Bahasa | English


WISATA

Hap! Melayang Sejenak Bagai Burung

27 September 2020, 16:43 WIB

Selama beberapa detik pertama kita pasti akan tertegun karena akhirnya bisa seperti burung, terbang di kesenyapan alam ditemani embusan sejuk angin pegunungan.


Hap! Melayang Sejenak Bagai Burung Ilustrasi. Atlet paralayang bersiap menerbangkan payungnya. Foto: Antara Foto/ Siswowidodo

Ada banyak cara untuk menikmati keindahan alam Indonesia termasuk dari atas langit. Salah satunya bisa dilakukan sambil menjajal terbang bersama paralayang (paragliding).

Paralayang merupakan wahana terbang tanpa mesin dengan sayap berbahan parasut dengan total bentang maksimal 12 meter. Sayap ini dikendalikan melalui jalinan beberapa ruas tali yang saling mengikat sayap dengan dudukan pilot (seat harness) tepat di bawah sayap. Jalinan tali adalah kemudi layaknya tuas di ruang kokpit pesawat terbang.

Jika umumnya wahana terbang lepas landas di area lapangan terbuka, tidak demikian halnya dengan paralayang. Paralayang memerlukan area terbuka di lereng bukit atau gunung sebagai area untuk lepas landas dan membutuhkan area permukaan datar untuk mendarat.

Angin menjadi energi penggerak utama yang dibutuhkan bagi pengguna paralayang, agar mampu melayang tinggi di udara. Ada dua jenis angin yang membuat wahana terbang ini bisa melayang begitu tinggi. Yakni, angin naik yang menabrak lereng (dynamic lift) dan angin naik yang disebabkan karena thermal (thermal lift).

Kecepatan terbang maksimal paralayang tak lebih dari 50 kilometer (km) per jam. Sedangkan durasi paralayang di udara, paling lama sekitar 20 menit.

Sepintas, paralayang mirip dengan gantole. Bedanya, sayap gantole ditopang oleh rangka besi sehingga tampak lebih kaku. Rangka besi juga dipergunakan sebagai wadah pilot berpegangan di gantole. Ini membuat gantole bisa memiliki berat hingga 70 kilogram (kg).

Sedangkan peralatan paralayang sangat ringan. Berat seluruh perlengkapannya seperti parasut, dudukan pilot, parasut cadangan, dan helm sekitar 10-15 kg. Peralatan paralayang juga sangat praktis karena dapat dimasukkan ke dalam ransel yang dapat digendong di punggung.

Perlengkapan pendukung terbang yang diperlukan, antara lain, variometer, radio komunikasi (handy talkie/HT), alat penentu posisi (GPS), alat pengukur kecepatan angin (windmeter), dan peta lokasi terbang. Sedangkan perlengkapan pakaian penerbang, antara lain, baju terbang bebahan parasut (flight suit), sarung tangan, dan sepatu berleher tinggi (boot).

 

Terbang di Puncak

Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, tempat terdekat untuk menjajal nyali terbang bagai burung bersama paralayang ada di kawasan agrowisata perkebunan teh Gunung Mas, Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Bagi masyarakat yang ingin menikmati olah raga ini bisa didapatkan di Bukit Gantole. Terletak di ketinggian 1.350 meter di atas permukaan laut, Bukit Gantole masuk dalam wilayah milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII.

Lokasi ini berjarak sekitar 80 km dari Jakarta dan dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari ibu kota selama 1 jam. Pengelola menyediakan lahan parkir kendaraan dan kita cukup membayar senilai Rp5.000 untuk mobil dan Rp2.000 untuk motor.

Menurut instruktur paralayang Jafro Megawanto, siapa saja bisa mencoba terbang dengan paralayang asalkan sehat jasmani dan rohani dan tidak mengidap penyakit jantung atau epilepsi.

Rentang usia yang diperbolehkan untuk ikut melayang di udara dengan paralayang adalah 14--60 tahun. Namun bagi peserta yang memiliki umur kurang dari 18 tahun wajib mendapatkan izin dari orang tua.

Berat badan peserta paralayang disarankan antara 45-90 kg. Jafro, juara paralayang Asian Games 2018, mengatakan bahwa waktu paling ideal untuk terbang adalah di atas pukul 10 pagi hingga 4 sore.

Begitu kita melintasi gerbang Bukit Gantole, akan langsung disambut bangunan tempat penjualan tiket masuk sebesar Rp13.000 per orang. Jika ingin menikmati paralayang maka harus membayar tiket sekali terbang sebesar Rp450.000 per orang atau Rp500.000 bagi turis asing.

Tiket ini sudah termasuk asuransi. Petugas loket tak lupa memberikan secarik kertas tanda bukti terbang. Ini menjadi tanda nomor urut terbang. Kertas ini wajib diserahkan kepada petugas yang berjaga di tempat pemasangan paralayang.

Jika sudah sampai pada nomor urut terbang kita, maka petugas segera memasangkan peralatan keselamatan serta helm dan pelatihan singkat cara-cara terbang bersama paralayang. Bila belum pernah terbang dengan paralayang, maka kita wajib melakukan terbang berdua (tandem flight). 

Kalau semua peralatan keselamatan sudah terpasang, itu artinya sebentar lagi kita akan merasakan terbang bagai burung. Jangan lupa siapkan kamera dengan tongkat khusus untuk bukti dokumentasi meski pengelola juga menyediakan fotografer khusus untuk mendokumentasikan aksi terbang kita. Harap diingat, pegang erat-erat kamera kita supaya tidak terjatuh, karena repot mencarinya jika telanjur jatuh dari ketinggian.

Ancang-ancang siap dilakukan dengan berlari menuruni lereng bukit yang beralaskan cone block. Hap! Tiupan angin pun melayangkan parasut paralayang dan kaki kita pun sudah tidak lagi berpijak pada tanah. Selama beberapa detik pertama kita pasti akan tertegun karena akhirnya bisa seperti burung, terbang di kesenyapan alam ditemani embusan sejuk angin pegunungan.

Kita hanya diberi waktu 10 menit saja melayang di langit Puncak sambil menikmati pemandangan hamparan hijau perkebunan teh. Saatnya mendarat di sebuah lapangan di Desa Tugu Selatan, Cisarua, atau sekitar lima kilometer dari lokasi kita lepas landas. Sebuah mobil minibus angkutan kota (angkot) warna biru sudah bersiap di tepi lapangan membawa kita kembali ke lokasi Bukit Gantole untuk menikmati pemandangan alam Puncak.

 

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Firman Hidranto/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Cisarua
Gunung Mas
Paralayang
parasut
pilot
Puncak
tandem
wahana terbang
Ragam Terpopuler
Benteng Terluas Sejagat Ada di Buton
Benteng Keraton Buton berada di atas Bukit Wolio setinggi 100 meter dari permukaan laut dan menjadi lokasi strategis untuk memantau situasi Kota Baubau dan Selat Buton. ...
Menikmati Lagi Agrowisata Sibolangit
Menggandeng sejumlah elemen masyarakat, pemerintah setempat berupaya menarik kembali minat masyarakat untuk menyambangi Sibolangit. ...
Kado Manis Abu Dhabi bagi RI
Sejak 2013, Pemerintah Abu Dhabi melakukan perubahan nama sejumlah jalan utama di Abu Dhabi dengan nama-nama pemimpin besarnya. ...
Menjaga Harmonisasi Bambu Warisan Leluhur
Penerapan konsep pelestarian lingkungan melalui kearifan lokal masyarakat di Desa Adat Penglipuran mampu melindungi ekosistem hutan bambu yang telah ada sejak ratusan tahun silam. ...
Si Upik Membantu Menyemai Awan
Fenomena La Nina akan mencapai level moderat pada Desember. Bersama angin monsun, La Nina berpotensi mendatangkan hujan badai. Bencana hidrometeorologi mengancam. ...
Sroto Sokaraja, Soto Gurih dari Bumi Ngapak
Bukan saja menjadi kuliner andalan warga Banyumas dan sekitarnya, Sroto Sokaraja bahkan kondang di antero negeri. ...
Menguji Nyali di Jeram Citarik
Mulainya musim penghujan menjadi waktu paling tepat bertualang di derasnya Citarik. Arus deras sungai ini telah diakui dunia dan mendapatkan sertifikasi dari Federasi Arung Jeram Internasional (IRF). ...
Kuau Raja, Pemilik Seratus Mata
Kuau raja jantan sempat diabadikan dalam perangko seri "Burung Indonesia: Pusaka Hutan Sumatra" pada 2009 dan menjadi maskot Hari Pers Nasional 2018. ...
Menjajal Jembatan Gantung Terpanjang di Asia Tenggara
Sensasi guncangan saat berada di tengah jembatan gantung Situ Gunung membuat pengunjung perlu dibekali sabuk pengaman. ...
Sensasi Nasi Buk di Kota Malang
Nasi khas Madura ini berkembang di Kota Malang. Lauk andalannya jeroan sapi, empal, jantung, limpa, babat, keripik paru, dendeng, hingga satai ati. ...