Bahasa | English


WISATA HALAL

Melestarikan Budaya Islam di Lombok melalui Festival Khazanah Ramadan

13 June 2019, 00:00 WIB

Masyarakat di Pulau Lombok, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman. Meskipun, Bumi Seribu Masjid ini sudah go internasional karena wisata alamnya yang mempesona.


Melestarikan Budaya Islam di Lombok melalui Festival Khazanah Ramadan Festival Khazanah Ramadan. Foto: IndonesiaGOID/M Aditya Dwiki

Bertemu kembali dengan Bulan Suci Ramadan, merupakan impian dan kebahagiaan bagi setiap muslim di seluruh dunia. Sehingga tak jarang, umat muslim selalu disuguhkan dengan khazanah yang kental dengan bernuansa Islam. Tentu cara menyambut bulan yang penuh suci ini pun, dilakukan dengan berbagai macam cara. Misalnya, mengakselerasikan antara budaya lokal dan Islam. Seperti di Indonesia, beragam budaya dari pelosok negeri, tidak terlepas dari sejarah perkembangan Islam.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Indonesia juga dikenal memiliki keanekaragaman budaya, seni, tradisi, serta keunikan ciri khas lainnya yang masih melekat di masyarakat hingga saat ini. Meskipun pada kenyataannya, sebagian diantaranya telah tergerus oleh zaman modernisasi dan tumbuh pesatnya teknologisasi. Namun, melalui bulan suci Ramadan, kebudayaan lokal senantiasa ditingkatkan. 

Seperti yang dilakukan masyarakat Lombok, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Mungkin hingga saat ini, kita mengenal Lombok karena wisata alamnya yang sudah terkenal hingga ke Manca Negara. Ketika berkunjung ke Lombok, tidak sedikit kita melihat ratusan turis yang menimati keindahan alamnya. Melihat tumbuh pesatnya pariwisata lokal, pemerintah daerah maupun pusat telah memprioritaskan daerah Suku Sasak ini sebagai salah satu tempat tujuan wisata pilihan utama di Indonesia bagi para turis, selain di Pulau Dewata Bali.

Tapi jauh sebelum itu, Lombok tidak pernah lekang dari sejarah peradaban Islam di Nusantara.  Khazanah bernuansa Islam menjadi icon masyarakat Lombok untuk menunjukan ciri khasnya sebagai salah satu penduduk dengan mayoritas muslim.

Agar tidak tergerus zaman ditengah berkembangnya wisata alam. Pemerintah hingga masyarakat Lombok senantiasa mempertahankan adat dan kebudayaan dari leluhur mereka. Beberapa diantara adat dan kebudayaan terseebut seperti Gendang Beleq, Bau Nyale, Upacara Rebo Bontong, Lomba Memaos, Perisaian, Begasingan, Bebubus Batu, Tandang Mendet, Sabuk Belo, dan masih banyak lagi tradisi unik lainnya.

Selain adat dan kebudayaan lokal, Lombok juga dikenal memiliki ciri khas makanan tradisional, seperti Ayam Taliwang, Nasi Balap, Sate Bulayak, Sate Pusut, dan sederetan makanan tradisional lainnya. Agar semua ciri khas Lombok ini tetap dilestarikan, baik Agama, Adat, Budaya hingga makanan tradisional. Pemerintah dan masyarakat bersatupadu menggelar kegiatan tahunan untuk memperkenalkan keunikan Lombok ke dunia Internasional. Salah satunya, melalui Festival Khazanah Ramadan yang digelar setiap tahun selama bulan puasa.

Festival Khazanah Ramadan

Festival Khazanah Ramadan merupakan event tahunan yang diselenggarakan sejak tahun 2017. Festival Khazanah Ramadan ini sendiri, mulai berpusat di Masjid Islamic Centre Hubbul Wathan yang diresmikan September 2016 oleh Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi atau akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB).

Sebelumnya, Festival Khazanah Ramadan bernama Pekan Budaya Islam yang dihelat seminggu sekali selama bulan Ramadan. Pekan Budaya Islam ini awalnya tidak hanya berpusat di Ibukota Provinsi NTB yaitu Mataram, tetapi juga mengadakan roadshow atau keliling ke beberapa kota dan kabupaten di NTB, seperti Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah, hingga ke Sumbawa, Bima dan beberapa daerah lainnya. Kemudian, sejak tahun 2017, Pekan Budaya Islam mulai berpusat di Masjid Islamic Centre Hubbul Wathan dengan diberi nama Festival Khazanah Ramadan. Kegiatan tersebut dilakukan sejak 1 sampai 30 Ramadan.

Melalui Festival Khazanah Ramadan, pengurus Masjid Islamic Centre Hubbul Wathan melestarikan sejarah peninggalan Islam yang dihelat dengan cara perlombaan. Diantaranya, pembacaan Lontar. Lontar adalah Kitab Kuno yang berisi pesan-pesan dari para petuah terdahulu. Selain itu, juga pertunjukan pencak silat sebagai Tarian Tradisional yang dikenal dengan tari Rudat.

Tari tradisional Rudat sendiri dipertunjukan saat menyambut tamu-tamu kehormatan atau pada saat acara-acara formal lainnya di Lombok. Tari Rudat diperagakan dengan cara memukul, menendang, memasang kuda-kuda, serta menangkis. Meskipun memiliki tarian tradisional yang unik, masyarakat Lombok meyakini tradisi tersebut juga secara perlahan mulai terkikis zaman modernisasi. Oleh karena itu, sebagian masyarakat dan kelompok tertentu  ingin melestarikan kembali Tari Rudat pada momentum kegiatan tahunan. Salah satunya melalui Festival Khazanah Ramadan ini. (K-IK)

Budaya
Wisata
Ragam Terpopuler
Kratom: Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...
Bajau dalam Satu Tarikan Nafas
Guillaume yang berpakaian selam hasil teknologi maju seperti sesosok "alien" di antara dua pemuda yang menyelam hanya bercelana pendek tanpa baju. ...
Untung Surapati, antara Cinta dan Tragedi
Ada cinta sejati terpatri sangat kuat, juga kisah tragis mengharu biru. Selain heroisme, cinta, dan tragedi inilah tampaknya membuat kisah Untung Surapati melegenda dan sekaligus lekat di hati masyara...
Puas Nikmati Durian di Taman Botani Sukorambi
Bila kebetulan berada di Jawa Timur bagian Timur, mampirlah ke destinasi wisata favorit Taman Botani Sukorambi, Jember, Jawa Timur. Di sana selain bisa berekreasi dengan berbagai wahana edukasi, kita ...
Kawin Antarbangsa
Sekalipun seorang bumiputera yaitu Untung Surapati dijadikan sebagai pelaku utama dalam romannya, Dari Boedak Sampe Djadi Radja, sayangnya pilihan judul itu terkesan menyempitkan makna akan kisah Sura...
Rekayasa Air, Kunci Kejayaan Kahuripan
Begitu pembangunan infrastruktur fisik selesai, Airlangga melanjutkan dengan pembangunan infrastruktur kerohanian masyarakat Kahuripan. ...
Di Kaltim Ada Juga Akar Bajakah Penyembuh Kanker Payudara
Etnis Dayak di Pulau Kalimantan menyebut pohon ini dengan nama bajakah. Pohon bajakah tumbuh di seluruh hutan di Pulau Kalimantan (Kalteng, Kalbar, Kalsel, Kalut, dan Kaltim). Bajakah ternyata ju...
Kemanusiaan di dalam Gerak; Ketika Suprapto Telah Berhenti
Sepanjang karirnya yang membentang sejak paruh akhir 60-an, Suprapto menekuni jalan kemanusiaannya dengan menekuni apa yang dia suka. Seperti orang yang jatuh cinta dengan tubuhnya, Suprapto terus men...
Sejarah Rekayasa Air dalam Prasasti Tugu
Catatan paling tua dia dapatkan dalam inskripsi yang terdapat pada Prasasti Tugu. Prasasti ini menurut para arkeolog berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi. ...