ingin citarasa yang khas, maka sebaiknya bumbu tersebut jangan diblender.

Bumbu yang telah dihaluskan tersebut ditumis hingga matang dan harum, lalu masukkan irisan bawang, lengkuas, daun salam. Bumbu yang sudah matang ditumis tersebut masukkan ke dalam panci yang berisikan iga yang sudah empuk, aduk hingga rata, kemudian masukkan sisa bahan seperti asam jawa, gula pasir, kayu manis, cengkeh, garam, kapulaga. Setelah tercampur dan matang, masukkan irisan daun bawang. Aduk kembali dan cicipi.

Jika ingin mencobanya di rumah yang harus lebih diperhatikan adalah keempukan daging dan tidak lepas dari iga. Daging yang melekat pada iga akan memiliki ciri khas sop konro.

Sajikan sop konro dalam mangkuk dan sepiring nasi untuk sarapan pagi, makan siang, ataupun malam. Disantap selagi panas. Ditambah aroma rempah yang tercium akan menambah selera makan.

Kuah coklat agak kehitaman, bahkan mungkin ada sedikit minyak dari kaldu daging membuat makanan itu tak akan lama dibiarkan di dalam mangkuk. Satu suapan masuk ke dalam mulut, maka dijamin akan terus menyantapnya hingga suapan terakhir. (K-HP)

Kuliner
Ragam Terpopuler
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...
Cakalang Fufu Rica Rica, Edodoe Pe Sedap Sekali
Aroma ikan ini memang khas dan tidak bisa dibandingkan dengan olahan ikan asap lainnya. Mungkin karena pengolahannya menggunakan kayu bakar pilihan. Namun yang membuat rasa ikan ini semakin menon...