Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


BANGUNAN BERSEJARAH

Menjelajah Benteng Terpendam di Cilacap

Thursday, 3 January 2019

Seperti namanya, benteng ini sempat terpendam dan terbengkalai, tertutup tanah dari pesisir pantai, hingga tak lagi terlihat. Hingga akhirnya, pemerintah Kabupaten Cilacap melakukan penggalian agar benteng terlihat. Namun, nyatanya masih ada bangunan benteng yang terpendam.


Menjelajah Benteng Terpendam di Cilacap Taman Benteng Pendem Cilacap. Sumber foto: Dok Cilacap

Cilacap merupakan sebuah kota di ujung selatan Jawa Tengah. Di bagian tenggara, tepatnya di ujung timur Pantai Teluk Penyu, terdapat sebuah tempat bersejarah peninggalan bangsa Belanda bernama Benteng Pendem. Dalam bahasa Belanda, benteng ini bernama Kustbatterij op de Landtong te Cilacap yang artinya ‘tempat pertahanan pesisir di atas tanah yang menjorok ke laut’. Bangunan peninggalan Belanda itu juga bersebelahan dengan penampungan minyak Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap Area 70.

Benteng ini didirikan secara bertahap sejak 1861 hingga 1879 di atas tanah seluas 10,5 hektar oleh arsitek Belanda. Benteng yang bergaya Eropa dan dibangun di bawah tanah ini membuat warga setempat memanggilnya dengan sebutan Benteng Pendem. Benteng ini juga merupakan tiruan dari bangunan Benteng Rhijnauwen, yang merupakan benteng terbesar di Belanda.

Oleh pihak Belanda, Cilacap dianggap strategis untuk pendaratan dan terlindung Pulau Nusakambangan, Itulah sebabnya, Benteng Pendem didirikan sebagai markas pertahanan tentara Belanda, untuk pertahanan Pantai Selatan Pulau Jawa. Pada 1942 benteng ini sempat direbut oleh pasukan Jepang, lalu pasukan Belanda kembali merebut benteng pada akhir 1945 hingga 1950. Dua tahun ditinggalkan, pada akhir 1952 sampai 1965, Benteng Pendem dijadikan markas bagi para Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai tempat latihan.

Pada 1965 hingga 1986, area benteng tak terurus dan terbengkalai. Bahkan, benteng ini sempat tak terlihat karena bangunannya terpendam tanah pesisir pantai Teluk Penyu. Hampir seluruh bangunan benteng tenggelam hingga sedalam 3 meter di bawah permukaan tanah.

Oleh pemerintah areal benteng seluas 4 hektar dimanfaatkan, alhasil kini tinggal tersisa 6,5 hektar. Areal 70 merupakan sebutan dari areal yang di dalamnya terdapat dermaga kapal, tangki minyak, serta kantor. Adi Wardoyo, seorang warga setempat berinisiatif untuk melakukan penggalian dan pemugaran area benteng. Pemugaraan dan penataan ulang tersebut membuat Benteng Pendem resmi dibuka pada 1987 sebagai salah satu destinasi wisata Cilacap hingga kini.

Gapura yang dibuat pemerintah setempat terlihat seperti bentuk benteng yang berada di dalam areal Benteng Pendem. Meski telah berusia ratusan tahun, sebagian besar bangunan benteng yang terbuat dari bahan baku bata merah tanpa beton itu masih terlihat gagah berdiri.

Ketika memasuki areal benteng, pengunjung akan menemukan jembatan beton dengan lebar kurang lebih satu meter di atas parit pertahanan. Biasanya, terdapat beberapa anak yang berenang bersama. Ketika pengunjung melewati jembatan, anak-anak tersebut kerap meminta dilempari uang koin, dan mereka akan menyelam ke dasar parit saling merebut uang koin yang dilempari.

Areal Benteng Pendem terdiri dari beberapa bangunan dan ruangan yang masih kokoh hingga sekarang. Ruangan-ruangan tersebut terdiri atas ruang barak barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, gudang senjata, gudang mesiu, klinik pengobatan, dapur ruang perwira, ruang amunisi dan  peluru, serta penjara. Namun demikian, sejak awal ditemukan, banyak ruangan di areal benteng yang tidak diketahui sepenuhnya. Selain itu, ada yang menyebutkan bahwa di dalam Benteng Pendem ada sebuah terowongan rahasia bawah laut menuju benteng-benteng lainnya dan menuju goa-goa yang ada di pulau Nusakambangan. Konon, terowongan tersebut tertutup tanah dan genangan air laut karena banyak dindingnya yang bocor.

Tidak hanya penuh sejarah, Benteng Pendem juga penuh dengan kisah mistis sehingga banyak dijadikan tempat untuk uji nyali penduduk sekitar, dan disorot berbagai acara televisi nasional. Bagaimana tidak. Banyak ruangan dalam Benteng Pendem yang hanya dapat dimasuki oleh sedikit cahaya. Bahkan sampai saat ini, masih ada sebagian bangunan benteng yang belum tergali. Penjara yang berukuran 4x3 meter dan hanya terdapat satu jendela dilengkapi teralis berlapis juga menambah nuansa seram jika membayangkan kejadian pada masa penjajahan bertahun-tahun silam.

Mengelilingi area Benteng Pendem tidak begitu melelahkan, karena terdapat beberapa saung dan tempat duduk untuk pengunjung beristirahat. Bukan hanya untuk mempelajari sejarah, Benteng Pendem pun dapat dikunjungi keluarga untuk sekadar bersantai dan piknik, karena arealnya cukup luas. Sekitar benteng pun terdapat 40 rusa jinak yang dibiarkan hidup, biasanya rusa-rusa berkumpul di sisi selatan benteng, lebih tepatnya di gundukan tanah depan ruang penjara.

Berbagai fasilitas yang terus diperbaiki Pemerintah Kabupaten Cilacap membuat Benteng Pendem ramai pengunjung, terutama di akhir pekan. Bukan hanya dari Cilacap, banyak pengunjung yang berasal dari luar Pulau Jawa. Biasanya, setelah puas mengelilingi Benteng Pendem, pengunjung berpindah ke Pantai Teluk Penyu yang tepat berada di depannya yang masih satu kawasan dengan Benteng Pendem.

Tak hanya itu, pengunjung juga dapat menikmati keindahan pantai putih Pulau Nusakambangan yang berada di seberang teluk. Saat mengunjungi Pantai Teluk Penyu, biasanya pengunjung langsung dihampiri warga sekitar yang menawarkan jasa penyeberangan ke Pulau Nusakambangan. Lelah menikmati keindahan benteng dan pantai, para pengunjung juga dapat membawa buah tangan dari berbagai toko kerajinan dari kerang. (T-1)

Wisata
Ragam Terpopuler
Pulau Lombok dan Islam Wetu Telu
Sekalipun keislaman Islam Wetu Telu mengklaim ajarannya bersumber pada tiga otoritas, yaitu Al Quran, Hadis dan Ijma, bicara doktrin Rukun Islam justru terlihat perbedaan implementasi antara Islam Wet...
Gabus Pucung, Si Hitam dari Betawi
Gabus pucung  adalah masakan khas Betawi yang sudah terkenal sejak dahulu kala.  Nama gabus pucung adalah gabungan dari nama ikan gabus dan pucung atau kluwek sebagai bumbunya. ...
Wisata Indonesia di Mata Dunia
Pemerintah Jokowi mendorong Kebijakan Bebas Visa Kunjungan Singkat bagi 169 negara. Menurut UNWTO, kebijakan itu menjadikan Indonesia negara ketujuh di dunia; sekaligus negara keempat di Asia-Pasifik;...
Membangun Bersama Masyarakat Adat
Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Papua Barat memberikan semangat serta optimisme bagi percepatan pembangunan di bumi Cenderawasih. Kabupaten Jayapura melaksanakannya dengan pelibatan masyarakat adat ...
Tren Positif Film Indonesia
Industri perfilman Indonesia semakin berkembang. Tren positip dan konsisten baik dari jumlah penonton maupun jumlah judul yang terdata sejak  tahun 2016-2018. ...
The Mandalika yang Mendunia
Bermaksud menggeber popularitas dan branding Mandalika sebagai destinasi tingkat dunia, Indonesia mengajukan diri sebagai fasilitator event MotoGP di 2021. Upaya mewujudkan langkah strategis itu digel...
Melihat Burung Cenderawasih dari Jarak Dekat
Di Bird Watching Isyo Hills ini, kita bisa melihat 8 jenis burung Cenderawasih dari 28 jenis Cenderawasih yang ada di Papua. Lokasinya pun tak jauh dari jalan utama Distrik Nimbokrang, Kabupaten ...
Kopi Wonogiri, Potensi Kopi Lokal Berkualitas
Yang mengejutkan, ditemukan ratusan pohon kopi jenis Liberica berusia tua yang berada di area hutan pinus Dusun Ngroto, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo pada pertengahan Februari 2019. ...
Cerita Di Balik Digitalisasi Naskah Keraton Yogyakarta
Kini projek digitalisasi naskah merupakan upaya pengembangan kekayaan naskah yang tidak ternilai harganya. Kemudahan akses teknologi digital pun membuat pengembangan lebih menjadi kian memungkinkan. ...
Makna Ritual Nyepi
“Melalui ritual catur bratha penyepian masyarakat Bali telah turut aktif dalam upaya mengurangi dampak global warming. Bagaimana tidak, sebuah kota internasional melakukan 24 jam tanpa listrik m...