Bahasa | English


KULINER

Ubi Banggai, Makanan Pokok Penduduk Banggai Kepulauan

29 July 2019, 06:12 WIB

Kendati ada jenis umbi-umbian lain di kawasan itu, hanya ubi banggai yang dijadikan sebagai makanan pokok oleh penduduk. Jenis umbi lainnya dimanfaatkan sebagai sayuran atau dipakai sebagai obat-obatan tradisional.


Ubi Banggai, Makanan Pokok Penduduk Banggai Kepulauan Ubi banggai. Foto: Humas Protokol Balut

Di ujung Sulawesi Tengah, ada satu kabupaten yang terkenal dengan keindahan lautnya, pantai, dan gugusan pulau yang memesona. Daerah itu bernama Banggai Kepulauan (Bangkep). Selain beken dengan lautnya yang eksotis, Bangkep juga populer dengan ubinya yang khas. Namanya ubi banggai (Dioscorea).

Ubi satu ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bangkep. Selain dimanfaatkan sebagai makanan pokok, spesies endemik dari Kabupaten Banggai, ini juga berkait erat dengan tradisi masyarakat asli di sana. Ubi ini termasuk tanaman langka karena hanya bisa dijumpai di Pulai Banggai. Di pulau ini, masyarakat membudidayakannya dengan baik. Meminjam data 2009, Bangkep memproduksi hampir 9.000 ton ubi banggai. Dan ubi banggai ini banyak terdapat di Kecamatan Banggai dan Lainang.

Bentuknya mirip dengan ubi jalar dan ubi kayu. Rasanya seperti percampuran antara ubi jalar degan singkong. Tapi ukurannya tergolong besar. Ubi ini bisa dinikmati dengan cara digoreng, direbus, atau dijadikan cemilan. Bisa juga diolah menjadi tepung. Dan tepungnya bisa diolah menjadi kue, brownis, dan panganan lain, seperti payot, yang merupakan kuliner khas dari Bangkep. Panganan khas ini biasa dijumpai pada acara ritual tradisi Banggai.

Ubi banggai tumbuh dengan menjalar. Batangnya menjalar ke atas, tidak seperti ubi rambat yang merambat di atas tanah. Sehingga para petani harus mendirikan cabang-cabang kayu hutan sebagai media membelit (lanjaran) batang ubi ke atas. Sama seperti ubi lain, umbi dari ubi banggai tersembunyi di dalam tanah. Untuk menanamnya, penduduk menggunakan bejik, sejenis tongkat kayu yang ujungnya diruncingkan, guna mengorek tanah sebelum benih ubi banggai ditanam.

Purnomo, dari Laboratorium Taksonomi Tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada (2010), pernah meneliti pemanfaatan Dioscorea, sp oleh Masyarakat Luwuk dan Banggai Sulawesi Tengah dengan telaah etnobotani. Hasil penelitiannya dimuat dalam prosiding Seminar Biologi UGM yang diketuai Dr Suwarno Hadisusanto. Dalam prosiding itu, Purnomo menulis Dioscorea sp digunakan sebagai makanan basis karbohidrat bagi penduduk Banggai dan Luwuk. Di dua kabupaten itu dihuni tiga suku, yakni suku Banggai (Bangkep), Saloan (Luwuk), dan Balantak (Luwuk).

Di dua kabupaten ini ada juga umbi-umbian lain, seperti ubi opa atau dolungun, ubi hutan, ubi alas, dan ubi gadung. Namun hanya ubi banggai yang dijadikan sebagai makanan pokok oleh penduduk di dua kabupaten tersebut. Sedangkan opa dimanfaatkan sebagai sayuran, dan ubi hutan maupun gadung dipakai sebagai obat-obatan tradisional.

Secara morfologi, tulis Purnomo, ubi banggai mirip dengan ubi jawa namun berbeda dalam hal ukuran daun yang relatif lebih kecil, jarak toreh pangkal daun tinggi, batang tanaman lebih kecil dan pendek. Warna daun dan pola batang memiliki pola warna hijau dan pucat. Bentuk umbi dibandingkan dengan umbi dari Jawa, memiliki permukaan lebih halus namun lebih padat.

Menurut Purnomo, secara historis ubi banggai dibawa oleh keluarga Raja Ternate yang terusir. Raja ini migrasi ke Banggai Kepulauan dan menjadi penguasa di sana. Karena jenis tanah di Bangkep berupa lempung berpasir, khususnya di Tomini dan Peling Barat, maka tanaman yang cocok tumbuh adalah umbi-umbian. Tak heran, mata pencarian penduduk setempat umumnya menanam kelapa, sayur, buah serta budidaya umbi-umbian secara tradisional. Kebiasaan menikmati umbi di Ternate tetap dibawa ke Bangkep oleh keluarga raja.

Pada zaman Kerajaan Banggai, ubi ditanam dengan ritual yang dinamakan Bapidok. Ubi bangkep ditanam di lahan miring dan usia idealnya adalah 6 bulan bisa dipanen. Hasil panen pada umumnya dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri. Kelebihannya baru dijual ke pasar tradisional di Bangkep atau di wilayah lain seperti pasar tradisional Luwuk. Pasar tradisional yang banyak memperdagangkan ubi bangkep ada di Kecamatan Toli, Bamtui, Kintom, Luwuk, Mendono, dan Buwon. (K-DH)

Kuliner
Ragam Terpopuler
Jejak Ketauladanan Panglima Besar Soedirman
Apresiasi terhadap nilai-nilai kejuangan dan sejarah perjuangan Soedirman bahkan juga diakui oleh Jepang, selaku mantan negara penjajah. ...
Rampak Bedug, Musik dan Tari Religi dari Banten
Kesenian yang satu ini merupakan kreasi seni permainan alat musik bedug yang khas berasal dari daerah Banten, Jawa Barat. Namanya rampak bedug. Bedug atau beduk merupakan gendang besar yang asal ...
Gunongan, Peninggalan Arsitektur Pra-Islam di Banda Aceh
Catatan Joao De Barros (1552-1615) yang berumur sedikit lebih tua beberapa tahun sebelum Sultan Iskandar Muda naik tahta memberikan kepastian bahwa Gunongan tidak didirikan pada abad 17 M. ...
Taman Raja-Raja, Kitab Aceh Abad 17
Taman Raja-raja memang dia buat sebagai buku pegangan sejarah universal dan petunjuk kode etik bagi para penguasa. ...
Silase, Cadangan Pakan Ternak Saat Kemarau
Rumput hijau hasil fermentasi atau yang lebih dikenal dengan nama silase, kini menjadi alternatif pakan ternak untuk sapi, kerbau, dan kambing di saat musim kemarau. Silase dibutuhkan, utamanya b...
Krisis dan Daya Tahan Demokrasi
Indonesia memberikan dukungan yang lebih tinggi terhadap keberlangsungan demokrasi. Tetapi dalam sisi lain secara kultural dan kesejarahan, publik Indonesia sebagian masih menyukai kepemimpinan yang k...
Loro Blonyo, Simbol Kemakmuran dan Keturunan
Sepasang pengantin yang sedang duduk bersila banyak kita jumpai di tempat-tempat pesta pernikahan dalam bentuk patung.  Patung tersebut bernama Loro Blonyo. Sejarah mencatat, patung Loro Blo...
Menyambangi Menara Syahbandar di Titik 0 Km Jakarta
Jakarta tempo dulu memang tidak terpisahkan dengan kisah bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Hingga kini beberapa bangunan tersebut ada yang masih bertengger kokoh, namun banyak pula  yan...
Negeri Senja bernama Malalayang
Sastrawan Seno Gumira Adjidarma (SDA) dalam buku romannya mengisahkan seorang pengembara yang singgah di sebuah negeri yang tidak pernah mengalami pagi, atau siang, atau malam. Seluruh hari yang dia l...
Gerakan Putra Putri Papua Inspiratif
Sekelompok putra putri Papua menggalang diri membuat organisasi Gerakan Papua Muda Inspiratif. Mereka berbagi cerita tentang angan mereka untuk membangun Tanah Papua yang lebih baik. ...