Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


RUBRIK RAGAM

Mbaru Niang, Istana di Atas Awan

Monday, 3 December 2018

Di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut Pulau Flores, berdiri rumah adat berlantai lima bernama Mbaru Niang, di Kampung Wae Rebo, NTT.


Mbaru Niang, Istana di Atas Awan Sumber foto: Sportourism.id

Mbaru Niang adalah rumah adat yang ditemukan di salah satu kampung adat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rumah adat tepatnya terletak di Kampung Wae Rebo, dan terpencil di atas pegunungan dengan ketinggian 1.117 mdpl.

Dikelilingi pegunungan dan hutan hujan tropis di Kabupaten Manggarai Barat, Wae Rebo berbatasan langsung dengan Taman Nasional Komodo. Di sanalah rumah adat dengan ketinggian mencapai sekitar 15 meter bisa ditemukan.

Rumah itu memiliki atap berbentuk kerucut yang menjulang tinggi, terbuat dari daun lontar yang ditutupi ijuk. Berbentuk kerucut, sisi bawah dari atap itu menjulur hingga hampir menyentuh tanah.

Menurut Fransiskus Mudir, pemimpin di Wae Rebo Tourism Organization, bentuk kerucut dari Mbaru Niang merupakan simbol perlindungan dan persatuan antarrakyat Wae Rebo. Sementara itu, kata dia, lantainya yang berbentuk lingkaran melambangkan sebuah harmonisasi dan keadilan antarwarga dan keluarga.

Rumah adat Mbaru Niang memiliki lima lantai di dalamnya. Di kelima lantai Mbaru Niang, terdapat berbagai ruangan dengan masing-masing fungsi.

Misalnya, di lantai pertama ada ruang lutur yang digunakan sebagai tempat tinggal dan berkumpulnya keluarga. Kemudian, loteng atau lobo ada di lantai kedua yang difungsikan sebagai penyimpanan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari.

Selanjutnya, di lantai ketiga ada lentar yang berfungsi untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan. Lalu ada lempa rae di lantai empat untuk menyimpan stok pangan untuk mengantisipasi kekeringan. Dan yang terakhir di lantai kelima ada hekang kode yang digunakan sebagai tempat sesajian bagi para leluhur.

Rumah yang terbuat dari kayu worok dan bambu itu dibangun tanpa paku. Di Mbaru Niang, konstruksi bangunan saling terikat dengan menggunakan tali rotan yang sangat cukup kuat. Dalam satu Mbaru Niang, dihuni oleh enam hingga delapan keluarga.

Bangunan Mbaru Niang terus terjaga oleh warganya dari generasi ke generasi.Warga Wae Rebo sudah menghuni Mbaru Niang sejak sebelum abad ke-18. Hingga kini, ada 7 Mbaru Niang di Wae Rebo. Jumlah tersebut tidak secara sembarangan ditetapkan. Melainkan, mengandung arti penghormatan terhadap 7 arah gunung yang ada di sana dan diyakini berfungsi sebagai pelindung Kampung Wae Rebo.

Semua rumah Mbaru Niang berdiri di atas tanah datar yang dibangun mengelilingi sebuah altar yang disebut warga setempat sebagai Compang, titik pusat dari ke-7 rumah adat itu. Compang berguna untuk memuji dan menyembah Tuhan, juga para roh leluhur.

Saat ini, Wae Rebo menjadi satu-satunya desa adat di Manggarai yang masih mempertahankan eksistensi Mbaru Niang. Sebenarnya di Desa Todo juga terdapat Mbaru Niang. Hanya saja, rumah adat itu tidak lagi ditinggali. Berbeda dengan Mbaru Niang yang ada di Kampung Wae Rebo.

Keunikan rumah Mbaru Niang dan panorama alam di Wae Rebo yang memang begitu indah membuat banyak orang tertarik untuk datang. Kampung Wae Rebo kini menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan lokal hingga mancanegara.

Karena keunikannya itu, pada 2012 Mbaru Niang mendapat penghargaan dengan kategori konservasi warisan budaya dari UNESCO Asia-Pasifik dan menjadi salah satu kandidat peraih Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur pada 2013.

Kabut tipis yang selalu mengelilingi perkampungan dengan suhu 15 derajat celcius di pagi hari, juga keindahan panorama, dan keunikan rumah Mbaru Niang, lengkap dengan sekaligus keramahan khas penduduk setempat membuat kita ingin berlama-lama berada di Wae Rebo.

Demi bisa menjangkau kawasan unik dan indah itu, wisatawan harus menempuh perjalanan kurang lebih 6 kilometer dari Desa Dintor menuju Desa Denge menggunakan kendaraan. Kemudian, dari Denge menuju Wae Rebo ditempuh dengan 3-4 jam perjalanan mendaki, sejauh sekitar 9 kilometer.

Lelah mendaki akan terbayarkan ketika sampai di Wae Rebo. Tanah Flores memang acap menjanjikan keistimewaan bagi para wisatawan. (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Ada Lopes dan Kopi Khas Situbondo di Pasar Panji
Kalau kita sedang melintas dengan jalur darat dari Surabaya ke Bali, kita akan melewati Situbondo ini. Dan tak ada salahnya mampir ke pasar panji. Ada Lopes dan Kopi Khas.  ...
Ke Banyuwangi, Bisa Cicipi Super Ayam Pedas Hingga Nasi Bungkus Khas Banyuwangi
Siapa bilang Banyuwangi tidak punya kuliner Khas? Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini ternyata menyimpan makanan khas dan ada yang hanya tersedia di Banyuwangi ini saja. ...
Lorjuk, “Seafood” yang Hanya ada di Madura dan Surabaya
Jawa Timur menyimpan banyak makanan khas, bukan hanya Rawon, Soto ataupun Rujak Cingur. Di Madura dan Surabaya, ada Makanan Khas dari Kerang yaitu Lorjuk. ...
Bandung Spirit sebagai Memory of the World
Oleh eksponen intelektual kiri, Samir Amin, misalnya, Bandung Spirit dianggap telah melahirkan babak sejarah dunia tersendiri. Sering disebut “The Era of Bandung” yaitu periode 1955--1975....
Ziarah Lintas Samudera
Jika pada milenium pertama, pemuka-pemuka Siwa-Buddha dari India dan Cina berziarah ke wilayah timur. Pertengahan mienium kedua, para peziarah dari Nusantara harus menuju ke barat. ...
Cagar Buah Condet, Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi
Disebut sebagai Cagar Buah Condet, area seluas 3,7 hektar ini merupakan sisa lahan perkebunan milik warga asli Condet yang akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk di...
Memahami Antonio Blanco dari Model Lukisannya
Model lukisan Antonio Blanco, Ketut Rani Astuti, menggambarkan Antonio Blanco sebagai pelukis nyentrik. ...
Jimpitan, Tradisi Pendukung Ekonomi Rakyat
Jimpitan tetap eksis di zaman modern. Tradisi ini menjadi solusi pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat yang enggan bersentuhan dengan jasa perbankan. ...
“Trance” ala Sintren
Sarat unsur magis, awalnya Sintren hanya dipentaskan saat bulan purnama. Sekarang, tarian ini telah menjadi sarana hiburan. ...
Di Balik Kesegaran Badak
Lahir di kala persaingan minuman soda Tanah Air belum ketat. Mencapai puncak kejayaan pada era 1970 hingga 1980-an, Badak kini sepi peminat. ...