Bahasa | English


PARIWISATA

Mengejar Wisatawan Premium di 2020

3 Febuary 2020, 05:34 WIB

Pemerintah tak lagi mengejar volume jumlah wisatawan. Tapi kini menitikberatkan pada kualitas wisatawan yang berkunjung. Sehingga, jumlah devisa diharapkan mampu melampaui pendapatan tahun-tahun sebelumnya.


Mengejar Wisatawan Premium di 2020 Nikmati suasana semarak dan makanan Mediterania saat Anda menjelajahi toko-toko dan restoran-restoran di jalan utama Kuta yang ramai. Foto: Indonesia Travel

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio tak lagi membuat target muluk jumlah wisatawan berkunjung ke Indonesia. Tapi sebaliknya, menyasar segmen wisatawan premium atau yang berkualitas dengan tingkat pengeluaran yang lebih tinggi. Diharapkan, itu bisa tetap menggenjot penerimaan devisa negara dari sektor pariwisata.

Selama ini, pengembangan pariwisata cenderung ditekankan pada kuantitas dengan target bisa mendatangkan sebanyak-banyaknya wisman. Bahkan pada 2020, sempat ditargetkan pariwisata Indonesia bisa mendatangkan 20 juta wisman. Padahal dampak pariwisata massal kerap kali mendatangkan kerugian dari sisi kerusakan alam dan lingkungan.

"Dari jumlah turis sebanyak itu, bayangkan berapa jumlah sampah yang harus kita tangani," kata Wishnutama.

Menteri menjelaskan spending wisman yang berkunjung di Indonesia kira-kira USD1.220, sementara di Selandia Baru hampir USD5.000 per kedatangan. Artinya, kualitas wisatawan yang datang ke Selandia Baru lebih tinggi, walaupun jumlah wisatawannya cuma empat juta, jauh lebih sedikit dibanding yang berkunjung ke Indonesia.

Data Kementerian Pariwisata pada Februari 2018 menyebutkan, pengeluaran (spending) turis asing Timteng per orangnya mencapai USD1.918 per kunjungan. Jumlah ini mengalahkan wisatawan dari Eropa sebesar USD1.538 per turis asing per kunjungan. Sementara itu, wisatawan dari Tiongkok yang mengeluarkan USD1.019 tiap turis asingnya per kunjungan. Jika diurutkan berarti tiga besar turis asing yang mengeluarkan uang paling banyak saat berwisata ke Indonesia ialah Timur Tengah, Eropa, lalu Tiongkok.  

"Wisman yang datang ke Indonesia per tahun lebih banyak, tetapi pengeluaran lebih sedikit. Meningkatkan kualitas wisatawan yang datang ke Indonesia itu lebih penting, sehingga pengeluaran mereka pada saat di Indonesia lebih tinggi," ujar Wishnutama beberapa waktu lalu.

Untuk mendukung perolehan devisa dari sektor pariwisata, Kabinet Indonesia Maju di bawah Presiden Jokowi telah menggagas pengembangan lima Destinasi Superprioritas “Bali Baru”, yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Pembangunan infrastruktur untuk mendukung akses dan amenitas di destinasi tersebut pun ditargetkan rampung pada 2020.

Presiden Joko Widodo mendukung penuh usaha ini. Pemerintahnya siap menggelontorkan  anggaran besar untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Sebab, diyakini anggaran promosi pariwisata akan mendongkrak perolehan devisa dari sektor ini.

"Kalau negara lain dananya 10, Menteri Pariwisata (Wishnutama) minta 20, saya beri. Tapi, harus tepat sasaran," ujar Jokowi.

Kementerian Pariwisata sejatinya sudah mendapat tambahan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp6,35 triliun pada September 2019. Anggaran itu akan digunakan untuk empat destinasi superprioritas.

Pengembangan wisata di Danau Toba akan mendapat tambahan dana sebesar Rp2,2 triliun, Borobudur Rp2,1 triliun, Mandalika Rp1,9 triliun, dan Labuan Bajo Rp300 miliar. Tahun depan, pagu anggaran kementerian sebesar Rp4,33 triliun.

Tercatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia naik siginifikan dari 2015 – 2017. Pada 2015 sebanyak 10,41 juta, tahun 2016 menjadi 12,01 juta, dan tahun 2017 sebanyak 14,04 juta. Pada 2018, BPS mencatat jumlah kunjungan wisman sepanjang 2018 hanya 15,81 juta atau sekitar 93% dari target Kementerian Pariwisata yang sebesar 17 juta kunjungan pada 2018. Sedangkan 2019 diperkirakan 16,4 juta (belum ada data resmi yang diumumkan).

Sementara itu, sumbangan devisa dari sektor pariwisata meningkat dari USD12,2 miliar pada 2015, menjadi USD13,6 miliar di 2016, dan naik lagi menjadi USD15 miliar pada 2017. Sedangkan untuk tahun 2019 belum keluar angka (devisa) dari sektor pariwisata, tapi prediksinya di USD19-20 juta.

Berdasarkan data World Travel & Tourism Council, pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat tumbuh dengan menempati peringkat ke-9 di dunia, nomor tiga di Asia, dan nomor satu di kawasan Asia Tenggara. Capaian di sektor pariwisata itu juga diakui perusahaan media di Inggris, The Telegraph, yang mencatat Indonesia sebagai “The Top 20 Fastest Growing Travel Destinations”.

Indeks daya saing pariwisata Indonesia pun menurut World Economy Forum (WEF) juga menunjukkan perkembangan membanggakan, di mana peringkat Indonesia naik delapan poin dari 50 pada 2015, ke peringkat 42 pada 2017. Pada 2017, pertumbuhan sektor pariwisata melaju pesat sebesar 22 persen, menempati peringkat kedua setelah Vietnam (29 persen). Sementara itu Malaysia tumbuh empat persen, Singapura 5,7 persen, dan Thailand 8,7 persen. Di tahun yang sama, rata-rata pertumbuhan sektor pariwisata di dunia 6,4 persen dan 7 persen di ASEAN. 

 

Penulis : Eri Sutrisno
Editor Bahasa : Ratna Nuraini

Ragam Terpopuler
Cap Go Meh Cita Rasa Nusantara
Perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor berlangsung meriah. Nuansa Cap Go Meh tak melulu pentas atraksi etnis Tionghoa, tapi sudah berbaur dengan atraksi kesenian nusantara. ...
100 Calendar of Events 2020
Ada ribuan acara budaya dan wisata yang akan terjadi di Indonesia. Namun pemerintah hanya menetapkan 100 acara sebagai acara nasional. ...
Mengejar Wisatawan Premium di 2020
Pemerintah tak lagi mengejar volume jumlah wisatawan. Tapi kini menitikberatkan pada kualitas wisatawan yang berkunjung. Sehingga, jumlah devisa diharapkan mampu melampaui pendapatan tahun-tahun sebel...
Teka-teki Tagaril
Di tengah teka-teki tentang nama tokoh sejarah yang banyak disepakati sebagai pencanang Bandar Sunda Kelapa, ada satu petunjuk menarik tentang riwayat kelahirannya. ...
Sebuah Filsafat Perenialisme Tertua
Mpu Tantular sangat jauh melampaui zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa membangun Masyarakat Teosofi di akhir abad ke-19 dan merumuskan Filsafat Perenial bagi publik Eropa di abad ke-20, Mpu Tantu...
Bangunan Bersejarah di Kompleks Kedutaan Besar Amerika
Sebuah bangunan tua tetap kokoh berdiri di kompleks kedutaan Amerika di Jakarta. Gedung ini dipugar oleh Kedubes AS dan dijadikan museum peninggalan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebuah destinasi bar...
Labuan Bajo, Go International
Labuan Bajo memiliki seluruh potensi kekayaan ekowisata. Tidak salah sekiranya kota pelabuhan ini ke depan diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata premium berskala internasional. ...
Bunga Teratai Raksasa di Tengah Danau
Bangunan raksasa itu jelas sengaja didirikan untuk melukiskan bunga teratai sebagai penghormatan terhadap Budha Maitreya. Borobudur ialah bangunan bunga teratai raksasa dari jutaan kubik batu and...
Kratom, Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...